Post Hoc Ergo Propter Hoc

Post Hoc Ergo Propter Hoc

Post hoc ergo propter hoc adalah frase bahasa Latin yang berarti: “setelah ini, karena itu penyebabnya adalah ini.” Jelas nama yang diberikan untuk kekeliruan ini pada waktu bahasa Latin terkenal di antara para detektif kekeliruan logika. Nama itu terus bertahan, dan karena itu kami tidak berkeinginan merubahnya.

Post hoc ergo propter hoc adalah menyimpulkan bahwa karena A terjadi sebelum B, maka A pastilah penyebab B.

Andaikan anda tinggal di tempat yang sama dengan kami dan sekarang pertengahan bulan Februari. Seperti biasanya suhu di sini 32 derajat di bawah 0 dan salju di luar setinggi setengah kaki (Ma Kuru: sekitar 15 cm). Anda tidak menyukai cuaca yang dingin dan berharap cuaca lebih hangat. Karena itu anda menyetel radio ke acara ramalan cuaca di radio. Penyiar berkata: “Besok suhu akan meningkat tajam menjadi 33 derajat.” Esok harinya memang benar apa yang diramalkan. Sekitar seperempat salju yang ada meleleh. “Wah,” seru anda. “Benar-benar luar biasa si peramal cuaca itu. Dia bilang cuaca akan hangat, ternyata benar cuaca jadi hangat. Pastilah si peramal cuaca itu punya kemampuan untuk membuat cuaca hangat.” Anda cepat-cepat menelepon stasiun radio dan meminta dia memastikan bahwa suhu minggu depannya bisa meningkat sampai 78 derajat  Fahrenheit suhu tertinggi dan 72 suhu terendah.

Anda baru saja melakukan kekeliruan post hoc ergo propter hoc. Anda berasumsi bahwa karena si peramal cuaca mengatakan cuaca akan hangat sebelumnya, maka pasti si peramal cuacalah yang membuat cuaca lebh hangat.

Contoh B
Tiga bulan lalu, keadaan kita baik-baik saja – anggaran seimbangg, ekonomi sangat baik, kita berdamai dengan bangsa lain dan cuaca hangat. Setelah itu kita memilih presiden. Sejak saat itu segala sesuatu menurun drastis. Sekarang kita defisit anggaran, ekonomi berada pada tingkat paling rendah, kita berperang dengan Antartika, dan cuaca sangat dingin di luar. Jelas bahwa presiden baru adalah penyebab semua ini.

Jika presiden baru terpilih sebelum semuanya menjadi buruk, itu tidak selalu berarti bahwa presiden barulah yang menjadi penyebab itu semua. Ini adalah kekeliruan berpikir yang lazim ditemukan. Kita melihat sesuatu terjadi, entah baik entah buruk, lalu mencari tahu apa yang terjadi sebelumnya dengan harapan akan menemukan penyebabnya. Tetapi apa yang terjadi sebelumnya belum tentu penyebab.

Kalau kita bepergian dan kita terkilir, kita akan berpikir tentag semua hal-hal yang buruk yang terjadi saat itu – misalnya kita melihat kucing hitam, berjalan di bawah tangga, atau membuka payung di dalam rumah. Dengan gaya takhyul kita menyimpulkan bahwa hal-hal yang tidak saling berhubungan itulah penyebab terkilirnya kaki kita karena semua itu terjadi sebelum kaki kita terkilir.

Contoh C
Ayah: “Nak, menurutku gitar listrik itu membawa pengaruh buruk untukmu.”
Anak: “Uh… mengapa begitu bung.. eehh salah.. maksud ku ayah!”
Ayah: “Sejak kau membelinya, kau membiarkan rambutmu panjang dan berjalan-jalan membungkuk di rumah dengan tangan di dalam saku. Kami juga memperhatikan bahwa kau berbicara dengan cara yang tidak hormat kepada ibumu dan aku, dan jarang sekali bekerja di rumah.”

Sang ayah sedang melakukan kekeliruan post hoc ergo propter hoc. Dia menyimpulkan bahwa karena gitar listrik dibeli sebelum perilaku anaknya berubah maka gitar listrik itulah penyebab anaknya berubah. Memang ada kemungkinan bahwa gitar listrik itu penyebab perilaku buruk si anak. Tetapi ada juga kemungkinan bahwa secara umum moralitas anaknya sudah menurun sebelum membeli gitar dan hal itu yang mendorong anaknya membeli gitar listrik, membiarkan rambut panjang, suka berjalan sambil membungkuk dan tangan dalam saku, kurang hormat orang tua, dan malas. Mungkin anaknya bergaul dengan anak-anak lain yang tidak beres.

Kadang-kadang Post hoc ergo propter hoc benar – apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab. Kalau sebuah telur pecah di lantai, maka masuk akal untuk berpikir bahwa apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab pecahnya telur yaitu – anda menjatuhkan telur ke lantai. Namun demikian hanya dengan mengetahui bahwa A terjadi sebelum B bukan alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa A adalah penyebab B. Kita perlu tau lebih banyak daripada itu.

Diterjemahkan Ma Kuru dari Buku The Fallacy Detective

About these ads

Tentang Makuru Paijo

Yang jelas beta manusia, yang bisa menghubungkan antara satu proposisi dengan proposisi lain dan yang merasa tidak perlu dicekoki proposisi yang beta bisa derivasi dari proposisi-proposisi yang sudah beta tau. Dengan kata lain beta menolak menjadi sapi.
Tulisan ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Post Hoc Ergo Propter Hoc, Terjemahan, The Fallacy Detective. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s