Ketika Salah Satu Pandangan Ateistik Dan Naturalistic Tentang Kehidupan Diuji!

Berikut adalah percakapan dalam film Cruel Logic yang saya sempat terjemahkan. Film ini adalah film Indie yang sedang digarap untuk menjadi film layar lebar tulisan Brian Godawa. Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang professor brilian yang juga pembunuh kejam. Dia berdebat dengan korbannnya sebelum membunuh. Dia meminta korbannya untuk memberikan alasan yang kuat mengapa dia tidak membunuh korban. Setiap alasan yang dikemukakan korban dipatahkan dengan mengacu kepada apa yang diajarkan atau dipercayai oleh korban dan pada akhirnya korban disiksa sampai mati. Perdebatan itu direkam dalam video. Dalam adegan ini korbannya adalah seorang professor sosiobiology.

Korban terikat di atas sebuah kursi dengan mulut yang dibungkam, terlihat panik memandang berbagai senjata penyiksaan yang ada di dalam ruangan itu. Penjahat masuk.

Penjahat: Wenky.. wenky… (menjalankan kamera video dan merekam pembicaraan). Halo doctor Palmeridge.

Penjahat (dengan nada suara yang datar dan tenang): Aku hadir dalam kuliahmu hari ini di kampus tentang biologi kriminal… DNA, insting, dan agresi… Presentasi yang dipersiapkan dengan sangat matang… Tetapi sedikit terlalu abstrak… Terlalu akademik kalau boleh dibilang begitu.
(Penjahat membuka penyumpal mulut dan Korban kelihatan ketakutan.)

Penjahat: Yang aku ingin tahu adalah…pernahkah kau benar-benar menjalani teorimu ataukah kau puas membuat tulisan di dalam menara gadingmu dan menyiksa tubuh mahasiswamu dengan pandangan intelektualmu?

Professor: Apa yang kau inginkan dari aku?

Penjahat: Aku di sini untuk menguji hipotesismu. Kau ahli sosiobiologi, bukan?

Profesor (Kelihatan lebih tenang): Ya.

Penjahat: Dalam kuliahmu engkau mengajarkan bahwa sumber kejahatan adalah genetis. Kejahatan adalah tingkah laku yang ditentukan biologi. Aku mau berdebat dengan kau tentang itu. Tetapi dalam perdebatan ini taruhannya nyata. Kalau kau menang, aku akan melepaskanmu. Kalau aku menang, itu bagian dari proposisi.

Professor: Proposisi apa?

Penjahat: Masalah terpecahkan. Tidak ada alasan yang syah kenapa aku tidak membunuhmu. Berdebat dari negatif professor Palmer dan dari afirmatif [hormat] saya.
Professor: Kau tidak akan membunuhku, bukan?
Penjahat menyetrum di paha korban. Korban berteriak kesakitan

Professor: Silahkan.. silahkan… apapun katamu!

Penjahat: Stimulus response.

Professor: Tolong jangan bunuh aku!

Penjahat (sambil menunjukkan alat setrum ke muka professor): Berikan aku alasan yang syah kenapa aku tidak boleh melakukannya!

Professor: Perbuatan itu illegal! Pembunuhan illegal! Kau akan masuk penjara. [korban terbata-bata]

Penjahat: Aku tidak punya rencana untuk ditangkap.

Professor: Tetapi membunuh itu salah.

Penjahat: Profesor, jangan menyeret-nyeret moralitas ke debat ini. Kau katakan bahwa DNA menentukan tingkah laku kita. DNA tidak punya moralitas.

Professor: Itu tidak normal. DNAmu tidak normal.

Penjahat: Normalitas ada hubungan dengan rata-rata statistik profesor. Bukan masalah salah benar.

Professor: Masyarakat setuju bahwa membunuh itu salah.

Penjahat: Masyarakat hanyalah kata lain untuk rata-rata statistik. Kita tidak berasal dari gene pool yang sama.

Professor: Tapi itu tidak membuat pembunuhan benar!

Penjahat: Itu juga tidak membuatnya salah!

Professor: Spesies kita tidak akan bertahan kalau kita membiarkan pembunuhan.

Penjahat: Kau yang tidak akan bertahan hidup professor! Aku akan bertahan hidup…. Aku dan DNAku.

Professor: Kau orang gila. Pikiranmu sakit!

Penjahat: Koreksi! (korban disetrum di paha)

Penjahat (sambil mempersiapkan sesuatu): Secara genetis aku adalah seorang pria yang tidak bisa dihalang-halangi dan memiliki kecenderungan biologis untuk agresif. Membunuh ada dalam genku. Semua ini menurut teorimu. ….. ini membawa kita kembali ke pertanyaan inti.

Professor: Tolooong..

Penjahat: Kalau semua tingkah lakuku ditentukan secara genetis, kenapa aku tidak membunuhmu? Secara ilmiah aku terikat oleh DNAku untuk melakukannya.

Professor: Tolong kasihani aku! Aku mohon!

Penjahat: Tidak ada rasa kasihan dalam genku. [korban meronta-ronta di atas kursi tempat dia diikat]

Penjahat: Secara alamiah aku adalah predator. [pembunuh sibuk mempersiapkan sesuatu]

Professor: Tolong, aku mohon padamu! Tolong!

Penjahat: Memohon bukan pilihan di sini professor!…..

Penjahat: Sekarang aku pikir saatnya engkau belajar pesanku. [sambil mempersiapkan alat pengelasan! ] Sekarang kau sudah paham bahwa gagasan punya konsekuensi. [menyalakan alat pengelasan listerik dan berjalan ke arah korban].
SELESAI

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s