Seperti Inilah Kualitas Pelaku Hukum Kita! Memalukan!

Di bawah ini adalah diskusi dengan seseorang lain di Facebook. Nama orang yang diskusi tidak saya tampilkan karena ini bukan bukan tempat mempermalukan orang yang bersangkutan. Akronim namanyapun tidak ada hubungan dengan nama si lawan diskusi. Lawan diskusi ini adalah pakar hukum. Di sini kita melihat bagaimana seorang pakar hukum tidak paham tentang logika sama sekali. Bahkan konsep tentang validitaspun dia tidak pahami. Bisa dibayangkan ketika sebuah enterprise seperti hukum yang didasarkan pada logika tidak paham logika. Ini sama saja dengan seorang mahasiswa teknik sipil atau arsitektur tidak paham hukum Newton.

RW:
Be paham Ma Kuru pung cara berpikir…. Itu cara berpikirnya law in the books / normatif / apa yg seharusnya…..kalau hanya bermodal itu sih semua terlihat indah tertata. …..!! Kalau beta bilang begini tidak berarti juga beta suka dg Law in the street…. Yah sekedar balancing agar tidak melihat hukum dengan terlalu fanatik

 

MKPB
Di sini harus dibedakan yang seharusnya dengan yang sebenarnya terjadi. Beta kritik yang terjadi. Yang terjadi tidak benar. Tetapi dengan mengkritik yang terjadi sekarang tidak berarti bahwa beta menganggap bahwa akan ada hukum yang ditegakkan dengan sempurna. Jangankan ditegakkan dengan sempurna, dunia hukum itu impoten untuk memberika keadilan. Saat sudah sudah ada kritik untuk perbaikan saja tetap tidak mampu. Kalau tidak ada kritik mungkin akan lebih parah lagi. Dengan kata lain kritik terhadap hukum adalah seperti garam yang menghindar terjadi pembusukan yang terlalu cepat. Syukur-syukur kalau pembusukan itu dihentikan.

RW
Sip, Ama. be suka itu perumpamaan! Cm be mau bilang jg bhw yg Ama sebut pembusukan itu relatif. Kt harus tau jelas dulu apa benar itu pembusukan atau tidak. Dlm soal Cirus: cari tau dl Apa benar apa yg dilakukan trhadap cirus itu bertentangan dengan hukum ? Ataukah hny intepretasi yg berbeda trhadap hukum ? (Dalam hal ini be tidak kasih penilaian trhadap proses cirus, be hny mau menggambakan cara pandang thadap hukum itu sendiri) Soalnya berita yg Ama upload itu sangat subyektif/sepihak! Ama hrs tau dulu aturan hukumnya, Lalu hrs tau juga apa alasan polisi mlakukkannya, Lalu coba buat intepretasikan atas peraturan tsb. Kl ada hasilny yg membenarkan perbuatan polisi mk kt bisa berasumsi sementara bhw tindakan polisi cukup beralasan (be sebut sbg asumsi sementara krn intepretasi itu bisa mnghasilkan banyak pemikiran yg berbeda, nmn dr sekian bnyak hasil intepretasi tersebut yg bisa kita pegang hanyalah yg setujuan dengan maksud dr hukum tadi

 

MKPB
Ok ina. Jadi ada beberapa hal yang kita belajar dari percakapan ini;

Pertama, perhatikan validitas argument sehingga kita tidak melakukan strawmen. Dengan kata lain, kita harus perhatikan baik-baik apa yang dikatakan dan tidak dikatakan lawan diskusi sehingga kita tidak berakhir dengan menyalah-pahami apa yang dikatakan lawan bicara. Seperti tadi, ina bilang beta punya pemahaman bahwa hukum bisa ditegakkan secara sempurna, sedangkan sebenarnya tidak ada satupun beta pung pernyataan yang bisa mengarahkan ke kesimpulan tersebut. Apakah kita harus menutup mata terhadap begitu banyak ketidakadilan dalam hukum? Apakah kita akan menutup mata terhadap pencuri mangga yang masuk penjara dan koruptor yang berkeliaran? Apakah ini yang bukan pembusukan?

Kedua, saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan pembusukan itu relatif. Di sini kita sudah berbicara lebih luas dari sekedar persoalan Cirus. Apakah ina mengatakan bahwa hukum tidak mengalami pembusukan? Saya benar-benar tidak tahu.

Ketiga, fakta bahwa Hukum bisa ditafsirkan bermacam-macam hanya memperkuat apa yang saya pertanyakan secara setengah retoris dengan pertanyaan di komentar saya “apakah ini karena hukumnya begitu banyak lubang-lubang yang bisa dieksploitasi.”

Keempat, komentar selanjutnya tentang berita dan sebagainya juga mendukung pertanyaan semi retoris saya.

Terima kasih sudah berdiskusi ina!

 

RW
Pagi, Ama…! Mencapai kevaliditasan dalam memahami argumen bukan berarti membaca argumen itu kata demi kata tho Ama ? Mengambil kesimpulan dari bacaan seluruh kalimat ju bisa. Ama pung status itu menjelaskan bahwa dr proses yg dijalani Cirus, Ama (bukan Ama, tapi penulis artikelnya) melihat bahwa itu tidak benar dan itu bisa terjadi karena 1. Hukumnya bercelah 2. Polisi gak pintar. …be tarik pengertian bahwa Ama melakukan penilaian dengan membandingkan Hukum yg seharusnya dan hukum dalam prakteknya. Oleh sebab itu be bilang bahwa :1 jangan terlalu berharap bisa melihat hukum yg sempurna karena karena hukum itu relatif. Apa maksud relatif ?

Karena pada faktanya hukum yg seharusnya (Law in the book) bisa diterapkan dalam kondisi yg berbeda. Perbedaan ini timbul dr banyak hal pula. Bisa karena polisi memang bodoh atau nakal..bisa juga karena intepretasi yg berbeda masing2 institusi. Jadi jangan cepat menjatuhkan peniaian atas sesuatu hal sebelum kita tau pasti dulu apa yg terjadi. Artikel yg Ama upload itu sifatnya sepihak, bagaimana kita tahu bahwa orang yg menuis itu sudah mencoba memahami mengenai intepretasi atau bahkan bgmana kita tahu bahwa orang yg menulis itu cukup berimbang dlm menulis ulasan kriminal….kalau kita belum yakin, maka info itu tidak sahih untuk dijadikan landasan menyatakan salahnya perbuatan polisi….karena bisa jadi polisi memang punya intepretasi sendiri mengenai hukum acara yg dia jalankan.

Sekali lagi bukan bermaksud menghalangi pengungkapan kebobrokan polisi (atau juga bukan be mau sok pintar)… !! Cuma beta ju biasa menemukan tulisan yg terlihat ilmiah tapi ternyata isinya tak berimbang….jangankan itu, bahkan reporter TV terkenal pun sering begitu… So Ama be lebe suka lihat Ama ulas teori dr pd terjebak dengan opini harian seperti ini.

MKPB
Pagi ina,

Pertama, siapa yang berbicara tentang memahami kata per kata? Beta sonde berbicara tentang memahami kata per kata di sana. Beta berbicara tentang validitas argumen. Jadi sekali lagi ina mengemukakan strawmen argumen.

Kedua, beta tanya bagaimana validnya sebuah argumen yang menyimpulkan bahwa beta, Ma Kuru, menganggap ada hukum yang dilaksanakan sempurna dari pernyataan beta bahwa “1. Hukumnya bercelah 2. Polisi gak pintar”? Beta rasa ina sonde akan kebaratan untuk untuk menunjukkan validitasnya. Beta mau tau premisnya apa dan kesimpulannya apa! Beta tunggu!

Ketiga, orang hukum mengklaim (setidak-tidaknya secara implisit) bahwa hukum menjamin keadilan. Lalu dimana klaim itu? Lalu siapa yang berharap hukum dilakukan sempurna? Bahkan kesempurnaan hukumpun (entah dilaksanakan, entah tidak), beta pertanyakan. Jadi seperti beta bilang, beta sonde percaya bahwa hukum bisa dilaksanakan secara sempurna. Tetapi tidak valid untuk menyimpulkan bahwa karena hukum tidak sempurna, maka tidak boleh dikritik.

Keempat, bahwa hukum dapat diinterpretasi macam-macam, itulah yang membuat hukum impoten.

Kelima, kalau polisi bbisa bodoh dan nakal terhadap sebuah tool, itu hanya menunjukkan bahwa hukum itu korup dari perspektif bahwa hukum itu menjamin keadilan. Tidak ada keadilan yang dijamin kalau polisi dan aparat penegak hukum sebenarnya bisa menjahili. Kalau hukum bukan penjamin keadilan, maka sebenarnya hukum hanya menjadi alat di tangan beberapa orang yang punya kemampuan untuk mengendalikan hukum untuk mengeksploitasi orang lain yang lemah atau untuk saling menipu di antara mereka. Dengan demikian, beta terjustifikasi dalam beta pung pandangan.

 

RW
1. Wah ….. !!! Lho bukannya Ama Yang tuduh beta tidak valid dalam memahami argumen?? (Ama yg mengatakan dalam komentar sebelumnya) sehingga beta ini menurut ama melakukan strawmen. Pemahaman kata perkata itu juga bukan tuduhan ke Ama …itu pembelaan saya terhadap pernyataan Ama bahwa beta harus memahami dengan cermat apa yg menjadi status Ama tho ???
2. Kalau pemahaman saya tentang status Ama diatas tidak valid …. Coba Ama tolong uraikan bagaimana yg valid itu. Beta mau tau apakah menghasilkan pemahaman lain ka sonde.
3. ‎Be ju su bilang dr awal kalau hukum itu tidaksempurna…..lalu kritik apapun tidak dilarang kok…bukannya ini diskusi???
4. Hukunm memang dapat diintepretasikan macam2 asal tidak bertentangan dengan maksud utama peraturan pokoknya…jadi dengan “Pagar” itu maka kita bisa memilah dan mengambil mana yg membuat hukm itu bisa ereksi dan melaksanakan fungsinya atau tidak

 

MKPB
1. ‎Ina kembali lagi menunjukkan ketidakpahaman tentang logika. Mengatakan “Lho bukannya Ama Yang tuduh beta tidak valid dalam memahami argumen??” sama saja dengan mengatakan ke beta “Lho bukannya Ama Yang mengatakan apel berwarna pendek??” Ina melakukan categorical mistake. Validitas bukan property dari paham atau tidak paham. Validitas adalah properti dari argumen. Tidak ada yang namanya pemahaman tidak valid. Yang tidak valid adalah argumen.
2. Ina melakukan kesalahan logika yang bernama membalikkan beban pembuktian. Saya mempertanyakan validitas argumen ina dimana dari beta pung pernyataan sederhana, ina mengatakan bahwa beta percaya bahwa hukum bisa diimplementasi secara sempurna. Ina sudah mengemukakan sebuah argumen dan beta pertannyakan validitasnya. Tetapi kalau ina tidak bisa memberi justifikasi terhadap argument sendiri, beta terima dan beta katakan bagaimana argument ina tidak valid. Perhatikan, bahwa yang tidak valid adalah argumen. Pernyataan saya adalah bahwa hukum bercelah dan polisi tidak pintar. Pernyataan-pernyataan ini tidak bisa dijadikan premis untuk menjustifikasi kesimpulan bahwa beta berpandangan bahwa hukum bisa dilaksanakan dengan sempurna.
Ina pung argumen seperti ini

a)      Ma Kuru (M) berpendapat bahwa hukum bercelah (C)
b)      Ma Kuru (M) berpendapat bahwa polisi tidak pintar (P)
c)       Kesimpulan: Ma Kuru (M) berpendapat bahwa hukum bisa dilaksanakan dengan sempurna (X).

Secara notatif:
a)      M = C
b)      M = P
c)       Kesimpulan: M=X

Nah, sebuah argumen valid kalau term dalam kesimpulan sudah ada dalam premis. Kalau ada term dalam kesimpulan yang tidak ada dalam premis, maka argumen tidak valid. Dalam ina pung argumen, term X tidak ada dalam premis. Dengan demikian, ina pung argument tidak valid. Kalau ina bersikeras bahwa argument ina valid, silahkan tunjukkan validnya dimana, beta masih tunggu dari tadi!

3. Pernyataan ini keluar karena beta mengatakan hukum sebagai bercelah, ina berbicara bahwa hukum tidak sempurna. So what? Kalau hukum tidak sempurna, apakah itu berarti bahwa saya salah saat saya mengeluarkan penyataan seperti itu? Tidak sama sekali!
4. Dengan demikian, maka hukum impoten dan itu harus diungkapkan. Beta hanya mengungkapkan itu.
5. Tentang pembedaan antara pemikiran normatif dan pemikiran ala law on the street. Tampaknya ada diskrepansi antara keduanya. Dengan demikian, hukum does not live up to what it promises.
RW
He he he Ama, beta ini bukan orang yg pintar menteorikan logika yg beta pakai…tapi beta juga jadi bingung nih…. Beta rasa beta su kehilangan “pokok pembicaraan” yang beta baca adalah bahwa Ama menyatakan beta son paham dengan apa yg Ama kemukakan di Status….beta bilang : beta paham hanya saja pemahaman beta itu beta ambil secara global tidak kata perkata….. Trus ama bilang : sapa bilang kalau Ama memahami secara kata perkata ???? Lalu saya menjelaskan : bahwa bukan beta yg tuduh Ama memahami kata perkatan tapi itu pembelaan beta atas tuduhan Ama bahwa beta tidak valid dalam memahami argumen……lalu sekarang Ama bilang beta tidak paham logika….. Waduh..ini sama sa deng diskusi ala kabayan …. Be rasa be bukan tidak paham logika tapi be cuma pakai logika sederhana sa….. Tapi kalau menurut Ama itu sama saja berarti beta tidak paham logika….makanya beta minta berdasarkan logika “tingkat tinggi” yang Ama uraikan apa bisa menemukan pengertian baru atas status Ama itu ..

 

MKPB
Mmmm….siapa yang meminta ina menteorikan logika? Beta hanya minta untuk konsiten dalam berlogika. Apalagi ina sebagai pakar hukum, logika adalah hal yang tidak terelakkan. Kalau ina tidak mau konsisten menerapkan logika, yaaa… itu hak masing-masing orang. Cuma dalam kapasitas ina sebagai pelaku hukum, seharusnya itu tidak terjadi.

Tentang pemahaman ina yang katanya secara global untuk mengkounter klaim (dan sekaran sudah jadi argument) beta bahwa ina pung argument valid, beta masih tunggu ina menunjukkan validitas argument ina seperti apa. Ina mempertanyakan beta pung klaim bahwa ina pung argument tidak valid, beta su tunjukkan bagaimana tidak validnya. Sekarang giliran ina untuk menunjukkan bagaimana validnya argument ina.

Ya, beta sonde bilang harus memahami kata per kata. Yang beta pertanyakan adalah validitas ina pung argumen. Hal yang sangat sederhana. Validitas argumen tidak sama dengan pemahaman kata per kata. Dua hal yang berbeda. Jadi sebaiknya ina tunjukkan bagaimana validnya ina pung argument.

Tentang ina tidak paham logika, itu bukan hanya sekedar klaim. Itu sebuah klaim yang diback up dengan argument. Beta pung argumen tidak dipatahkan tetapi ina klaim bahwa ini diskusi ala kabayan. Apa lai tu? Beta sonde paham. Apakah kalau lawan diskusi mengemukakan argument dan kita tidak bisa mematahkan argument lawan, maka itu diskusi ala Kabayan? Beta sonde mengarti.

Ina mengatakan bahwa ina menggunakan “logika sederhana.” Beta sonde paham apa arti istilah tersebut. Apakah artinya “logika sederhana?” Apakah dalam “logika sederhana” ada konsep validitas yang berbeda dengan logika yang lain? Ina bisa kasih penerangan tentang kategori “logika sederhana’ ko?

 

RW
Yang Ama maksud membalilkkan beban pembuktian itu karmana ko ? Bukan beta yg harus membuktikan mengenai status itu, Ama dong yg harus mempertahankannya. Kalau beta minta Ama menguraikan (yg Ama bilang sebagai membalikkan beban pembuktian) itu sekedar mencari tahu saja bagaimana Ama memaknai tulisan Ama itu. Dan dari situ be tahu apakah kita sudah satu konteks apa belum. Wah Ama ..kalau menarik pemahaman hukum menurut logika yg ama pakai itu..ya hasilnya seperti itu : bahwa hukum itu impoten dan inkonsisten….. Yahhh itu terserah cara penalaran masing 2….. Karena bisa jadi hukum mengatakan perbuatan mencuri harus dihukum demi keadilan. Namun pelaku pencuri kokoa 3 biji demi keadilan itu juga dimintakan untuk tidak dihukum.

Karena beta orang hukum yg tidak berlogika coba Ama sederhanakan bahasa logika Ama supaya kita sama2 bisa menguji materi hukum status Ama. Trims

Oh ya Ama….. Ama ini memang ahli berlogika..tapi bukan berarti boleh memutar balikkan fakta. Kalau terus menerus memutarbalikkan fakta…. Ini yg beta bilang ala kabayan. ……

MKPB
Sekali lagi ina melarikan diri dari pertanggungjawaban untuk menunjukkan validnya argumen ina. Beta mengerti kalau memang tidak bisa menunjukkan valid tidaknya argument itu. Beta su dua kali berdiskusi dengan pelaku hukum di internet dan hasilnya sama.

Beban pembuktian karena ina megemukakan sebuah klaim bahwa beta percaya bahwa hukum dapat dilaksanakan dengan sempurna. Ina harusnya menunjukkan bagaimana validnya argumen tersebut saat dipertanyakan lawan diskusi. Sampai saat ini tidak ada pembuktian dan malah beta yang diminta untuk menunjukkan tidak validnya. Beta sudah melakukan permintaan dan ina masih belum menjawab juga.

Hukum bukan hanya impoten dalam dirinya sendiri, tetapi kalau pelaku hukum tidak paham logika itu akan membuat hukum semakon parah. Kalau ina tidak paham logika, maka diskusi berakhir. Sonde ada guna menjelaskan lebih lanjut. Diskusi hanya akan berarti kalau pihak-pihak yang terlibat diskusi paham logika. Kalau tidak, maka tidak ada guna memberi informasi tambahan. Tetapi kalau mau informasi tambahan, beta minta ina tunjukkan pernyataan beta yang mana yang terlalu sulit dipahami. Tolong tunjukkan kesulitannya dimana.

Siapa yang memutarbalikkan fakta? Apakah ini klaim lain? Tunjukkan pemutarbalikkan fakta yang lakukan dimana ina? Beta tunggu!

 

RW
Beta rasa seandainya berbicara dgn 100 orang hukum pun Ama akan mengalami seperti itu..karena apa? Karena Ama memakai rel nya sendiri untuk memahami cara berpikir disiplin ilmu lain! Pembuktian saya bahwa Ama memandang hukum secara sempurna juga sudah jelas kok… Karena Ama juga tidak menerima penjelasan saya mengenai “kelenturan” hukum itu! Dan hasilnya Ama membuat kesimpulan bahwa hukum itu impoten dan inkonstan. Ada satu point yg sengaja saya tinggalkan dan tidak diangkat yaitu bahwa apa yg dikemukakan dalam artikel itu bisa jadi karena nakal dan bodohnya polisi. Tapi bagi saya itu tidak penting karena mudah pembuktiannya. Yg lebih sulit pebuktiannya adalah bahwa hukum itu memang lentur (ini yg tidak bisa ama terima dengan didasari berbagai teori logika yang akhirnya membuat kesimpulan bahwa saya sebagai orang hukum tidak paham logika)…… He he nice to discuss with you…..

Oh ya yg beta masih heran kok Ama ini bekutet aja tetang logika kevaliditasan argumen lah ato kevalditasan pemahaman lah…tapi saya tunggu2 ulasannya mengenai pokok materi si Cirus kok gak muncul2 ya….. Apa karena itu masuk dalam rel hukum yang ama kurang pahami sehingga pembicaraan dibawa lari terus ke rel diskusi logika ? Karmana ko Ama ?

MKPB
He he he ina kembali berbicara tentang hal lain yang tidak saya tanyakan. Dari dua pertanyaan semi retoris beta yang sederhana, Ina mengklaim beta percaya bahwa hukum bisa diimplementasi secara sempurna. Beta beta bilang argument itu tidak valid. Ina mengatakan itu valid. Beta minta ina untuk tunjukkan validnya dimana, ina tidak tunjukkan validnya dimana dan minta beta untuk tunjukkan tidak validnya dimana. Beta tunjukkan bagaimana tidak validnya argument yang ina kemukakan, dan minta ina untuk kemukakan bagaimana validnya argument yang ina kemukakan tetapi sonde ada jawaban. Ina mengeluh karena beta menggunakan rel pemikiran sendiri.

Sekali lagi, yang beta terapkan adalah logika. Logika adalah prasayarat bagi argumentasi. Aturan yang sangat sederhana dalam logika:validitas. Hukum katanya mengandalkan argumentasi, tetapi orang hukum tidak paham logika? Ini agak mengejutkan ina. Apakah ini karena hukum mau meninggalkan logika? Kalau ingin meninggalkan logika, kenapa tidak konsisten saja sekalian dan logika ditinggalkan dan kita semua menjadi gila? Kalau ada 100 orang yang pakar hukum dan tidak bisa berargumentasi seperti ini, maka semakin memperkuat dugaan bahwa masalah hukum adalah masalah ketidakpatuhan kepada logika.

Beta berbicara tentang validitas karena ini adalah masalah yang tidak ina jawab – walaupun isu validitas argument adalah isu sangat mendasar. Ina main klaim A, B, C, D dan tidak pernah membuktikan. Tentang hukum tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna semua su setuju. Kalau beta angkat lagi, nanti ina yang heran kenapa diangkat lagi. Beta sudah buktikan beta pung klaim, ina main sembunyi terus.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Strawmen Argument. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s