Ibumu Sapi!

Berikut ini adalah kutipan dari tulisan Vincent Cheung yang menunjukkan bagaimana berdiskusi secara berarti dalam perbincangan tentang pandangan dunia yang berbeda. Untuk lebih memahami tentang hal ini silahkan baca tulisan Cheung yang dapat didownload gratis pada websitenya. Untuk mengaksesnya silahkan klik pada tulisan Vincent Cheung di atas.

……………

Berikut ini adalah percakapan fiktif antara Vincent, Nathan, dan Sam. Percakapan yang disusun dengan tergesa-gesa ini hanyalah alat bantu ajar dan tidak secara tepat mewakili apa yang akan dikatakan orang tidak percaya dalam konteks yang sama. Percakapan ini juga tidak menggambarkan semua yang saya akan lakukan (dan yang anda ingin lakukan) dalam sebuah percakapan atau perdebatan informal tentang kekristenan. Disamping itu,dialog ini tidak menyelesaikan isu apapun yang diangkat dalam percakapan ini. Sekali lagi, tujuan saya adalah mengajar cara berpikir tertentu, sebuah pola pikir Kristen yang dapat diadaptasikan ke dalam situasi perdebatan apa saja, dan bukan hanya sekedar kata-kata yang harus dihafalkan.

Nathan :     Vincent! Apakah kamu ingat saya? Kita bertemu pada acara pernikahan Tommy tahun lalu. Apa kabarmu?

Vincent :    Saya baik-baik saja. Tentu saja saya masih ingat kamu.

Nathan :     Perkenalkan saudara saya Sam.

Vincent :    Hai, Sam.

Sam :          Halo.

Nathan :     Buku apa yang sementara kamu baca?

Vincent :    Saya membaca buku William Shedd [berjudul] Dogmatic Theology.

Nathan :     Apakah itu buku Kristen?

Vincent :    Ya, ini adalah tulisan yang dipikirkan matang – matang tentang tentang pokok yang mengasyikkan.

Nathan :     Saya tidak akan pernah menjadi Kristen.

Vincent :    Oh, begitu? Mengapa demikian?

Nathan :     Yaah, saya bukan mau menyinggung perasaanmu, tapi saya pikir Kekristenan terlalu irasional, dan karena itu saya tidak dapat menerimanya.

Vincent :    Kalau kamu punya waktu sedikit, kita akan berbicara tentang apa yang kamu ketahui tentang kekristenan sebentar lagi. Namun sebelum sampai ke sana, [saya ingin bertanya] apa yang kamu percayai? Bagaimana kamu memutuskan mana yang benar dan mana yang salah? Bagaimana kamu memandang realitas? Jika kamu menolak apa yang kamu anggap irasional, sudahkah kamu menemukan sesuatu yang rasional untuk dipercayai?

Nathan :     Ya, saya percaya bahwa sains / ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang rasional dan cara yang dapat diandalkan untuk menemukan informasi tentang realitas, dan karena itu saya percaya pada sains.

Vincent :    Coba kita lihat apakah saya dengan tepat memahami pandanganmu. Kamu berkata bahwa kamu hanya bersedia percaya pada sesuatu yang rasional, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang rasional, sementara itu kekristenan bukanlah sesuatu yang rasional; karena itu kamu hanya percaya sains/ilmu pengetahuan.

Nathan :     Ya, itulah yang saya maksudkan.

Vincent :    Apakah rasionalitas itu? Dan apakah sains/ilmu pengetahuan itu?

Nathan :     Apa maksudmu?

Vincent :    Kamu berkata bahwa kamu hanya akan percaya pada sesuatu yang rasional, dan sains adalah sesuatu yang rasional. Kalau saya mau berbicara dengan kamu, maka saya harus memahami apa yang kamu maksudkan dengan rasionalitas, apa yang kamu maksudkan dengan sains, dan mengapa kamu berpikir bahwa sains itu rasional.

Nathan :     Saya belum pernah berpikir secara mendalam tentang hal itu sebelumnya, namun pertanyaanmu tidak sulit dijawab. Kepercayaan yang rasional adalah kepercayaan yang didasarkan pada bukti yang syah dan realitas, dan didasarkan pada fakta dan verifikasi fakta. Ilmu pengetahuan adalah satu cara untuk berinteraksi dengan dunia yang memperhitungkan hal ini. Sebagai contoh, ilmu pengetahuan melakukan eksperimen untuk menguji hipotesis.

Vincent :    Jawabanmu sudah jauh lebih seksama daripada jawaban kebanyakan orang bukan Kristen, namun belum cukup.

Nathan :     Kenapa bisa begitu?

Vincent :    Masih ada terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Apakah yang dimaksud dengan bukti? Apakah yang dimaksud dengan realitas? Apakah yang dimaksud dengan fakta? Kamu mengatakan bahwa ilmu pengetahuan melibatkan eksperimen, [tetapi pertanyaannya adalah] mengapa eksperimen itu dianggap sebagai sebuah cara yang rasional untuk mendapatkan informasi yang benar tentang realitas? Pada saat kamu mengatakan bahwa kamu percaya pada ilmu pengetahuan dan pada eksperimen, apakah kamu bermaksud mengatakan bahwa kamu sendiri yang menggunakan metode ilmiah untuk menemukan apa yang kamu pikir kamu tahu saat ini tentang realitas? Ataukah kamu percaya pada apa yang dikatakan para ilmuwan tentang apa yang mereka temukan dengan menggunakan metode ilmiah? Kalau demikian, apakah kamu sebenarnya percaya pada ilmu pengetahuan atau percaya pada kesaksian para ilmuwan?

Nathan :     Wah..banyak sekali pertanyaannya!

Vincent :    Saya tidak menanyakan pertanyaan ini hanya sekedar untuk bertanya. Saya juga tidak menanyakan pertanyaan –pertanyaan tersebut untuk mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada kaitannya sama sekali, namun kamu yang mengklaim diri sebagai [seorang yang] rasional, dan sekarang kamu harus mendukung klaim mu tersebut dengan secara rasional mempertahankan kepercayaanmu tersebut. Tapi pertanyaan saya belum selesai. Saya pikir kamu setuju bahwa rasionalitas terkait dengan logika dan pola pengambilan kesimpulan yang syah, dan dengan mengatakan bahwa Kekristenan adalah sesuatu yang irasional, itu berarti bahwa kamu mengatakan bahwa kekristenan tidak logis dan di dalamnya terdapat pola pengambilan keputusan yang tidak syah. Apakah itu gambaran yang tepat tentang apa yang kamu pikirkan?

Nathan :     Ya, saya pikir demikian. Namun apa tujuanmu [menanyakan pertanyaan –pertanyaan ini]?

Vincent :    Kalau kamu mengklaim diri sebagai rasional, maka saya meminta kamu untuk benar-benar rasional. Maksud saya, saya akan meminta kamu untuk mengambil kesimpulan dengan cara yang syah mengikuti hukum-hukum logika yang ketat.

Nathan :     Tidak masalah. Saya pikir itulah yang dilakukan ilmu pengetahuan.

Vincent :    Tapi ingat, kamu masih menyisakan berbagai pertanyaan yang belum dijawab. Jadi tampaknya kamu [sudah] memiliki masalah. Karena kamu berpendapat bahwa ilmu pengetahuan bersifat sangat rasional, tolong tunjukkan saya satucontohkesimpulan yang rasional yang diambil berdasarkan metode ilmiah dalam seluruh sejarah ilmu pengetahuan. Sebelum kamu menjawab, tolong diingat bahwa kesimpulan yang rasional tentang realitas merupakan sebuah proposisi tentang realitas yang mau tidak mau harus dideduksi dari premis yang tepat/benar. Ini hanya logika sederhana. Apa saja premis yang benar itu dalam contoh yang akan kamu tunjukkan? Bagaimana kamu menemukannya? Bagaimana kamu tahu bahwa premis-premis tersebut benar? Apakah prosedur untuk mendapatkannya termasuk mendapatkan pengetahuan dari sensasi inderawi? Kalau demikian, tolong jelaskan bagaimana pengetahuan dapat secara rasionaldiperoleh lewat sensasi inderawi. Setiap kepercayaan yang rasional dapat ditulis sebagai sebuah proposis, jadi tolong tuliskan keseluruhan proses bagaimana sebuah sensasi inderawi menjadi sebuah proposisi dalam pikiran. Jika sains bersifat rasional, dan jika kepercayaan kamu terhadap sains adalah sesuatu yang rasional, pastilah kamu dapat menjawab saya dengan mudah

.

(kemudian waktu dalam percakapan…)

Nathan :     Sekarang kita telah berpindah topik dan berbicara tentang sifat Allah, saya memiliki beberapa keberatan menyangkut dengan topik ini. Tidak ada seorangpun orang Kristen, setidak-tidaknya yang saya pernah temui dan ajak diskusi, yang mampu menjawab secara rasional. Kadang-kadang mereka mengemukakan sejumlah istilah teologis, dan pada akhirnya mereka mengatakan bahwa semua itu adalah misteri. Bukannya mempertahankan kekristenan, apa yang mereka itu katakan justeru memperkuat kepercayaan saya bahwa agama yang satu ini adalah agama yang irasional. Mungkin kamu bisa menjawabnya?

Vincent :    Kedengarannya pertanyaan yang sulit, tetapi cobalah saya.

Nathan :     Baiklah. Kalau Allah sepenuhnya berdaulat seperti yang diajarkan kekristenan, maka itu berarti bahwa Dia adalah Pencipta dosa.

Vincent :    Jadi apa masalahnya?

Nathan :     Jadi apa masalahnya?! Apakah kamu tidak melihat masalahnya? Pada saat saya mengatakan hal itu pada seorang Kristen, dia akan mengorek sana-sini dan membantahnya, lalu kemudian memberikan sejenis penjelasan yang membingungkan yang tampaknya bertentangan dengan apa saja yang baru dikatakannya tentang sifat Allah.

Vincent :    Saya akan dengan senang hati menjawab kalau kamu menyatakan pada saya apa masalahnya.

Nathan :     Saya terkejut kalau kamu tidak melihat apa masalahnya. Kalau Allah berdaulat, maka itu berarti bahwa Allah adalah Pencipta dosa, namun jika Allah adalah Pencipta dosa, maka itu bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab tentang Dia.

Vincent :    Apakah benar demikian? Bagaimana sampai demikian? Saya ingatkan kamu bahwa saya belum menerima ataupun menolak pandangan bahwa Allah adalah Pencipta dosa. Sampai saat ini, kamu belum menyatakan apa masalahnya. Bagaimana kamu sampai pada peryataan/premis bahwa “Allah tidak mungkin pencipta dosa”?

Nathan :     Kalau Allah adalah Pencipta dosa, maka itu berarti bahwa Allah itu tidak benar!

Vincent :    Bagaimana sampai demikian? Apakah kebenaran dan ketidakbenaran itu? Omong-omong, apakah artinya “Pencipta”? Lalu apakah definisi “dosa” dalam tantangan kamu tadi?

Nathan :     Saya belum sempat berpikir sedetil itu sebelumnya.

Vincent :    Engkau perlu melakukannya! Ijinkan saya untuk menunjukkan padamu bagaimana engkau bisa membuatnya menjadi tantangan yang nyata dan rasional. Pertama –tama, kamu harus memastikan dulu kebanaran premis bahwa kalau Allah berdaulat itu berarti bahwa dia adalah pencipta dosa. Kedua, kamu harus memastikan kebanaran premis bahwa kalau Allah adalah Pencipta dosa maka hal itu akan bertentangan dengan ajaran Alkitab, atau ajaran Kekristenan. Kemudian, kamu harus memastikan bahwa kedua premis ini secara pasti akan membawa pada kesimpulan bahwa kekristenan salah. Catat bahwa kamu harus memberikan argumen yang syah untuk setiap premis tersebut sehinga premis-premis tersebut pasti benar. Patut diingat pula bahwa kamu harus memiliki definisi yang koheren dan relevan dari semua kata dan ungkapan yang ada dalam tantangan kamu tersebut seperti “Allah,” “berdaulat,” “pencipta,” dan “dosa.” Kalau kamu gagal melakukannya, maka tidak ada tantangan yang perlu saya jawab sama sekali. Nah, jika kamu belum pernah memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang merupakan keharusan ini, maka itu tandanya kamu tidak serasional yang kamu pikirkan, dan karena itu adalah sesuatu yang munafik untuk mengatakan bahwa Kekristenan itu irasional.

(kemudian waktu dalam percakapan…)

Sam :          Kamu lihat sendiri, Nathan, sudah saya katakan sebelumnya. Sia-sia saja berdebat dengan dia lalu membiarkan logika [memutuskan mana yang benar dan mana yang salah].

Vincent :    Jadi kamu tidak percaya pada logika?

Sam :          Tidak, saya tidak percaya logika.

Vincent :    Hebat, itu berarti kamu percaya logika.

Sam :          Kenapa kamu mengatakan demikian? Saya baru saja mengatakan bahwa saya tidak percaya logika.

Vincent :    Apa? Ibumu sapi? Apa yang membuatmu berpikir hal seperti itu?

Sam :          Saya tidak mengatakan demikian, ibu saya bukan sapi.

Vincent :    Apa? Ayahmu penjahat dan saudara perempuanmu pelacur? Hei, saya tidak perlu tahu semua itu!

Sam :          Berhenti menghina keluarga ku!

Vincent :    Saya tidak sementara menghina keluargamu, kamu sendiri yang menghina mereka.

Sam :          Bicaramu tidak masuk akal!

Vincent :    Apakah saya perlu berbicara yang masuk akal? Logika menyatakan bahwa A bukanlah non-A pada saat yang sama dan dengan definisi yang sama. Karena kamu tidak percaya logika, maka “Saya tidak percaya logika ” dapat saja berarti “Saya percaya logika,” “Ibu saya sapi,” “Ayah saya penjahat,” atau “Saudara perempuan saya pelacur.” Nah, apakah kamu percaya logika atau tidak? Kalau kamu percaya logika, berarti kamu bisa mempertahankan perdapatmu lebih baik daripada si Nathan; tapi kalau kamu tidak percaya logika, maka itu berarti kamu percaya logika – dan ibumu sapi.

……………………………………………………..

Sumber:http://www.rmiweb.org/books/conversation.pdf, halaman 24-29

Pos ini dipublikasikan di Argumen Bunuh Diri, Filosofi, Injil, Logika, Polemik, Vincent Cheung. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ibumu Sapi!

  1. Nels berkata:

    Talalu ena Ama Tana ee

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s