Ketidaklengkapan Naturalisme Ilmiah

Artikel di bawah ini saya dapatkan dari teman FB. Saya tampilkan di sini dengan ijin dari pemilik artikel, karena tampaknya menarik. Artikel asli dapat dilihat di sini

Darwinisme: Sains atau Filsafat

Bab 7 Katidaklengkapan Naturalisme Ilmiah

William A. Dembski

PERTAMA-TAMA IJINKAN SAYA MENGUCAPKAN terima kasih kepada panitia symposium ini atas kesempatan yang saya dapatkan untuk menyajikan gagasan-gagasan yang selama ini telah menyita perhatian saya. Inti dari symposium ini adalah buku Phillip Johnson, Darwin on Trial. Judul tersebut menunjukkan bahwa keprihatinan utama Johnson yang sesungguhnya adalah Darwinisme dan Neo-darwinisme. Sekalipun demikian, saya berpendapat bahwa buku Johnson lebih banyak menyangkut sebuah pandangan dunia atau filsafat yang digunakan menopang Dawinisme sekaligus tentang Darwinisme itu sendiri. Paham ateisme, materialisme ilmiah dan humanisme sekuler adalah beberapa nama yang diberikan kepada pandangan dunia tersebut. Nama yang paling saya sukai dan saya pikir paling menggambarkan [keadaan sebenarnya] adalah naturalisme ilmiah.

Saat ini saya ingin mengupas tentang naturalisme ilmiah. Saya berpendapat bahwa pandangan ini memiliki sesuatu cacat serius – yaitu bahwa pandangan dunia ini tidak lengkap / tidak memadai. Sebagai akibat dari kelemahan ini saya berpendapat bahwa adalah sesuatu yang syah di dalam percakapan ilmiah untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait rancangan supernatural. Mendasari diskusi ini adalah dua bidang dalam matematika yaitu: teori kompleksitas komputasi dan teori probabilitas.

Pertama-tama akan dijelaskan dulu apa yang dimaksudkan dengan naturalisme ilmiah. Unsur kunci dalam naturalisme ilmiah bisa dikatakan sebagai naturalisme. Naturalisme sebagai sebuah pandangan dunia memiliki dua komponen: (1) ajaran metafisik tentang apa yang ada di dunia. Di dalamnya ada obyek-obyek materi dan kadang-kadang (sebagaimana disebut filsuf Willard Quine) ada juga obyek-obyek yang bersifat matematis. Namun di dalamnya tidak termasuk hal-hal yang bersifat supernatural, intervensi yang bersifat non material, campur tangan ilahi, dll. (2) Naturalisme juga meliputi sebuah ajaran epistemologi tentang bagaimana menjelaskan hal – hal yang diperbolehkan dalam ajaran matafisik di atas, –  yaitu, hal-hal itu harus dijelaskan secara naturalistik. Saya tidak yakin bahwa penjelasan yang naturalistik itu adalah sebuah gagasan yang terlalu jelas, tetapi yang jelas adalah penjelasan yang naturalistik itu menghindari setiap jenis acuan kepada intervensi yang non materi/campur tangan ilahi, dll.

Dari mana kata ‘ilmiah’ dalam frase ‘naturalisme ilmiah’ berasal? Sebagai sebuah pandangan dunia, naturalisme ilmiah menganggap dirinya sendiri sebagai kontinyu dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ia mencari pembenaran pada pemahaman ilmiah kita terhadap dunia. Poin yang terakhir ini membedakan antara naturalisme ilmiah dari simpliciter ilmiah. Poin yang terakhir ini juga yang mengakibatkan ketidaklengkapan / ketidakmemadaian naturalisme ilmiah.

Untuk memahami apa yang dipertaruhkan, ijinkan saya mengutip kalimat terakhir dari The Realm of the Nebulae-nya Edwin Hubble: ”Sebelum sumber daya empiris habis, kita tidak perlu masuk ke dalam dunia impian spekulasi”. Ketika Hubble menulis kalimat tersebut pada tahun 1930an, dia jelas percaya bahwa sumber daya empiris tersebut tidak akan habis, sehingga jalan masuk ke dalam dunia impian spekulasi dapat ditangguhkan selama – lamanya.

Bertentangan dengan pernyataan ini, saya berpendapat bahwa sumber daya empiris ada batasnya dan bisa habis. Lagipula, segera setelah sumber daya empiris habis, naturalisme tidak dapat lagi mendapatkan justifikasi di dalam ilmu pengetahuan. Jadi, inilah ketidaklengkapan dari naturalisme ilmiah, yaitu, ketidakmampuan ilmu pengetahuan untuk memberi justifikasi kepada naturalisme pada saat sumber daya empiris yang digunakan ilmu pengetahuan untuk membatasi dirinya telah habis.

Berikutnya saya ingin memusatkan perhatian pada dua sumber daya empiris, pertama komputasi dan yang kedua probabilistik. Saya ingin menunjukan bahwa kemungkinan untuk habisnya sumber-sumber empiris saja sudah meruntuhkan kelengkapan naturalisme ilmiah, yang sejauh pemahaman saya, berpura – pura mampu memahami dunia secara lengkap tanpa Allah. Karena pembicaraan ini bukan ditujukan kepada para ahli matematika, maka saya akan mulai dengan membahas kata-kata seorang filsuf Amerika terkenal, Woody Allen.

Woody Allen barangkali tidak berpendapat bahwa Allah akan menanggapinya dengan serius ketika dia menyindir,

Seandainya saja Allah memberikan saya beberapa tanda yang jelas [tentang keberadaanNya]! Seperti misalnya menambahkan deposito berjumlah besar atas nama saya pada sebuah bank Swiss.{1}

Tapi bagaimana kalau Allah menanggapi pernyataan Allen secara serius? Apakah munculnya rekening misterius sebesar $7.000.000 atas nama Allen akan meyakinkan dia bahwa Allah ada? Andaikan sejumlah penyelidikan yang cermat terhadap dokumen bank gagal untuk menjelaskan bagaimana uang itu muncul di rekening Allen, apakah Allen akan mengambil kesimpulan bahwa Allah telah memberikan sebuah tanda?

Karena saya tidak sanggup menjawab untuk Allen, ijinkan saya menjawabnya bagi diri saya sendiri. Andaikata saya adalah orang yang terkenal yang telah mengeluarkan ucapan di atas dan sesudah itu menemukan tambahan $7,000,000 dalam rekening bank Swiss saya, saya tentu saja tidak menghubungkan keuntungan tidak disangka itu dengan pemberian seorang oknum ilahi yang eksentrik. Itu tidak berarti bahwa saya tidak percaya Allah. Saya percaya Allah. Tetapi teologi saya memaksa saya untuk berpikir bahwa tidaklah pantas bagi Allah untuk mengabulkan permohonan yang semberono seperti permohonan Allen dan mengabaikan permohonan – permohonan yang mendesak dari begitu banyak orang-orang yang menderita di dunia.

[Jadi] saya menolak sebuah mujizat karena alasan-alasan teologis. Namun demikian, walaupun tanpa alasan-alasan teologis, saya masih tetap tidak akan mengakui mujizat. Mengapa? Pejelasan-penjelasan yang lain muncul dalam benak saya. Jika saya sudah mengeluarkan ucapan di atas dan seterkenal Allen, lalu muncul $7.000.000 di rekening saya, saya barangkali akan menyimpulkan bahwa ada milyuner eksentrik dengan sebuah agenda religius yang sedang berusaha membuat saya menerima keyakinannya. Kemunculan yang misterius $7.000.000 telah secara kejam dirancang untuk membuat saya percaya kepada Allah. Tetapi tentu saja, saya terlalu pintar untuk mereka tipu.

Ada sebuah tujuan dibalik pemikiran – pemikiran ini. Ucapan Allen jelas lucu; namun jika diperhatikan secara serius, bertentangan dengan dirinya sendiri. Jika andaikata Allah mengabulkan permohonan Allen. Allen dan hampir semua orang lain tetap tidak dapat diyakinkan. Oleh karena itu muncul pertanyaan apakah Allah dapat melakukan sesuatu, baik dalam menanggapi sebuah permohonan seperti permohonan Allen maupun permohonan lain, yang akan menyediakan bukti meyakinkan bahwa Allah dan bukan pihak lain lagi yang telah bertindak.

Mari kita merumuskannya demikian: adakah sesuatu yang telah, dapat, atau mungkin terjadi di dunia yang dengannya layak untuk disimpulkan bahwa Allah telah bertindak? Adakah atau mungkinkah ada suatu fakta di dunia dimana menyebutkan Allah merupakan penjelasan terbaik? Atau kalau pertanyaannya dibalik, apakah menyebutkan Allah merupakan jalan keluar gampangan, alasan pincang, argumen pra ilmu pengetahuan yang selalu meleset dari penjelasan terbaik? {2}

Kita sedang mengajukan sebuah pertanyaan transenden dalam pengertian Kant: Apakah syarat – syarat untuk memungkinkan ditemukannya rancangan (yaitu campur tangan supernatural, campur tangan non materi, campur tangan ilahi, atau apapun anda mau menyebutnya) di dunia? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab sejak awal, karena jika dunia ini adalah tempat dimana segala sesuatu yang terjadi dapat dijelaskan secara terpisah dari teleology/tujuan dan rancangan, maka akan tidak masuk akal untuk mencari rancangan dalam segala sesuatu yang terjadi. Mungkinkah dunia melakukan sesuatu, bagaimanapun eksentriknnya, yang akan meyakinkan kita tentang adanya rancangan?

Sebuah ilustrasi mungkin akan membantu. Bayangkanlah ada sebuah studio kesenian khusus yang memiliki kanvas berukuran sepuluh inci kali sepuluh inci, seperangkat lengkap peralatan lukis minyak, dan sebuah robot yang melukis pada kanvas tersebut dengan peralatan lukis tadi. Pada saat melukis, robot tersebut membagikan kanvas tadi menjadi 10 kotak yang masing – masing berukuran satu inci persegi, dan melukis tiap kotak tersebut dengan satu warna. Bayangkan bahwa robot ini juga memiliki sensor visual dan karena itu dapat melukis pemandangan yang nampak pada penglihatannya, walaupun hanya secara kasar, karena dia harus melukis dengan cara hanya melukis satu warna pada setiap satu inci persegi kanvas.

Bayangkan pula bahwa Elvis dan seorang peniru Elvis datang untuk dilukis oleh robot ini. Akankah lukisan [yang dilukis robot tersebut] dapat membedakan Elvis yang asli dari si peniru Elvis? Karena lukisan di atas kanvas sangat kasar, maka jika peniru itu persis meniru Elvis, kedua lukisan tersebut tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya. Studio imajinasi kita tadi tidak dapat membedakan Elvis yang sesungguhnya dengan Elvis gadungan.

Contoh ini mengindikasikan apa yang sebenarnya harus terjadi untuk menentukan apakah rancangan setidak – tidaknya memiliki kemungkinan untuk dideteksi dan memiliki dasar empiris. Ada banyak contoh yang diduga merupakan rancangan. Tetapi apakah mungkin dalam dunia ini untuk membedakan rancangan asli dari rancangan palsu kalau memang rancangan asli ada? Atau apakah dunia ini sama seperti studio kesenian tadi? Seperti halnya lukisan – lukisan pada studio tadi tidak dapat membedakan Elvis asli dari Elvis gadungan, apakah juga tidak mungkin melakukan investigasi empiris terhadap dunia ini untuk membedakan rancangan asli dari rancangan palsu?

Naturalisme ilmiah lebih cenderung berpikir seperti itu, yakni, bahwa dunia adalah tempat dimana semua fenomena obyektif dapat dijelaskan dengan faktor-faktor alamiah semata-mata. Oleh karena itu faktor-faktor non-alamiah tidak hanya mubazir tetapi juga tidak sah untuk digunakan dalam penjelasan tentang dunia. Sebagaimana George Gaylord Simpson mengungkapkannya,

Tidak perlu serta tidak beralasan untuk mendalilkan intervensi nonmateri dalam asal – usul kehidupan, kemunculan manusia, atau unsur apapun dalam sejarah panjang alam materi.{3}

Simpson mengklaim bahwa dunia adalah sejenis tempat dimana tidak ada bukti objektif empiris yang secara syah membenarkan kita untuk mendalilkan rancangan (yang ia sebut sebagai “campur tangan nonmateri”)

Ini adalah klaim yang terlalu berani. Pertanyaannya adalah adalah apakah itu benar. Dalam kasus studio kesenian tadi, memang benar bahwa kita tidak dapat membedakan Elvis dan penirunya berdasarkan lukisan robot tadi. Lukisan yang dihasilkan oleh studio tadi terlalu kasar.

Untuk lukisan-lukisan tadi, dengan meniru Simpson [kita dapat mengatakan], “tidak dibutuhkan serta tidak beralasan menyatakan ”bahwa ada dua Elvis yaitu Elvis Asli dan Elvis Gadungan.” Dari lukisan – lukisan itu sendiri kita boleh secara sah mengambil kesimpulan bahwa hanya ada satu orang yang dilukis. Tetapi apakah dunia ini begitu kasarnya sehingga sacara mendasar tidak dapat menghasilkan kejadian yang akan menunjuk pada rancangan? Itulah rupanya yang Simpson percayai. Namun sedikit refleksi, menunjukkan bahwa klaim ini tidak mungkin benar.

Coba kita pikirkan sesuatu yang saya sebut sebagai “Pulsar Berbicara yang Mengagumkan”. Bayangkan bahwa para astronom telah menemukan sebuah pulsar yang jauhnya sekitar tiga milyar tahun cahaya dari bumi. Katakanlah pulsar tadi adalah sebuah bintang neutron yang berotasi yang memancarkan getaran – getaran radiasi elektromagnetik yang ada dalam jangkauan frekuensi radio. Para astronom yang menemukan bintang itu pada mulanya tidak terkesan dengan penemuan mereka. Pulsar itu hanyalah bintang yang lain untuk dimasukkan dalam katalog. Namun demikian salah satu dari para astronom itu, adalah seorang operator radio amatir. Suatu hari saat ia mengamati pola dari pulsar itu, ia menemukan bahwa getaran itu adalah sandi Morse. Lebih mengejutkan lagi, ia menemukan bahwa pulsar itu mengirimkan pesan berbahasa Inggris dalam bentuk sandi Morse. {4}

Berita dengan cepat menyebar dalam komunitas ilmiah, dan dari sana menyebar ke seluruh dunia. Observatorium – observatorium radio di seluruh dunia mulai memonitor pulsar yang “berbicara” tersebut. Pulsar itu tidak mengirimkan berita bahasa Inggris yang acak-acakan, tetapi malah berupa komunikasi yang cerdas dengan penduduk di bumi. Sekali pulsar itu telah mendapatkan perhatian kita, ia memperkenalkan dirinya. Pulsar itu menginformasikan kita bahwa dia adalah juru bicara Yahweh, Allah Perjanjian Lama dan Baru, Pencipta alam semesta, Hakim terakhir atas manusia.

Suatu yang terlalu berlebihan kata Anda. Tetapi sebaliknya untuk mengkonfirmasikan klaim yang berlebih-lebihan ini, pulsar itu setuju untuk menjawab setiap pertanyaan yang kita ajukan. Pulsar itu menetapkan metode untuk mengajukan pertanyaan dan mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Keturunan Lewi bertugas membuat sebuah tabut seperti yang dibangun dibawah perintah Musa (lihat Keluaran 25). Tabut ini ditempatkan di atas Gunung Sion di Israel. Jam demi jam sebuah pertanyaan dalam bahasa Inggris ditaruh di dalam tabut tersebut. Sepuluh menit kemudian pola-pola getaran dari pulsar itu mencapai bumi yang akan menjawab pertanyaan itu, jawaban itu disusun sebagai sebuah pesan berbahasa Inggris dalam kode Morse. {5}

Informasi yang dikirim melalui getaran itu luar biasa/ajaib. Para dokter belajar bagaimana menyembuhkan AIDS, kanker, dan sekumpulan besar penyakit lainnya. Para ahli Arkeologi belajar mencari tempat untuk menggali peradaban yang hilang dan bagaimana memahaminya. Para ahli ilmu fisika memperoleh jawaban terhadap pertanyaan lama tentang teori penyatuan penyatuan gaya-gaya alam. Para ahli meteorologi diperingati terlebih dahulu akan bencana-bencana alam dan pola cuaca tahunan sebelum itu terjadi. Para ahli Ekologi mempelajari metode-metode efektif untuk pembersihan dan pemeliharaan bumi. Para ahli matematika memperoleh bukti untuk masalah-masalah terbuka yang sudah lama tidak terpecahkan – serta untuk beberapa kasus ada pembuktian yang dapat periksa, tetapi yang tidak dapat mereka hasilkan sendiri. Daftar ini dapat dilanjutkan, tetapi mari kita berhenti di sini.

Apa yang harus kita katakan tentang pulsar tersebut? Terlepas dari benar tidaknya pulsar itu juru bicara Yahweh, pulsar itu menciptakan kesulitan-kesulitan serius bagi naturalisme ilmiah. Tidak hanya tidak ada cara menjelaskan tingkah laku pulsar itu dengan pemahaman ilmiah kita saat ini tentang dunia, tetapi juga sulit untuk membayangkan bagaimana penjelasan yang bersifat naturalistik menerangkan /mempertanggungjawabkan tingkah laku pulsar itu. Sebagai contoh, pengertian ilmiah kita sekarang didasarkan kepada hukum relativitas khusus Einstein yang menyatakan bahwa pesan-pesan tidak dapat disiarkan dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Karena pulsar itu berada sekitar tiga milyar tahun cahaya dari bumi, maka setiap sinyal yang kita terima dari pulsar itu yang sudah dikirimkan milyaran tahun lalu. Namun kenyataannya, pulsar itu “merespons” pertanyaan-pertanyaan kita dalam sepuluh menit setelah pertanyaan tertulis ditempatkan di dalam tabut. Oleh karena itu, jawaban-jawaban dari pulsar itu nampaknya mendahului pertanyaan kita milyaran tahun.

Untuk mengakali hal ini, para ahli penganut naturalisme ilmiah mungkin akan merumuskan hubungan sebab akibat terbalik atau penyiaran berkecepatan di atas kecepatan cahaya. Para naturalis mungkin menganggap gagasan ini lebih cocok daripada gagasan “intervensi nonmateri”, tetapi hubungan sebab akibat terbalik dan penyiaran berkecepatan di atas kecepatan cahaya bahkan tidak bisa mulai menjawab kepada pertanyaan-pertanyaan yang  dimunculkan oleh pulsar itu. Tidak terhindarkan bahwa dalam menyikapi pulsar itu kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak hanya cerdas, tetapi dengan suatu kecerdasan super. Kecerdasan super maksud saya bukan suatu kecerdasan yang pada saat ini masih mengungguli kesanggupan manusia, tetapi yang di masa depan manusia dapat mencapainya. Juga saya tidak bermaksud bahwa kecerdasan itu kecerdasan supra-manusia yang dapat direalisasikan dalam agen rasional terbatas yang ada di dunia (katakanlah sebuah kecerdasan ekstra teresterial atau sebuah super komputer yang memiliki kesadaran). Yang saya maksudkan dengan suatu kecerdasan super adalah kecerdasan yang supernatural, mis, suatu kecerdasan yang melampaui apapun yang sanggup ditawarkan oleh proses-proses fisik. Kecerdasan ini melebihi apapun yang secara prinsip mampu manusia atau agen-agen rasional terbatas di dunia untuk capai.

Bagaimana kita dapat memahami pulsar sebagai contoh kecerdasan super? Tempat untuk memahaminya adalah ilmu komputer. Ada beberapa masalah dalam ilmu komputer yang secara matematis dapat dibuktikan membutuhkan sumber daya komputasi yang melebihi yang tersedia di alam semesta untuk memecahkanya. Andaikan yang berikut. Diperkirakan ada tidak lebih dari 1080 partikel/unsur dasar di alam semesta. Sifat materi adalah sedemikian sehingga sirkuit tidak dapat berubah lebih cepat dari 1045 kali per detik{6}. Alam semesta itu sendiri berumur sekitar satu milyar kali lebih muda dari 1025 detik (dengan asumsi bahwa alam semesta itu sekurang-kurangnya berumur satu milyar tahun). Dengan batas atas ini, kita dapat secara pasti menyatakan bahwa tidak ada perhitungan yang melampaui 1080 x 1045 x 1025 = 10150 langkah dasar yang dimungkinkan di alam semesta. Yang saya maksudkan dengan sebuah langkah dasar perubahan keadaan sebuah perangkat yang hanya bisa memiliki dua keadaan, yang secara abstrak dipahami sebagai pergantian integer biner (=bit). Karena itu, agar perhitungan serumit ini dapat dilakukan di alam semesta, maka setiap partikel dasar yang ada di alam semesta akan berfungsi sebagai sebagai tempat penyimpanan dasar (=memory bit) yang mampu berganti posisi 1045 hertz selama satu milyar tahunan.

1050 adalah sebuah batas atas kerumitan komputasi yang dapat dilakukan di alam semesta. Ada beberapa alasan untuk beranggapan bahwa ambang batas sebenarnya lebih rendah: (1) pertimbangan-pertimbangan kuantum mekanis mengindikasikan bahwa tempat penyimpanan memori yang dapat diandalkan tidak sanggup bekerja di bawah level atom {7} karena pada level ini ketidaktentuan kuantum tidak hanya akan membuat penyimpanan informasi tetapi juga pembacaan informasi tidak mungkin. Oleh karena itu tiap penyimpanan dasar harus terdiri dari lebih dari satu pertikel dasar (2) Perhitungan sebelumnya menganggap alam semesta sebagai sepotong Random Acces Memory raksasa yang dikontrol oleh sebuah prosesor yang berada di luar alam semesta yang beroperasi pada batas atas 1045 hertz yang dapat dengan mudah mengakses setiap lokasi memori di RAM. Tetapi kenyataannya, prosesor tersebut dengan sendirinya akan mengambil bagian di alam semesta. Lebih jauh lagi, akses ke lokasi-lokasi memori dalam beberapa kasus harus diukur dalam tahun cahaya dan bukan dalam 1045 detik. Bahkan dengan proses parallel besar-besaran, kecepatan komputasi akan jauh berada di bawah batas atas 1045 hertz (3) Akhinya, batas 1025 detik untuk masa kerja maksimum komputasi terlalu berlebihan karena kematian alam semesta mungkin terjadi sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa, bahkan kalaupun seluruh alam semesta berfungsi sebagai sebagai sebuah komputer, tidak ada komputasi yang memerlukan 1050 langkah dasar apalagi 10150 floating point operations, yang memungkinkan.

Adalah memungkinkan untuk mengemukakan masalah dalam ilmu komputer yang solusi tercepatnya mempersyaratkan jumlah langkah melebihi angka di atas, namun kalau ada solusi yang tersedia bagi manusia maka dengan bantuan komputer biasa dapat diteliti apakah solusinya benar. Pemfaktoran bilangan bulat ke bilangan prima dianggap merupakan salah satu dari masalah seperti itu. Karena masalah faktorisasi mudah untuk di mengerti, ijinkan saya untuk menyuguhkan seolah-olah masalah itu adalah salah satu dari “masalah-masalah yang sukar.“ Jika pada di masa depan ditemukan algoritme yang secara ‘cepat’ memfaktorkan bilangan, kita perlu memodifikasi contoh ini; namun pandangan kita bahwa ada masalah yang pemecahannya berada di luar kemampuan sumber daya komputasi di alam semesta, namun yang masih dapat diverifikasi manusia, masih dapat belum digugurkan.{8}

Apa faktorisasi ke dalam bilangan prima dari 1961? Pemecahan hal ini membutuhkan sedikit usaha. Tetapi jika Anda diberikan bilangan prima 37 dan 53, maka akan menjadi masalah sederhana untuk meneliti apakah bilangan-bilangan merupakan faktor prima dari 1961. Kenyataannya 37 x 53 = 1961. Pemfaktoran itu sulit, tetapi perkalian itu mudah. Oleh karena itu kita dapat menuju pada si pulsar dengan bilangan yang ribuan digit panjangnya dan meminta untuk memfaktorkannya. Pemfaktoran bilangan sepanjang itu berada di luar kesanggupan kita dan berkali-kali lipat berada di luar batas-batas perhitungan yang melekat di alam semesta. (Ketika sedang melakukan studi pustaka tentang pemfaktoran beberapa tahun lalu, bilangan-bilangan di atas dua ratus digit panjangnya tidak dapat difaktorkan kecuali kalau memiki faktor kecil atau faktor prima yang khusus). Sekalipun demikian, cukup mudah untuk memeriksa apakah pulsar itu melakukan faktorisasi dengan tepat, bahkan untuk bilangan – bilangan yang ribuan digit panjangnya.{9}

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari pulsar tersebut? Saya mau mengatakan bahwa kita seharusnya berpendapat bahwa satu perancang dalam pengertian yang sebenarnya sedang berkomunikasi lewat pulsar, yaitu seorang perancang yang cerdas dan transenden. Kecerdasan jelas bukan masalah disini. Tes kecerdasan terkenal dari Alan Turing memperhadapkan komputer dengan manusia dalam sebuah kontes dimana sang manusia menentukan mana komputer dan yang mana manusia.{10} Jika manusia tidak dapat membedakan mana kecerdasan komputer dan mana kecerdasan manusia, Turing menginginkan komputerpun dianggap cerdas.

Pendekatan terhadap kecerdasan yang bersifat operasional sudah dipertanyakan, baik oleh kaum teis maupun penganut fisikalis garis keras. Tetapi gagasan mendasar bahwa tidak ada tes yang lebih baik terhadap kecerdasan daripada komunikasi dengan mengunakan bahasa alamiah yang masuk akal masih belum tergoyahkan. Jika kita tidak dapat secara syah menghubungkan kecerdasan dengan pulsar itu, maka tidak ada lagi sesuatu yang pantas disebut kecerdasan. Transenden juga jelas, seperti dibahas dalam diskusi kita tentang masalah komputasi yang sulit dipecahkan. Dapat dikatakan bahwa satu keberadaan yang memecahkan masalah yang berada di luar jangkauan sumber daya komputasi dunia materi adalah sesuatu yang bukan materi materi. Ketika kita memastikan bahwa masalah-masalah demikian sudah dipecahkan bagi kita, kita tidak dapat menghindari kesimpulan adanya “campur tangan non materi.”

Pulsar tersebut menunjukkan bahwa dunia kita adalah dunia dimana rancangan setidak-tidaknya ada kemungkinan untuk [dideteksi dengan] jelas – untuk kasus pulsar, validasi empiris terhadap rancangan dapat dilakukan sebaik yang kita inginkan. Karena itu, dalam dunia yang sesungguhnya, rancangan tidak hanya mungkin [dideteksi] tetapi juga dapat diketahui secara empiris. Saya berpanjang lebar berbicara tentang poin ini karena poin ini tidak diakui naturalisme. Namun kalau diakui bahwa kejadian-kejadian tertentu bisa saja mengharuskan kita berkesimpulan adanya “campur tangan nonmateri”, kita perlu mempertimbangkan apakah setiap kejadian mengharuskan kita untuk menyimpulkan adanya campur tangan yang demikian. Sudah jelas pulsar adalah contoh berlebihan. Tidak ada contoh rancangan lainnya yang begitu jelas yang diketahui. Oleh karena itu fiksi ilmiah melakukan tugasnya untuk kita. Sekarang waktunya untuk mengistirahatkan fiksi ilmiah, dan melihat pada bukti kuat apa yang menunjukkan adanya rancangan di dunia nyata. Kita berpindah dari sumber daya komputasi ke sumber daya probabilistik.

Saya memakai istilah sumber daya probabilistik untuk menjelaskan apa yang saya sebut sumber daya replikasi di salah satu pihak, dan sumber daya spesifikasi di lain pihak. Untuk memahami apa yang dipertaruhkan dengan sumber daya ini, mari kita membahas dua contoh. Yang pertama sumber daya replikasi, dan yang kedua sumber daya spesifikasi.

Ini adalah contoh pertama. Bayangkan bahwa ada sebuah revisi besar-besaran dalam sistem pengadilan kejahatan. Sejak saat ini satu seorang yang terbukti melakukan kejahatan dijatuhkan hukuman penjara sampai dia bisa melempar koin dan hasilnya muncul sisi kepala selama n kali berturut-turut, n disesuaikan dengan besarnya kejahatan (kita asumsikan bahwa semua sisi koin sama dan dicatat sebagaimana seharusnya; serta tidak ada penipuan). Jadi misalnya untuk hukuman penjara sepuluh tahun, jika kita mengasumsikan narapidana itu dapat melempar koin sekali setiap lima detik (hal ini nampaknya masuk akal), delapan jam sehari, enam hari seminggu, dan percobaan rata-rata untuk memperoleh sebuah rentetan kepala sebelum ekor adalah  2 (S18iTi2-i), kemudian secara rata-rata ia akan mencoba untuk mencapai serangkaian kepala sebanyak n sekali setiap 10 detik, atau 6 percobaan dalam satu menit, atau 360 percobaan dalam satu jam, atau 2.880 percobaan dalam setiap delapan jam kerja per hari, atau 901.440 percobaan dalam satu tahun (asumsi satu minggu enam hari kerja), atau  kira-kira 9 juta percobaan dalam sepuluh tahun. Sembilan juta sama dengan kira-kira 223. Jadi jika kita mengharuskan seorang narapidana untuk melempar koin dan hasilnya 23 kepala secara berurutan, kita dapat berharap dia keluar penjara sekitar sepuluh tahun. Sudah tentu contoh-contoh yang khusus akan bervariasi – beberapa narapidana dikeluarkan hanya setelah beberapa saat mendekam di penjara, yang lain tidak pernah mencatat 23 kepala secara beruntun sama sekali.

Sekarang andaikan bagaimana reaksi rata-rata narapidana setelah sekitar sepuluh tahun melempar koin dan akhirnya mendapatkan 23 kepala secara beruntun. Apakah ia terkejut? Apakah ia berpikir bahwa sebuah mikjizat telah terjadi? Pasti tidak. Dengan sumber daya replikasi, yaitu jumlah kesempatan yang ia miliki untuk mendapatkan 23 kepala secara beruntun, ia dapat berharap untuk keluar dari penjara dalam sekitar sepuluh tahun. Kenyataannya bukan tidak mungkin ia keluar penjara dalam jangka waktu itu. Adalah tidak mungkin bahwa pada setiap kesempatan yang diberikan ia akan mendapatkan 23 kepala secara beruntun. Tetapi kalau semua kesempatan ini dipertimbangkan secara bersama-sama, maka akan menjadi cukup mungkin bahwa ia akan keluar dari penjara dalam waktu sepuluh tahun. Sumber daya replikasi untuk narapidana terdiri dari jumlah kesempatan dimana ia harus hasilkan 23 kepala secara beruntun. Jika harapan hidupnya lebih dari sepuluh tahun, ia memiliki kesempatan yang baik untuk keluar dari penjara. Singkatnya, sumber daya replikasinya cukup untuk memungkinkan dia keluar dari penjara.

Namun, andaikata jika jumlah kepala yang harus muncul secara beruntun terlalu banyak, maka sumber daya replikasi tidak akan cukup bagi dia untuk keluar dari penjara. Andaikan ada seorang narapidana dihukum untuk melepar koin yang hasilnya 100 kepala secara beruntun. Kemungkinan untuk memperoleh 100 kepala secara beruntun begitu kecil sehingga secara praktis ia tidak memiliki harapan untuk keluar dari penjara, walaupun harapan hidupnya secara dramatis ditambah. Jika ia sanggup, misalnya, membuat sepuluh milyar percobaan tiap tahun untuk memproleh 100 kepala secara beruntun, maka kesempatannya untuk keluar dari penjara adalah satu kali dalam 1020 tahun. Sumber daya replikasinya tidak mencukupi untuk memperoleh 100 kepala beruntun yang diinginkan sehingga tidak ada guna untuk mengharapkan kebebasan. {11}

Dengan sumber daya replikasi di atas pertanyaannya adalah berapa banyak kesempatan yang ada untuk mendapatkan sebuah kejadian yang khusus (dalam contoh yang sebelumnya kejadiannya adalah mendapatkan n kepala secara beruntun). Untuk sumber daya spesifikasi, pertanyaannya adalah berapa banyak kesempatan yang ada untuk menspesifikasi sebuah kejadian yang belum dtentukan. Undian merupakan kendaraan yang sempurna untuk mengilustrasikan sumber daya spesifikasi. Memang benar, setiap tiket undian adalah sebuah spesifikasi. Untuk mengilustrasikan sumber daya spesifikasi, coba kita andaikan undian yang berikut akan mengakhiri semua undian yang ada: Dalam rangka menghapuskan defisit negara, pemerintah federal setuju untuk melakukan sebuah undian nasional yang hadiahnya adalah menjadi diktator di Amerika Serikat selama satu hari – yaitu selama dua puluh empat jam pemenangnya akan mempunyai kekuasaan yang penuh terhadap setiap aspek pemerintahan. Jika penganut supremasi kulit putih menang, ia dapat memerintahkan eksekusi terhadap semua yang tidak berkulit putih. Jika seorang raja porno yang menang, ia dapat merubah negeri ini menjadi pesta pora tidak bermoral raksasa. Jika seorang pencinta kedamaian yang menang, ia dapat memerintahkan untuk perusakan terhadap semua senjata …. Unsur-unsur masyarakat yang lebih moderat jelas ingin untuk mencegah orang aneh untuk menang, dan karena itu akan cenderung berinvestasi besar-besaran untuk membeli undian.

Namun kecenderungan alamiah ini ditolong oleh pertimbangan berikut: kemungkinan setiap tiket untuk menang adalah 1 dalam 2100, atau kira-kira 1 dalam 1030. Untuk membeli tiket, seorang peserta membayar dengan harga yang tetap dan kemudian menuliskan 0-1 yang panjangnya 100 kali. Ia diijinkan untuk membeli sebanyak mungkin tiket yang ia inginkan, tergantung uangnya dan waktu untuk mencatat rangkaian 0-1 yang panjangnya 100 kali. Undian akan ditarik pada sebuah pertemuan khusus Senat AS: berdasarkan urut-urutan abjad dari namanya, tiap senator diberi kesempatan sekali untuk melemparkan sebuah koin dan mencatat hasilnya.

Andaikan sekarang bahwa hari naas itu telah tiba. Satu trliun tiket telah terjual dengan harga sepuluh dolar per lembar. Untuk mencegah penipuan, Kongres telah meminta bantuan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional. Mengikuti rekomendasi NAS, tiap nama pemegang tiket diharapkan masuk ke dalam data base yang aman, bersama-sama dengan tiket dan nomor tiket (yaitu informasi yang terkait dengan keputusan pemenang). Semua informasi ini sudah ada. Setelah iringan musik yang panjang senator mulai melempar koin mereka. Segera sesudah senator Zygmund mengumumkan hasil lemparannya, data base itu diminta untuk menentukan pemenang undian itu. Dan ternyata, undian itu memang memiliki pemenangnya – yaitu Joe “Killdozer” Skinhead, pemimpin the White Trash Nation. Tindakan pertama Joe sebagai diktator adalah untuk membangun sebuah symbol Swastika di Capitol.

Dari perspektif pakar probabilitas, ada satu ketidakmungkinan rasional dalam contoh ini. Ketidakmungkinan tersebut tidak terletak pada fakta bahwa pemerintah federal mensponsori sebuah undian untuk menghapus hutang negara, maupun hadiah yang bersifat fasis untuk menjadi seorang diktator selama sehari, tidak juga pada cara undian diputuskan pada pertemuan khusus dengan Senat, bahkan tidak pada kemungkinan yang rendah untuk memenangkan undian tersebut. Ketidakmungkinannya terletak pada adanya pemenang dari undian tersebut. Memang, saya sendiri sebagai seorang pakar probabilitas, akan mendorong pemerintah federal untuk mengadakan undian demikian jika dapat menangani hutang negara, karena saya yakin bahwa jika undian berjalan secara adil, tidak akan ada pemenang.

Andaikan, misalnya, satu triliun tiket terjual dengan harga sepuluh dolar per lembar (ini akan menutupi defisit pada tahun 1992). Berapa probabilitasnya bahwa satu dari tiket-tiket itu (=spesifikasi) akan sesuai dengan urut-urutan 0 dan 1 yang ditarik oleh Senat? Sebuah perhitungan mendasar menunjukkan bahwa kemungkinan ini tidak lebih besar dari 1 dalam 1018. Ini adalah sebuah kemungkinan yang sangat kecil. Sekalipun jika kita menaikkan jumlah undian tiket yang dijual oleh beberapa kali lipat, masih tidak akan cukup untuk memungkinkan adanya pemenang. Karena tiket undian adalah spesifikasi, maka ini adalah sama dengan mengatakan tidak ada cukup sumber daya spesifikasi untuk mengkhususkan peristiwa yang dibahas (yaitu kemenangan dalam undian).

Seringkali perlu mempertimbangkan sumber daya replikasi dan spesifikasi secara bersamaan. Kita andaikan bahwa dalam undian sebelumnya Senat akan melakukan seribu penarikan untuk menentukan seorang pemenang. Seperti sebelumnya asumsikan bahwa ada satu triliun tiket telah terjual. Dengan keadaan seperti ini, untuk probabilitas saat ini sumber daya spesifikasinya adalah satu triliun spesifikasi dan sumber daya replikasinya seribu kali pengulangan. Perhitungan yang mendasar menunjukkan bahwa kemungkinan dari undian yang telah sudah dimodifikasi ini memiliki seorang pemenang tidak lebih dari 1 dalam 1011. Itu juga adalah sebuah kemungkinan yang sangat kecil. Penggabungan sumber daya replikasi dan spesifikasi begitu tidak memadai sehingga tetap sangat tidak mungkin undian ini akan mendapat pemenang.

Pada masa lalu biasanya mudah memperbesar sumber daya probabilitas daripada sekarang. Pada masa lampau, pertanyaan tentang apakah alam semesta itu terbatas atau tidak biasanya merupakan pertanyaan filosofis, bukan pertanyaan empiris. Thomas Aquinas mengklaim bahwa hanya oleh wahyu kita dapat mengetahui bahwa alam semesta itu terbatas. Akal budi, menurutnya, membuka kemungkinan adanya sebuah alam semesta bisa saja tidak terbatas. Sistem filosofis Spinoza mempersyaratkan sebuah alam semesta yang tidak terbatas, tetapi sekali lagi itu didasarkan pada pandangan metafisik, bukan empiris. Hume sendiri menghargai keuntungan naturalisme ilmiah apabila sebuah waktu yang tidak terbatas dijadikan pra-anggapan:

Sejumlah partikel yang terbatas hanya rentan terhadap transposisi yang terbatas: dan itu harus terjadi, dalam lama waktu yang kekal, sehingga setiap urutan atau posisi yang mungkin atau posisi harus dicobakan dengan jumlah yang tidak terbatas. Karena itu dunia ini, dengan  semua kejadiannya, bahkan yang paling kecil sekalipun, telah dihasilkan dan dirusakkan, dan akan dihasilkan dan dirusakkan lagi tanpa ada ikatan dan batas sama sekali. Tidak ada seorangpun, yang mempunyai konsep tentang daya ketidakterbatasan, dalam perbandingannya dengan keterbatasan, akan keberatan dengan kesimpulan ini. {12}

Pada masa mudanya Einstein berkomitmen pada Allahnya Spinoza. Spinoza telah mengidentikkan Allah dengan Alam Semesta dan berasumsi bahwa allah ini tidak terbatas dalam hal besar dan waktu. Sesuai dengan pendapat Spinoza, Einstein memformulasi rumus bidangnya untuk memodelkan alam semesta yang tidak terbatas itu. Namun “ketika pada 1927, berdasarkan persamaan kosmologi Einstein, Abbé Lemaître menderivasi ekspansi alam semesta dan menghubungkan laju ekspansi tersebut dengan data dari galaksi red-shift yang sudah ada”{13} besaran spatio temporal (luas dan waktu) alam semesta menjadi sebuah pertanyaan empiris. “Data tentang galaksi red-shift yang sudah tersedia” adalah dari Hubble dan Humason. Ketika pada awal 1930an Einstein mengunjungi Hubble di California dan menginspeksi data ini, kemudian Einstein menjadi yakin bahwa alam semesta memang terbatas.{14} Alam semesta yang berkembang a la Alan Guth dan penerusnya, sama seperti teori Keadaan Tetap pada tahun 1950an, berusaha untuk membangkitkan kembali alam semesta tidak terbatas ala Spinoza yang sudah hilang. Menurut saya, teori-teori ini muncul dari sebuah kebutuhan untuk melindungi naturalisme ilmiah, dalam hal ini dengan meningkatkan sumber daya probabilitas dan dengan demikian maka upaya merujuk kepada kebetulan menjadi masuk akal.

Kejadian apa yang menghabiskan sumber daya probabilitas di alam semesta? Asal mula kehidupan cukup sesuai untuk hal itu. Seseorang yang begelut dengan improbabilitas yang melekat pada asal mula kehidupan secara cepat menjadi tidak berdaya. Improbabilitas itu benar-benar mengejutkan. Fred Hoyle, misalnya, menperhitungkan bahwa sebuah organisme bersel satu dapat diharapkan untuk muncul sekali dalam 1040000 tahun jika keseluruhan alam semesta diisi dengan sebuah cairan prebiotik (sebuah asumsi yang luar biasa murah hati).{15} Bernd-Olaf Küppers, murid Manfred Eigen, mengomentari hanya satu sub unit sebuah virus, menulis:

“Rangkaian DNA yang mengkodekan sub unit khusus virus dari replikase kompleks terdiri dari kira-kira seribu nukleotida.…sehingga ia sudah memiliki ln = 41000 » 10600 pilihan rangkaian …. Karena itu, sintesis spontan [dari system ini]…secara ekstrim mustahil.”{16}

Dia menyimpulkan bahwa teori probabilitas “tidak membawa kemajuan satu langkah pun terkait statistik dari asal-usul kehidupan.”{17} Lecomte du Noüy menemukan improbabilitas yang mirip dengan itu pada tahun 1940an.{18} Hubert Yockey dan Michael Behe terus melanjutkan menghitungnya lagi saat ini.{19}

Apakah kekurangan sumber daya probabilitas ini cukup untuk mendalilkan intervensi nonmaterial, untuk berpikir tentang seorang perancang supernatural, atau untuk percaya pada Tuhan? Saya telah mencoba untuk seksama dalam diskusi ini. Pandangan saya terkait dengan naturalisme ilmiah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa naturalisme ilmiah itu tidak lengkap. Saya telah menguraikan secara singkat permulaan-permulaan dari argumen yang demikian, bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat cukup mendukung naturalisme dan bahwa alam melakukan hal-hal untuk melemahkan sumber daya empiris yang ditentukan oleh ilmu pengetahuan. Orang dapat mencoba mempertahankan naturalisme dengan memperkenalkan lebih banyak lagi hipotesis metafisis yang mempostulasikan naturalisme lebih daripada yang dapat didukung oleh ilmu pengetahuan.

Di lain pihak, seseorang dapat membuang naturalisme dan memperkenalkan turunan dari hipotesis metafisik tentang Allah yang benar-benar baru. Kedua pilihan ini tidak bukan satu-satunya pilihan, tetapi sampai saat ini keduanya adalah yang paling umum

Yang mana yang lebih baik? Karena tujuan saya bukan untuk membandingkan berbagai hipotesis metafisis, teapi menunjukkan bahwa satu dari hipotesis metafisis ini, yaitu naturalisme, tidak dapat diselamatkan dalam ilmu pengetahuan, saya tidak akan mengemukakan argumen tentang hal itu di sini. Namun demikian, harus ditekankan bahwa ilmu pengetahuan secara reguler mempunyai sumber daya empiris yang terbatas. Lebih jauh lagi, saat sumber daya empirisnya habis, sains tidak dapat menyatakan ketidaktahuan sementara yang nanti akan diselesaikan. Saat sumber daya empirisnya habis, sains tidak dalam kapasitas untuk mengemukakan janji-janji seperti itu. Saat sumber daya empirisnya dipatahkan, sains menutup pintu untuk penjelasan naturalistik.

Karena itu pintu tetap terbuka lebar untuk gagasan tentang rancangan cerdas yang dapat dipertahankan secara ilmiah.{20}

CATATAN


{1} Dikutip dalam Peter’s Quotations, s.v. “Doubt.”

{2} Richard Dawkins berpandangan demikian. Renungkan komentarnya tentang asal mula mesin DNA/protein: ‘[Berbicara tentang] Perancang Supranatural sama saja dengan tidak menjelaskan apa-apa, karena akan meninggalkan ruang bagi penjelasan tentang asal-usul sang Perancang. Anda harus berkata ‘Allah selalu ada’, dan jika anda membiarkan diri menerima jalan keluar yang malas ini, anda mungkin akan berkata ‘DNA selalu ada’, atau Hidup selalu ada, dan puas dengan itu” [Dawkins 1987:141].

{3} Dikutip dalam Johnson [1991:114].

{4} Saya berhutang kepada Charles Chastain untuk contoh tentang Pulsar yang berbicara. Pulsar adalah sebuah oracle. Di sini saya menggunakannya untuk menyelidiki kemungkinan tetang deteksi rancangan. Namun Oracles, memberi pencerahan terhadap sejumlah pertanyaan filosofis. Sebagai contoh, saya telah menggunakan oracle untuk menyelidiki masalah tubuh-jiwa. Lihat Dembski [1990:203-205].

{5} Mungkin untuk membuat ceritanya lebih meyakinkan, baik pertanyaan maupun jawaban harus dalam bahasa Ibrani. Namun saya tidak yakin, bagaimana bentuk bahasa Ibrani dalam kode Morse, jadi saya tetap menggunakan bahasa Inggris.

{6} Batas universal kecepatan komputasi didasarkan pada waktu Planck, yang pada saat ini merupakan unit waktu terkecil yang bermakna. Batas waktu universal untuk computer elektronik melibatkan kecepatan jam antara sepuluh sampai dua puluh kali lebih lambat. Lihat Wegener [1987:2].

{7} Bahkan pada level atom, efek kuantum menyebabkan penyimpanan yang dapat diandalkan tidak dapat dilaksanakan. Memang, skala terkecil dimana penyimpanan yang dapat diandalkan memungkinkan adalah pada tingkat molekuler. Kita berterima kasih kepada pakar biologi molekuler untuk informasi ini.

{8} Lihat Balcazár [1990: bab 11] untuk memahami teori yang mendasarinya.

{9} Saya memilih faktorisasi karena faktorisasi mudah dipahami. Ada masalah yang bukan hanya dianggap sulit tetapi terbukti sulit.

{10} Lihat Turing [1950].

{11} Contoh ini muncul pertama kali dalam [1991: 104, note 6].

{12} Hume [1779:67].

{13} Jaki [1989:28].

{14} Lihat Jastrow[1980].

{15} Lihat Hoyle danWickramasinghe [1981:1-33, 130-141], Hoyle [1982:1-65], dan lampiran oleh Herman Eckelmann dalam Montgomery [1991].

{16} Küppers [1990:68]. Küppers adalah murid Manfred Eigen.

{17} Küppers [1990:68].

{18} Lihat bab 3 du Noüy[1947].

{19} Lihat Yockey [1977] dan artikel Behe dalam volume ini.

{20} Lihat buku baru yang akan terbit tentang intelligent design oleh William Dembski, Stephen Meyer, dan Paul Nelson.

REFERENSI


Balcázar, José L., Josep Díaz, and Joaquim Gabarr”. 1990 Structural Complexity II. Berlin: Springer-Verlag.

Dawkins, Richard. 1987 The Blind Watchmaker. New York: W. W. Norton.

Dembski, William A. 1990 “Convening Matter into Mind: Alchemy and Philosopher’s Stone in Cognitive Science.” Perspectives on Science and Christian Faith 42(4),
1990:202-226. 1991 “Randomness by Design.” Nous 25(1):75-106.

du Noüy, Lecomte. 1947 Human Destiny. New York: Longmans, Green and Company.

Hoyle, Fred. 1982 Cosmology and Astrophysics. Ithaca: Cornell University Press.

Hoyle, Fred and Chandra Wickramasinghe. 1981 Evolution from Space. New York: Simon & Schuster.

Hubble, Edwin P. 1936 The Realm of the Nebulae. New Haven: Yale University Press.

Hume, David.  1779 Dialogues Concerning Natural Religion. Buffalo: Prometheus Books. 1989.

Jaki, Stanley L. 1989 God and the Cosmologists. Washington, D.C.: Regnery Gateway.

Jastrow, Robert. 1980 God and the Astronomers. New York: Warner Books.

Johnson, Phillip E. 1991 Darwin on Trial. Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press.

Küppers, Bernd-Olaf. 1990 Information and the Origin of Life. Cambridge, Mass.: MIT Press.

Montogomery John W.,ed. 1991 Evidence for Faith: Deciding the God Question. Dallas, Texas: Probe.

Peter, Laurence J. 1977 Peter’s Quotations: Ideas for our Time. Toronto: Bantam-

Turing, Alan M. 1950 “Computing Machinery and Intelligence. Mind 59 (236)

Wegener, Ingo. 1987 The Complexity of Boolean Functions. Stuttgart: Wiley- Teubner.

Yockey, Hubert P.  1977 “A Calculation of the Probability of Spontaneous Biogenesis by information Teory.” Journal of Theoretical Biology 67:377-398.

Diterjemahkan dari sumber: http://www.leaderu.com/orgs/fte/darwinism/chapter7.html oleh Sherwin Ufi, disunting oleh Maddi Djara

Pos ini dipublikasikan di Copy Paste, Filosofi, William Dembski. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s