Mengerti Logika Tidak? (atau) Bisa Diskusi Tidak? (atau) Jangan Mencampuradukkan Dua Hal Berbeda!

Di bawah ini kembali kutipan dari Tuan GM dalam diskusi dengan saya di salah satu Note saya (http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=232114989774).

Maka contohnya seperti ini :
a) Semua bebek menggonggong (faktanya : salah)
b) Donal adalah bebek (faktanya : benar)
Kesimpulan
Dengan demikian, Donal menggonggong (ngaco)

a) Ketika saya lapar, saya dapat memakan seekor kuda (faktanya : salah)
b) Saya lapar sekarang (faktanya : salah)
Kesimpulan
Dengan demikian, saya harus memakan kuda (ngaco)

a)Bulan lebih besar daripada bumi. (Salah)
b)Bumi lebih besar daripada matahari. (Salah)
kesimpulan
Jadi, bulan lebih besar daripada matahari (Ngaco)

a) Pria hanya berpikir tentang sex
b) Seorang pria bernama Ma kuru sedang berpikir
Kesimpulan
Dengan demikian, Ma kuru sedang berpikir tentang sex

Bayangkan apabila ini yang terjadi dalam proses diskusi, apakah ini sebuah argumentasi yang valid(sah, legal, dapat dipoertanggun jawabkan)???. Kemudian anda mempertahankanya mati – matian tanpa mengkonfirmasi terhadap kebenaran dari premis. Yang jelas bahwa metode ini bisa berakibat destruktif dalam proses berdiskusi.

Lalu apa tujuan tuan GM mengangkat hal yang saya kutip di atas? Jelas tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa validitas satu argumen ditentukan oleh kebenaran atau kesalahan premisnya.

Pertama, di sini Tuan GM tidak lagi berbicara konsep validitas satu argumen tetapi berbicara tentang konsep benar dan salah (Truth Value) dari pernyataan/proposisi. Beliau mengalihkan pembicaraan secara diam-diam. Sekali lagi beliau tertangkap basah melakukan kesalahan logika. Kali ini kesalahan logikanya bernama Red Herring. Ringkasan tentang kesalahan logika dapat juga dibaca di catatan saya di: http://www.facebook.com/note.php?note_id=92690754774atau http://www.facebook.com/note.php?note_id=86364139774.

Kedua, perhatikan bagaimana Tuan GM mendefinisikan “validitas” sebagai

“sah, legal, dapat dipoertanggun jawabkan(sic)

Definisi kata-kata ini sangat tidak jelas. Apa definisi operasional dari

“syah”, “legal” atau “dapat dipertanggungjawabkan”?

Dari mana beliau memungut definisi seperti itu? Beliau tidak memberi informasi apa-apa. Dalam diskusi hal seperti ini harus dihindari. Kita harus mendefinisikan istilah yang kita pakai secara operasional. Kalau tidak, maka diskusi berakhir di sana karena kedua belah pihak kemungkinan besar tidak akan nyambung satu dengan yang lain!

Ketiga, perhatikan bagaimana dalam menilai Truth Value dari satu statemen/proposisi Tuan GM menggunakan kategori yang tidak dikenal yaitu

“ngaco”.

Dimana ada kategori ngaco dalam diskusi tentang truth value pernyataan/proposisi? Hanya dalam kamus Tuan GM ada kategori seperti itu. Saya paham bahwa setiap orang berhak melakukan itu tetapi dalam diskusi harus dikemukakan apa maksud dari istilah yang dia pakai. Itu gagal dilakukan oleh Tuan GM. Mungkin Tuan GM terlalu sibuk. Walaupun demikian, hal itu harus dikasih tahu sejak pertama.

Keempat, saya akan melihat validitas dari masing-masing argumen yang dikemukakan oleh Tuan GM serta kebenaran atau kesalahan kesimpulannya.
Argumen yang pertama adalah argumen yang valid karena kesimpulan diharuskan oleh premis. Tetapi Truth Value (Nilai Kebenaran) dari kesimpulannya salah!
Argumen kedua adalah argumen yang tidak valid karena kesimpulannya tidak diharuskan oleh premis: hanya karena saya dapat memakan seekor kuda kalau saya lapar tidak berarti bahwa karena saat ini saya lapar maka saya akan memakan seekor kuda! Kesimpulannya pun salah.
Argumen ketiga juga argumen yang valid tetapi kesimpulannya salah.
Demikian juga dengan argument keempat adalah argument yang valid tetapi kesimpulannya salah.

Kelima, ada indikasi bahwa Tuan GM merasa aneh kenapa kok saya menekankan validitas seperti terlihat dalam paragraf terakhir kutipan di atas. Apakah validitas ini lebih penting dari pada Truth Value sehingga kita tidak peduli terhadap kebenaran premis? Validitas tidak lebih penting dari pada Truth Value. Dua-duanya sama penting. Saya menekankan validitas dalam diskusi ini karena dalam diskusi saya sebelumnya, Tuan GM mengatakan sesuatu tentang validitas yang salahnya tidak ketulungan. Saya sadar bahwa bahwa validitas dan konsep Truth Value adalah dua hal penting. Hanya karena argumen kita valid tidak berarti bahwa kesimpulan kita benar. Tetapi dalam menilai argumen itulah step-step yang harus dilalui: pertama menilai validitas lalu kemudian menilai kebenarannya. Kedua konsep ini tidak boleh dicampuradukkan seenaknya seperti yang dilakukan oleh Tuan GM selama ini.

Semoga kita belajar memperhatikan baik-baik tulisan orang sebelum ditanggapi. Kalau tidak maka kita akan menyerang sesuatu yang tidak ada hubungan sama sekali dengan pendapat lawan sehingga kita melakukan kesalahan logika. Saya juga berharap kita tidak mencampuradukkan dua konsep berbeda lalu mengeluh karena orang lain tidak ikut mencampuradukkannya seperti kita!

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s