Bacalah Dengan Lebih Kritis! Please!

Beberapa saat yang lalu dalam diskusi saya dengan Tuan Geronimo Mauko (GM) di http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=232114989774, beliau menulis berikut:

Bahkan ada pandangan yang sedkit memiliki perbedaan tentang hakekat premis dalam teori murni ini menyangkut definisi kesimpulan yang valid, Giere (84:39) mengemukakan :

“Any argument in which the truth of the premises makes it impossible that the conclusion could be false is called a deductively valid argument.” Yang artinya, setiap argumen di mana kebenaran dari premis-premisnya tidak memungkinkan bagi kesimpulannya untuk salah disebut dengan argumen yang sah atau valid.
Dalam menganalisa sebuah kesimpulan tidak hanya sebatas yang disampaikan oleh pa ma kuru tapi juga bisa melalui tabel kebenaran dengan meberikan notasi- notai pada masing2 premis kemudian mempergunakan operator logika utk menguji kesimpulan yang dibuat.”

Kutipan tersebut diangkat untuk menunjukkan bahwa pandangan saya bahwa kesyahihan sebuah argumen tidak ditentukan oleh kebenaran premis tetapi ditentukan oleh hubungan antara premis dan kesimpulan adalah salah. Saya tidak tahu berapa banyak waktu yang dihabiskan oleh GM untuk memahami apa yang dibaca sebelum dia gunakan apa yang dibaca untuk menyerang pandangan orang lain. Tetapi tampaknya tidak terlalu banyak. Mungkin juga beliau terlalu sibuk dengan hal lain sehingga sempat membaca terlalu mendalam. Tampaknya memang beliau ini seorang yang sangat terpelajar. Ini kesimpulan sementara saya. Tetapi kalau memang benar beliau seorang intelektual, apakah itu berarti bahwa beliau bebas salah? Jawabannya adalah belum tentu. Karena itu dengan pemahaman bahwa tidak ada seorangpun yang bebas salah, saya akan menganalisa pandangan beliau dalam tulisan ini.

Pertama, pehatikan baik-baik bahwa saya tidak mengatakan bahwa kita tidak bisa membuat tabel kebenaran dan

“meberikan (sic) notasi- notai (sic) pada masing2 premis kemudian mempergunakan operator logika utk menguji kesimpulan yang dibuat.”

Saya tidak menganggap itu tidak mungkin. Yang menjadi poin saya adalah apakah kita dapat menentukan validitas satu argumen hanya dengan memperhatikan kebenaran premisnya saja? Saya katakan berdasarkan literatur-literatur yang saya baca dan saya dengar bahwa itu tidak mungkin. Hal ini bertentangan dengan apa yang dituliskan Tuan GM dalam diskusi di Facebooknya. Dia mengatakan bahwa karena saya menggunakan asumsi, otomatis argumen saya menjadi tidak valid! Dengan demikian, karena Tuan GM menyerang sebuah pandangan yang sebenarnya bukan pandangan saya tetapi pandangan yang hanya menurut beliau saja pandangan saya, maka Tuan GM sekali lagi melakukan kesalahan logika yang disebut strawmen.

Kedua, demi argumentasi, mari kita mengasumsikan sebentar bahwa beliau tidak melakukan serangan strawmen. Lalu apakah asumsi itu membuat posisi Tuan GM menjadi benar dan posisi saya salah? Sama sekali tidak! Mari kita perhatikan kutipannya tuan GM!

“Any argument in which the truth of the premises makes it impossible that the conclusion could be false is called a deductively valid argument.” Yang artinya, setiap argumen di mana kebenaran dari premis-premisnya tidak memungkinkan bagi kesimpulannya untuk salah disebut dengan argumen yang sah atau valid.”

Coba perhatikan bahwa kutipan ini tidak mengatakan bahwa hanya dengan mengetahui premis, maka kita dapat menentukan validitas satu argument. Yang dikatakan adalah bahwa kalau premis benar dan hubungannya dengan kesimpulan adalah sedemikian rupa sehingga kesimpulan juga benar maka argumen tersebut disebut argumen deduktif yang valid. (Perhatikan kata “sedemikian rupa sehingga” karena kalau kata ini tidak diperhatikan, maka orang otomatis berkesimpulan bahwa semua argument yang premis benar dan kesimpulan benar pasti valid. Itu tidak benar karena ada argumen yang premis dan kesimpulan benar tetapi tidak valid seperti yang saya katakan dalam posting sebelumnya). Jadi yang diperhatikan dalam kutipan ini adalah bagaimana hubungan antara kebenaran premis dengan kebenaran kesimpulan (bukan hanya kebenaran premis seperti kata Tuan GM di Facebooknya) menentukan validitas.

Untuk lebih jelas, perhatikan tabel berikut ini yang disadur dari: http://www.earlham.edu/~peters/courses/log/tru_val.htm

Kalau tabel ini diperhatikan baik-baik, maka jelas bahwa tidak mungkin menentukan validitas argumen hanya dengan memperhatikan kebenaran premisnya saja seperti yang Tuan GM katakan di Facebooknya. Kalau Tuan GM berpendapat lain, saya mau tahu bagaimana anda menginterpretasi tabel tersebut!

Jadi kesimpulannya adalah tuan GM melakukan strawmen argument dan kalaupun diasumsikan bahwa tuan GM tidak melakukan strawmen, jawaban beliau gagal mendukung posisi beliau! Justeru jawaban beliau mendukung posisi saya.

Saya harap kita belajar dari kesalahan seperti ini sehingga lain kali saat membaca literatur, kita tidak serta merta merasa senang karena kita merasa bahwa literatur tersebut mendukung posisi kita.

Saya juga berharap semoga Tuan GM sudi datang mengklarifikasi di sini.

Update:

Satu-satunya kasus dimana kebenaran premis dan kesimpulan menentukan validitas argumen adalah saat semua premis benar. Kalau semua premis benar, maka kesimpulan harus benar. Kalau tidak benar, maka argumen tersebut tidak valid

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik, Validitas. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s