Perbedaan Sains Moderen dan Kuno – Gordon H. Clark

Bertentangan dengan pandangan popular, perbedaan antara sains Aristotle dengan Sains Moderen bukan karena Sains Aristotle bersifat deduktif dan sains moderen bersifat empiris. Galileo dan setiap ilmuwan moderen memformulasikan hipotesis dan kemudian melakukan deduksi untuk sampai pada konsekuensinya. Tanpa deduksi seperti itu, sains moderen tidak bisa dilakukan. Perbedannya bukan juga bahwa sains moderen bersifat empiris dan sains Aristotle tidak. Aristotle serta banyak orang jaman kuno merupakan pengamat yang baik. Walaupun [Aristotle] gagal mengetahui kecepatan cahaya, Aristotle mengamati bahwa benda yang lebih berat jatuh lebih cepat dibanding benda yang lebih ringan dan dia menjelaskan perbedaan itu dengan mengacu kepada perbedaan resistensi terhadap satu medium.

Mungkin perbedaan utama – dan sumber dari perbedaan lain – adalah bahwa ilmuwan moderen melakukan eksperimen terhadap prinsip, sedangkan ilmuwan kuno hanya melakukan pengamatan. Kalaupun mereka melakukan eksperimen, eksperimen itu berskala kecil tanpa ada rencana yang jelas. Ilmuwan jaman sekarang tidak hanya duduk-duduk dan menunggu kejadian alam terjadi di depan mata. Dia secara sengaja melakukan sesuatu. Galileo misalnya, walaupun studi tentang pendulum dimulai secara tidak disengaja, tidak menunggu benda jatuh dari ketinggian berepapun. Bertentangan dengan kisah popular, dia bahkan tidak pergi ke Menara Pisa dan menjatuhkan benda dari sana. Secara sengaja dia meluncurkan kelereng pada lintasan yang secara seksama dia ratakan dan dia pelitur. Eksperimentasi terencana seperti itu adalah faktor yang sering suka dipuji oleh John Dewey dari sains moderen. Dia memotong [benda] atau memanaskannya, melarutkannya dalam asam atau melewatinya dengan aliran listrik, dll.

…..

Penggunaan matematika menggarisbawahi perbedaan lain antara sains kuno dan sains moderen. Setelah Galileo secara matematis mendeduksi konsekuensi dari rumus pertamanya bahwa benda jatuh empat kali lebih jauh pada detik kedua daripada pada detik pertama, dia meluncurkan kelereng lagi untuk menguji apakah hasilnya sesuai. Dengan kata lain deduksi matematis adalah prediksi yang dapat diverifikasi di kemudian waktu oleh orang lain. Prediksi dan verifikasi adalah esensi dari metode ilmiah moderen. Tentu saja, astronomy kuno secara brilain mengguanakan matematika atau setidaknya geometri. Prediksi juga merupakan sesuatu yang esensial, dan prediksi tersebut diuji dengan eksperimen di kemudian hari. Tetapi hal ini hanya terbatas pada astronomi. Fisika dan Kimia tidak disentuh sama sekali.

Modern Philosophy: The Works of Gordon H. Clark Volume 5. Halaman 44 – 45. Diterjemahkan Ma Kuru

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s