Wawancara Usang yang Mungkin Bermanfaat

Di bawah ini adalah wawancara yang dilakukan tahun 1996 dengan Professor Sahetapy. Si professor berbicara tentang orang Kristen di Indonesia. Ada hal-hal yang mungkin perlu dipertanyakan dari prof. Sahetapy tapi overall, beritanya bagus.

Wawancara Prof.Dr. J. E. Sahetapy:

Orang Kristen Bukan Indekost Di Negeri Ini !?
Prof. Dr. J. E. Sahetapy, SH, MA termasuk sedikit dari orang yang berani mengatakan kebenaran, apa adanya. Bicaranya selalu blak-blakan. “Apakah dengan mengatakan kebenaran saya menjadi musuhmu?” katanya mengutip Galatia 4, 16 yang menjadi daya dorong batinnya untuk mengeritik segala bentuk pemerkosaan terhadap kebenaran dan keadilan.

Pria Saparua-Maluku kelahiran 6 Juni 1933 ini tegas menentang dikotomi mayoritas-minoritas.  Kita ini satu keluarga besar, tidak ada jumlah-jumlah itu. “UUD pun tidak mengenal minoritas”,katanya.

Kalau kini soal perlu tidaknya orang Kristen memegang bendera Kristen dalam kiprah sosial-kemasyarakatan masih diperdebatkan. Guru Besar FH Unair ini menjelaskan bahwa itu bukan soal intinya. Yang utama, katanya, adalah dimana bendera itu ditempatkan, di pakaian atau dalam hati. “Kalau Anda mau bawa bendera Kristen tapi Anda punya perilaku nggak pantas, buat apa? Yang penting itu bendera yang ada di hati kita”, katanya pada Paul Maku Goru dari Agathos.

Sedang mengenai fenomena marginalisasi peran sosial umat kristiani, pria yang sejak setelah SMP menghabiskan hampir seluruh waktunya di Surabaya ini berkata: Orang Kristen bukan indekost di negeri ini!?

Belakangan ini banyak orang menyatakan aspirasinya lewat ‘turun ke jalan’. Apakah ini karena lembaga lembaga formal tak efektif lagi menyalurkan aspirasi mereka?
Ya. Setidak-tidaknya, menurut saya, lembaga-lembaga yang ada itu sudah dijinakkan. Sudah fully domesticated, sudah dijinakkan secara sempurna. Ini dimungkinkan oleh adanya suatu kultur yang diciptakan yang mudah sekali berakar oleh karena adanya pola neo-feodalisme. Subkultur feodalisme ini diciptakan oleh apa yang Johann Galtung sebut sebagai kekerasan struktural.

Kekerasan struktural itu tidak berarti digunakannya kekerasan fisik,tidak. Tapi bahwa di dalam berinteraksi, terjadilah hal-hal yang membuat orang takut. Misalnya cap OTB – Organisasi Tanpa Bentuk. Itu salah satu fenomena dari kekerasan struktural. Itu kan mengingatkan orang kepada PKI.Jadi orang coba menghindarinya.

Selain karena takut oleh adanya kekerasan struktural tadi, orang juga tidak lihat lembaga-lembaga ini masih berfungsi. DPR misalnya, dia memang tetap berfungsi tapi berfungsi dalam konteks yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan tugas dan panggilannya sehingga akhirnya orang cari cara lain. Ya, antara lain lewat demonstrasi.

Demonstrasi ini juga kan dimungkinkan karena kebetulan sistem yang sekarang ini tidak akomodatif sudah padat, sudah jenuh sehingga orang mencari bentuk-bentuk lain yang di luar sistem.

Kalau mengenai fenomena kekerasan struktural itu sendiri, kiranya factor apa saja yang memunculkannya?
Ini semua terjadi karena pihak penguasa merasa tidak aman. Orang kan kalau merasa tidak aman, selain pola pikirnya, pola tingkah lakunya juga berbeda.

Kalau saudara merasa tidak aman, biasanya saudara bawa pisau, pistol, macam-macam begitu.  Bahkan kadang-kadang, pola pikirnya pun menjadi rancu. Tidak hanya bawa pisau, bawa pistol, pentung dan segala macamnya,tapi pikirannya pun menjadi irasional. Dia datang ke dukun melindungi diri, memakai jimat-jimat.

Ada yang mengusulkan terjadinya transformasi struktur bahkan sistem…
Menurut saya sistem yang sekarang ini, kalau itu menurut sistem yang ada dalam konteks Pancasila dan UUD 1945, itu bisa dipertahankan. Tapi mekanisme yang di dalam ini yang harus kita jelaskan dan identifikasikan dulu. Mana-mana yang harus dipertahankan, mana yang harus diperbaiki, dan mana yang harus dirubah. Jadi menurut saya sekarang ini susah untuk merubah struktur.

Apakah ini menunjukkan adanya erosi nilai-nilai budaya dan moral?
Ya, kolektivisme misalnya. Kita katakan kita menolak individualisme, tapi apa betul? Kalau kita lihat orang Barat dengan individualisme gaya baratnya, mereka ini lebih bertenggang rasa dibanding kita. Kalau kita bicara disiplin misalnya, mereka ini kalau beli tiket pesawat, berdiri teratur, sabar menunggu. Kita yang katanya bukan individualisme tapi kolektivisme, tenggang rasanya sudah hampir tidak ada. Yang ada kan egoisme. Kan ada saling sikut-sikut di pesawat. Pesawat belum berhenti orang sudah mau keluar.  Menurut saya yang sekarang ini ada di Indonesia itu egoisme. Egoisme untuk menjadi kaya, untuk menang. Orang di barat itu individualisme, tapi kalau lawannya menang dia menyampaikan ucapan selamat, kita disini kan tidak. Yang ada itu egoisme yang sudah dibungkus dengan dendam dan permusuhan.

Jaman Orde Lama, waktu saya masih aktif bergerak di bawah tanah bersama Soe Hok Gie dan teman-teman, kita memang berbeda pendapat dengan teman-teman dari CGMI, tapi kita tetap bersahabat. Kalau sudah datang di meja perdebatan, ya lain lagi. Sekarang kan tidak. Pokoknya kalau you sudah disana, ya you musuh.

Jadi nilai kolektivisme itu tidak nampak lagi?
Yang ada pada kita sekarang ini kan egoisme. Cari kepentingan diri sendiri. Kolektivisme? Yang benar saja, mana ada kolektivisme? Kasus Kedungombo saja jelas memberikan suatu gambaran bahwa kita tidak menganut pola kolektivisme. Disana kan rakyat menderita. Di Irian, macam-macam. Rakyat kecil digusur, yang ikut main siapa, birokrat kan, setelah dibayar untuk gusur tanah-tanah rakyat untuk kepentingan konglomerat. Jadi egoisme.

Erosi itu juga terjadi dalam masyarakat biasa. Sekarang ini di Indonesia, jadi miskin itu suatu penghinaan. Mesti kaya. Sampai orang yang tidak mampu pun juga kepingin. Asal kan beli yang bermerek. Hem ada merek. Celananya juga, supaya gengsi naik. Pola hidup sederhana nggak ada. Jadi masalah di Indonesia itu bukan hanya masalah sistem tapi juga masalah nilai. Nggak ada gunanya kita rubah seluruh sistem kalau nilainya sendiri kita tidak rubah.

Apa mungkin hanya ada jurang antara yang normatif dan segi praktisnya?
Ya, itu juga. Kemarin saya ketemu seorang Pendeta yang gerejanya dirusak. Dia ceritakan, dia ketemu dengan seorang pembimbing P-4. Dia tanyakan, ‘kenapa bisa begitu?’ Pembimbing P-4 itu jawab, ‘ya kalau teori memang begitu, tapi prakteknya kan lain’. Nah ini kan sudah tidak betul.

Malah antara yang normatif dan segi praktis itu bukan saja bertentangan, tapi orang sudah tidak tahu mana yang normatif dan mana yang praksis.

Lalu bagaimana kita mengatasi segala persoalan yang ada?
Kalau saudara mandi, tidak pernah saudara bersihkan kaki dulu, baru naik ke kepala. Kalau mandi itu orang bersihkan kepala dulu baru turun ke bawah. Jadi kalau mau mulai menata, dari atas dulu, nggak bisa dari bawah. Kalau mau, ya mulailah dari atas. Mahkamah Agung harus terbuka. Mengenai hasil Korwassus, misalnya. Kalau perlu, laporan Korwassus itu ditaruh di meja. Siapa yang mau ya silahkan fotocopy. Tapi ini, malah disimpan dalam peti pandora. Nggak ada yang boleh baca kecuali Ketua MA. Itu nggak betul kan? Nah kalau mau mulai, mulailah dari atas.

Right or wrong my country itu kan tidak sama dengan right or wrong my government. Kalau di luar negeri, right or wrong my country saya pegang teguh, tapi kalau right or wrong my government, tunggu dulu. Kalau government saya korupsi macam-macam, apa saya mau right or wrong? Nggak mau saya. Orang bilang my government is my country, sabar dulu.

Ya kita harus mulai dengan yang kecil. Sehari selembar benar, lama-lama menjadi kain. Saya yakin itu bisa. Kain kebenaran, kain penegakkan hokum dan sebagainya bisa dirajut asal kita semua rajin mengumpulkan semua benang-benang kita dan menenunnya.

‘Kan itu tidak bisa sehari selesai. Kita harus belajar sabar.

Sejak adanya fusi, orang kristen sudah lebih bebas memberikan aspirasi politisnya…
Saya bilang sama Gereja, kalau ada jemaat yang pilih PPP juga bisa dibenarkan. Itu kan hak dia, hak asasi dia. Cuma kalau dia pilih PPP dan dia katakan sama Romo bahwa saya pilih PPP maka tugas Romo mempastoralkan dia, membimbing dia. Tapi itu kan hak dia. Demokrasi.

Kalau menyangkut peran sosial kemasyarakatan dari umat kristiani sekarang, bagaimana evaluasi Bapak?
Mangirput! Itu istilah orang Batak, seperti anjing yang ketakutan, ekornya dikepit di antara kaki belakangnya.

Padahal sebenarnya tidak boleh begitu. Republik Indonesia ini kan punya kita semua. Kita orang kristen bukan orang indekost. Ini rumah kita. Hasil perjuangan kita juga, buktinya taman-taman makam pahlawan itu juga penuh dengan tanda salib.

Tapi susahnya, dalam hal memberikan evaluasi kritis, orang kristen itu berpegang pada Roma 13, ayat 1, supaya patuh kepada pemerintah. Padahal di Roma 13 ayat 3 juga dikatakan, berbicaralah demi kepentingan kebenaran. Rasul Paulus dalam Galatia 4, 16 kan juga menanyakan, ‘Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku menjadi musuhmu?” Kan tidak.  Masa orang yang mengatakan kebenaran menjadi musuh pemerintah. Kecuali kalau saya hasut, kecuali kalau saya ajak berontak, kecuali kalau saya ajak mau bikin huru-hara.

Apa mungkin karena posisi kita yang minoritas?
Ini adalah pikiran yang tidak betul. Dia pikir, ya karena golongan minoritas ya sudahlah begitu. Lalu dia termakan dengan omongan Habibie tentang demokrasi proporsional.

Demokrasi proporsional itu demokrasi yang menyesatkan. Kalau demokrasi proporsional, maka yang memerintah ini harus orang Jawa. Habibie itu kan bukan orang Jawa kan. Nah apakah karena itu juga maka secara proporsional orang Islam harus juga memerintah kita, wah tunggu dulu. Ini kan bukan negara agama. Ini kan negara Pancasila. Demokrasi Pancasila kan berbeda dengan demokrasi pencak silat. Orang kristen bukan golongan minoritas. Siapa yang bilang kita golongan minoritas?

Mungkin maksudnya dalam jumlah…
Tidak bisa. Kita ini kan satu kesatuan. Kalau begitu konsep Murdiono bahwa kita ini negara integralistik itu keliru. Jadi misalnya saudara punya anak lima dua laki-laki, tiga perempuan, maka wanita harus kalah. Kan tidak, semuanya kan diberi cinta, kasih, makan dan pakaian yang sama.

Kita ini satu keluarga besar. Tidak ada jumlah-jumlah itu. Kalau saya,karena kecil lalu ditaruh jadi warga negara kelas dua, lebih baik saya pilih warga negara lain saja.

UUD tidak mengenal minoritas. Presiden pun tidak disebut harus orang Islam. Itu kan interpretasi saja. Di UUD kan dikatakan bahwa Presiden Republik Indonesia adalah warga negara Indonesia asli.

Kalau dilihat, sekarang ini kan terjadi proses marginalisasi orang Kristen…
Itu yang saya bilang tadi konsepnya Habibie, demokrasi proporsional. Transmigrasi, yang dikirimkan harus Islam. Di Irian Jaya yang mayoritasnya Kristen anggaran belanja dari Departemen Agama ternyata 80 % untuk orang Islam yang jumlahnya sedikit, 20 % untuk orang Kristen yang jumlahnya banyak. Saya dengar sendiri dari Gubernurnya. Ini bagaimana ini. Jadi proses marginalisasi itu bukan baru mulai, tapi sudah lama itu. Persoalan Irian dan Tim-Tim itu kan bukan hanya persoalan politik, tapi itu kan persoalan budaya, persoalan sosial, macam-macam. Kalau orang rebut mengenai Gereja Katolik di Dili yang membikin pernyataan tentang agama Islam, kenapa di Aceh tidak boleh ada Gereja didirikan? Yang benar sajalah.

Memang kita harus bilang sama Mgr. Belo agar Tim-Tim juga terbuka untuk siapa saja, tapi Aceh juga harus begitu. Buka dong Aceh juga. Jadi jangan kita hanya kritik Mgr. Belo saja.

Lalu kenapa ada sebagian besar orang Kristen yang kurang berani bicara?
Itu karena dia tidak berpijak pada Kitab Suci. Contoh Ester, dia kemudian jadi istri raja.  Ketika diberitahu oleh Mordekhai bahwa orang Yahudi akan dibunuh, Ester kaget. Mordekhai bilang kamu harus beritahukan kepada Ahasyweros. Ester bilang tunggu dulu. Kalau saya menghadap raja tanpa dipanggil, saya bisa dibunuh. Mordekhai bilang kalau kamu takut dibunuh, kamu pada satu waktu juga akan dibunuh, karena kamu juga orang Yahudi. Lalu Mordekhai katakan, kalau kamu tidak mau masih ada kekuatan lain yang bisa membantu, maksudnya Tuhan. Lalu Ester berpuasa dan berdoa tiga hari lamanya. Setelah berdoa dan berpuasa, akhirnya dia mendapat keberanian dan menghadap raja. Itu kan berarti Tuhan buka jalan bagi dia.

Kita juga begitu. Kenapa kita takut. Kalau perlu kita juga menghadap Presiden dan menceritakan nasib kita kan.

Jadi kemampuan kritis profetik Gereja harus terus dipertahankan?
Jelas. Saudara baca Amos 5, ayat 21 – 24. Disitu dikatakan, Tuhan benci dengan semua ibadahmu, Tuhan benci dengan semua nyanyian-nyanyianmu, gambusmu, dengan semua ritualitasmu.  Tuhan muak. Yang Tuhan inginkan dari kamu adalah menegakkan keadilan dan kebenaran seperti sungai yang senantiasa mengalir. Amos itu nabi kecil,dia hanya seorang penggembala sapi, tapi Tuhan pakai dia buat bicara.

Tuhan kan nanti bertanya, ketika aku ditahan, siapa yang bicara untuk keadilanku. Saudara bisa baca Matius 25. Ketika aku lapar, siapa yang beri aku makan, ketika aku telanjang siapa yang beri aku pakaian. Dan ketika orang bertanya, Tuhan kapan Engkau lapar, kapan Engkau ditahan? Tuhan akan jawab, mereka itu rakyat kecil, rakyat marginal, kaum periferi, rakyat yang dipecundangi. Ya, begitulah menurut saya. Sekarang ini mana orang yang bisa bicara untuk rakyat kecil.  Kalau bicara untuk rakyat kecil itu kan bisa dituding macam-macam, kan repot.

Mungkin karena takut itu, ada yang mengusulkan supaya dalam keterlibatan sosial, kita tidak usah memamerkan bendera Kristen…
Itu bukan soal takut atau tidak. Tapi soal mau taruh dimana bendera itu? Di pakaian atau dalam hati. Kalau di pakaian, akan luntur kan ketika dicuci. Tapi kalau dalam hati, nggak bisa. Kalau anda mau bawa bendera Kristen tapi anda punya perilaku nggak pantas, buat apa.  Waktu orang tanya, kenapa tidak ada menteri orang Kristen? Saya katakan itu nggak perlu itu.  Yang penting bukan itu. Yang penting itu apakah menteri itu betul jujur apa tidak, diskriminatif apa tidak, Pancasilais apa tidak. Buat apa kita angkat menteri dari kelompok mana saja tapi brengsek. Jadi yang penting itu bendera yang di hati kita.

(Sumber: Agathos, Thn I / 1996)

Sumber: http://www.xs4all.nl/~noes/bahasa/Sahetapy.htm akses terakhir Selasa 15 April 2008 12.56 WITA

Terakir (3 Januari 2013), saya juga membacanya di sini: http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/04/09/0080.html

Pos ini dipublikasikan di Copy Paste, Praktis, Prof. Sahetapy. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s