Bosan Ah!! Masa Tidak Pernah Belajar?

Beberapa saat yang lalu ada yang pingpack ke postingan saya yang mengkritik argument yang dikemukakan beberapa pihak untuk menolak ketuhanan Yesus Kristus. Tulisan si pengeritik dapat di lihat di sini. Tulisan saya bertujuan mengekspose kesalahan-kesalahan yang ada dalam tulisan tersebut. Kesalahan-kesalahan lama yang terus-menerus dilakukan walaupun sudah berulang-ulang ditunjukkan bahwa itu semua adalah kesalahan.

Dia mengatakan bahwa dalam Markus 10 : 18  membedakan dua individu berbeda. Bagian mana yang mengatakan bahwa ada dua individu berbeda yaitu Allah dan Yesus? Kalaupun benar bahwa di sini ada dua pribadi berbeda, apakah tidak mungkin keduanya Allah? Hanya asumsi yang didasarkan pada ajaran Kuran yang tidak memperbolehkan demikian. Jadi di sini si pengeritik menggunakan asumsi yang ada pada kita dia untuk menilai apa yang diajarkan kitab orang lain. Padahal kitabnya adalah kitab yang muncul beratus-ratus tahun setelah Alkitab dan penulisnya tidak paham apa yang dia kritik. Salah satunyanya saja adalah dia tidak paham apa itu Tritunggal. Penulis Kuran (siapapun dia) mempercayai bahwa dalam ajaran Tritunggal Kristen mengajarkan bahwa bahwa Tritunggal itu adalah Bapa, Maria, dan Yesus. Juga dalam Kuran diajarkan bahwa pada saat orang Kristen mengajarkan bahwa Bapa memperanakkan Anak, itu artinya Bapa harus mempunyai isteri walaupun orang Kristen tidak percaya hal seperti itu. Nah, menggunakan asumsi dari sebuah kitab yang tidak nyambung dengan realitas seperti ini harus dipertanyakan. Tetapi terrlepas dari itu, argumen saya tetap valid.

Kemudian si pengeritik mengatakan bahwa dalam tulisan saya, saya sedang memelintir ayat Alkitab. Alasannya? Alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan bahwa saya memelintir ayat Alkitab adalah karena saya menggunakan silogisme. Lalu apa salahnya silogisme? Silogisme adalah inti dari argumen. Kalau dalam argumen anda mengemukakan banyak kata, tetapi dalam silogisme semua kata itu dihilangkan dan intinya saja yang dibiarkan ada. Jadi fakta bahwa saya menggunakan silogisme bukan masalah. Hanya orang munafik yang kurang cerdas yang menolak silogisme. Jadi menggunakan silogisme atau tidak bukan masalah. Seharusnya si pengeritik menunjukkan bahwa silogisme saya tidak valid atau kalau valid kesimpulannya salah. Dimana dia menunjukkannya? Mungkin di bawah ini kita akan melihat.

Kemudian si Pengeritik tidak setuju bahwa Yesus adalah baik atau tidak berdosa. Apa yang dia kemukakan sebagai bukti bahwa Yesus berdosa? Sebuah ayat yang katanya berasal dari Alkitab yang berisi kata-kata makian-makian-yang saya rasa tidak pantas ditampilkan di sini (Yang mau membaca apa yang dikatakan silahkan klik link di atas). Katanya pula ayat ini suda dihapus pendeta Kristen. Lalu apa buktinya bahwa yang dia katakan itu benar? Tidak ada! Yang membaca hanya disuruh mempercayai apa yang dikatakan. Apa yang anda akan bilang hai pengeritik, kalau saya katakan bahwa dalam Kuran sebelumnya ada diajarkan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Lalu tiba-tiba para ulama Islam merubah ayat itu pada sekitar tahun 1915 sehingga ayat itu tidak ada lagi sekarang? Haaah.. ada-ada saja penipuan seperti ini. Sementara itu ayat yang saya angkat dari kitabnya dia tidak dia gubris sama sekali.

Setelah itu si pengeritik memaki-maki Yesus (semoga Tuhan mencerahkan hatinya sehingga dia berhenti dari makiannya). Dia mempertanyakan kebaikan Yesus karena Yesys pernah dicobai Iblis. Tetapi apa hubungan dicobai Iblis dengan kebaikan seseorang? Iblis mencobai siapapun. Bahkan dia mencobai Tuhan Allah-walaupun Iblis kalah. Jadi apa hubungan dicobai Iblis dengan baik tidaknya Yesus? Tidak ada sama sekali. Dengan kata lain ini adalah non sequituur. Kalau mau jujur, ada seorang nabi yang bukan hanya dicobai oleh iblis tetapi dirasuk oleh Iblis sehingga mengucapkan apa yang dia anggap sebagai Firman dari sesembahannya, tetapi sebenarnya berasal dari Iblis. Apakah ini nabi? Kalau dia pernah dirasuk oleh Iblis misalnya, apa dasar kita mempercayai hal lain yang dikatakannya?

Si pengeritik juga mengatakan Yesus poligami. Poligami dari Hongkong. Dasarnya apa untuk mengatakan demikian? Mmmm….

Lalu ada lagi makian-makian berdasarkan informasi yang katanya dia dapatkan dari ayat Alkitab yang dia katakan sudah dihapus tersebut. Jadi tampaknya si pengeritik harus menciptakan sesuatu kitab khayalan yang tidak ada untuk menjelek-jelekkan ajaran Kristen supaya ajaran Kristen kelihatan buruk. Sekali lagi strawmen argument! Tidak tahu malu si pengeritik satu ini.

Lalu si pengeritik tidak senang saya menggunakan ayat Kuran untuk membuktikan kebenaran Alkitab. Pertama-tama, saya tidak menggunakan ayat Kuran membuktikan kebenaran Alkitab. Tanpa ayat Kuranpun, ayat dalam Alkitab cukup untuk mendukung dirinya sendiri. Yang saya lakukan adalah mengangkat satu proposisi dalam Kuran yang sama dengan yang ada dalam Alkitab yang implikasi logisnya adalah seperti pandangan saya. Kalaupun tidak ada ayat dalam Kuran yang mengatakan demikian, tidak berpengaruh terhadap argumen saya, toh premis yang dari Kuran itu hanya sebagai pembanding.

Terlepas dari itu, kita melihat bagaimana standar ganda dari si pengeritik. Di satu pihak dia mau menggunakan Alkitab mendukung kepercayaannya (walaupun ternyata kesimpulannya tidak benar) sedangkan di pihak lain kalau orang menggunakan kitabnya untuk mendukung kebenaran pandangan yang berseberangan dia sewot. Intelektualitas seperti ini yang dia bangga-banggakan saat menghina orang Kristen? Mmmm Menarik memang…

Alasan pertama yang dia kemukakan untuk menolak apa yang saya katakan bahwa Kuran mengatakan Yesus suci adalah bahwa Kuran itu menolak sama sekali ide bahwa Yesus adalah Tuhan. Karena itu kalaupun dalam Kuran ada ayat yang mengatakan Yesus suci, maka kita tidak boleh memahami bahwa Yesus adalah Tuhan karena itu dilarang oleh Kuran. Nah.. nah..nah.. siapa yang menyimpulkan dari Kuran bahwa Yesus adalah Tuhan? Itu argumen siapa? Itu bukan argument saya. Saya hanya mengatakan bahwa bahkan Kuranpun mengatakan bahwa Yesus itu suci. Saya katakan bahwa proposisi ini sesuai dengan proposisi dalam Alkitab tetapi bertentangan dengan apa yang diasumsikan oleh si pengeritik saat mengeritik pandangan Kristen bahwa Yesus itu Tuhan. Dengan kata lain, saya tunjukkan bahwa di samping premis dalam Alkitab (yang sudah dipercayai oleh si pengeritik) ada proposisi lain yang juga yang diakui oleh Kuran yang menghasilkan kesimpulan yang bertentangan dengan kesimpulan pengeritik Masa.. hal sesederhana ini tidak paham? Aaaaahh.. berhentilah menipu diri sendiri dengan menulis komentar tidak bermutu man!

Alasan kedua adalah, bahwa Yesus memang suci tetapi hanya sebagai bayi. Toh semua bayi itu suci. Well, dalam Kuran itu tidak dikatakan sebagai bayi. Di situ dikatakan “anak” bukan bayi. Itu sebuah posisi/kedudukan, bukan jenjang kehidupan. Seorang anak walaupun telah besar, posisinya tetap sebagai anak. Apakah si pengeritik merasa bahwa pada saat dia menjadi dewasa, maka dia bukan anak dari bapak dan ibunya? Aaaahhhh…. hal yang sangat sederhana tetapi tidak dia pahami sama sekali.

Kalaupun benar bahwa yang dimaksudkan itu bayi,  perlu ditekankan lagi bahwa bayi itu tidak sesuci seperti yang diajarkan. Coba baca link ini atau seperti saya terjemahkan di sini. Dengan kata lain, Yesus masih lebih luar biasa dari siapapun.

Saya juga mau tegaskan lagi bahwa tanpa menggunakan ayat dalam Kuranpun premis saya tetap benar dan argumen saya tetaplah valid. Masa hal sesederhana ini tidak paham?

Hal lain yang harus diingat bahwa natur Kuran dimana pengarangnya tidak ada hubungan dengan realitas, membuat saya tidak percaya akan koherensi antar isi dan validitas argumen-argumen yang dikemukakannya. Dengan demikian bisa saja memang Kuran mengajarkan bahwa Yesus suci tetapi dia tidak mau menerima konsekuensi logis bahwa Yesus adalah Tuhan. Dengan kata lain Kuran tidak logis!

Lalu si pengeritik mengemukakan pertanyaan retoris untuk menentang penggunaan ayat Kuran mendukung kebenaran Alkitab. Pertanyaannya berbunyi demikian:

Tidak kah mereka mempunyai rasa etis sedikit pun ketika mereka menggunakan ayat dari Alquran untuk membuktikan bahwa Jesus adalah baik (sehingga dengan demikian Jesus adalah Tuhan)? Apakah mereka sudah terbiasa lupa bahwa Alquran adalah kitab suci yang paling keras sikapnya untuk menentang ide bahwa Jesus adalah Tuhan? Memang dasar tidak tahu malu!!

He he he Karena pertanyaan –pertanyaan retoris seperti ini sudah ditunjukkan ketiadaan maknanya di atas, maka saya akan kemukakan pertanyaan-pertanyaan retoris yang lebih pantas diajukan sebagai berikut:

  1. Apa si pengeritik tidak tau malu kalau orang terus-menerus melakukan berbagai kesalahan logika untuk menyerang lawannya?
  2. Apa si pengeritik tidak tahu malu kalau terus-menerus memutarbalikkan pandangan lawan supaya bisa mengatakan bahwa lawan salah?
  3. Apa si pengeritik tidak tahu malu kalau terus-menerus menggunakan ad hominem tanpa justifikasi walaupun lawan sudah tunjukkan bahwa kesimpulannya tidak benar?
  4. Apakah si pengeritik tidak tahu malu kalau dengan kecerdasan yang begitu saja berani sok kuasa untuk melarang orang lain melakukan apa yang dia sendiri harus lakukan dengan seenaknya?

Si pengeritik menyerang parafrase yang saya lakukan terhadap ayat yang dia serang. Dia menyerang pandangan saya mengapa Yesus tidak mengemukakan kesimpulannya bahwa Dia adalah Tuhan secara eksplisit. Si pengeritik lupa bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai gambar dan rupa Tuhan. Gambar dan rupa Tuhan itulah kemampuan berpikir logis (yang tidak diterapkan oleh si pengeritik secara konsisten). Bayangkan saja kalau Tuhan menciptakan manusia yang tidak bisa menghubungkan satu proposisi dengan proposisi lain sehingga setiap proposisi harus dinyatakan secara eksplisit! Bayangkan akibatnya! Kalau semua hal harus dinyatakan secara eksplisit baru benar dan tidak perlu menggunakan penalaran, maka saya tidak percaya bahwa Muhammad itu manusia karena di dalam Kuran atau dimanapun tidak pernah dikatakan bahwa “Heiii.. ingat Muhammad itu manusia.” Atau saya juga tidak percaya bahwa si pengeritik adalah manusia. Tidak ada dalam Kuran dikatakan bahwa penulis blog islamthis adalah manusia. Kalau si pengeritik menerima ini dan mengakui bahwa dia bukan manusia, syukurlah, dia konsisten!

Lalu dia membandingkan pandangan bahwa Yesus Tuhan tidak harus mengemukakan segala sesuatu secara eksplisit dengan Gubernur tidak mengeluarkan Hukum berlalu lintas. Situasi gubernur berbeda sama sekali dengan yang Yesus hadapi. Tujuan Gubernur juga berbeda dengan tujuan Yesus. Gubernur juga bukan Yesus. Ada berbagai hal yang berbeda antara Gubernur dan Yesus sehingga tidak ada keharusan bagi Yesus untuk melakukan seperti yang dilakukan gubernunr. Haaahhh….. hal yang sesederhana seperti ini tidak si pengeritik paham.

Si pengeritik mengatakan bahwa apa yang dilakukan Yesus dengan tidak secara eksplisit menyatakan kesimpulan dari logical ad hominemNya itu sebagai konyol karena kalau Yesus tidak mengatakan secara terang-terangan maka orang pasti akan ke neraka karena tidak mengerti yang salah. Hal ini dibandingkan dengan Gubernur yang harus secara eksplisit membuat Undang-undang.

Pertama, yang Tuhan itu pengeritik atau Yesus? Kalau dia mau melakukan seperti itu, siapa yang mau melarang Dia? Si pengeritik yang kecerdasannya di bawah normal seperti orang satu ini? Mendingan tidak usah lah yaooo..

Kedua, apa salahnya kalau Yesus mengharapkan pengikut-Nya menjadi orang-orang cerdas yang menghubungkan berbagai propisisi yang Dia kemukakan dan bukan hanya pasif mendengar yang tidak bisa menghubungkan antara berbagai proposisi? Dengan kata lain, karena si pengeritik tidak punya kecerdasan yang memadai, maka dia mengharapkan Yesus juga mengajarkan orang Kristen menjadi seperti si dia. Wadooohhhh… cape deh..

Ketiga, Ada begitu banyak perbedaan antara Gubernur dan Yesus sehingga membandingkan Yesus dengan Gubernur tidak valid..

  1. Gubernur bukan Tuhan sehingga dia tidak bisa mempengaruhi orang yang dia kuasai tanpa secara eksplisit mengemukakan apa yang dia ingin orang ikuti sebagai benar. Yesus sebaliknya, punya kuasa untuk membuat orang yang Dia pilih untuk memahami apa yang Dia katakan, untuk menghubungkan apa yang dia katakan dan berkesimpulan yang valid dan mempercayai kesimpulan valid itu.
  2. Gubernur penguasa semata sedangkan Yesus penguasa alam semesta yang sekaligus sang Guru yang Agung yang tahu cara mengajar yang benar. Sedangkan Gubernur bukan seorang guru dan memang tidak pantas menjadi guru. Dia pemerintah. Yesus tahu bahwa cara mengajar yang baik bukan mencekoki murid-Nya dengan segala macam proposisi termasuk proposisi yang merupakan hasil derivasi dari beberapa proposisi. Yang mengajar a la si pengeritik hanyalah guru gila.
  3. Dll dst..

Keempat, apa ada jaminan bahwa kalau Yesus mengemukakan kesimpulan-Nya secara eksplisit, orang akan menerima apa yang Dia katakan? Tidak ada! Jadi Tuhan mau secara eksplist menyatakan kesimpulannya atau tidak tidak berpengaruh terhadap masuk tidaknya orang ke neraka atau surga. Itu hanya alasan yang dicari-cari pengeritik untuk menghindari pengakuan akan Yesus sebagai Juruselamat.

Jadi apa yang dapat kita katakan sebagai kesimpulan dari semua ini? Sederhana saja:

  • Pertama, orang tidak percaya akan mencari-cari beribu-ribu alasan untuk tidak datang kepada Yesus sebagai Juruselamat. Perhatikan contoh yang satu ini. Dia mencari-cari berbagai alasan termasuk alasan yang tidak valid untuk melarikan diri dari pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat.
  • Kedua, di sini kita melihat akan pentingnya peran Roh Kudus. Tidak peduli betapa banyak kita tunjukkan seseorang bersalah, dia tidak akan mengakui kesalahannya dan datang kepada Kebenaran kalau Roh Kudus tidak mencerahkan pikirannya.
  • Ketiga, lalu apakah itu berarti debat tidak berguna? Debat tetap beguna karena lewat debat seperti ini Roh Kudus bisa bekerja dengan hasil yang kita tidak tahu.
Pos ini dipublikasikan di Ad Hominem, Belajar Lagi ya.., Irrelevant Evidence, Islam, Logika, Memang Bodoh, Red Herring. Tandai permalink.

5 Balasan ke Bosan Ah!! Masa Tidak Pernah Belajar?

  1. islamthis berkata:

    baca artikel saya. bagus kalo situ mao bacha. kalo engga mau, tanggung senderekk!!

    http://islamthis.wordpress.com/2010/08/26/islam-penuh-tipu-daya/

    • whereisthewisdom berkata:

      Kalau gw baca yaaa.. itu hanya kesalahan logika lo aja. Tidak pantas merusak pikiran saya dengan tulisan seperti itu

  2. islamthis berkata:

    semua argumen anda sudah saya masukkan ke artikel saya tsb. lengkap dg sanggahan saya. silahkan visit lagi artikel saya itu langsungscroll ke bagian bawahnya, klik di sini http://islamthis.wordpress.com/2011/01/10/excuse-bodoh-atau-mengada-ada/

  3. Ping balik: Lho, Kok Hanya Pintar Klaim? | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s