Merujuk Kepada Rasa Kasihan

Bagaimana mungkin anda menuntut dia karena membunuh ibunya? Sekarang dia Yatim Piatu

Merujuk kepada rasa kasihan adalah sesuatu yang busuk dan tidak jujur. Pembicara mencoba untuk memusatkan perhatian kepada masalah dan keputusasaan yang dia atau orang lain alami, bukan untuk menunjukkan kredibilitas rasional dari posisinya, tetapi untuk mempermainkan emosi lawan bicara atau audiens, dikasihani, dan akhirnya mendapatkan keuntungan dalam perdebatan. Jenis argumen seperti ini digunakan dalam berbagai situasi – mulai dari hubungan pribadi sampai ke negosiasi politik antara dua negara. Kadang-kadang, pihak yang kuat yang sebenarnya tidak berada dalam posisi tertekan berpura-pura menjadi korban, atau menjadi “underdog,” untuk menimbulkan rasa bersalah atau rasa kasihan pada lawan atau audiens.

Orang yang melakukan kekeliruan seperti ini tidak mencoba untuk berargumentasi tetapi memanipulasi lawan. Seorang ibu bisa saja mencoba untuk menimbulkan rasa bersalah dalam diri anaknya dengan mengatakan berapa banyak dia telah berkorbah untuk anaknya, dan bagaimana dia peduli terhadap anaknya. Kalau kebenaran yang dikatakan itu tidak ada hubungan dengan topik yang sedang dibicarakan, maka ini bukan upaya untuk berdialog, tetapi untuk mengendalikan dan menekan orang lain.

Orang Kristen seringkali menjumpai kesalahan seperti ini. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus berjalan dalam kasih, dan bahwa kita tidak boleh hidup tanpa rasa kasihan terhadap orang lain. Memahami sebagian dari apa yang diajarkan Alkitab, orang tidak percaya, dan seringkali juga orang yang mengaku Kristen, mencoba untuk mengeksploitasi iman kita demi keuntungan mereka. Namun demikian, disamping mengajarkan untuk “tulus seperti merpati,” Alkitab juga menasihati kita untuk “cerdik seperti ular” (Matius 10:16).

Seorang Kristen bisa saja mengkonfrontir orang tidak percaya atas dosa tertentu. Orang tidak percaya bisa berkata bahwa walaupun (kadang-kadang mereka tidak mengakuinya), orang Kristen diperintahkan untuk “mengasihi” dia, karena itu harus mentolerir perilakunya. Kadang-kadang, orang tidak percaya yang tidak senang dengan perilaku seorang Kristen, bahkan walaupun orang Kristen tersebut benar, bisa saja mengambil inisiatif melawan orang Kristen tersebut dan menuduhnya munafik karena tidak berjalan dalam kasih. Orang Kristen yang tidak paham Alkitab lebih baik dari penuduhnya bisa saja terperangkap dan tunduk pada penipuan  seperti ini.

Strategi seperti ini tidak bermoral, tidak rasional, dan manipulatif, sehingga kita tidak perlu tunduk kepadanya. Kasih, apabilan digunakan dalam konteks ini, secara salah diartikan sebagai berlaku sopan, berbicara lembut, taat, kompromi, dan tidak bersifat konfrontatif; sedangkan menurut Alkitab, menantang dosa bisa saja merupakan tindakan kasih. Alkitab berkata, ” Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.” (Amsal 27:5), dan kita harus berbicara tentang “kebenaran dalam kasih ” (Efesus 4:15). Kita diharuskan untuk, ” Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” (Efesus 5:11).

Bahkan orang yang mengaku Kristenpun memanipulasi orang Kristen lain dengan memutarbalikkan ajaran Alkitab tentang kasih, sedangkan kita diharuskan berjalan dalam kasih berdasarkan pengertian yang Tuhan katakan, bukan pengertian mereka yang berupaya mengendalikan kita. Kita tidak boleh membiarkan orang lain membodohi orang Kristen dengan membiarkan mereka mengambil tenaga, waktu, dan uang kita melalui penipuan. Kita perlu kebijaksanaan dan skeptisisme yang sehat apabila diperhadapkan dengan keadaan seperti itu.

Merujuk kepada rasa kasihan bisa saja berbentuk: “Kalian orang Kristen seharusnya berjalan dalam kasih. Tidakkah kau mengasihi aku? Mengapa kau berkata kepadaku demikian?” Yang mengatakan demikian tidak menjawab isi dari apa yang dikatakan, tetapi menentang sikap orang yang mengemukakan pendapat menentang dia. Bisa saja orang Kristen tidak terlalu keras mengemukakan pendapatnya, tetapi orang tersebut menjadi protektif akan bidang yang dibicarakan, dan menolak merespon secara langsung terhadap argumen si orang Kristen. Pembicara mencoba menghindari isu yang dibahas dengan merujuk ke faktor-faktor yang tidak relevan dengan isi diskusi. Kalau si orang percaya mengajukan argument yang kurang tepat, lawan bicara seharusnya mengemukakan kelemahannya dari segi isi maupun struktur argumennya, bukan sikap orang tersebut. Jika orang Kristen mengasihi orang tersebut, saat tertentu dia bisa saja harus keras dalam konfrontasinya, untuk mengekspose perilaku kegelapan seperti diperintahkan Paulus.

Ada waktu dimana pelayan perlu “menegur [jemaatnya] dengan tegas, supaya mereka menjadi sehat dalam iman,” (Titus 1:13). Definisi banyak orang tentang kasih tidak mentolerir perintah Alkitab ini. Konsep mereka tentang kasih tidak alkitabiah, tetapi berasal dari gagasan humanistik dan bukan pemahaman Alkitab yang benar. Kasih alkitabiah yang benar kadang-kadang lembut, tetapi pada saat tertentu keras dan tidak kompromi serta konfrontatif. Tidak tergantung pada orang tidak percaya untuk mendikte kepada kita apa artinya berjalan dalam kasih dalam situasi tertentu.

Orang tua, entah Kristen atau tidak, kadang-kadang menggunakan perintah Alkitab untuk, “Hormati ayah dan Ibu ” (Keluaran 20:12) untuk memanipulasi anak-anak mereka. Kalau yang dikatakan tidak alkitabiah, orang Kristen tidak diharuskan mengikutinya. Sebaliknya dia memiliki kewajiban untuk menolak apa yang diperintahkan. Perintah Alkitab untuk menghormati orang tua tidak berlaku untuk permintaan-permintaan yang tidak alkitabiah. Misalnya, Matius 10:33-37, 19:29, Markus 3:32-35, dan Luke 9:59-60 memerintahkan kita untuk menganggap Yesus Kristus dan injilnya sebagai lebih penting dari pada keluarga. Setiap pernyataan Alkitab harus dipahami dalam terang dan konteks bagian Alkitab  lainnya, dan tidak tergantung pada orang Kristen yang manipulatif dan orang non Kristen untuk menafsirkan Alkitab untuk kita berdasarkan pemikiran mereka yang terbalik. Sekali lagi, kita perlu menghormati orang tua berdasarkan perintah Tuhan – yaitu seperti didefinisikan oleh Allah,bukan berdasarkan manipulasi.

Tentu saja ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu memberi perhatian kepada apa yang orang tua kita katakan. Ini hanyalah contoh untuk memberi ilustrasi bahwa ada orang yang mendistorsi ajaran Alkitabdan mencoba membuat orang Kristen melakukan apa yang mereka inginkan. Kita harus berhati-hati agar kita yang takut akan Tuhan dan perintah-Nya, menjadi bahan mainan dari mereka yang tidak menghormati Dia.

Bentuk lain dari merujuk kepada rasa kasihan terkait dengan argumen seseorang tentang penderitaan ibu tidak bersuami, anak-anak lapar, orang cacat, orang miskin, orang sakit dan kelompok marjinal. Pembicara menghubungkan ketidakberuntungan tersebut dengan posisi (argumen) orang tersebut seolah-olah masa depan mereka tergantung pada argumennya. Dia bisa saja merumuskan argumennya sedemikian rupa sehingga kalau kita tidak setuju dengan dia maka kita menentang kesejahteraan orang termarjinalkan.

Jika argumen tersebut memang benar-benar terkait dengan kaum marjinal, maka apa yang dikatakan bukan merujuk kepada rasa kasihan, sehingga bukan kekeliruan. Namun demikian, kecuali hubungannya jelas, beban pembuktian berada pada pembicara untuk mengemukakan hubungan antara kaum marjinal dengan argumennya. Kalau ada rujukan kepada rasa kasihan yang tidak dapat diterima, pihak lain harus mengenalinya dan mengeksposenya.

Dalam merujuk kepada rasa kasihan, si pembicara bisa saja merujuk kepada kelompok marjinal, atau menempatkan diri sendiri sebagai korban. Secara umum, merujuk kepada kelompok marjinal bukan sebuah kesalahan kalau apa yang dikatakan memberi sumbangan terhadap logika dari argumentasi yang dikemukakan. Merujuk kepada rasa kasihan merupakan langkah yang paling sering dilakukan dalam argumentasi – jadi jangan dibodohi!

Diterjemahkan dari: Sini

Pos ini dipublikasikan di Injil, Logika, Praktis. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s