Kecerdasan Terbalik

Dalam beberapa hari terakhir ini saya berdiskusi dengan seorang blogger wordpress di http://bit.ly/gEEKqb. Orang ini begitu tajam mulut tetapi inteleknya tumpul. Entah karena memang tumpul atau sengaja ditumpulkan. Saya mengatakan dia demikian karena ada begitu banyak kesalahan logika yang dia perbuat, layaknya seorang yang menyamar jadi orang Kristen yang beberapa kali berdebat dengan saya. Di sini saya akan mengemukakan beberapa kesalahan logika yang dia lakukan berulang-ulang tetapi dia tetap merasa diri intelek.  Perlu dicatat bahwa saya mengekspose kesalahan logika yang dia lakukan tidak mengindikasikan bahwa saya bebas dari kesalahan logika. Tetapi tidak bebasnya seseorang dari kesalahan logika tidak berarti bahwa hanya perlu diam-diam saat melihat kesalahan logika dilakukan.

Mungkin ada beberapa orang yang merasa bahwa saya terlalu fokus pada logika. Well, seperti dinyatakan dalan terjemahan saya sebelumnya, kita tidak punya pilihan lain. It is the only game in town! Kalau tidak pake logika, satu-satunya jalan terbaik adalah berhenti ada. Ok kita lanjut!

Abusive Ad hominem. Orang yang memiliki blog yang disebutkan di atas menyerang kelemahan orang lain seolah-olah kelemahan itu menunjukkan bahwa orang apa yang dipercayai orang tersebut salah. Dia mengemukakan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh orang Kristen atas nama agama untuk mengatakan bahwa ajaran kekristenan salah. Well, argumen seperti ini tidak valid karena kalaupun ada orang Kristen yang melakukan kekerasan misalnya, itu bisa berarti bahwa orang Kristen itu melakukan kekerasan karena sedang bertentangan dengan apa yang dia percayai. Harus ditunjukkan secara eksplisit bahwa agama orang yang dimaksud memang mengajarkan kekerasan.

Saya mengerti bahwa di tempat lain mungkin dia berusaha menunjukkan bahwa Alkitab mengajarkan kekerasan. Tetapi kalau memang demikian, maka dalam tulisan yang mengungkap kekerasan yang dilakukan orang Kristen, seharusnya dia jelaskan bahwa fakta itu saja tidak cukup untuk mengatakan bahwa kekristenan mengajarkan kekerasan.

Standar Ganda. Salah satu point yang saya ungkap dalam tulisan si oknum di atas adalah bahwa dia menyamakan antara katolikisme dan kekristenan. Dia mati-matian mengatakan bahwa kekristenan sama saja dengan katolikisme toh keduanya sama-sama membaca Alkitab dan sama-sama percaya Tritunggal. Saya tunjukkan bahwa kalau begitu dia tidak akan keberatan menyebut Ahmadiyyah sebagai Islam atau kaum Kurani[1] sebagai Islam juga. Toh mereka percaya kepada Kuran dan percaya kepada Alloh dan Muhammad. Dia menolak itu mentah-mentah tanpa argumentasi dan dia tetap berpegang pada pandangannya dan mengacaukan katolikisme dan kekristenan. Dia tidak mau menggunakan standar yang sama untuk kepercayaannya karena kalau dia menggunakan standar yang sama maka kepercayaannya tidak akan bertahan di bawah standar tersebut.

Complex Question/Pertanyaan bermuatan. Pertanyaan bermuatan adalah mengajukan pertanyaan yang jawabannya tidak sederhana tetapi mengharapkan orang menjawab dengan sederhana. Misalnya pertanyaan “Apakah anda sudah berhenti menganiaya isteri anda?” diajukan dan orang yang ditanya diminta untuk menjawab dengan Ya atau tidak. Padahal yang ditanya belum tentu punya isteri atau kalau sudah punya isteri belum tentu dia pernah menganiaya isterinya. Ataupun kalau pernah diberitakan menganiaya isteri, belum tentu berita itu benar.

Nah, dalam konteks diskusi yang disebutkan di atas, pertanyaan yang diajukan adalah Apakah dalam Alkitab ada ayat-ayat tentang kekerasan. Pertanyaan yang kelihatan sederhana. Tetapi dalam konteks debat dengan Islam, asumsi di balik pertanyaan itu tidak sesederhana yang kelihatan. Asumsinya adalah bahwa kalau dalam Alkitab ada ayat tentang kekerasan, maka itu berarti Alkitab mengajar orang Kristen melakukan kekerasan. Karena itu, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan klarifikasi yang bersuaha untuk mengurai benang kusut argumen lawan diskusi. Tetapi si lawan diskusi tidak menerima itu dan menuntut jawaban “Ya atau “tidak”. Ini adalah pertanyaan bermuatan.

Bukti tidak relevan. Saat diminta untuk mengemukakan bukti bahwa Alkitab mengajarkan kekerasan, saya disodorkan beberapa ayat tanpa ada pembahasan tentang konteks langsung ataupun konteks Kitab Suci secara keseluruhan. Saat diminta konteks, tidak ada jawaban yang didapat kecuali “yaaa… memang konteksnya kekerasan khan? Mau apa lagi?” Ini bukan justifikasi sama sekali. Bukti yang diberikan tidak relevan dengan pertanyaan yang diajukan. Tampak sangat kekanak-kanakan. Entah memang dia masih anak-anak atau memang pikirannya dibentuk demikian, saya tidak tahu.

Generalisasi berlebihan. Si lawan diskusi saya tampaknya menganggap bahwa setiap kali ada kata yang berkaitan dengan kekerasan dalam Alkitab maka itu berarti bahwa Alkitab mengajar orang Kristen melakukan kekerasan. Sampai-sampai dia tidak peduli apa yang dikatakan. Misalnya dia mengutip Zakaria 14 : 1 – 2 yang berbunyi

Sesungguhnya, akan datang hari yang ditetapkan TUHAN,maka jarahan yang dirampasdari padamu akan dibagi-bagi di tengah-tengahmu. Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu.

Padahal ayat yang diangkat itu bukan perintah kepada orang percaya untuk melakukan kekerasan tetapibahwa orang percaya yang tidak setia akan menderita kekerasan. Masih banyak lagi kesalahan lain. Kalau ada yang berminat, silahkan ikuti link pada awal tulisan ini.

Nah, dengan berbagai kesalahan yang dibuat, si pemilik blog masih saja berani berkoar-koar dan menjelek-jelekkan lawan. Ada banyak lagi tulisannya yang sama mutunya dengan komentar-komentarnya. Dengan postingan ini tidak berarti saya ingin agar blog seperti itu dihapuskan saja dari muka bumi ini, tetapi saya menggunakan hak saya untuk mengeritik kebodohan. Kalau ada yang mau setuju dengan dia dan mau berusaha membela dia, maka dia bebas.


[1] Kurani adalah varian Islam yang tidak mempercayai Hadits sebagai kitab berwibawa. Mainstream Islam mempercayai Hadits sebagai kitab berwibawa. Kurani menganggapnya sebagai tidak berwibawa dan juga menganggap kalimah syahadahnya mainstream muslim sebagai bentuk Syrik (dosa paling besar dalam Islam) karena mempersekutukan si sesembahan mereka dengan ciptaan yaitu Muhammad.

Pos ini dipublikasikan di Ad Hominem, Complex Question, Irrelevant Evidence, Islam, Logika. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kecerdasan Terbalik

  1. Ping balik: Maaf! Pikiran Anda Terlalu Tumpul! | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s