Saya Hanya Mengharapkan Pernyataan Eksplisit, Tidak mau Deduksi!

Dalam diskusi di internet saya dan mungkin juga yang membaca tulisan ini akan bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa kalau satu proposisi dinyatakan secara eksplisit baru proposisi itu benar. Salah satu isu yang paling sering didebat dimana salah satu pihak menggunakan taktik ini adalah saat membahas tentang keilahian Kristus. Keberatan yang saya dengar adalah bahwa mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan karena di dalam Alkitab tidak ada tertulis dimana Yesus mengatakan secara eksplisit “Aku adalah Tuhan!”

Mereka yang mengemukakan argumen seperti ini biasanya tidak terbuka untuk diskusi. Walaupun ditunjukkan kesalahannya, mereka biasanya akan berpindah topik seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan lawan bicara. Bagi saya ini hanya membuktikan bahwa apa yang dikatakan Alkitab benar yaitu kecuali orang diterangi hatinya oleh Roh Kudus maka dia tidak akan menerima kebenaran. Kebenaran terlalu menyilaukan buat dia sehingga dia memilih untuk menutup mata atau menghindari kebenaran itu. Di sini saya menggunakan kata “hati” untuk merujuk kepada seluruh keberadaan manusia termasuk pikirannya, bukan hanya perasaannya saja seperti yang digunakan beberapa orang.

Nah, orang yang mengemukakan argumen seperti itu biasanya merasa diri cerdas dan langsung saja mengata-ngatai lawan bicara atau menuduh lawan yang bukan-bukan. Benarkah mereka sangat intelektual? Mungkin mereka dan banyak orang berpendapat demikian. Tapi saya harap dengan tulisan ini akan menunjukkan sebaliknya.

Pada saat orang mendapat informasi, biasanya dia menghubungkan antara satu informasi dengan informasi lain dan mengambil kesimpulan tertentu berdasarkan informasi yang didapat. Kalau orangnya lebih teliti atau cerdas biasanya mengambil kesimpulan yang benar-benar diharuskan oleh informasi yang dia terima. Atau kalau dia tidak punya cukup informasi dan terpaksa harus mengambil kesimpulan, maka dia akan mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi tertentu yang menurut dia masuk akal dan secara eksplisit mengemukakan asumsinya kalau dia diskusi. Itu adalah intinya berpikir: menghubungkan satu informasi dengan informasi lain dan mengambil kesimpulan berdasarkan informasi tersebut.

Orang yang tidak cerdas atau mungkin malas berpikir biasanya menerima berbagai informasi dan selesai di sana. Untuk mengilustrasikan, kita ambil contoh seorang bernama Limas. Limas mendapat mendapat informasi dari Ma Kuru bahwa Ma Kolo adalah anak dari Ma Holo Dara. Ma Holo Dara mempunyai seorang saudara laki-laki bernama Ma Keho Dara. Ma Keho Dara mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Dara Ammu. Nah, kalau andaikata Limas cerdas dan tidak malas berpikir, maka dari informasi ini dia akan berkesimpulan bahwa Dara Ammu adalah saudari sepupu Ma Kolo. Itu adalah kesimpulan yang syah dan mungkin semua orang tidak akan mempertanyakannya.

Tetapi kalau misalnya Limas tidak tahu hubungan antara Ma Keho Dara dengan Ma Holo Dara dan tiba-tiba Ma Kuru mengatakan bahwa Dara Ammu adalah saudara sepupu Ma Kolo, maka tentunya akan sangat masuk akal kalau Limas mempertanyakan bagaimana Ma Kuru bisa mengatakan demikian. Tugas Ma Kuru adalah memberi informasi dan penjelasan tambahan.

Tetapi kalau misalnya saat dijelaskan bagaimana hubungan antara Ma Keho Dara dan Ma Holo Dara, Limas tidak bisa menerima bahwa ada hubungan antara keduanya dan menuduh bahwa Ma Kuru sedang menipu saat mengatakan bahwa bahwa Dara Ammu adalah saudara sepupu Ma Kolo, pertanyaannya adalah siapa yang sebenarnya patut dipersalahkan? Kalau misalnya Limas berkata, “Wah.. saya hanya mau percaya bahwa Dara Ammu sepupu Ma Kolo kalau Dara Ammu pernah mengatakan ‘Aku adalah saudara  sepupu Ma Kolo!’ Kalau tidak ada kata-kata seperti itu saya tidak akan percaya bahwa Dara Ammu adalah saudara sepupu Ma Kolo. Jadi, silahkan tunjukkan bahwa Dara Ammu pernah berkata demikian!”

Andaikan Ma Kuru mengajukan argumen berikut untuk menunjukkan bahwa Dara Ammu adalah saudara sepupu Ma Kolo:

  1. Ma Holo Dara adalah Ayah Ma Kolo
  2. Ma Keho Dara adalah adik dari Ma Holo Dara
  3. Dara Ammu adalah anak Ma Keho Dara
  4. Sepupu adalah anak paman atau bibi.
  5. Kesimpulan: Dara Ammu adalah saudari sepupu Ma Kolo.

Andaikata setelah Ma Kuru mengemukakan argumen seperti itu, Limas tidak mau menerima dan mengatakan, “Wah, itu khan deduksi mu. Yang saya mau adalah pernyataan langsung dari yang bersangkutan! Saya tidak mau deduksi.” Apa yang kita dapat katakan tentang Limas? Menurut hemat saya, hanya ada tiga kemungkinan yaitu kecerdasan Limas dibahah rata-rata, atau Limas memang bebal, atau Limas sedang dikuasai Iblis. Saya tidak bisa melihat kemungkinan lain. Kalau ada yang membaca yang mau kasih kemungkinan lain, silahkan!

Mungkin yang membaca akan mengatakan, “Wah… itu khan contoh khayalan dan berlebih-lebihan!” Itu memang contoh khayalan, tetapi eiits….dalam dunia nyata hal ini terjadi. Sudah saya singgung di atas ada teman-teman yang mengatakan “Saya tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan kecuali di dalam Alkitab ada tertulis dimana Yesus mengatakan secara eksplisit ‘Aku adalah Tuhan!’” Pada saat orang Kristen mengemukakan bukti yang semuanya valid secara deduksi bahwa Yesus adalah Tuhan, teman-teman tersebut mengatakan “Aahh….itu khan deduksimu! Aku tidak percaya deduksi, jadi tolong tunjukkan bahwa Yesus pernah mengatakan ‘Akulah Tuhan!’” Hal seperti ini bukan hanya terjadi pada level diskusi jalanan seperti kebanyakan kita jumpai di forum-forum diskusi di Internet di Indonesia. Tokoh-tokoh terkenal seperti almarhum Ahmed Deedat, atau tokoh Pendakwah terkemuka dari India bernama Zakir Naik, atau seorang Syeikh bernama Jalal Abualrub, juga memiliki argumen yang sama. Di Indonesia misalnya tokoh terkenal (kalau bisa dikatakan demikian) yang paling getol untuk berargumen seperti itu adalah H. Insan L. S. Mokoginta.

Patut dicatat bahwa tidak semua yang menentang keilahian Kristus mengemukakan argumen seperti itu. Karena itu, maka tulisan saya ini tidak diarahkan kepada mereka tetapi kepada yang setuju dan berargumentasi ala Deedat, Naik, dll.

Pos ini dipublikasikan di Ahmed Deedat, Islam, Logika, Mokoginta, Zakir Naik. Tandai permalink.

10 Balasan ke Saya Hanya Mengharapkan Pernyataan Eksplisit, Tidak mau Deduksi!

  1. Ping balik: Lho, Kok Hanya Pintar Klaim? | Futility over Futility

  2. Ping balik: Ahhh… Mana Dasarmu? | Futility over Futility

  3. Ping balik: Saat Setitik Kotoran Kecoak dianggap Benteng Teguh | Futility over Futility

  4. Mimi Syifa Aulia berkata:

    kepedean banget… ngomong cuma modal klaim, tiap orang pun bisa. bicara seolah2 paling bener logikanya padahal cuma sekedar klaim,,,

    perhatikan klaim omong kosong anda..
    [[[

    Mereka yang mengemukakan argumen seperti ini biasanya tidak terbuka untuk diskusi. Walaupun ditunjukkan kesalahannya, mereka biasanya akan berpindah topik seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan lawan bicara.]]]

    lagi
    [[Di Indonesia misalnya tokoh terkenal (kalau bisa dikatakan demikian) yang paling getol untuk berargumen seperti itu adalah H. Insan L. S. Mokoginta.]]

    bukannya loe kali yg tidak terbuka dan g berani debat?? LS Mokoginta menantang siapa yg bsia jawab dia siapkan mobil BMW. koq anda g bernai tantang dia debat??

    jangankan debat, nampilkan muka aja loe g brani. cuma berani di blog. di FB aja cuma berani di dikandang.

    • whereisthewisdom berkata:

      Halo Mimi Syifa,

      Yang pertama, itu bukan klaim kosong. Saya berulang kali berdiskusi dengan orangmu tentang hal itu dan setelah terdesak mereka biasanya hanya pintar mengalihkan pembicaraan. Kalau anda mau tunjukkan bahwa saya salah, silahkan kita berdebat tentang topik tersebut! Jadi kalau anda perhatikan ‘tidak terbuka berdebat’ saya definisikan sebagai fungsi dari apakah dia melakukan sesat pikir atau tidak dalam diskusi. Tolong baca baik-baik tulisan saya sehingga anda tidak melakukan straw man!

      Kedua, jangan Straw Man terkait Mokoginta. Saya mengatakan bahwa orang-orang seperti Mokoginta mengemukakan argumen tertentu. Itu sudah paragraf yang berbeda sama sekali dengan paragraf yang anda serang secara membabi buta (Kalau anda keberatan dengan kata membabi buta, saya bisa ganti kata itu dengan dengan ‘mengkeledai buta’) Saya tidak mempertanyakan apakah dia bersedia debat atau tidak berdebat. Jadi sekali lagi anda melakukan straw man.

      Dua point anda angkat, dua point anda melakukan strawmen. Saya pikir anda bisa lebih baik dari itu! Jangan hanya ikut-ikutan orang-orang seperti Mokoginta. OK man?

      Ciaaoo….

  5. Mimi Syifa Aulia berkata:

    trus analogi yg panjang lebar disebutkan,, kira2 nyambung g dengan fakta di lapangan, fakta di Alkitab???

    ma kuru, ma kolo dll..

    Analogi itu sangat nyambung karena tanpa mengeluarkan sebuah pernyataan secara eksplisit, orang dapat mengambil kesimpulan yang diharuskan oleh proposisi yang ada

    g perlu panjang2 dech menyembunyikan informasi sesungguhnya. sangat wajar orang bertanya mana pernyataan Yesus akulah Tuhan..

    loe baca di PL Yahweh mengatakan Akulah Tuhan. itu puluhan bahkan mungkin ratusan kali,,,

    Dengan demikian, loe sedang melakukan kebodohan yang sama dengan yang diserang dalam tulisan ini yaitu meminta pernyataan eksplisit, padahal hal itu dapat dideduksi dari informasi/proposisi yang ada. Tolong perbaiki kemampuan anda menalar!

    Jika Yesus adalah TUhan, sama dengan Yahweh sangat aneh secara tiba2 Yesus malah tidak sama atau berbeda dengan Yahweh,
    apalagi Yesus disebutkan satu kesatuan tak terpisahkan dengan Yahweh.

    Apa maksud anda dengan pernyataan ini?

    fakta di PB Yesus berbeda 180 % dari Yahweh, bukannya malah sama dengan Yahweh yang mengaku dirinya TUhan, tapi malah Yesus menyebut Yahweh adalah Tuhannya Yesus.

    Anda tau dari mana?

    TUhan Allah kita, TUhan itu Esa. loe yang pakar logika past tau artinya KITa…

    Apanya dari pernyataan itu yang membantah keilahian Kristus?

    Bahkan Yesus sampai akhir hayatnya mau ditangkap masih Nyembah sujud berdoa kepada Yahweh/ Bapa..

    Lu bilang begitu karena loe melakukan serangan straw man terhadap ajaran Kristen. Pelajari baik-baik dulu ajaran Kristen tentang kedua natur Kristus baru serang oke man?

    tiap orang bisa beranalogi. tapi analogi tetaplah analogi, apakah analogi cocok dengan masalah yang sesunggunya. belum tentu.

    Analogi saya sangat cocok. Sanggahan yang anda berikan (setidaknya sampai saat ini) sangat mentah. Masih ditunggu apakah anda dapat mempertanggungjawabkan yang anda katakan di atas.

    dan analogi loe di atas malah menyembunyikan banyak informasi. seolah2 Pak Ihsan DKK cuma sekedar bertanya doang… cara berpikirnya itu doang. padahal mereka punya dasar alasan jelas kenapa berfikir seperti itu…

    Informasi apa yang disembunyikan dan anda tau darimana serta apa hubungannya dengan apa yang saya katakan dalam tulisan ini?

    loe cuma bisa strawmen. coba ketemu langsung. pak Ihsan nunggu siapa aja yang pengen ngajak debat soal itu. dan dia udah siapin Hadiahnya. berani??

    Karena anda mengatakan bahwa saya melakukan strawmen, silahkan buktikan. Apa pandangan Islam yang saya salah pahami lalu serang? Silahkan

    Kedua, apa hubungan berdebat sama Mokoginta dengan apa yang saya katakan?

  6. kunakri berkata:

    keren…..ma kuru

  7. buren berkata:

    konk jadi cengeng begini sih, sebaiknya anda ke islmthis aja yang punya blok islamthis disana aja bantah disono kan bebas ngemeng juga kaya blok sendiri jg

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s