Rasakanlah Obat Sendiri!

Kemarin di salah satu forum diskusi di Internet,  saya memulai sebuah thread yang sengaja dibuat asal-asalan dengan bunyi “Maaf saya posting ulang tantangannya: Khusus untuk Muhammad Budiman Rasyid, and mengatakan bahwa satu kata harus didasarkan pada teori yang benar. Saya mau tahu, apa teori yang mendasari kata “di.” Silahkan! Saya mau tau!” Saya mengemukakan satu proposisi yang saya bilang dipercayai oleh seorang Muslim yang bernama (samaran??) Muhammad Budiman Rasyid tetapi sebenarnya tidak. Saya katakan bahwa si lawan diskusi saya percaya bahwa setiap kata harus punya dasar teori padahal yang dia katakan adalah setiap istilah bukan setiap kata. Jadi di sana ada pemutarbalikkan. Setelah itu saya tantang dia untuk mengemukakan teori-teori di balik kata “di”. Saya posting seperti itu sebenarnya untuk menjadi contoh bagaimana muslim menganut standar ganda pada saat berdiskusi dengan orang non-muslim (dalam kasus ini Kristen). Lalu bagaimana hasilnya? Hasilnya adalah seperti yang saya harapkan (saya kasih bold):

Si muslim bersangkutan langsung sewot dan menunjukkan kesalahan saya. Dia mengatakan bahwa yang dikatakannya terkait dengan “istilah” sedangkan yang saya katakan terkait dengan “kata”. Dua hal yang berbeda. Ini adalah hal yang pantas dilakukan. Dan lawan diskusi seharusnya menerima itu dan minta maaf.  Tetapi karena natur dari thread itu bukan untuk saya benar-benar diskusi tetapi untuk menggunakan standar orang tertentu terhadap mereka sendiri, saya tidak mau minta maaf dan malah mengalihkan pembicaraan dan tidak lagi berbicara tentang topi. Hal seperti ini sering dilakukan oleh muslim saat tersudut. Jadi saya gunakan taktik yang sama terhadap mereka.

Saya mengalihkan pembicaraaan dan berbicara tentang apakah si lawan bicara sudah bertobat, apakah presiden Mesir sudah turun dari takhta, dll. Saya juga menghubungkan satu proposisi dengan propisisi yang lain walaupun sebenarnya tidak saling berhubungan dan mengemukakan kesimpulan yang aneh misalnya bahwa ayah dan ibu si lawan diskusi tidak menikah karena berita tentang Husni Mubarak tersebar luas di berbagai media dan semua itu membuatnya sakit. Hal yang tidak saling berhubungan sama sekali. Saya juga membalikkan apa yang dia katakan kepada diri sendiri (tanpa argumen) Sebenarnya saya mengharapkan dia menunjukkan bagaimana tidak validnya argumen saya. Tetapi itu tidak terjadi serta-merta terjadi! Jadi hal-hal yang mendasar dilupakan tidak dibahas.

Nah, entah karena ingin sok intelek atau apa, akhirnya momen-momen yang diharapkan muncul. Tiba-tiba si lawan diskusi mengatakan hal berikut untuk menunjukkan bahwa saya tidak argumen saya tidak valid. D

“Premis 1 anda bertanya premis 2 saya menjawab pertanyaan anda lalu anda gabungkan bahwa jawaban saya adalah apa yang saya lakukan wkwkwkwkwk belajar logika lagi dik”

Ini adalah kesempatan emas untuk saya serang dia. Saya tanyakan bagaimana mungkin sebuah pertanyaan menjadi premis dan meminta dia untuk menunjukkan prosesnya. Tetapi si lawan diskusi mencoba melarikan diri (mungkin karena mengendus bau bahaya di sana? He he he). Seolah-olah dia mau mengatakan bahwa dia tidak mengatakan itu. Tetapi nasi sudah menjadi bubur karena dia sudah mengatakan itu. Pernyataannya itu membuatnya benar-benar terungkap kebodohannya. Premis tidak mungkin sebuah pertanyaan (kecuali pertanyaan retoris yang pada dasarnya adalah sebuah pernyataan). Premis hanya ada dalam bentuk pernyataan (entah positif entah negatif). Tidak dalam bentuk pertanyaan atau  perintah.

Saat dia masih berusaha untuk menyembunyikan kebodohannya, saya menutup diskusi karena saya berpikir bahwa tujuan saya membuka thread itu sudah tercapai. Tujuan saya tercapai karena terbukti bahwa mereka tidak akan menerima perlakuan yang mereka berikan kepada orang lain kalau perlakuan itu diberikan kepada mereka. Dengan kata lain mereka menggunakan standar ganda. Mereka juga tidak mau mengakui kesalahan mereka walaupun kesalahannya sudah dikuas sampai sumsum. Dengan dipancing seperti itu juga, mereka juga secara tidak disengaja menunjukkan bahwa mereka tidak paham tentang logika walaupun mereka gembar-gembor tentang logika dan mereka gembar-gembor tentang intelektualitas dan lain-lain sebagainya.  So, welcome to the real world my friend! Jangan sok tau! He he he.

Update:

Untuk mereka yang memperhatikan, bisa saja mengatakan bahwa saya salah paham pernyataan lawan diskusi pada saat dia berbicara tentang premis. Mungkin ada yang merasa tidak adil kalau pernyataan si lawan diskusi ditafsirkan sebagai berarti bahwa “premis dapat berupa pertanyaan.” Mungkin kalau dilihat secara sepintas memang demikian. Tetapi sebenarnya tidak karena dengan mengatakan seperti yang saya kutip di atas, lawan diskusi merujuk kepada argumen saya yaitu premis pertamanya pertanyaan saya, premis kedua jawabannya, dan kesimpulan adalah bualan saya yang ditujukan untuk melawan dia.

Pos ini dipublikasikan di Belajar Lagi ya.., Humor, Islam, Logika, Memang Bodoh, Validitas. Tandai permalink.

2 Balasan ke Rasakanlah Obat Sendiri!

  1. Ping balik: Kami Memang Memiliki Perbedaan Tetapi Itu Perbedaan Kecil Sehingga Bukan Perbedaan | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s