Gordon Clark – Trinitas Bagian 5

Sambungan dari sini

3 Keilahian Kristus

Pada fase manapun diskusi tentang doktrin Trinitas, keilahian Kristus selalu termasuk bahan diskusi dan bahan Kitab Suci yang akan dibahas sekarang ada kaitan dengan keilahian Kristus. Bahkan kalau orang ingin menulis tentang Roh Kudus saja, dengan cara tertentu Keilhaian Kristus selalu diprasyaratkan. Bahkan doktrin tentang Roh Kudus harus menunggu ajaran tentang Anak [untuk selesai]. Adalah teka-teki pribadi Kristus yang memaksa gereja abad kedua dan ketiga untuk memformulasi doktrin Trinitas pada awal abad ke-empat. Daftar berikut adalah beberapa bahan yang teolog jaman itu harus pelajari. Bagi orang Kristen saat ini, ayat-ayat tersebut tampak tidak bermakna ganda; tetapi ayat-ayat ini mengakibatkan masalah yang cukup besar jaman gereja setelah para rasul. Artinya, ayat-ayat ini sendiri secara historis [ada setelah] Perjanjian Lama, tetapi pemahamannya oleh umum baru terjadi beberapa abad kemudian.

Matius 11:27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Yohanes 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Kisah Para Rasul 20:28 … menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri[1].

Roma 9:5 … yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!.

Filipi 2:6 [Yesus Kristus] yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahanka.

Kolose 2:9 …dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.

Titus 2:13 … dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.

Untuk memulai studi tentang Trinitas dan secara khusus keilahian Kristus, ada baiknya memulai dengan menunjukkan apa yang dikatakan ayat-ayat ini. Dalam Matius 11:27 kata “semua” kemungkinan besar merujuk kepada permberitaan ketujuh puluh murid yang diutus berdua, dan mungkin juga lebih merujuk kepada Injil daripada yang mereka [ketujuh puluh murid] ketahui. Karena itu ayat ini dimulai dengan mengatakan bahwa Sang Bapa menyerahkan semua isi wahyu kepada Sang Anak. Sejauh ini, ayat ini bisa berlaku untuk malaikat atau bahkan manusia. Frase berikutnyapun tidak terlalu mengejutkan: Siapapun Sang Anak itu, entah malaikat atau manusia, tidak ada seorangpun kecuali Bapa yang mengenal Dia seutuhnya. Itu pun tidak mengejutkan misalnya kalaupun pengetahuan itu hanya relatif utuh; karena tidaklah mengejutkan kalau manusia tidak paham tentang Sang Anak yang misterius, atau tentang planet Neptunus. Tetapi pernyataan-pernyataan sederhana [dalam ayat ini] menjadi mengejutkan maknanya pada saat frase berikutnya ditambahkan. Bukan hanya tidak ada seorangpun yang tidak mengenal Sang Anak kecuali Sang Bapa, tetapi juga tidak ada seorangpun yang mengenal Sang Bapa kecuali Sang Anak. Ini menempatkan pengetahuan Sang Anak tentang Sang Bapa pada satu tingkatan dengan pengetahuan Sang Bapa terhadap Sang Anak. Karena pengetahuan Sang Bapa lengkap, ilahi, dan kekal, maka pengetahuan Sang Anakpun pasti seperti itu. Lebih jauh lagi, mengingat bahwa sebagian dari orang yang mendengar pemberitaan ketujuh puluh pemberitaan itu seabgai wahyu, ayat ini mengatakan bahwa Sang Anaklah yang secara ilahi punya kekuasaan untuk menentukan yang akan percaya dan yang tidak percaya. Karena itu, Sang Anak adalah Allah yang setara dengan Sang Bapa.

Eksegesis dari ayat berikut, walaupun secara historis berasal dari abad pertama, tetapi ada kaitan dengan situasi saat ini. Kadang-kadang sejarah berulang dan kemudian sejarah menjadi teologi. Bagaimanapun juga, Yohanes 1:1 adalah ayat favorit orang Kristen menghadapi Saksi Yehova yang mengunjungi rumah-rumah. Saat disodorkah ayat ini, mereka dengan cepat menjawab bahwa ada banyak allah (seperti Yohanes 10:34 dan 1 Korintus 8:5 katakan), dan Firman itu adalah salah satu dari allah itu. Saksi Yehovah malah sudah menghasilkan The New World Translation of the Holy Scriptures (Terjemahan Alkitab Dunia Baru). Di dalamnya Yohanes 1:1 berbunyi, “Pada awalnya adalah Firman, dan Firman itu bersama dengan Allah, dan Firman itu adalah salah satu allah.”[2] Sebuah lampiran yagn mendukung penterjemahan seperti ini, pertama merujuk kepada Terjemahan Baru Moffatt terhadap Perjanjian Baru, dimana dia menyerang Keilahian Kristus menterjemahkan ayat ini sebagai”…dan Firman itu adalah ilahi.” Kedua, lampiran tersebut juga menjelaskan tata bahasa di balik penterjemahan itu: “Alasannya…adalah bahwa kata benda bahasa Yunani theos tidak didahului artikel penentu (definite article), karena itu merupakan anarthrous theos. Allah yang sejak awal bersama dengan Firman atau Logos disebut dengan ho Theos, yaitu kata theos didahului oleh artikel penentu ho, karena itu merupakan articular theos. Penterjemah yang cermat mengakui bahwa articular menunjuk kepada satu identitas atau satu pribadi, sedangkan anarthrous menunjuk kepada satu kualitas/sifat seseorang.”

Pengikut Saksi Yehova yang bersemangat yang datang ke rumah anda akan mengulang semua ini kepada anda dengan metode pedagogis terbaik yang pantas dimiliki professor bahasa Yunani. Kalau anda memiliki Alkitab bahasa Yunani, anda dapat memberikan kepadanya dan mengajukan pertanyaan lebih lanjut. Seorang teman melakukannya. Saya tidak punya kesempatan melakukan itu. Satu saat mereka datang, di tangan saya ada sebuah buku berbahasa Yunani yaitu salah satu dari [buku berjudul] Enneads tulisan Plotinus. Bahasa Yunani Enneads sangat sulit, dan karena itu adalah sebuah tipuan kotor kalau saya memberikannya kepada mereka untuk menunjukkan kemampuan bahasa Yunaninya dengan menterjemahkan tulisan Plotinus. Tetapi bukanlah hal yang tidak pantas kalau kita memberikan  mereka Perjanjian Baru Bahasa Yunani kepada mereka yang mengajar anda tentang predikat kata benda anarthrous dalam Injil Yohanes. Teman saya memberikan Perjanjian Baru Gerika kepada [si Saksi Yehovah]. Dia membalikkannya atas ke bawah dan melihatnya lagi. Kemudian, mirabile dictu (maafkan saya, itu bahasa Latin, bukan Yunan), dia kemudian membalikkannya ke sampingnya dan melihat baris-baris dalam kolom vertical, lalu bertanya “Apa ini?” Teman saya menjawab, “Itu Perjanjian Baru bahasa Yunani yang anda bicarakan.

Mungkin teman saya tidak mengutip dari Goodwin’s Greek Grammar yang mengatakan, “Satu kata benda predikat jarang sekali memiliki artikel.” Saya cukup yakin dia tidak mengutip Aristotle 403 b 2 [yang mengatakan] “Definisi adalah bentuk,” dimana bentuk adalah anarthrous. Dia bisa juga mengutip 1 Yohanes 4:16, “Allah adalah kasih,” atau, Yohanes 1:49, “…Engkau Raja orang Israel!” dimana  semua kata benda predikat adalah anarthrous (bandingkan Yohanes 8:39, Yohanes 17:17, Roma 14:17, Galatia 4:25, dan Wahyu 1:20).

Sejak jaman Goodwin, Ernest C. Colwell sudah meneliti lebih banyak tentang kata kerja yang menjadi predikat; dan dia mengusulkan yang berikut sebagai aturan dalam menterjemahkan Perjanjian Baru – “Sebuah nominatif predikat definitif memilki artikel kalau mengikuti kata kerja; tidak memiliki artikel kalau mendahului kata kerja.”

Studi Colwell dan penerapannya kepada Saksi Yehovah sudah didokumentasikan dengan baik oleh Robert H. Countess dalam Bulletin Evangelical Theological Society (Vol. 10, No. 3, Summer 1967).

Dengan banyaknya materi kontemporer yang sudah dikemukakan untuk meyakinkan anda [pelajar] bahwa sejarah masa lampau diulang saat ini, pembaca yang sabar  mungkin tidak keberatan untuk membaca sedkit lagi sebelum kita beralih ke Athanasius dan abad-abad awal.

Dalam banyak naskah Kisah Para Rasul 20:28 menggunakan kata Lord/Tuhan bukan God/Allah. Hal ini membuat artinya ambigu. Tetapi penterjemaham yang tampaknya tepat adalan bahwa darah yang Yesus tumpahkan di atas  kayu salib adalah darah Allah. Di situ bahkan dikatakan, “darah-Nya sendiri,” untuk memberi penekanan. Karena itu Yesus adalah Allah.

Kaum Modernis biasa menterjemahkan Roma 9:5 sebagai kalimat seru: “Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya,” dan memisahkan kata Allah dari Kristus. Ini adalah metode penterjemahan yang terlalu dipaksakan. Artinya jelas bahwa, “Kristus…yang adalah Allah yang harus dipuji selama-lamanya.”

Juga terlalu dipaksakan kalau menginterpretasi Filipi 2:6 sehingga tidak mengatakan tentang kesetaraan antara Yesus dan Allah. Tetapi dapatkan orang dengan paksa menghilangkan ajaran tentang keilahian Kristus dari Kolose 2:9?

Demikian juga dengan Titus 2:13. King James menterjemahkan: “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.” Terjemahan seperti ini memberi kesempatan kepada mereka yang tidak setuju untuk memisahkan Allah Mahabesar dari Tuhan kita Yesus Kristus. Tetapi pengertiannya, baik dalam King James version dan bahkan lebih lagi dalam tata bahasa Yunaninya adalah sedemikian rupa sehingga tidak mengijinkan adanya pemisahan demikian, karena hal yang dibicarakan kembalinya Tuhan Kita dalam kemuliaan-Nya. Satu pibadi yang kembali: bukan Sang Bapa, tetapi Sang Anak. Karena itu Allah mahabesar dan Yesus adalah pribadi yang sama. Dalam daftar ayat di atas, digunakan New American Standard. Terjemahan yang lebih baik untuk ayat ini juga ada dalam versi ini, karena sulit memisahkan “Tuhan kita Yesus Kristus” dari “Allah Mahabesar.”

Namun daftar ayat di atas bukan daftar semua ayat yang menyatakan keilahian Kristus. Masih banyak yang lain. Namun demikian, betapapun jelasnya ayat tersebut, ayat-ayat ini mengakibatkan banyak masalah kalau dipahami bersama dengan ayat-ayat Alkitab lainnya. Masalah pertama sudah disebutkan: Bagaimana mungkin ada dua atau tiga Tuhan? Apa hubungan antara Pribadi pertama dan kedua? Gereja awal juga mengalami masalah kedua. Perjanjian Baru memberi gambaran tentang Yesus bukan hanya sebagai Allah, tetapi juga sebagai manusia. Dia punya tubuh, makan, berjalan, lelah, menangis, dan Dia meninggal. Bagaimana mungkin dia jadi Tuhan? Manusia tidak mungkin menjadi Allah, bukan? Bukan hanya gereja awal mengalami kesulitan bergelut dengan hal ini; tetapi Kierkegaard meyakinkan kita bahwa ini mutlak tidak mungkin. Mengatakan bahwa Allah kekal dan bahwa dia berinkarnasi sama dengan [mengeluarkan pernyataan yang kontradiktif].


[1] Sebagian besar versi Bahasa Inggris mengatakan “dengan darah-Nya sendiri”

[2] Secara sempit, bahasa Yunani tidak memiliki artikel indefinitif (indefinite article) dan kadang-kadang satu kata benda tanpa artikel dengan tepat diberikan artikel tidak tentu dalam bahasa Inggris. Namun demikian bahasa Yunani dapat secara eksplisit menginndikasikan gagasan indefinitif: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikh: anthropostis” (Lukas 10:30)

(The TrinityGordon H. Clark, terjemahan Ma Kuru)

Bersambung di sini

Catatan: Tulisan ini belum selesai diterjemahkan. Kalau ada waktu saya akan melanjutkan terjemahan.

Pos ini dipublikasikan di Gordon H. Clark, Injil, Terjemahan, Trinitas. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gordon Clark – Trinitas Bagian 5

  1. Ping balik: Gordon Clark – Trinitas Bagian 4 | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s