Gordon H. Clark tentang perbandingan Ilmuwan dan Teolog

Clark’s Work Volume 5

Banyak ilmuwan dan beberapa filsuf telah menggunakan kesimpulan ilmiah menyerang agama. Beberapa di antaranya menolak kemungkinan mujizat tetapi mengakui kemungkinan keberadaan Tuhan; sedangkan yang lain benar-benar murni [berpegang pada pandangan] naturalistik dan menolak Tuhan sama sekali.

David Hume, misalnya, menolak mujizat dan Tuhan. Dia habis-habisan menyerang mujizat, dan membandingkan kisah kebangkitan Kristus dalam Perjanjian Baru dengan desas-desus bahwa Ratu Elizabeth bangkit dari kematian. Hume juga tidak memberi ruang untuk Tuhan  dengan cara mengusulkan sebuah kosmologi dimana alam semesta tidak dipandang sebagai ciptaan Tuhan tetapi dipandangan sebagai sayur kekal. Hume adalah filsuf. Filsuf yang mendasarkan teorinya atas kesimpulan ilmiah tidak boleh diabaikan; namun untuk menilai mereka dengan adil adalah bijaksana untuk pertama-tama mempelajari tetang sains dan ilmuwan yang terlibat di dalamnya.

Teori-teori yang dikemukakan banyak ilmuwan mendukung pandangan Hume.  Karena mujizat begitu sering ditolak dan pandangan ini sudah tersebar luas, hanya satu contoh yang akan diangkat dalam tulisan ini. Austin Farrer, dalam serangannya terhadap kekristenan yang ortodoks, menyatakan bahwa ada keharusan ilmiah untuk menolak percaya bahwa matahari berhenti/diam pada jaman Yosua. Namun demikian, isu yang lebih besar antara teisme dan ateisme, bukan hanya sekedar isu mujizat. Beberapa diantaranya diangkat di sini dan diahas lebih lanjut di bagian lain. Dari apa yang dianggap sebagai kesimpulan ilmiah La Mettrie bahwa roh/jiwa tidak ada, Barin d’Holbach mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Beberapa tahun kemudian Cabanis mendukung bantahan akan adanya jiwa/roh dengan mengatakan bahwa pikiran adalah sekresi fisik dari otak. Ilmuwan Jerman, Buchner menolak pandangan bahwa pikiran adalah sekresi, tetapi menganggapnya sebagai pergerakan otak, dan menegaskan ateismenya dengan lebih bersemangat lagi. “Kalau ada tiga pelajar ilmu alam, dua di antaranya ateis.” Bagaimana sains mencapai posisi ini akan dibahas berikut.

Teolog yang memberi respon terhadap serangan-serangan ini berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Saat seorang ilmuwan atau filsuf menyerang agama, dia tidak perlu tahu banyak tentang agama. Tetapi saat seorang teolog membahas sains, dia harus tahu lebih banyak. Para ilmuwan dapat lolols [dengan kritikannya terhadap agama] kalaupun yang dia pahami tentang Kekristenan hanyalah bahwa kekristenan percaya kepada Tuhan yang adalah roh non materi. Teolog diharuskan membahas tentang ruang, waktu, gerak, energy, elektrodinamika, tata surya, teori kuantum, relativitas, dan gagasan-gagasan lain.

Ada hal lain lagi yang lebih penting yang harus dipahami para teolog. Disamping potongan informasi sana-sini seperti yang disebutkan di atas, para teolog harus memiliki pandangan menyeluruh terhadap sains. Mereka harus memahami filsafat sains. Mereka harus memahami apa itu sains. Tentu saja mereka tidak dapat membandingkan agama dan sains  kecuali sudah memahami keduanya. Hal ini juga berlaku untuk para ilmuwan. Mungkin para ilmuwan bisa mengabaikan itu dan hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang agama. Tetapi mereka tentunya memahami apa itu sains. Banyak ilmuwan memiliki pengetahuan teknis yang sangat rinci tentang elektrodinamika dan teori kuantum tetapi mereka tidak memiliki pandangan yang menyeluruh baik terhadap agama maupun sains. Aneh memang tampaknya. Seniman trampil seringkali memiliki pemahaman rendah terhadap seni dan seorang ilmuwan bisa saja sangat pakar tetapi tidak paham apa itu sains. Tetapi setiap argumen yang setuju atau yang menentang agama, setiap argument yang mengklaim didukung oleh sains, lebih tergantung pada implikasi filosofis sains daripada terhadap setiap rincian informasi teknis. Kita harus melihat sains dalam satu konteks filosofis. Kita harus mempertimbangkan cakupan dan keterbatasan penerapan sains.

Gordon H. Clark, The Works of Gordon Haddon Clark, Volume 5. Halaman 17 – 18 (Terjemahan Bebas Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Philosophy of Science and Belief in God, Terjemahan, Terjemahan Bebas. Tandai permalink.

2 Balasan ke Gordon H. Clark tentang perbandingan Ilmuwan dan Teolog

  1. Nur Yandi berkata:

    inti dari perbandingan antara ilmuan dan teolog itu seperti apa?,.,. tolong jelaskan,.,..

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s