Review Perdebatan Islam – Kristen 17 Agustus 2009 Bagian I

Oleh Ma Kuru

Beberapa minggu yang lalu saya menonton DVD perdebatan Kristen vs Islam yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jawa Timur. Mewakili Kristen adalah pendeta Budi Asali (Surabaya) dan pendeta Esra Soru (Kupang) dan mewakili Islam adalah Ustad Insan Mokoginta (Jakarta) dan Mashud SM (Surabaya). Ada dua topik yang dibahas yaitu: “Apakah Yesus adalah Tuhan atau Manusia Biasa?” dan “ Keselamatan: Karena Iman atau Karena Perbuatan Baik (amal)?”. Kali ini saya hanya akan membahas debat topik pertama yaitu “Apakah Yesus adalah Tuhan atau manusia biasa?” Review ini akan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah penilaian saya tentang debat tersebut dan bagian kedua akan berisi daftar argumen kedua belah pihak dan beberapa catatan saya.

Hal pertama yang saya akan bahas pada bagian ini adalah tentang topik perdebatan. Informasi tentang topik debat yang saya posting di internet kurang lengkap. Jadi saya minta maaf untuk itu. Topik yang lengkap adalah “Dalam Perspektif Alkitab Apakah Yesus adalah Tuhan atau Manusia Biasa?” Awalnya saya heran kenapa topiknya seperti ini. Mengapa dibatasi pada Alkitab? Mengapa kegiatannya bernama “Debat Kristen – Islam?“ tapi pembahasannya dibatasi pada pandangan Alkitab? Dari beberapa koresponden baru menjadi jelas alasannya:

  1. Para pendakwah muslim selalu mengutip Alkitab untuk membuktikan bahwa bahkan Alkitabpun mengajarkan apa yang diajarkan oleh Islam termasuk tentang Yesus Kristus
  2. Kedua pendeta yang mewakili Kristen tidak terlalu paham tentang Kuran

Melihat kedua alasan tersebut, maka pembatasan topik seperti ini sangat tepat. Kalau muslim menggunakan Alkitab untuk untuk membuktikan kesalahan posisi Kristen dan kebenaran posisi Islam (alasan 1) alias melakukan Logical Ad Hominem[1], maka argumen semacam itu harus dinilai benar tidaknya atau valid tidaknya. Debat dengan pembatasan topic seperti ini memberikan kesempatan untuk menilai Logical Ad Hominem Islam. Sedangkan untuk alasan kedua, sudah jelas hanya orang bodoh yang berani mendebat apa yang tidak dia mengerti.

Hal Kedua, adalah tentang argumentasi dari kedua belah pihak dalam perdebatan ini. Saya menilai bahwa perdebatan ini dimenangkan dengan gemilang oleh pihak Kristen. Alasan-alasan saya untuk berpendapat demikian adalah

  1. Para pendebat Islam kebanyakan off topic alias ngalor ngidul membahas hal-hal yang tidak menjadi topik debat sedangkan para pendebat kristen tetapi pada topik walaupun pada saat tertentu terpaksa harus meladeni argumentasi ngalor ngidul pendebat muslim supaya tidak dikatakan menghindar pertanyaan. Dari kira-kira belasan argumentasi yang disodorkan oleh Islam, dari Mokoginta hanya sekitar tiga yang ada kait-mengait dengan topik diskusi. Sedangkan dari Mashud, dari sekitar empat atau lima argumennya tidak ada satupun yang terkait dengan topik diskusi. Argumen ngalor ngidul pihak muslim berkaitan dengan“Apakah Alkitab dapat dipercaya?“
  2. Mokoginta menggunakan Kuran dalam argumentasinya padahal sudah ada persetujuan untuk tidak boleh menggunakan Kuran.
  3. Menanggapi penggunaan istilah Tuhan dan Allah oleh pendeta Budi Asali, Mashud mengatakan bahwa  pendeta Budi Asali dan Pendeta Esra harus belajar lebih banyak tentang penggunaan kedua kata itu. Lalu mengatakan bahwa dia pernah menantang seorang pendeta debat tetapi pendeta itu tidak mau berdebat. Tanpa penjelasan mengapa dia tidak setuju dengan pandangan pak penggunaan kedua kata oleh pak Budi Asali, dia berhenti. Ini jelas bukan argumen sama sekali. Hanya karena dia tidak setuju dengan pak Budi dalam hal penggunaan kata “Allah“ dan “Tuhan“ dan ada pendeta yang tidak  mau berdebat dengan dia tidak berarti bahwa pemahamannya tentang kata itu benar.

Ketiga, hal lain yang mengakibatkan saya mengatakan bahwa tim muslim kalah telak adalah perilaku mereka:

  1. Setidak-tidaknya dua kali Mashud  menggunakan kata-kata yang sebenarnya lebih tepat dialamatkan kepada Mashud. Kata-kata dimaksud adalah “membual“. Dia menuduh pihak kristen membual karena argumen Kristen didasarkan pada Alkitab yang menurut Mashud tidak dapat dipercaya. Kalau mau jujur, kata-kata tersebut lebih pantas ditujukan kepada Mashud. Semua argumentasinya tidak ada hubungan sama sekali dengan topik debat. Argumentasinya terkait dengan topik lain.
  2. Pada satu kesempatan si Mashud mengatakan bahwa dia heran kenapa kok pendapat Alkitab tentang Yesus diperdebatkan karena jelas-jelas Alkitab itu tidak dapat dipercaya. Ada beberapa kemungkinan sampai keluar ungkapan seperti ini. Kemungkinan pertama, Mashud tidak berkomunikasi dengan Mokoginta saat persiapan debat alias Mashud berpartisipasi dalam dalam perdebatan tanpa paham apa yang akan dibahas dalam perdebatan tersebut. Kemungkinan kedua, Mashud memang tidak punya argumentasi apa-apa sehingga supaya tidak kelihatan tanpa argumen dia berbicara apa saja yang muncul di benaknya. Kemungkinan ketiga, Mashud memang tidak pernah berdebat sebelumnya sehingga dia tidak bisa menyembunyikan kecanggungannya. Kemungkinan keempat, Mashud tidak paham sama sekali apa itu debat. Kemungkinan kelima, Mashud memang tidak mau berdebat.

bersambung ke bagian II …


[1] Logical ad hominem adalah argumen yang mengasumsikan premis-premis lawan sebagai benar lalu dari premis-premis tersebut mengambil kesimpulan (yang diharuskan oleh premis) yang justeru bertentangan dengan kesimpulan lawan.

Pos ini dipublikasikan di Injil, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s