Diskusi Tentang Validitas Sebuah Argumen

Sejak beberapa minggu lalu saya berdebat dengan seorang kontak saya di Facebook bernama Geronimo Mauko (setelah ini disebut GM). Topik diskusinya sebenarnya adalah apakah orang perlu meninggalkan gereja kalau sudah tidak berjalan sesuai dengan visi semula. Di sini saya tidak mau membahas tentang isu ini tetapi hal-hal sampingan yang sempat dibahas yaitu tentang logika. Diskusi itu dapat dibaca di sini.

Dalam diskusi GM mengatakan bahwa kalau asumsi digunakan dalam satu argumen, maka argumen tersebut tidak valid. GM berulang-ulang mengatakan hal yang sama. Tetapi anehnya pada saat mengutip literatur untuk mendukung pandanganya, GM mengutip tulisan yang membahas tentang metode ilmiah bukan membahas logika. Kutipan itupun tidak ada hubungan dengan validitas argumen. Tulisan saya ini dimaksudkan untuk menunjukkan kesalahan GM.

Gordon H. Clark mendefinisikan logika sebagai “science of necessary inference” atau ilmu tentang pengambilan kesimpulan yang tidak terelakkan. Kesimpulan yang tidak terelakkan yang dimaksud adalah kesimpulan yang mau tidak mau harus diambil berdasarkan premis. Premis adalah alasan yang dikemukakan untuk mendukung kesimpulan. (Kuliah John Robbins tentang Logika di sini berjudul Introduction to Logic)
Senada dengan Clark, Rick Grush mendefinisikan logika sebagai the study of reasoning atau studi tentang penalaran. Dimana reasoning didefinisikan sebagai proses mendapatkan informasi baru dari informasi yang sudah ada. (Kuliah Rick Grush tentang Logika di sini)
Nah, karena sekumpulan pernyataan saling terkait yang terdiri dari premis dan kesimpulan disebut argumen (lihat  kuliah di sini berjudul Introduction to Logic dan di sini ), maka dapat dikatakan bahwa logika adalah studi tentang argumen.

Contoh Argumen 1
Premis 1: Semua orang yang kedua orang tuanya berasal dari Sabu adalah orang Sabu.
Premis 2: Kedua orang tua Ma Mone berasal Sabu.
Kesimpulan: Ma Mone adalah orang Sabu.

Contoh Argumen 2
Premis 1: Semua gelas berwarna hijau.
Premis 2: Geronimo adalah sebuah gelas.
Kesimpulan: Geronimo berwarna hijau.

Contoh Argumen 3
Premis 1: Semua filsuf adalah laki-laki.
Premis 2: Socrates adalah laki-laki.
Kesimpulan: Socrates adalah filsuf.

Dalam berargumen setidaknya ada dua ukuran yang perlu diperhatikan yaitu validitas/syahih dan soundness (agak sulit saya terjemahkan ke bahasa Indonesia). Sebuah argumen disebut valid/syahih kalau kesimpulan diharuskan oleh premis (coba pelajari dua link di atas, tetapi kalau anda terlalu sibuk, bisa langsung ke link ini  atau link ini). Jadi entah premis salah atau benar tidak berpengaruh terhadap validitas dari sebuah argumen. Argumen akan tetap valid kalaupun premis salah asalkan kesimpulan diharuskan oleh premis. Dengan pemahaman seperti ini maka contoh 1 dan 2 di atas valid sedangkan contoh 3 tidak valid karena kesimpulan tidak diharuskan oleh premis. Hanya karena Socrates laki-laki dan semua filsuf adalah laki-laki tidak harus berarti bahwa dia filsuf.

Sedangkan, satu argumen disebut sound jika dan hanya jika argument valid dan premis serta kesimpulannya benar. Dari ketiga contoh di atas maka hanya contoh pertama yang sound karena argumennya valid dan premis serta kesimpulannya benar. Pada Contoh kedua, premis dan kesimpulannya salah dan contoh ketiga premis 1 salah dan premis 2 serta kesimpulan benar.

Nah, asumsi adalah sesuatu yang dianggap benar (entah dalam kenyataannya memang benar atau salah). Karena validitas tidak ada hubungan dengan kebenaran atau ketidakbenaran premis, maka otomatis penggunaan asumsi dalam berargumen tidak berpengaruh terhadap validitas argumen. Ini bertentangan dengan klaim GM. Hanya soundness dari satu argumen yang dipengaruhi oleh benar/tidaknya premis.

Update: satu-satunya saat dimana kebenaran premis (dalam pengertian terentu) menentukan  validitas adalah saat semua premis benar dalam sebuah argumen valid. Saat semua premis benar, tidak mungkin keksimpulan dari sebuah argumen yang valid salah. (Tapi jangan dibalik ya, bahwa karena premis dan kesimpulan benar, maka pasti argumen itu valid) Karena itu menjadi tidak relevan dalam diskusi di atas.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik, Validitas. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s