Self Referential Absurdity

Beberapa bulan yang lalu ada banyak hal berkecamuk di kepala saya (seperti Jars of Clay wkwkwkwkwkw). Tiba-tiba pikiran saya terfokus pada hal-hal yang kedengaran rohani dan pikiran-pikiran itu mengalir melalui jari-jari saya. Lalu muncullah tulisan di bawah ini:)

Self Referential Absurdity

Frase di atas merujuk kepada sebuah keadaan dimana satu pernyataan akan menjadi konyol apabila diterapkan pada diri sendiri. Kadang-kadang frasa- frasa seperti ini terasa seperti sangat baik atau mungkin rohani. Tetapi kalau kita mengambil waktu untuk secara kritis menganalisa, maka akan jelas kebodohan di balik pernyataan tersebut.

Di bawah ini saya akan coba mendaftarkan bebarapa yang saya sudah pernah dengar tetapi jarang saya ungkapkan dalam pembicaraan langsung karena saya yakin bahwa orang akan dengan serta menolak kritikan saya kecuali saya sudah kenal orangnya. Daftar ini mungkin akan terus bertambah di masa depan.

1. Jangan percaya segala sesuatu yang belum dibuktikan secara ilmiah karena hal itu pasti tidak benar. Pada awalnya pernyataan seperti ini kedengaran sangat baik dan mungkin saja orang yang mengatakan hal ini bermaksud baik. Saya pernah dengar orang mengatakan demikian dalam beberapa kesempatan.

Ada yang secara langsung mengatakan demikian misalnya mereka yang mengenyam pendidikan tinggi dan berpegang teguh pada apa yang diterima di bangku kuliah atau dengan kata lain mereka yang terpelajar. Contoh yang sangat terkenal adalah Richard Dawkins, seorang ateis yang menggunakan teori evolusi untuk melancarkan serangan terhadap teisme (kepercayaan akan adanya Tuhan). Tapi beberapa kali saya juga bertemu dengan orang lain yang mengenyam pendidikan tinggi yang berpandangan demikian.

Ada juga yang secara tidak langsung mengatakan hal itu misalnya mereka yang mungkin tidak pernah mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengenyam pendidikan tinggi. Paling-paling mereka hanya mengatakan, “aaaahh itu khan tidak terbukti secara ilmiah!” atau pada saat diperhadapkan dengan sesuatu yang dia anggap terlalu berlebihan atau sesuatu yang membuat posisi tertentu yang dipegannya terancam. Misalnya mereka yang sangat fanatik untuk tidak percaya akan adanya setan atau makhluk supranatural akan merasa terancam kalau ada yang mengatakan pernah mengalami hal seperti itu.

Ada banyak masalah dengan pernyataan di atas antara lain apakah benar metode ilmiah memiliki kemampuan menemukan kebenaran? Apa dasar untuk mempercayai bahwa teori ilmiah membawa kepada kebenaran? Kriteria untuk menilainya kebenarannya? Apa filsafat yang berada di balik sains? Bagaimana mengetahui benar tidaknya filsafat tersebut?

Marilah kita asumsikan dulu bahwa metode ilmiah itu membawa kepada kebenaran. Kalau bertemu dengan orang yang mengatakan hal seperti, coba tanya dia apa bukti ilmiah untuk mendukung pernyataannya tersebut. Minta dia untuk menunjukkan eksperimen yang telah dilakukan di laboratorium untuk menunjukkan kepercayaan tersebut. Atau minta dia untuk menunjukkan penelitian-penelitian ilmiah yang telah dilakukan untuk mendukung pernyataan tersebut. Kalau dia gagal maka untuk menunjukkannya berarti apa yang dikatakannya itu tidak benar karena tidak ada bukti ilmiah.

2. Adalah tidak etis untuk percaya sesuatu tanpa bukti yang cukup. Ini kedengaranya sangat rohani dan sangat baik. Satu kali saya mendengar hal seperti ini diungkapkan dalam diskusi/perdebatan saya tentang poin tertentu.

Seperti halnya pernyataan nomor 1, pernyataan ini pun tidak kalah banyak masalahnya. Apakah definisi bukti? Apakah semua hal dibuktikan dengan cara yang sama? Ada banyak hal dimana orang lain berpandangan bahwa satu hal adalah bukti akan keberadaan hal yang lain, tetapi orang lain tidak menganggap itu sebagai bukti. Misalnya, bagi kaum teis (orang yang percaya adanya Tuhan), adanya keteraturan di alam semesta menunjukkan bahwa Allah; sementara itu orang lain yang ateis merasa bahwa itu bukan bukti yang dapat diterima untuk menunjukkan bahwa Allah ada. Kalau demikian siapa yang menentukan kalau sesuatu itu bukti atau tidak? Bagaimana menentukannya? Terus seberapa valid kriteria untuk menentukan apakah sesuatu itu bukti atau tidak?

Pernyataan ini sempat saya tanyakan pada saat diskusi. Pertanyaan saya adalah : “apa bukti bahwa -tidak etis untuk percaya sesuatu tanpa bukti yang cukup-“? Tidak ada jawaban yang saya terima akan pertanyaan tersebut. Dengan kata lain tidak ada bukti untuk percaya bahwa “adalah tidak etis untuk percaya sesuatu tanpa bukti yang cukup”. Jadi dengan sendirinya tidak etis untuk mempercayai pernyataan tersebut.

3. Sesuatu yang tidak dapat diverifikasi oleh indera pasti tidak ada. Sekali lagi ada berbagai masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan pernyataan seperti ini.

Saya akan menganggap bahwa tidak ada masalah kecuali yang satu ini. Yaitu: coba tunjukkan bagaimana memverifikasi dengan indera bahwa “sesuatu yang tidak dapat diverifikasi oleh indera pasti tidak ada”!

Pertanyaan ini baru saya tanyakan kepada seseorang yang saya temui di kantor yang sempat berdiskusi dengan saya. Pada akhirnya dia mengakui bahwa kepercayaan bahwa “sesuatu yang tidak dapat diverifikasi oleh indera pasti tidak ada” dengan sendirinya tidak dapat diverifikasi oleh indra. Dengan kata lain dia mengakui bahwa kepercayaannya tersebut konyol atau tidak ada.

4. Adalah [lebih] bodoh untuk mengatakan bahwa orang lain itu bodoh. Ini pernyataan yang sempat ditujukan langsung kepada saya yang selalu mengatakan seseorang bodoh kalau memang seseorang itu bodoh. Rupanya orang ini tidak sependapat dengan saya. Sempat terjadi sedikit diskusi tetapi pada akhirnya keluar pernyataan di atas. Maunya orang tersebut kalau ada orang yang bodoh, jangan bilang kalau dia itu bodoh. Yaaa…….. Diamkan aja.

Sekali lagi pernyataan ini banyak sekali masalahnya. Siapa yang mengatakan demikian? Standar apa yang dipakai untuk mengatakan demikian? Seberapa benar/valid standar itu? Siapa yang menetapkan validitasnya? Apa kriteria validitasnya? Kecuali orang yang mengatakan demikian bisa menjawab pertanyaan seperti itu secara tepat baru apa yang dianyatakannya itu sebagai benar.

Untuk sementara andaikan bahwa masalah itu tidak ada. Semuanya sudah terjawab
Coba kita analisa lebih lanjut pernyataan seperti ini. Dia bilang bahwa mengatakan bahwa orang lain itu bodoh adalah sesuatu yang lebih bodoh. Rohani khan? Kedengarannya sih? Masalahnya adalah dia mengatakan bahwa orang lain (dalam hal ini saya) lebih bodoh (mungkin lebih bodoh dari pada orang yang bodoh itu) karena menyatakan orang lain itu (yang memang bodoh adanya) sebagai bodoh. Kalau demikian saya tidak tau dia itu masuk level mana dalam kategori bodoh: yang jelas masuk dalam kategori yang lebih jelek dari “lebih bodoh”.

Pos ini dipublikasikan di Argumen Bunuh Diri, Filosofi, Logika, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s