Nurdin Halid bukan Nurdin Halid Anti Politisasi Pro Politisasi

Perhatikan bagaimana Nurdin mencari muka dengan segala macam cara

Sebenarnya saya muak dan suka menganggap apa yang dikatakan oleh para politikus sebagai tidak ada. Tetapi kadang-kadang ada gunanya juga menanggapi. Entah untuk melatih kembali “otot-otot pikiran” yang sudah “kaku” ataupun “hanya untuk menyenangkan diri menulis”. Berikut adalah tanggapan terhadap komentar Nurdi Halid yang mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada politisasi.

Menurut Nurdin, jamuan makan di kediaman Ical dilakukan sebagai bentuk ucapan terimakasih atas perhatian salah satu orang terkaya di Indonesia itu pada PSSI. Disebutnya, selama dia memimpin PSSI, 80 persen pembiayaan tim Merah Putih berasal dari keluarga Bakrie.

Ma Kuru: Yaa…. pertama: apakah penghargaan itu harus dalam bentuk kunjungan ke rumah? Kenapa penghargaannya bukan dalam bentuk prestasi? Aaahhh Nurdiiiinnn Nurdin… semakin belepotan aja si muka tebal satu ini. Kedua, kalaupun harus berterima kasih dengan mengunjungi rumah Aburizal Bakrie, apakah harus dilakukan pas sibuk persiapan pertandingan??? Otak.. otak

“Saya sampaikan pada pengurus, timnas, ofisial dan pelatih, saya mau mengucapkan terimakasih pada keluarga Bakrie,” ucap Nurdin saat diwawancarai TVOne, Senin (27/12/2010).

Ma Kuru: Ucapan terima kasih harus berkunjung ke rumah? Inikah orang terbaik yang ada di bangsa ini?

Tidak hanya itu, perayaan Istighosah di pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, juga dianggap bukan sebuah masalah yang mengganggu konsentrasi tim. Kegiatan yang dilakukan hanya 16 jam sebelum timnas berangkat ke Malaysia itu murni karena ada niat baik dari para Kyai untuk mendoakan pemain.

Ma Kuru: Jadi karena satu kegiatan itu dilakukan karena niat baik maka tidak mengganggu latihan alias tidak ada salahnya. Woooowww……. seorang laki-laki berniat baik untuk menghilangkan kesepian isteri temannya yang sedang ke luar negeri sehingga dia pergi ke rumah temannya dan menemani isterinya tidur semalam. Itu juga niat baik Om Nurdin.

Saat ditanya soal politisasi Merah Putih, pria asal Makassar itu lagi-lagi membantah. Menurut dia, orang yang mempermasalahkan politisasi timnas justru bagian dari politisasi itu sendiri.

Ma Kuru: Dengan bantahan yang seadanya dan tidak logis sama sekali, Nurdin berani menuding orang yang mengkritik dia melakukan apa yang Nurdin lakukan. Nurdin orang terbaik di PSSI dan kemampuan berlogikanya hanya seperti itu? Apakah Nurdin mau menarik bangsa ini ke level kebodohannya? Haloooo Nurdin….

Di tubuh PSSI, kata Nurdin, memang tersebar berbagai tokoh parpol, namun bukan berarti ada politisasi timnas seperti yang dituduhkan selama ini.

“Di PSSI ada Demokrat, ada Golkar, Gerindra, dan ada Hanura. Kalau saya bawa polisitisasi, tidak mungkin saya bertahan 3 tahun jadi ketua umum di PSSI,” cetusnya. “Saya ini antipolitisasi.”

 

 

 

 

Semua lagi menertawakan Nurdin melakukan sesuatu yang tidak perlu dilakukan.

 

 

 

Ma Kuru: Kalau dirunut, argumen Nurdin kira-kira seperti ini:

  1. Golkar, Gerindra, dan Hanura adalah partai politik. (benar)
  2. Semuanya ada dalam PSSI. (benar)
  3. Anggota partai-partai tersebut bisa melepaskan diri dari jati diri partainya saat sedang mengurus PSSI (asumsi tanpa bukti)
  4. Kesimpulan: Karena itu Nurdin tidak mungkin melakukan politisasi. (Kesimpulan yang hanya didasari sebuah asumsi tanpa bukti).

Singkatnya yang dikatakan Nurdin adalah: tidak ada politisasi karena Nurdin tidak suka politisasi. Nurdin mengharapkan kita mempercayai apa yang dia katakan tanpa bukti. Benar-benar orang yang paling cocok untuk memimpin PSSI.

Mantan terpidana korupsi kasus minyak goreng ini juga menegaskan, semua acara yang dihadiri para pemain sudah mendapat persetujuan Alfred Riedl. Meski Nurdin menjabat sebagai ketua umum federasi sepakbola nasional, izin harus tetap didapat dari pelatih asal Austria tersebut.

Ma Kuru: Orang setuju itu bisa karena berbagai alasan. Bisa karena kasian lantaran ada orang petinggi yang terus-menerus mengemis-ngemis minta diberi ijin. Bisa juga karena dipaksa oleh pejabat. Bisa juga karena sudah bosan dan muak dengan orang yang tidak tau diri. Nurdin berharap kita percaya bahwa Riedl mengijinkan Timnas tunduk kepada Nurdin dengan alasan yang baik-baik. Rakyat tidak sebodoh yang kau pikirkan Nurdin…berhentilah menipu!

“Bayangkan, seorang ketua umum sampai harus meminta izin pada pelatih. Itu tetap saya lakukan,” tuntasnya.

Ma Kuru: Yaaa… memang seharunya begitu, karena pelatih adalah orang yang paling tahu soal teknis. Untuk apa anda hire dia kalau hanya dijadikan boneka? Hey Nurdin??Tetapi sekali lagi Nurdin tidak memberi informasi apakah Riedl memberi ijin karena rela atau karena alasan-alasan di atas. Apalagi Riedl tidak ikut-ikutan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Indikasi apakah itu gerangan Nurdin?

Apa yang disampaikan Nurdin ini agak berbeda dengan pernyataan Riedl. Dalam keterangan persnya usai laga melawan Malaysia, Riedl mengaku ikut campur PSSI terhadap tim sudah berlebihan.

“Ya media terlalu banyak minta wawancara tim. Belakangan ini aktivitas dari federasi juga agak mengganggu kami. Kegiatan-kegiatan yang berlebihan dan tidak perlu,” sindir pelatih asal Austria itu.

Ma Kuru: Naaaah… tuh khan! Ada indikasi Riedl mengijinkan kegiatan-kegiatan politik itu hanya karena terpaksa.

Ketahuan deh pintarnya si Nurdin. He he he

Kutipan yang ditanggapi diambil dari: http://bit.ly/h51EBs

Update:

Ternyata Sekretaris PSSI membantah informasi Nurdin bahwa keluarga Bakrie merupakan penyumbang terbesar. Terbuktilah kalau Nurdin itu penipu (http://bit.ly/fKY6LA)

Pos ini dipublikasikan di Main-main saja, Nurdin Halid, Politikus Busuk. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s