Gordon Clark – Trinitas Bagian 4

Sambungan dari sini

2 Sabellianisme

Kegagalan orang Yahudi untuk melihat adanya lebih dari satu Pribadi Allah terbawa sampai ke dalam gereja Kristen – tetapi dengan perbedaan besar yaitu bahwa: [gereja] harus mengatakan sesuatu tentang Kristus. Pandangan [tentang Kristus] yang mungkin adalah: Ada tiga Allah yang independen; hanya ada satu Allah yang menampakkan diri dan bekerja dengan tiga cara berbeda; hanya satu Pribadi yang adalah Allah dan Kristus adalah Ciptaan Pertama; dan akhirnya ada satu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi. Tulisan ini hanya akan sedikit berbicara tentang Sabellianisme dan akan berbicara banyak tentang pertentangan antara pengikut Arius dan Athanasius.

Sejauh tentang pribadi Sabellius, satu-satunya fakta yang perlu disebutkan adalah bahwa dia dinyatakan bersalah/dikutuk pada tahun 263 M. Namun demikian, teologinya, tidak bisa kita abaikan, walaupun gema dari pandangan-pandangannya hanya terdengar secara sporadis di sana-sini pada abad-abad selanjutnya.

Sabellianisme adalah pandangan bahwa Allah sebenarnya hanyalah satu Pribadi; tidak ada Pribadi kedua yang disebut Sang Anak, demikian pula tidak ada Pribadi ketiga yang disebut Sang Roh. Sebaliknya, saat Allah aktif menciptakan alam semesta dan mengendalikannya, Dia disebut Bapa; saat Dia aktif dalam penebusan, Dia disebut Anak; dan saat dia aktif dalam pengudusan Dia disebut Roh. Ketiga nama itu menunjukkan tiga kegiatan berbeda dari Pribadi yang sama. Tentu saja pengikut Sebelius mengenal Kristus sebagai Allah, Allah yang berasal dari Allah, dan bagi orang Kristen kebanyakan ini kedengaran baik; tetapi Anak hanyalah diangap nama salah satu dari ketiga kegiatan Allah.

Kalau Sabellianisme mau secara dangkal dibandingkan secara jujur dangan Perjanjian Baru – dan ini lebih merupakan keprihatinan pada tahun 200an daripada tahun 2000an – maka Sebellianisme berimplikasi atau setidak-tidaknya tumpang tindih dengan Patripassianisme, yaitu pandangan bahwa Sang Bapalah yang menderita di atas kayu salib. Tentu saja ini bukan deduksi logis dari Sabellianisme, karena pengikut Sabellius akan berkata bahwa Allah yang menderita di kayu salib lebih tepat disebut Sang Anak, bukan Sang Bapa; dan seorang pakar sejarah mungkin ingin tetap membedakan kelompok-kelompok tertentu; tetapi orang tidak dapat terlalu terkejut oleh kebingungan seperti ini pada akhir abad ke-tiga. Dengan pedas Tertullian berkomentar tentang kelompok ini bahwa mereka “mengusir Sang Parakletos dan menyalibkan Sang Bapa.”

Sebagai tanggapan terhadap pandangan seperti itu, salah satu bukti Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa Allah bukan satu Pribadi adalah rumusan Baptisan dalam Matius 28:19, “Baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” Roma 6:3 dan Galatia 3:27 menggunakan Kristus saja tanpa menyebutkan Bapa atau Roh Kudus. Kedua referensi terakhir tidak sesuai dengan Sabellianisme, karena tidak masuk akal untuk membaptis ke dalam satu fungsi dari satu Pribadi yang memiliki tiga fungsi. Terkait dengan rumusan Trinitarian kita bisa bertanya, jika Bapa adalah satu fungsi, Anak dan Roh Kudus juga fungsi, lalu apa fungsi dari ketiga fungsi ini? Menurut interpretasi pengikut Sabellius, dalam ayat-ayat itu tidak menyebutkan tentang Pribadi ilahi. Jadi rumusan baptisan pengikut Sabellius akan berbunyi kira-kira seperti ini “Aku membaptiskan engkau dalam nama penciptaan, penebusan, dan pengudusan.” Jelas ini bukan rumusan Kristen, dan rumusan ini juga tidak akan sesuai dengan Sabellianisme. Patut dicatat bahwa dalam Perjanjian Baru, istilah “Bapa” dalam pasal-pasal terkait tidak mengungkap hubungan dengan manusia. San Bapa adalah Bapa dari Sang Anak. Tetapi aktivitas, seperti penciptaan dan penebusan, tidak bisa menjadi bapa dan anak satu terhadap yang lainnya. Dengan kata lain, rumusan tiga lapis di atas tidak menekankan pada apa yang Allah lakukan; tetapi pada siapa Allah.

Disamping rumusan baptisan, ada pula berkat apostolik: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Urut-urutan nama di sini ganjil. Sabellianisme mengharuskan Allah disebut pertama, tetapi anehnya, mereka menemukan hanya dua dari tiga itu disebutkan dalam rumusan di atas. Seorang yang percaya Trinitaspun terkejut karena Sang Bapa pun tidak disebutkan pertama. Kenyataannya, Sang Bapa tidak disebutkan sama sekali. Dapatkan Trinitarianisme memperbolehkan identifikasi Allah sebagai Bapa sehingga memisahkan Anak dan Roh Kudus dari Allah? Anehnya Hodge tidak menyebutkan sama sekali kesulitan ini dalam tafsirannya terhadap 2 Korintus. Namun demikian, kita dapat memahami bahwa seiring dengan semakin tampaknya perbedaan antara Kekristenan dan Yudaisme, kekristenan belum bisa melepaskan diri dari fraseologi Perjanjian Lama, maka kata Allah dipertahankan sebagai merujuk kepada Sang Bapa, bukan secara seragam untuk menunjukkan kepada Sang Anak dan Roh Kudus. Sebagai contoh, perhatikan, Galatia 1:1, 3; Efesus 3:14; dll., dimana Paulus dimana Paulus menggunakan frase, “Allah, Bapa.” Tentu saja ini salah satu alasan yang mendorong Athanasius dalam abad setelahnya untuk menekankan Keilahian Kristus.

Disamping kedua rumusan tersebut Perjanjian Baru juga memiliki indikasi yang lebih panjang atau biasanya lebih pendek bahwa ada tiga Pribadi, bukan hanya tiga kegiatan/kerja. Salah satu yang terpanjang adalah Doa keimaman Yesus dalam Yohanes 17. Sebuah fungsi tidak dapat berdoa kepada fungsi yang lain. Disamping itu, dalam banyak tempat di pasal ini Sang Anak dibedakan dari Sang Bapa. Sebagai contoh ayat 5, “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada..” Perbedaan pribadi tidak mungkin lebih jelas dari [yang dikemukakan ayat ini]. Atau di bawahnya di ayat 18 berbunyi, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” Fungsi tidak dapat mengutus fungsi.

Kita mencatat dan akan dibahas lagi dalam bagian tentang Augustinus, bahwa istilah-stilah Bapa, Anak, dan Roh tidak menyatakan tiga hubungan dengan manusia [yang adalah] ciptaan. Sang Anak adalah Anak dari Sang Bapa. Sang Bapa dan Sang Anak mengutus Roh Kudus. Dia adalah Roh sebelum diutus. Bahkan pada saat Kristus berkata, “Aku dan Bapa adalah satuI,” kita tidak hanya melihat pembedaan antara “Aku” dan “Bapa,” tetapi juga saatu adalah neuter (kata yang bersifat netral) bukan maskulin. Bapa dan Anak menyebut satu dengan yang lain sebagai “Aku” dan “Engkau.” Anak berdoa kepada Bapa. Pembedaan-pembedaan ini, yang hampir tidak dapat disangkal sebagai perbedaan pribadi, secara pasti menghancurkan Sabellianisme. Daftar ringkas ayat-ayat terkait adalah Matius 3:17; 11:27; 26:53; Lukas 2:49; Yohanes 2:16; 5:22, 23; 8:54; 14:2, 13, 16, 21, 24, 26; 1 Korintus 12:3; dan Ibrani 1:5.

Sabellianisme sekarang sudah punah. Teolog-teolog saat ini yang mengelompokkan ajaran sesat tertentu sebagai pengikut Sabellius, Servetus mungkin, tidak tepat. Shedd (History of Christian Doctrine, 377) menuduh Scotus Eriugena sebagai penganut Sabellianisme dan menambahkan bahwa teolog lain mengajukan tuduhan yang sama terhadap Abelard. Caroli menuduh Calvin sebagai penganut Sabellianisme! Strong (Systematic Theology, I, 327, 328, catatan) dengan behati-hati dan kebingungan dua kali merujuk kepada Horace Bushnell [sebagai penganut Sebellianisme]. Alasan Sabellianism punah adalah karena bahkan orang tidak percaya abad ke-empat pun secara teratur mengakui Kristus sebagai satu pribadi. Mereka menolak bahwa Dia ilahi. Mereka juga tidak mencoba mempertahankan pendapat mereka berdasarkan Alkitab, karena mereka menolak ketidakbersalahan Alkitab. Karena itu kaum Unitarian abad kesembilan belas dan organisasi sesat abad ke-20 bukan pengikut Sabellius. Baik dari segi sejarah – karena Athanasius sedikit sekali memberi perhatian kepada Sabellius –maupun dari segi logika, langkah berikut adalah menunjukkan bahwa Yesus, seorang pribadi yang pernah hidup di Palestina adalah Allah yang berinkarnasi. Jadi kita sudah bepindah dari pembahasan mengenai pengembangan doktrin Trinitas kepada pembelaan terhadap keilahian Kristus, dan ini dilakukan Athanasius pada Konsili Nicea.

(The TrinityGordon H. Clark, terjemahan Ma Kuru)

Bersambung di sini

Pos ini dipublikasikan di Gordon H. Clark, Injil, Terjemahan, Trinitas. Tandai permalink.

2 Balasan ke Gordon Clark – Trinitas Bagian 4

  1. Ping balik: Gordon Clark – Trinitas Bagian 3 | Futility over Futility

  2. Ping balik: Gordon Clark – Trinitas Bagian 5 | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s