Saat Setitik Kotoran Kecoak dianggap Benteng Teguh

Beberapa saat yang lalu salah seorang lawan diskusi saya di dunia maya memposting sebuah komentar di tulsan saya yang katanya berasal dari tulisan dia di sini. Pokok yang diangkat sebenarnya sudah dibahas di sini dan di sini. Sudah ditunjukkan bahwa landasan filosofis di balik pertanyaan seperti ini adalah sebuah kebodohan. Apakah si lawan diskusi yang satu ini akan membantah argumentasi saya ataukah dia akan mengulangi kebodohan yang sama? Kita akan melihat di bawah ini. Satu hal yang pasti adalah si lawan diskusi memulai tulisannya dengan ceritera yang katanya mengilustrasikan apa yang dilakukan orang Kristen. Jadi tampaknya sesuatu yang menjanjikkan. Tetapi yaaa.. siapa tau akhirnya menjijikkan? Kita akan tahu nanti. Sesuatu yang akan membongkar ketidakvalidan argumentasi saya dan kesalahan kesimpulan saya. Mari kita lihat!

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah bahwa lawan diskusi saya ini adalah seorang yang membangga-banggakan dirinya karena katanya mengalahkan orang-orang yang berdiskusi di forum faithfreedom. Jadi mungkinkah inteligensianya di atas rata-rata? Ataukah orang-orang di faithfreedom hanya bosan dengan non argumen yang dikemukakan? Kita akan lihat.

Argumen pertama dan satu-satunya yang dibahas oleh si lawan diskusi untuk membantah tesis bahwa Yesus menyatakan diri sebagai Allah adalah argumen berdasarkan Markus 10 ayat 18 yang berbunyi “Jawab Yesus: “Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Saya dan orang Kristen lain yang saya kenal mengatakan bahwa ini adalah logical ad hominem (menerima pandangan lawan demi menunjukkan bahwa posisi lawan sebenarnya dia tidak sangka-sangka atau dia tidak dia terima). Contoh logical ad hominem sudah saya bahas di sini, jadi tidak perlu dibahas lagi di kesempatan ini.

Saya berargumen bahwa dalam ayat ini Yesus sedang menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan dengan menggunakan logical ad hominem. Untuk menunjukkan bahwa itu logical ad hominem, saya kemukakan silogisme berikut:

1. Premis 1: Hanya Allah yang baik
2. Premis 2: Yesus adalah baik
3. Kesimpulan: Yesus adalah Allah

Nah, si lawan diskusi menganggap ini sebagai sesuatu yang sengaja dibuat-buat untuk “mengamankan nafsu sataniah” saya. Kedengaran sesuatu yang sangat menakutkan kalau memang benar bahwa saya hanya menyusun argumen tersebut berdasarkan nafsu. Kalau argumen tersebut memang hanya disusun berdasarkan “nafsu” maka tentunya akan sangat mudah untuk membantahnya. Apakah argumen saya akan terbantah ataukah justeru si lawan diskusi yang dikuasai nafsu? Nafsu apapun itu.

Si lawan diskusi, menyerang premis kedua. Dia mengatakan bahwa Yesus bisa baik tetapi manusiapun bisa baik. Orang Kristen yang mengemukakan argumen seperti ini mencampuradukkan antara kebaikan manusia dan kebaikan Allah. Yang si lawan diskusi lupa adalah bawah premis kedua itu dibatasi oleh premis pertama dalam aplikasinya. Premis kedua adalah premis orang muda yang datang kepada Yesus. Kemudian Yesus membatasi aplikasi kata “baik” itu dengan standar mutlak dimana semua manusia tidak ada yang baik dan hanya Allah yang baik. Dengan melakukan demikian, penerapan kata baik menjadi tidak mungkin. Ini tidak diperhatikan oleh si lawan diskusi saya sehingga dia menyerang saya. Jadi rupanya si lawan diskusi ini tidak paham sama sekali argumen yang dia serang.

Jadi siapa yang dikuasai nafsu? Tampaknya si lawan diskusi. Karena dia mengatakan saya melakukan itu untuk “mengamankan nafsu sataniah”, maka dengan menunjukkan ketidakpahamannya tentang argumentasi yang dikemukakan, tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa sebenarnya yang dipenuhi nafsu setan adalah si lawan diskusi.

Si lawan diskusi kemudian mengemukakan alasan mengapa Yesus tidak mungkin baik. Alasannya adalah karena Yesus berak, kencing, kentut, lapar, keringat bau, punya nafsu seks, dan lain-lain. Itu adalah standar dia untuk menilai seseorang itu baik atau tidak. Lalu siapa dia sehingga menetapkan sebuah standar yang harus diikuti orang lain dan terlebih lagi oleh Allah? Jawabnya dia tidak lebih dari seorang manusia  yang tidak tau diri yang dalam kesombongannya lupa bahwa dia hanyalah ciptaan dan tidak ada keharusan bagi orang lain terlebih lagi Allah untuk mengikuti standar bodoh seperti itu. Apakah nafsu seks salah? Mmmm.. kalau nafsu seks salah, maka allah muslim adalah setan karena di surga orang muslim akan menikmati seks sebebas-bebasnya dengan sekian banyak perawan yang terus perawan walaupun ditusuk terus (maafkan kata kasar saya. Tetapi pada intinya itulah yang dipercayai muslim). Kalaupun benar bahwa nafsu seks itu salah/dosa, tahu dari mana si lawan diskusi bahwa Yesus mempunyai nafsu seks? Petrus atau salah seorang Rasul mengatakan bahwa Yesus tanpa dosa (I Petrus 2 : 22). Jadi kalau nafsu seks termasuk dosa, maka Yesus pasti tidak berdosa.

Setelah semua serangan yang ternyata tidak punya gigi ini (ompong), si lawan diskusi mengemukakan sebuah silogisme tandingan:

1. Premis 1: Hanya Allah yang baik
2. Premis 2: Yesus TIDAK baik
3. Kesimpulan: Yesus BUKANLAH Allah.

Argumen yang valid, tetapi karena premisnya salah, maka kesimpulannya salah.

Kemudian si lawan diskusi mengatakan bahwa mengingat Yesus itu manusia, maka pastilah Yesus bukan manusia. Well, itu hanya menjadi benar kalau diasumsikan bahwa (1) tidak mungkin Allah mengambil rupa seorang manusia, dan (2) Yesus hanya manusia biasa. Dua asumsi yang tidak diakui Alkitab dan tidak ada justifikasi sama sekali. Apakah si lawan diskusi mau mengemuakan justifikasi terhadap asumsi buta seperti ini? Saya tidak tahu. Kita tunggu saja. Walaupun saya sudah memperhitungkan apa yang mereka katakan sudah memperhitungkan betapa tidak validnya argumen mereka, kita tunggu saja.

Dia mengemukakan pertanyaan “mana ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan?” Mmmm.. saya heran karena orang ini mengutip ayat-ayat Alkitab tetapi melewatkan ayat-ayat dimana Yesus disebut sebagai Tuhan dan Allah oleh Thomas dan Yesus tidak mengoreksi Thomas (Yohanes 20:28). Saya heran sekali mengapa ini terlewatkan.

Si lawan diskusi kemudian melanjutkan copy paste tulisan yang sama sampai beberapa kali tanpa bosan. Kemudian mengemukakan sebuah kumpulan kata-kata, kalimat-kalimat, dan paragraph-paragraf yang katanya sebuah “analisa.” Kita akan melihat sebaik apa analisa si lawan diskusi. Kita akan melihat apakah dia masih terus melakukannya dengan nafsu setannya ataukan ada perbaikan.

Pertama yang dilakukan si lawan diskusi adalah mengatakan bahwa konsep 100 % dan 100 % Tuhan yang orang Kristen percaya Yesus miliki tidak mungkin benar karena manusia tidak sempurna karena manusia tidak sempurna. Sekali lagi si lawan melakukan kesalahan logika yang bernama strawmen argumen. Si lawan diskusi mengasumsikan bahwa orang Kristen percaya bahwa natur kemanusiaan Kristus dan natur keallahannya bercampur. Padahal orang Kristen tidak mempercayai itu. Dengan kata lain yang diserang lawan diskusi ini adalah pandangannya sendiri yang dianggap sebagai pandangan orang Kristen.

Argumen seperti yang diajukan lawan diskusi ini juga merupakan sebuah contoh standar ganda. Kuran, kitab yang mereka anggap suci, dipercayai sebagai sesuatu yang ada di surga sejak kekal dan tidak diciptakan. Nah, bagaimana kalau orang Kristen berargumen bahwa sebenarnya Kuran itu tidak kekal karena terbuat dari kertas? Mereka akan berargumen bahwa orang Kristen mencampuradukkan antara aspek fisik (yaitu kertasnya) dengan Firman yang sebenarnya di sorga. OK. Kalau begitu, maka orang islam seperti lawan diskusi ini sedang menggunakan standar ganda. Orang Kristen tidak boleh membedakan antara keilahian dan kemanusiaan Kristus. Istilah lainnya adala ini adalah sebuah kemunafikan. Sebuah kemunafikan yang anehnya tidak dipahami sebagai sebuah kemunafikan oleh pengajar-pengajar mereka sampai ke orang awam. Tampaknya ada sesuatu hal yang membuat pandangan intelektual mereka buta. Apakah itu? Well, kemungkinan besar “nafsu setan” seperti yang dikatkan oleh si lawan diskusi ini.

Dia kemudian mencoba merekonstruksi kemungkinan yang akan dikemukakan oleh orang Kristen untuk menangkal klaim si lawan diskusi yang satu ini. Kedengaran seperti taktik yang dia tiru dari saya (geer dikit boleh khan? He he he). Tetapi masalahnya adalah apa yang dia perkirakan itu meleset sangat jauh. Jadi kalau benar dia ikut strategi saya, dia hanya ikut-ikutan tanpa paham apa yang sedang dilakukan. Yang diperkirakan oleh si lawan diskusi adalah orang Kristen akan berargumen bahwa khan Yesus sebagai manusia baik, jadi Dia tetap baik. Ha ha ha… lucu minta ampun. Tentu saja saya tidak akan mengemukakan argument seperti itu karena premis pertama sudah membatasi penerapan kata “baik” hanya kepada Allah. So?? Dengan kata lain si lawan diskusi miss the crucial point! Si lawan diskusi sama seperti tidur waktu sedang kelaparan dan kemudian dalam tidurnya dia bermimpi makan yang enak. Setelah dia merasa puas, dia terbangun dan mendapati bahwa perutnya masih keroncongan. Dia harus membuat makanan, sedangkan bahan makanan tidak ada lagi dan semua tempat penjualan makanan tutup saat itu. Menarik khan? Sangat menarik!

Berdasarkan tebakan tidak berhadiah yang meleset tersebut, si lawan diskusi mengatakan bahwa memang benar bahwa Yesus itu baik sebagai manusia. (Ya dan amin! Semoga Tuhan Yesus Kristus membuka selubung yang menutupi akal budimu nak! Saya berdoa!) Tetapi saya tidak pake argumen itu untuk mementang muslim dengan alasan yang saya kemukakan di atas.

Nah, anehnya lagi, si lawan diskusi ini membantah apa yang dikatakannya tentang Yesus bahwa Yesus baik dan mengklaim bahwa Yesus itu baik relatif hanya menurut orang Kristen saja. Sedangkan yang Muslim, Yahudi, Hindu dll menganggap Yesus tidak baik. Well, hai penjahat logika, jadi yang mana yang benar? Yesus baik atau tidak? Saya anggap jawaban yang diberikan adalah bahwa Yesus tidak baik (karena dia Muslim dan muslim termasuk orang yang percaya bahwa Yesus tidak baik). Dengan mengingat bahwa apa yang dikatakan si lawan diskusi saya ini sudah dibantah karena argumennya adalah argumen kontingensi, maka pertanyaan untuk si lawan diskusi adalah, kalau menurut Kristen Yesus (sebagai manusia) adalah baik, dan oleh agama lain termasuk islam, Yesus tidak baik, berdasarkan apa sehingga si lawan diskusi merasa bahwa apa yang mereka katakan itu bukan hanya subyektif mereka? Toh di atas ditunjukkan bahwa standarnya hanyalah standar murahan yang kalau ditawarkan gratispun, orang yang berakal tidak dapat terima. Pasti dia akan kebingungan dan menjawab asal comot kalau dikasih pertanyaan seperti ini. We’ll see!

Dia membandingkannya dengan Muhammad yang dinyatakan oleh islam sebagai manusia sempurna oleh muslim, dihina oleh orang Kristen. Well, memang kok dia bejad. Perhatikan saja dia berhubungan seks dengan anak-anak. Pake standar ganda pula, setiap orang hanya boleh beristeri empat dan dia sendiri yang boleh beristeri lebih dari empat. Nabi macam apa itu? Dengan kata lain, dengan menggunakan standar mutlak, Muhammad memang bejad kok bukan seperti Yesus.

Lalu si lawan diskusi mengatakan Yesus sebenarnya banyak kekurangannya. Well, banyak kekurangan? Mmmm.. argumen yang sudah saya patahkan habis-habisan di sini dan belum ada bantahan. Saya tunjukkan bahwa dia harus bertentangan dengan kitab yang dia anggap suci untuk mengatakan bahwa Yesus berdosa.

Dia mengatakan bahwa Yesus dia anggap tidak baik berdasarkan subyektivitasnya karena Yesus ketakutan, Yesus marah kepada pohon ara, Jesus memerintahkan muridnya untuk mencuri keledai (kata siapa dia mencuri??), Jesus mengutuki kota-kota yang tidak mau bertaubat. Sekali lagi dengan kesadaran argumen seperti ini berasal dari tebak-tebakan yang tidak berdasar dan sudah saya patahkan dalam penjelasan di atas, kita akan melihat satu per satu alasan si lawan diskusi. Kalau Yesus ketakutan, apa salahnya? Sekali lagi si lawan diskusi tidak membedakan antara keilahian dan kemanusiaan Kristus. Kalau Yesus marah kepada pohon ara, apa salahnya? Apakah ada yang salah dengan marah? Tidak ada! Allah murka (tingkatan lebih tinggi dari pada sekedar marah). Lalu Yesus memerintahkan muridnya untuk mencuri keledai. Darimana dia dapat informasi seperti ini? He he he dari temannya Kevin sang Juruselamat? Wow…. Hebat sekali. Sumber yang sangat dapat dipercaya. Yesus mengutuki kota-kota yang tidak mau bertobat. Apa salahnya? Mereka tidak bertobat, dan Yesus mengutuk, itu mah fair-fair saja karena Dia adalah Allah. Sangat sederhana dan si lawan diskusi tidak paham sama sekali.

Kemudian si lawan diskusi mengangkat ayat yang katanya pernah ada di dalam Alkitab walaupun tidak dapat dibuktikan bahwa itu ada dalam Alkitab. Ayat yang sangat kasar dan tidak pantas diangkat di sini. Ayat ini katanya pernah ada dalam Alkitab Kristen. Well, kalau si lawan diskusi bisa mengemukakan klaim tanpa justifikasi seperti itu, maka saya mapu untuk mengemukakan klaim lain yang bertentangan dengan itu tanpa perlu justifikasi. Saya kemukakan bahwa dulu dalam Kuran ada ayat yang menyatakan Yesus sebagai saatu-saatunya Juruselamat. Setelah tahun 1915 ayat itu sengaja dihilangkan dan diganti dengan ayat yang anti Yesus.

Si lawan diskusi melanjutkan dengan kesimpulan besarnya yang didasarkan pada kebodohan-kebodohan yang sudah diruntuhkan di atas. Dia mengatakan bahwa malang benar nasib orang Kristen karena dirasuki roh iblis padang pasir Damaskus (merujuk kepada Paulus). Well, dari analisa di atas jelas siapa yang sebenarnya kerasukan. Kerasukan roh siapakah kira-kira si lawan diskusi ini? Jelas bahwa apa yang dituliskannya begitu menjijikkan walaupun pada awalnya begitu menjanjikan. Well, siapa lagi kalau bukan roh setan padang pasir yang juga merasuk Muhammad juga merasuk dia. (Di sini saya hanya menggunakan standar si diskusi. Karena dia berani mengatakan Paulus sebagai setan, maka saya dengan mudah dapat mengatakan bahwa Muhammad sebenarnya dirasuk oleh roh setan. Fakta tentang kerasukannya diakui oleh kitab yang golongan lawan anggap sebagai berwibawa.)

Jadi begitu memperihatinkannya keadaan si lawan diskusi saya, sehingga dia tidak mengenal kesalahan sebagai kesalahan. Kebodohan yang dikemukakan si lawan diskusi ini juga mengindikasikan bahwa orang-orang di faithfreedom bukan dikalahkan oleh argumen, tetapi oleh tingkah lakunya yang tidak tau diri. Dia anggap dia sebagai pakar logika, padahal analisa menunjukkan bahwa apa yang dia katakan tidak valid sama sekali. Tetapi meskipun demikian, dia tetap keukeuh pada pendiriannya yang salah tersebut. Semoga Tuhan Yesus Kristus Sang Logos membuka belenggu dari hati dan pikirannya. Selain itu tidak ada harapan untuk dia.

Pos ini dipublikasikan di Belajar Lagi ya.., Islam, Memang Bodoh, Strawmen Argument. Tandai permalink.

2 Balasan ke Saat Setitik Kotoran Kecoak dianggap Benteng Teguh

  1. suara langit berkata:

    Adakah kristen yg bsa jawab.
    Sejak kpan yesus jd tuhan?
    Lebih mulia mana anak ma ibu?
    Lo dia tuhan knp dsalib? Trus waktu dsalib teriak2 minta tolong ma tuhan katanya dia tuhan?

    • whereisthewisdom berkata:

      Saya mohon dengan hormat kepada anda yang kasih komentar di sini untuk berinteraksi dengan tulisan saya. Saya menjawab tulisan anda walaupun anda tidak berinteraksi dengan tulisan saya hanya sebagai bentuk niat baik dari saya kepada anda.

      Sejak kekal Yesus adalah Tuhan

      Jelas Yesus lebih mulai dari pada ibuNya.

      Karena Yesus memiliki dua natur. Yang disalibkan adalah natur manusianya. Natur manusianya juga yang berdoa dan meminta tolong.

      Jadi silahkan berinteraksi dengan tulisan saya yang anda komentari. Saya tunggu

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s