Orang Lain Yang Salah atau Diri Sendiri yang Sebenarnya Kurang Cerdas??

Kejutaaan.. kecerdasan anda rendah sekali!

Beberapa waktu lalu ada seorang yang memiliki blog di www.islamthis.wordpress.com yang menyalin khotbah John Robbins dari blog saya dan ditampilkan di blognya lalu kemudian dikritik. Kritik-kritiknya sangat tidak berbobot seperti yang saya akan tunjukkan di bawah ini. Ada begitu banyak kesalahan logika yang dilakukan oleh orang ini, tetapi seperti biasanya, dia tetap merasa sangat cerdas.

Pertama dia memprotes kenapa Yesus hanya menerima orang yang percaya kepada Dia sebagai Juruselamat. Dia menyebut Yesus yang seperti itu sebagai bebal, gemar-gemar mencari kesalahan, dan bawel. Saya tidak tahu bagaimana orang ini  bisa sampai kepada kesimpulan bahwa Yesus bawel hanya dari proposisi bahwa yang Yesus perhitungkan sebagai kebenaran adalah iman mereka kepada Dia bukan segala pekerjaan baik yang dilakukan. Dia tidak menyebutkan apa premis sehingga Yesus harus menerima perbuatan baik manusia sebagai dasar bagi pembenaran mereka di hadapan Allah. Dengan kata lain ini hanya sekedar klaim tanpa ada justifikasi. Kalau dia bisa klaim tanpa justifikasi, maka tentunya orang ini tidak keberatan kalau saya menyebut orang yang mempertanyakan standar Yesus adalah orang yang bebal dan sok tau. Saya punya alasan untuk mengatakan itu. Tetapi sebagai bentuk logical ad hominem, saya tidak akan kemukakan di sini, kecuali orang ini mengemukakan alasan dia menyebut Yesus seperti yang dia sebutkan,

Kedua, dia menyalahpahami khotbah John Robbins sebagai membedakan antara orang yang berbuat baik sesuai dengan kehendak Bapa dengan yang beriman kepada Yesus. Lalu menyerang apa yang dia salah pahami tersebut. Saya tidak tahu kenapa orang dengan tingkat intelektualitas serendah ini mempermalukan diri sendiri dengan menilai tulisan orang lain yang koheren. Di dalam khotbah itu Robbins tidak melakukan pembedaan seperti yang dia katakan. Robbins mengemukakan bahwa orang yang berbuat baik sesuai dengan kehendak Bapa adalah mereka yang mempercayai Yesus sebagai Juruselamat. Dengan kata lain si pengkritik ini melakukan kesalahan logika bernama strawmen argument. Dia menyalahartikan (atau mungkin memutarbalikkan??) panandangan orang lain lalu menyerang pemutarbalikkan itu seolah-olah pemutarbalikkan itu adalah pandangan orang yang diserang.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukanpun tidak bermutu, karena hanya mempertanyakan sesuatu yang menjadi dasar dari apa yang dikatakan. Karena itu tanpa dikasih taupun, sudah terjawab pertanyaannya.

Ketiga dia mempertanyakan kenapa Yesus harus meminta pernyataan eksplisit bahwa orang yang dihakimi dalam penghakiman terakhir itu mengakui Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Bukankah Allah Maha Tahu? Well, kalau Yesus adalah Tuhan dan Dia menetapkan demikian, siapakah si pengkritik sehingga Tuhan harus mendengar dia? Tentu saja Tuhan punya alasan untuk melakukan itu. Secara spekulatif dapat dikatakan bahwa di sini Tuhan menunjukkan apa yang harus terjadi dalam ruang pengadilan. Seorang yang semua sudah tau pasti salahpun diberi kesempatan untuk membela diri. Dalam pengadilan manusia saja itu diberlakukan, kenapa itu tidak dilakukan di dalam pengadilan Allah yang maha adil? Sekali lagi hal ini sebenarnya dijawab oleh Robbins dalam khotbanya tetapi diabaikan begitu saja oleh sang pengeritik. Si pengeritik harus lebih banyak belajar memahami tulisan orang lain sebelum dia kritik tulisan tersebut.

Keempat dia mengajukan pertanyaan yang sama konyolnya, yang jawabannya tidak perlu sulit-sulit dipikirkan. Dia bertanya apa jaminan bahwa orang Kristen yang tidak secara terus-terang menyebut bahwa dia percaya kepada Yesus dan penyalibannya adalah orang Kristen yang tidak percaya keada Yesus sebagai Tuhan dan mati disalib. Jawaban yang sangat sederhana saja, ini adalah salah satu pertanyaan inti yang dijawab Robbins dalam khotbah tetapi si pengkritik tidak peduli sama sekali. Kalau mereka percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang mati dan bangkit serta menebus mereka dari dosa mereka, maka mereka akan menjawab itu. Tetapi fakta bahwa mereka tidak menggunakan itu sebagai pembelaan berarti bahwa memang selama ini mereka tidak percaya akan hal itu – walaupun mungkin mereka mengaku itu dengan mulut. Alasan kedua adalah pernyataan Yesus sendiri bahwa Dia tidak pernah mengenal mereka. Kalau orang-orang ini mengakui Yesus sebagai juruselamat pasti mereka akan Yesus kenal.

Kelima, lalu si pengeritik menolak ajaran Robbins bahwa yang dimaksud dengan “orang yang melakukan kehendak Bapa” dalam Matius 7 adalah mereka yang mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan tidak mengandalkan perbuatan baik mereka. Yang aneh adalah, Robbins sudah mengelaborasi argument yang mendukung pandangan seperti ini, tetapi tidak digubris sama sekali oleh si pengeritik. Kalau memang si pengeritik adalah orang yang cerdas, maka dia akan menunjukkan bagaimana argumen Robbins tidak valid. Tetapi itu tidak dilakukan dan dia tetap meragukan/tidak mempercayainya. Kalau memang dalam debat, standar seperti ini dipakai, maka sudah sepantasnya kalau saya tidak menjawab argumennya di sini dan menganggap apa yang dikatakannya sebagai sampah. Tetapi itu bukan standar yang benar. Dalam debat, semua argumen lawan perlu diperhatikan baru diserang, bukan mengabaikan begitu saja hal yang sangat penting lalu bertingkah laku seolah-olah lawan tidak memberi argument. Ini penipuan.

Keenam, kembali dia mengajukan pertanyaan konyol yang sudah dijawab oleh Robbins dalam tulisan ini. Pertanyaannya adalah dalam ayat berbicara tentang melakukan kehendak Bapa, tetapi kok Robbins memutarbalikkannya menjadi percaya kepada Yesus yang disalibkan? Berhubung ini adalah inti argumen Robbins dalam khotbah ini dan si pengeritik tidak menjawab, saya tidak perlu menjawab di sini. Si pengeritik harus belajar memahami tulisan orang lain sebelum mengeritiknya sehingga tidak mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sudah dijawab dalam tulisan. Bagi saya, yang dilakukan orang ini sekali lagi menunjukkan gagalnya pendidikan yang dia sudah kecap selama ini, entah itu pendidikan pemerintah, swasta, ataupun mungkin pendidikan berbasis agama yang dia dapatkan. Sungguh memprihatinkan memperhatikan orang seperti ini tulis banyak di internet. Tulisan-tulisan yang hanya membodohi orang yang membaca dan mempercayai tulisannya.

Ketujuh, dia muncul dengan pertanyaan klise “Dimana Yesus menyatakan diri ‘Akulah Anak Tuhan dan Sembahlah Aku’”. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang konyol dan saya sudah membahas kekonyolan pertanyaan seperti ini di sini

Kedelapan, dia sekali lagi dia mengajukan pertanyaan konyol yang dia ajukan dalam point ke tujuh di atas. Sekali lagi saya rujuk dia ke tulisan saya dimana saya sudah membahas tulisan ini yaitu di sini

Kesembilan, dia memaki-maki John Robbins (semoga dia diampuni karena memaki orang lain karena tulisan yang dia sendiri tidak pahami) karena katanya pasal yang diangkat Robbins justeru menunjukkan bahwa iman kepada Yesus saja tidak cukup untuk membawa ke surga. Sekali lagi di sini dia tidak mengemukakan argumen. Dia hanya mengemukakan apa yang dia percaya alias asal klaim, tanpa ada dukungan argumen sama sekali. Kalaupun dia punya argumen, maka seharusnya dia mematahkan argument Robbins terlebih dahulu supaya argumenya benar karena argument Robbins adalah kontradiksi dari pandangan orang ini. Apakah dia peduli untuk berargumen? Tampaknya tidak!

Kesepuluh, dia protes bahwa kalau memang semua yang dikatakan Robbins itu benar maka seharusnya ayat 24 berbunyi:

Dan sungguh Aku berkata kepadamu, “kamu akan dibenarkan dan akan diselamatkan di dalam Surga jika kamu semua menyatakan dengan mulut-mulutmu sebagai pembelaanmu di hari penghakiman nanti bahwa kamu percaya kepada Aku dan penyaliban Aku dan kebangkitan Aku dan penggantian korban olehKu untukmu dan pengambilalihan kutuk Bapa olehKu untukmu dan mengakui bahwa Aku telah mati menggantikanmu dan bahwa Aku telah menggantikan kamu di atas kayu salib … maka perkatakanlah yang demikian itu nanti di depan hari penghakiman supaya kamu beroleh selamat berkat korbanKu…

Pertanyaanya adalah, siapa yang mengharuskan Yesus melakukan seperti itu? Yang Tuhan itu Yesus atau si pengeritik? Kalau Yesus ingin umat-Nya menjadi umat yang menyelidiki seluruh kitab Suci kenapa dia harus menyatakan semua sekaligus? Siapa yang mengharuskan Yesus melakukan seperti yang diinginkan oleh si pengeritik.

Tentu saja kalau misanya Yesus melakukan seperti yang dikatakan pengeritik, tentunya dia tidak akan kekurangan alasan untuk menola apa yang dikatakan Yesus. Sejarah membuktikan bahwa orang akan mencari-cari alasan untuk tidak datang kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat sebelum saat-Nya Tuhan sendiri menarik dia. Kalau andaikata Yesus mengatakan seperti yang si pengeritik inginkan, tentu saja dia akan berdalih “Wah..ayat itu khan hanya tambahan kemudian yang sebenarnya tidak ada dalam Injil asli,” dll, dst.

Lalu si pengeritik menulis sesuatu di bawah sub judul ‘Sekarang tentang Paulus”. Dalam tulisan ini dia menyodorkan dua tulisan yang katanya mengungkap rahasia tentang Paulus. Tulisan pertama tidak jelas intinya apa. Sedangkan tulisan kedua si pengkritik mengutip Roma 3 : 7 untuk mendukung pandangan mereka selama ini bahwa berita Paulus tidak benar. Bahwa Paulus sedang berdusta. Ayat itu berbunyi:

Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (TB)

Sekali lagi si pengeritik tidak mengutip ayat ini dalam konteks. Konteks dalam pasal ini adalah Paulus sedang membantah argumen orang-orang yang mengatakan “Kalau karena perbuatan jahat kita, kebenaran Allah semakin nyata, bukankah itu berarti bahwa kita tidak pantas dihukum? Bukankah kita membantu Allah?” Ayat yang dikutip itu pada dasarnya mengatakan “Kalau dustaku semakin menunjukkan kemuliaan Allah, untuk apakah aku dihakimi lagi?” Jadi argumen yang diusung dalam ayat 7 adalah argumen yang hendak dibantah Paulus. Karena itu tidak mungkin Paulus mengatakan bahwa dialah yang berdusta. Di sini yang dikemukakan adalah argumen hipotesis yang akan orang ajukan untuk mendukung dusta mereka. Argumen yang Paulus sendiri bantah dalam ayat 8. Dengan kata lain, yang dikemukakan si pengeritik ini adalah strawmen argument yaitu memutarbalikkan argument orang lain lalu menyerang pemutarbalikkan itu seolah-olah itulah yang dipercayai oleh orang yang dikritik.

Kita lihat sendiri, bagaimana seorang harus melakukan begitu banyak kesalahan logika untuk menunjukkan kebenaran dirinya. Ini adalah retorika kosong yang sering kita temui dalam diskusi-diskusi di internet. Para pengeritik ini begitu menganggap diri intelektual. Tetapi setelah diteliti, apa yang mereka katakan tidak lebih dari sekumpulan upaya untuk membela diri dengan melakukan segala macam kesalahan logika dan berharap mereka akan lolos dari kritikan lawan.

Pos ini dipublikasikan di Alkitab, Belajar Lagi ya.., Injil, Islam, Memang Bodoh, Polemik, Validitas. Tandai permalink.

7 Balasan ke Orang Lain Yang Salah atau Diri Sendiri yang Sebenarnya Kurang Cerdas??

  1. suara langit berkata:

    Umat kristen punya 4 injil lalu mana diantara kitab2 itu yg benar?????

  2. whereisthewisdom berkata:

    Maut menantimu, komentar anda saya hapus karena komentar anda tersebut sangat bodoh dan tidak ada kebenaran sedikitpun dalam komentar anda. Kalau anda punya bukti akan keberadaan ayat yang anda katakan tersebut, saya mau tau! Saya tunggu!

  3. Adfan TheFahaddi berkata:

    kenapa dihapus komentarnya??? kalo memang dia bodoh biarkan saja orang liat kebodohannya atau mungkin anda takut kalau dia benar ????

    • whereisthewisdom berkata:

      Halo, saya menghapus komentar tersebut karena komentar tersebut sudah banyak beredar di internet. Komentar tersebut menyatakan bahwa ada ayat dalam Alkitab dimana Yesus bersetubuh sama keledai. Kalau anda keberatan dengan tindakan saya, silahkan tunjukkan ke saya di Alkitab mana ada ayat seperti itu? Silahkan!

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s