Gordon Clark – Trinitas Bagian 3

Sambungan dari sini

1 Ayat Alkitab Pengantar

Untuk memulai topik ini, tulisan saya akan dimulai dengan pendekatan kronologis atau historis, walaupun secara berangsur-angsur akan lebih mengambil pendekatan logis daripada historis. Apapun pendekatannya, kita akan memulai dengan Perjanjian Lama. Pendekatan historis ini bukan hanya mempermudah; namun secara pedagogis harus diambil. Mahasiswa seminari saat ini biasanya memiliki pemahaman yang kurang tentang bahan-bahan Alkitab atau katekismus, kecuali mereka berasal dari sekolah kristen. Karena itu, mengingat materi yang digunakan untuk meyusun doktrin Trinitas adalah data Alkitab, maka pasal-pasal yang digunakan harus tetap diingat atau kalau tidak maka diskusi ini tidak akan bermanfaat. Seperti halnya tulisan lain tentang Trinitas, tulisan ini tidak berjanji untuk memberikan semua materi yang relevan; tetapi berjanji untuk memberikan lebih banyak daripada yang diberikan tulisan lain tentang Teologi Sistematik. Tetapi mereka yang mempelajarinya harus melakukan pekerjaan mendasarnya sendiri dan diharapkan mempelajari Alkitab, karena di dalamnya ada hidup yang kekal.

Selama masa Perjanjian Lama, setidaknya sampai masa pembuangan ke Babel, penyembahan berhala dan politeisme merupakan cobaan yang terus dialami dan seringkali orang pilihan jatuh. Karena itu perlu untuk menekankan monoteisme. Tidak hanya perintah pertama melarang penyembahan ilah lain dan firman kedua melarang penggunaan patung [dalam penyembahan kepada Alah], but tetapi juga Shema Israeil yang diulang-ulang setiap minggu menyatakan

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4).

Penekanan yang dibutuhkan pada kesatuan/kesaan Allah menepikan kemungkinan pemahaman tentang Allah sebagai Trinitas. Namun demikian, ada petunjuk bahwa bentuk plural Elohim  mengindikkasikan sejenis pluralitas dalam keallahan; namun dengan tidak adanya gagasan tentang tiga, dan tidak adanya penjelasan yang diberikan, adalah alamiah untuk memahami kata tersebut sebagai bentuk jamak keagungan. Namun bolehkah kita menganggap bahwa penggunaan nama Jehovah tiga kali dan hanya tiga kali dalam Bilangan 6:24-26 dan Daniel 9:19 hanya bunga retoris atau liturgis semata? Fenomena yang sama juga terlihat dalam Yesaya 33:22.

Beberapa teolog melihat adanya lebih banyak antisipasi Trinitas dibanding dengan teolog lain. I. A. Dorner (System of Christian Doctrine, Volume I) jelas berlebihan mengantisipasinya. Dia tidak hanya menganggap seringnya penggunaan Davar sebagai indikatif akan Logos, tetapi dia bahkan melihat hal ini dalam Kejadian 1:3, 6, 9 (Allah berfirman). Dia juga menyebutkan Mazmur 33:6, “Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya;” Mazmur 107:20, “disampaikan-Nya firman-Nya.” Jelas bahwa orang Ibrani kuno tidak melihat Trinitas dalam Kejadian satu; tetapi Mazmur 107 memang mengindikasikan sejenis pluralitas.

Antisipasi Perjanjian Lama terhadap Trinitas tampaknya dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Walaupun pembagian ini mungkin tidak dipertanyakan, penempatan ayat-ayat ke dalam ketiga kegori ini mungkin mengakibatkan perdebatan. Ketiga kelompok itu adalah: (1) ayat-ayat yang begitu jelas mengantisipasi Trinitas yang tidak hanya orang Kristen setuju, tetapi juga yang mengakibatkan teka-teki di antara orang Yahudi Perjanjian Lama; (2) ayat-ayat yang tidak terpikir oleh orang Yahudi sebagai merujuk kepada Trinitas, tetapi yang dapat ditunjukkan orang Kristen sebagai antisipasi [Trinitas]; dan (3) ayat-ayat yang hanya orang Kristen tertentu yang terlalu percaya diri yang bisa melihat adanya gagasan Trinitas di dalamnya, walaupun kemungkinan besar Tuhan tidak bermaksud demikian.

Orang mungkin menganggap bahwa seiring dengan meningkatnya cakupan wahyu mulai dari Adam ke Maleaki Tuhan, maka Tuhan akan semakin memberikan petunjuk yang lebih jelas [tentang Trinitas] pada bagian akhir dibanding pada bagian awal pewahyuan. Namun petunjuk tentang Trinitas yang paling jelas, bukan hanya petunjuk tentang pluralitas tetapi tri-unitas, dinyatakan dalam dalam kitab Kejadian. Salah satu dari pasal dimaksud terkait dengan orang asing yang mengunjungi Abraham dalam Kejadian 18:1, 2, 9 sampai 16. Perhatikan penggunaan kata yang aneh. Tuhan menampakkan diri dan Abraham menyapanya dengan “Tuanku” (ayat 3), tetapi dia melihat tiga pengunjung. Dalam ayat 9 mereka menanyakan Sarah; tetapi setelah Abraham mengatakan bahwa dia di dalam kemah, ketiganya disapa dengan dengan kata ganti tunggal. Ayat 13, 14 digunakan kata “Tuhan,” tetapi dalam ayat 16 digunakan kata orang-orang, yaitu bentuk jamak mengakhiri kunjungan mereka.

Kita tidak boleh terlalu jauh menuntut [kesaksian] Perjanjian Lama [tentang Trinitas], tetapi dengan kekhususan dalam Kejadian 18 di hadapan kita, kita tidak boleh begitu saja mengabaikan atau merendahkan [kesaksian itu]. Dalam Kejadian 20:13 dikatakan, “Allah menyuruh aku mengembara,” dan kata kerja yang digunakan adalah kata kerja jamak, walaupun bentuk plural Elohim biasanya mengambil bentuk tunggalnya. Demikian juga halnya dengan Kejadian 35:7. Renungkan juga penggunaan kata ganti “kita” di beberapa tempat (Kejadian 1:26, 3:22). Ayat lain yang penting dalam kitab Kejadian adalah 24:40, 31:11, 12. Orang bertanya-tanya apakah saat menulis kitab ini empat abad kemudian, Musa berhenti berpikir tentang arti penting dari kekhususan-kekhususan ini.

Musa sendiri menerima pernyataan/wahyu aneh. Namun demikian, penyataan-penyataan tersebut tidak sejelas kepada Abraham. Dalam Keluaran 33 ada dua bagian yang khusus. Ayat 2, 3, 20-23 dan Bilangan 12:8 berbicara tentang Malaikat Tuhan, yang kita bisa pahami sebagai sang Mesias. Kemudian, Keluaran 33: 14, 15 dan Ulangan 4:37 memiliki kata jamak wajah, walaupun diterjemahkan sebagai bentuk tunggal, hadapan. Lihat juga Mazmur 27:8, 9. Namun, penggunaan kata ini meragukan karena Kejadian 1:2 juga menggunakan kata yang sama. Tetapi mungkin orang akan mengatakan bahwa air yang dalam memiliki beberapa wajah. Setelah Musa bisa juga dilihat di Hakim-Hakim 6:11ff. dan 13:3ff., dimana Malaikat Tuhan menampakkan diri. Kemudian ada juga Yesaya 63:9.

Ayub 35:10, Mazmur 149:2, Pengkhotbah 12:1, dan Yesaya 54:5 menggunakan kata Pencipta dalam bentuk jamak. Tentu saja ini menunjukkan bahwa ada lebih dari satu Pribadi yang adalah Pencipta. Mazmur memiliki beberapa antisipasi yang hamper sama. Sebagai latihan, siswa, bisa mulai dengan Mazmur 2 dan 110. Bahkan Mazmur-Mazmur ini yang kelihatan begitu jelas untuk kitapun tidak jelas bagi orang Yahudi waktu itu; tetapi menyusul pewahyuan Perjanjian Baru orang hampir tidak bisa mengabaikan implikasinya.

Namun, mungkin kelihatan aneh, Perjanjian Baru dengan penggambaran yang eksplisit tentang Ketiga Pribadi menempatkan kita pada posisi yang kurang menguntungkan dibanding orang Yahudi. Kita diharuskan untuk memformulasikan doktrin Trinitas dan ini bukan hal mudah. Bagaimana mungkin tiga adalah satu? Perjanjian Lama tidak diabrogasi. Kita bukan polities atau triteis, tetapi monoteis; dan Gregory Nazianzen menyatakannya dengan baik, “Aku tidak dapat berpikir tentang yang satu, tanpa dikelilingi oleh keagungan yang tiga; aku juga tidak dapat menemukan yang tiga tanpa tiba-tiba dibawa kembali kepada yang satu.” Orang Kristen adalah monoteis dan trinitarian. Seperti dituliskan Calvin, “Sementara Dia menyatakan diri sebagai Satu, Dia juga menunjukkan diri-Nya sebagai Tiga Pribadi berbeda, dan tanpa pemahaman tentang itu, kita hanya memiliki nama Allah yang melayang-layang di benak kita tanpa gagasan apapun tentang Allah yang benar” (Institutes, I, xiii, 2).

Karena itu tampaknya peringatan Calvin terhadap rasa ingin tahu yang sia-sia [terkait dengan Trinitas] agak berlebihan. Tak dapat disangkal bahwa ada orang yang membuang waktu dengan rasa ingin tahu yang sia-sia; tetapi pastilah jumlah mereka tidak banyak karena masyarakat pada umumnya sedikit sekali menggunakan waktunya merenungkan tentang Trinitas atau ajarak Kekristenan lainnya. Tidak dapat disangkal pula bahwa semua kita pasti [pada satu titik tertentu] melakukan kesalahan dalam teologi kita. Tidak ada yang tak bersalah. Karena itu, seperti Calvin katakan, kita harus bijaksana, seksama, dan penuh rasa hormat. Kita harus mempertimbangkan setiap doktrin, bukan hanya Trinitas saja, dari setiap sudut. Kita harus bertanya: Apakah exegesis kita tepat? Apakah ringkasan kita selengkap seharusnya? Apakah kesimpulan kita valid? Tetapi dengan segala kehati-hatian, [dapat saya katakan bahwa] tampaknya orang–orang modern harus didorong untuk lebih memikirkan matang-matang imannya, bukan sebaliknya.

Namun jika kita mengalami masalah yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang Ibrani dalam PL, kita [dalam PB] juga memiliki keuntungan karena ada penjelasan dari ayat Perjanjian Lama yang tidak sejelas ayat-ayat sebelumnya. Sebagai contoh:

Yesaya 40:3 berkata “Ada suara yang berseru-seru, persiapkanlah jalan. bagi Yehova.

Ayat ini mungkin tidak terlalu berarti bagi orang Yahudi pada abad ke-8 sebelum Kristus; tetapi

Matius 3:3 berkata “Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara….”

menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Yehovah. Karena itu ayat ini mengidentifikasi Yesus sebagai Yehova, dan memberikan klarifikasi kepada orang Yahudi yang bingung tentang natur dari Sang Mesias.

Demikian juga Mazmur 24 tidak dapat mengidentifikasi “Tuhan yang mulia” kepada orang suci Perjanjian Lama; tetapi I Korintus 2:8 menyatakan kepada orang suci[1] Perjanjian Baru bahwa Dia adalah Yesus. Ada banyak ayat dalam Perjanjian Baru yang mengidentifikasi Yesus sebagai Yehovah. Sebagai contoh, bandingkan, Yehovah yang dirujuk sebagai batu penjuru/sandungan dalam Yesaya 8:14 dengan 1 Petrus 2:5-8, dimana batu penjuru/sandungan itu adalah Yesus Kristus.

Catatan tentang peringatan Calvin sebelumnya menentang rasa ingin tahu yang sia-sia, diakhiri dengan beberapa pertanyaan yang salah satu di antaranya adalah, apakah ringkasan itu selengkap seperti seharusnya? Sedikit sekali, kalaupu ada, diskusi tentang topik apapun yang lengkap selengkap-lengkapnya; tetapi yang mau belajar pasti tidak akan menolak manfaat dari tambahan ayat Perjanjian Baru yang menginterpretasi Perjanjian Lama. Berikut ini adalah yang paling berkesan dari Calvin:

Ketika dikatakan dalam Mazmur empat puluh lima, “Takhtamu ya Allah, tetap untuk selama-lamanya,” orang Yahudi [modern] mencoba untuk menghindari kuasanya dengan mengatakan bahwa nama Elohim juga dapat diterapkan kepada malaikat, dan kepada manusia yang memiliki kedudukan dan kuasa. Tetapi tidak ada ayat yang mirip dengan itu dalam Alkitab yang memberikan tahta kekal kepada ciptaan; Dia tidak hanya disebut sebagai Allah tetapi juga dinyatakan sebagai memiliki kekuasaan kekal. (Institutes, I, xiii, 9)

Walaupun penjelasan Perjanjian Baru terhadap nubuat Perjanjian Lama ini begitu jelas bagi kita, orang Kristen abad kedua dan ketiga hampir sama sulitnya memahami ayat ini dengan orang Yahudi kuno (kalau tidak dapat dikatakan sama sulitnya). Gagasan mengenai satu Allah dibandingkan dengan politeisme Yunani, dan hubungan yang membingungkan antara Sang Bapa dan Sang Anak menjadi teka-teki dan mengganggu gereja sampai pertengahan abad keempat. Kalau saat ini kita tidak terlalu bingung, mungkin itu bukan saja karena masalah ini telah dipecahkan Athanasius, tetapi juga karena beberapa dari kita cenderung lupa keesaan Allah dan jatuh ke dalam triteisme. Tentu saja, ini merupakan keberatan utama Islam terhadap Kekristenan dan merupakan masalah terbesar misionaris dengan mereka. Tanpa latihan tambahan, sebagian besar pendeta tidak dapat berbuat banyak di Negara-negara Arab. Trinitas bukan sesuatu yang sering dikhotbahkan di gereja-gereja Amerika. Pendeta-pendeta konservatif yang cukup bijaksana akan membantah modernisme dengan mengkhotbahkan keilahian Kristus, dan kadang-kadang kepribadian Roh Kudus; tetapi hubungan dalam Trinitas, peranakan Sang Anak dan prosesi Roh Kudus paling banyak diabaikan.

Mungkin hal ini diabaikan dan dihindari karena adanya kesulitan yang melekat di dalamnya. Bahan-bahan Kitab Suci sendiri kadang-kadang menjadi teka-teki. Pembedaan Trinitarian yang tajam antara Bapa dan Anak dalam kaitan dengan keilahian penuh dari Pribadi kedua, tampaknya dikompromikan oleh ayat-ayat yang mengidentifikasi Bapa sebagai Allah, dan Anak sebagai sesuatu yang lain. Bahkan berkat apostolikpun tampaknya memisahkan Tuhan Yesus dari Allah, walaupun kata Bapa” tidak ada di sana. Paulus dalam 1 Korintus 1:3, Galatia 1:1, Efesus 1:2, Filipi 1:2 dan di tempat-tempat lain tampaknya membatasi Allah hanya kepada Bapa. Sepertinya ini mengindikasikan bahwa Kristus sebenarnya bukan Allah.

Tetapi ada alas an historis mengapa ini terjadi. Dalam Perjanjian Lama, dimana Trinitas belum jelas diajarkan, Allah kadang-kadang disebut Bapa. Ini berimplikasi bahwa Allah adalah Bapa, walaupun bukan Bapa dari Pribadi Kedua. Keluaran 4:22 menyatakan, “Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.” Ulangan 32:6 berkata, “hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?” Dalam 1 Tawarikh 29:10 Daud berdoa, “Terpujilah Engkau, ya TUHAN, Allahnya bapa kami Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.” Mazmur 100:3 tidak terlalu jelas. Tetapi Yesaya mempunyai beberapa ayat yang menyatakan ini: “Bapa yang kekal, Raja Damai” (9:6); 43:1, 15 tidak terlalu jelas; 45:11 dengan kata anak-anak lebih jelas; 63:16 adalah deklarasi kemuliaan yang sangat terkenal declaration, “Bukankah Engkau Bapa kami…Engkau sendiri Bapa kami…” Pasal berikut juga, “ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami… kami sekalian adalah umat-Mu” (64:8, 9).

Inti dari yang saya katakan di sini bukan bukan, saya tekankan lagi, bukan, untuk menunjukkan adanya antisipasi doktrin Trinitas; tetapi sebaliknya untuk menunjukkan bahwa Allah, walapun belum dikenal sebagai Trinitas, sudah disebut Bapa. Karena itu, saat dinyatakan pembedaan antar Pribadi dalam Perjanjian Baru, kata Bapa kadang-kadang mengikuti tradisi dan dikenakan kepada Allah [secara menyeluruh] dan kadang-kadang hanya kepada Pribadi pertama saja.

Penjelasan lebih lanjut juga memungkinan. Bahkan dengan pembedaan Trinitarial yang tegas sekalipun, Bapa dan bukan Anak yang hanya Allah; artinya Bapa tidak pernah berinkarnasi. Dia hanya Allah, bukan Allah dan manusia. Roh Kudus diutus dan Bapa tidak diutus. Untuk mengakui dan mengajarkan pemmbedaan ini, di sana sini surat-surat rasul secara spesifik menyebutkan, “Allah [Sang] Bapa.” (Lihat beberapa ayat di beberapa paragraph lalu, dan Efesus 3:14, 6:23; Filipi 2:11; 2 Timotius 1:2; Yakobus 3:9.)

Di sini mungkin juga merupakan tempat paling tepat untuk mengatakan sesuatu tentang Roh Kudus. Buku-buku pegangan mendasar seringkali menyatakan dan apa yang dikatakan benar walaupun simplistik, bahwa doktrin Trinitas terutama berkenaan dengan keilahian Sang Anak dan kepribadian Roh Kudus. Pengakuan Iman Nicea menekankan Keilahian Kristus, seperti yang kita akan bahas, tetapi sedikit saja berbicara tentang Roh Kudus. Jadi mungkin di sini perlu dikemukakan beberapa bahan Alkitab yang harus digunakan dalam memformulasi doktrin yang lengkap. Tidak semudah dipahami yang dianggap mahasiswa seminari tahun pertama.

Salah satu bagiannya adalah 1 Korintus 2:9, 10, “”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga…: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” Mungkin kita tidak boleh mengatakan bahwa Roh menyelami kedalaman keallahan yang Sang Bapa sendiri tidak tahu; tetapi ayat ini jelas mengajarkan bahwa pengetahuan manusia akan Allah disebabkan oleh Roh. Apakah ini berarti bahwa Roh adalah Pribadi? Apakah ini membuktikan keilahian-Nya? Atau membuktikan keduanya?

Tetapi kemudian Sang Anak juga disebut Roh: “Tuhan adalah Roh” (2 Korintus 3:17). Disamping Roma 1:3, 4 dimana Paulus menyatakan adanya hubungan antara Anak dan Roh, Matius 1:20 dan Lukas 1:35 seolah-olah menyatakan Roh Kudus sebagai Bapa dari Yesus. Apakah Yohanes 4:24 berarti bahwa Allah secara menyeluruh adalah Roh Kudus? Tentu saja ada bagian-bagian lain: Dalam Galatia 4:6 Allah mengutus Roh Anak-Nya. Yohanes 16:7 mengatakan bahwa Kristus akan mengutus Roh dan dalam kaitan dengan ini lihat juga Yohanes 7:39. Referensi-referensi ini hanya sampel bahan yang harus diatur secara logis untuk memformulasikan doktrin Trinitas yang dapat dipahami.

(The TrinityGordon H. Clark, terjemahan Ma Kuru)

[1] Clark (seperti halnya sebagian besar Teolog Protestan) menggunakan orang suci untuk merujuk kepada mereka yang dosanya ditebus karena iman kepada Yesus Kristus sebagai Penebus bukan kepada mereka yang dikenal sebagai Santo di kalangan Katolik

Bersambung di sini

Pos ini dipublikasikan di Gordon H. Clark, Injil, Terjemahan, Trinitas. Tandai permalink.

2 Balasan ke Gordon Clark – Trinitas Bagian 3

  1. Ping balik: Gordon Clark – Trinitas Bagian 4 | Futility over Futility

  2. Ping balik: Gordon Clark – Trinitas Bagian 2 | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s