Ahhh… Mana Dasarmu?

Sudah beberapa hari ini saya berdiskusi dengan seseorang di salah satu Forum di Facebook. Diskusi tersebut salah satu di antaranya berkaitan dengan point yang saya sudah pernah bahas sebelumnya di sini dan juga di sini (terutama pada bagian akhir-akhir) yang merupakan tanggapan terhadap tulisan seseorang di sini.

Di sana saya menyoroti tuntutan golongan tertentu bahwa segala sesuatu harus dinyatakan secara eksplisit baru pasti benar – yang diterapkan secara khusus pada topik tentang keilahian Kristus. Dalam tulisan tersebut saya menunjukkan bahwa hanya orang yang kecerdasannya terlalu rendah yang mengharuskan bahwa segala sesuatu harus dinyatakan secara eksplisit baru benar.

Namun dalam diskusi terakhir lawan diskusi saya menyatakan bahwa tidak semua hal harus eksplisit tetapi hal-hal yang terkait dengan keilahian Kristus harus dinyatakan secara eksplisit. Ada dua dasar yang dikemukakan oleh si lawan diskusi. Yaitu bahwa pertama, ketika menyatakan diri kepada Israel, Allah jelas-jelas menyatakan “Akulah Allah”. Dasar kedua adalah bahwa dalam kitab Hindu, titisan dewa tertentu menyatakan secara eksplisit bahwa dia adalah titisan Dewa. Namun dari kedua dasar itu, hanya dasar pertama yang tampaknya relevan. Dasar kedua tidak relevan karena tidak ada keharusan bagi Allah untuk mengikuti sesuatu yang dilakukan oleh sesuatu entitas yang dipercaya menyatakan diri dalam kitab Hindu.

Jadi kita  hanya akan membahas dasar pertama yang dikemukakan untuk mendukung pandangan bahwa Yesus  harus mengatakan “Akulah Allah, Sembahlah Aku!” barulah ajaran tentang keilahian Kristus benar.

Argumen yang dikemukakan oleh si lawan diskusi adalah karena dalam Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri dengan “Akulah Allah, sembahlah aku,” maka kalau Yesus memang benar-benar Allah, maka seharusnya Dia mengikuti pola yang sudah ada dalam Perjanjian Lama yaitu mengatakan “Akulah Allah, sembahlah aku.” Tidak perlu mengharapkan orang mengambil kesimpulan dari berbagai proposisi yang Dia dikatakan atau mengambil kesimpulan berdassarkan apa yang Dia lakukan. Kok Yesus berbeda sekali dengan Allah dalam Perjanjian Lama. Karena itu mereka menyimpulkan bahwa Yesus pasti bukanlah Allah.

Ada banyak masalah dengan argumen seperti ini dan kita akan melihat tiga di antaranya. Pertama, ketidakmampuan inteligensia. Orang yang bargumen seperti ini sedang seperti orang yang sedang membandingkan buah nangka dengan lengkeng dan mengeluh panjang pendek mengapa nangka tidak sama dengan lengkeng. Dia marah-marah karena nangka berduri dan kalau jatuh di atas kepalanya pasti kepalanya hancur padahal seharusnya nangka itu sama dengan lengkeng.

Orang yang berargumen seperti di atas lupa bahwa pada saat Allah menyatakan diri kepada Israel, tidak banyak hal (kalaupun ada) yang orang Israel tahu tentang Allah. Yang tahu banyak hanyalah Musa yang harus melepaskan kasutnya saat sedang berhadapan dengan kemuliaan Allah di semak belukar. Dengan kata lain orang Israel tidak punya cukup banyak informasi untuk mengambil kesimpulan tentang Allah. Orang Israel tidak tahu siapa itu Allah dan bahwa mereka harus menyembah Dia. Itu harus dinyatakan secara eksplisit. Sepanjang sejarah Israel, ada begitu banyak informasi yang Tuhan Allah wayhukan melalui nabi-nabi sehingga pada saat Yesus datang sudah begitu banyak informasi yang benar yang bisa digunakan untuk mengambil kesimpulan tentang Yesus Kristus. Disamping informasi tersebut, orang juga bisa mengambil kesimpulan dari apa yang Yesus lakukan dan apa yang Yesus katakan.

Ada begitu banyak argumen yang dikemukakan orang Kristen untuk menyatakan bahwa Kristus adalah Allah. Karena di sini tujuan saya bukan untuk membahas ayat-ayat tersebut melainkan menunjukkan bahwa tidak ada dasar yang teguh bagi pertanyaan seperti ini, maka tidak perlu saya bahas di sini. Yang mau membaca tentang hal ini, sudah terlalu banyak buku yang ditulis oleh orang Kristen.

Kedua, kesombongan (yang mungkin juga diakibatkan oleh kurangnya inteligensia). Apakah Allah itu Allah yang ingin agar umatnya seperti sapi, kuda, atau keledai yang tidak berpengertian sehingga Dia harus menyatakan segala sesuat terus-menerus walaupun sudah dikatakan sebelumnya? Di satu tempat Dia mengatakan “marilah kita berperkara” kepada umat-Nya. Dalam berperkara hal yang penting adalah ingatan, argumentasi, dan logika. Kalau Allah menantang umat-Nya untuk berargumentasi, maka pasti Dia tidak mau umatnya menjadi seperti sapi, kuda, atau keledai. Tuhan Allah Israel adalah Tuhan Allah yang menginginkan umat-Nya menjadi umat yang mengingat apa yang Dia firmankan dan hidup berdasarkan firman itu serta mengambil kesimpulan yang valid dari pernyataan-Nya dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Jadi berdasarkan standar Allah, tidak ada keharusan bagi Allah untuk menyatakan sesuatu secara eksplisit apalagi kalau sudah ada begitu banyak proposisi pendukung yang Dia wahyukan untuk mendukung kesimpulan yang dipertanyakan oleh orang tersebut. Siapakah manusia sehingga dia melarang Allah melakukan seperti yang Dia lakukan?

Ketiga, pandangan yang terlalu sempit sempit tentang logika. Orang seperti ini berpikir bahwa logika adalah cara berpikir yang mendukung pandangan dia sehingga setiap gagasan yang bertentangan dengan pandangannya (atau agamanya) pasti tidak logis. Kalau orang mau melakukan seperti itu, maka tentunya saya juga bisa mengatakan yang bertentangan dengan itu yaitu bahwa logika adalah  cara berpikir yang mendukung pandangan saya sebagai orang Kristen. End of discussion!

So?? Tampaknya, di balik pertanyaan “Dimana Yesus menyatakan ‘Akulah Allah, sembahlah Aku!’ tidak ada dasar yang kokoh. Jadi mereka yang mengemukakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebaiknya sadar dan mencari argument lain.

Update:

Barusan ada masukan dari teman di Facebook bahwa kalau Islam berargumen seperti di atas, gampang saja, suruh dia tunjukkan dimana Yesus katakan “Aku bukan Tuhan, jangan sembah aku.” Itu serangan logical ad hominem yang sangat tajam. Kalau lawan tidak bisa menunjukkannya, maka argumennya tidak ada apa-apanya. Selesai. Skak Mat. Jalan lurus dihadang, jalan berliku dipotong.

Pos ini dipublikasikan di Ad Hominem, Filosofi, Islam, Polemik, Yesus. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ahhh… Mana Dasarmu?

  1. Ping balik: Saat Setitik Kotoran Kecoak dianggap Benteng Teguh | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s