Injil Makanan

Di bawah ini adalah sebuah terjemahan tulisan yang intinya adalah tulisan satiris (sindiran) Gordon H. Clark terhadap cara orang menafsirkan Alkitab. Ada banyak yang kita pelajari dari tulisan ini. Btw, tulisan ini mengingatkan saya akan seorang yang bernama Hai Hai Bengcu yang menafsirkan Alkitab seenak jidatnya.

Injil Makanan
John W. Robbins

John W. Robbins

Catatan Editor: Terkadang kita bertemu dengan bagian tertentu dari sebuah tulisan yang kita baca dan yang pantas diejek. Kebanyakan dari tulisan seperti ini kita dapati dalam tulisan keagamaan karena tulisan-tulisan tersebut cenderung merupakan tulisan yang paling irasional. Beberapa paragraf berikut yang diambil dari buku James Jordan berjudul The Sociology of the Church, Essays in Reconstruction, mengingatkan kita akan sebuah tulisan satiris Gordon Clark yang diterbitkan Christianity Today tahun 1971, berjudul “Temuan Baru dalam Pencarian akan Yesus Historis.” Kami mencetak kutipan tulisan Jordan diikuti satir Clark.

Keutamaan Makan
James Jordan

Keimaman seluruh orang percaya berarti bahwa kita memerlukan partisipasi pribadi sepenuhnya dalam penyembahan. Penyembahan adalah tarian. Penyembahan adalah perintah untuk melakukan pertunjukkan. Penyembahan bukan seperti olahraga yang ditonton. Pandangan Yunani akan keutamaan perasaan atau keutamaan intelek, tidak ada kaitan dengan Kitab Suci. Kalau ada keutamaan yang dikemukakan Kitab Suci, maka keutamaan itu adalah keutamaan kegiatan makan. Alexander Schmemann menulis bahwa “dalam kisah Alkitab tentang penciptaan, manusia pertama-tama diketengahkan sebagai makhluk yang lapar, dan seluruh dunia adalah makanannya. Menurut penulis pasal pertama Kejadian, setelah perintah untuk berkembang biak dan menguasai bumi, maka diberikan perintah kepada manusia untuk memakan yang berasal dari bumi: ‘Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji …dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu’. Manusia harus makan agar hidup. Dia harus mengambil bagian dunia ke dalam dirinya sendiri dan merubahnya menjadi bagian dari dirinya, menjadi darah dan daging. Jadi manusia adalah apa yang dia makan, dan dunia disajikan sebagai meja makan besar bagi manusia.”

Schmemann kemudian mencatat bahwa “karena itu, tidaklah secara kebetulan bahwa kisah Alkitab tentang Kejatuhan sekali lagi berpusat sekitar makanan. Manusia memakan buah terlarang. Buah dari satu pohon, yang apapun artinya, tidak mungkin sama dengan buah yang lain di taman Eden: buah itu tidak ditawarkan kepada manusia untuk dimakan. Buah itu tidak juga diberikan atau diberkati Allah. Buah itu adalah buah yang kalau dimakan akan mendatatangkan kutukan karena hanya membuat orang bersekutu dengan diri sendiri bukan Allah. Gambaran seperti ini merupakan gambaran tentang dunia yang mencintai diri sendiri, dan makan adalah gambaran tentang kehidupan yang dipahami sebagai sebuah tujuan.”

Pada puncak dari penyembahan dalam Perjamuan Kudus, Yesus tidak mengatakan, “Pahami ini sebagai peringatan akan Aku.” Yang Dia katakan adalah, “Lakukan ini sebagai peringatan akan Aku.” Kerja mendahului setiap teori tentang apa yang sedang dilakukan.1

Temuan Baru dalam Pencarian akan Yesus Historis
Gordon H. Clark

Clark

Pilihan Emil Brunner pada ayat “Firman menjadi daging” sebagai dasar dari tema Injil yang asli adalah sebuah kejutan. Goethe mengindikasikan dalam terjemahannya yang brilian terhadap Yohanes 1:1, bahwa kata “Firman” adalah hasil intelektualisasi Helenistik yang tidak berdasar terhadap sebuah pesan sederhana yang disesuaikan dengan masyarakat yang berorientasi pertanian di tanah Palestina. Tak dapat disangkal bahwa Brunner menjatuhkan pilihan pada ayat itu karena latar belakang peradabannya di Zurich, tetapi pilihan ini akan sesuai dengan Sitz im Leben pertanian di jaman kuno. Interpretasi/penafsiran [satu naskah] tidak boleh mengabaikan situasi historis, karena seorang peneliti hanya akan berhasil kalau dia memiliki identifikasi imajinatif dengan isu yang dibahas.

Orang harus melakukannya secara ilmiah. Untuk merekonstruksi pesan utama dari Yesus historis, (mereka yang menolak keberadaanNya tidak ilmiah sama sekali dan menunjukkan ketidakpedulian objektif ala Hegel terhadap sebuah masalah eksistensial dan historis) orang tidak boleh menjadi seperti kaum fundamentalis yang mengasumsikan inspirasi verbal dan menyeluruh dari Kitab Suci. Para sarjana yang kompeten tidak lagi mempertimbangkan ulang atau malah tidak berpikir sama sekali tentang takhyul dari Reformasi Protestan yang sesat itu. Perjanjian Baru adalah buatan manusia yang begitu manusiawinya yaitu begitu bersifat Yahudinya sehingga mengabaikan hal ini sama saja dengan kalah sebelum memulai perang.

Setelah dilakukan identifikasi yang tepat dengan situasi historis, akan dengan mudah dipahami (bukti yang akan diberikan berlimpah) bahwa Yesus bukanlah produk filsafat Yunani, bukan pula kultus agama misteri, tetapi sesuai dengan latar belakang Yahudinya, Yesus merupakan pendukung hukum-hukum kaum Esene tentang makanan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kaum Farisi yang terlalu banyak itu. Gereja awal memodifikasi ajaran asli Yesus ini dan memperkenalkan kelonggaran Helenistik sebagaimana yang secara alami akan dilakukan mereka yang tidak dibesarkan dalam Yudaisme.

Karena itu, pasal yang mendasar bagi Injil yaitu setelah bagian lainnya didemitologisasi dan dipisahkan ke dalam berbagai lapisan, merupakan prinsip sosio psikologi yang terdapat dalam Matius 6:16: “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik…”

Karena itu percaya kepada Allah akan mengurangi masalah makanan: “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan [di sini naskahnya rusak, mungkin karena salinan yang terlalu awal, atau penulis asli (siapapun dia) terlalu banyak makan] atau apa yang akan kamu minum…. Bapamu yang di sorga memberi makan kepada mereka. Bukankah kamu lebih berharga dari mereka?”

Diet yang baik adalah diet yang memiliki jumlah kalori yang tepat. Saat ini banyak ditekankan pengurangan kalori. Dalam konteks historisnya perlu ditekankan kecukupan kalori. Karena itu Yesus berkata (dan ini adalah salah satu bagian dimana kita bisa yakin bahwa ini adalah kata-kata Yesus sendiri), “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti?” Yesus ingin orang memahami bahwa kalori di batu hanya sedikit. Secara alamiah terlalu banyak kalori juga tidak baik; karena itu ular berlemak yang kalorinya terlalu tinggi yang disebut dalam ayat berikutnya tidak boleh menggantikan ikan dari danau Galilea.

Buah ara dan anggur sehat karena vitamin yang dikandungnya seperti diindikasikan dalam Matius 7:16; namun babi terlalu gemuk (bandingkan Matius 8:32), dan daging cepat rusak di udara di Palestina.

Bahwa Yesus dengan seksama mengikuti rejimen diet itu terlihat dari fakta bahwa Yesus bisa menghadiri jamuan makan/pesta dan tidak pernah membutuhkan tabib (bandingkan Matius 9:12).

Tentu saja kita tidak dapat mengharapkan Yesus untuk berpegang pada gagasan yang lebih maju tentang masalah sosial. Namun demikian, pesan-Nya tentang diet akan membantu mengentaskan kemiskinan. Nyatanya, Dia merekomendasikan diri-Nya bagi mereka dari kelas kurang mampu dengan menunjukkan dalam Matius 11:5, bahwa “kepada orang miskin diberitakan injil tentang makanan.” Di sini tidak diragukan bahwa mereka yang menyalin ayat ini telah mengurangi dua kata, tetapi kritisisme komparatif dengan mudah memulihkannya kembali.

Secara alamiah, injil tentang makanan memiliki banyak musuh waktu itu seperti halnya saat ini yaitu dari kelas yang sudah mapan. Karena itu mereka membuat karikatur tentang Yesus dengan berkata bahwa “Anak Manusia makan dan minum dengan pelahap dan peminum.” Tentu saja ini pernyataan yang berlebihan karena kita harus menyeimbangkan diet dengan mengkonsumsi makanan yang cukup banyak kalori. Namun demikian, si gemuk kekurangan keseimbangan ini.

Walaupun Yesus kadang-kadang dan secara tidak disengaja berbicara tentang hal lain, makanan adalah keprihatinan utama-Nya. Pada pasal berikutnya Dia tunjukkan kepada para murid bagaimana bagaimana menguliti dan memakan biji gandum. Memakan biji gandum itu menyehatkan karena tidak mempunyai  zat aditif, dan makanan alamiah diterima eo ipso in statu puro, apapun yang dipersyaratkan oleh bahasa asli Yunaninya. Di sini kita melihat sebuah contoh istimewa tentang progresifitas wahyu karena beberapa ribu tahun sebelumnya Daud telah memakan roti bakar, tetapi para murid menikmati gizi sepenuhnya dari biji-bijian mentah.

Saat orang banyak mengetahui bahwa Yesus dan murid-murid memakan gandum mentah, maka Yesus merasa perlu untuk menjelaskan tentang bagaimana penabur menaburkan benih. Jenis-jenis tanah dan produktifitas 90% juga dijelaskan. Ini jelas menakjubkan. Tentu saja saat ini keadaan kita lebih baik, tetapi kalau kita menghakimi Yesus dengan norma pertanian moderen, maka kita mengabaikan sejarah. Saat itu gulma juga adalah masalah besar, dan untuk menyesuaikannya dengan kecurigaan para pendengarNya, Dia menggunakan gulma sebagai perumpanaan akan musuh.

Sarjana moderen tidak terkejut saat membaca bahwa Yesus memberi makan 5000 orang sekaligus. Tetapi evaluasi yang seksama tentang naskah ini menunjukkan adanya kesalahan serius. Setelah berabad-abad lamanya, tidak mungkin mengatakan dengan pasti seberapa asli perikop in. Tetapi tak dapat diragukan bahwa kelebihan dua belas bakul (Matius 14:20) bertentangan dengan prinsip jumlah yang tepat yaitu tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak.

Mereka yang ingin mengetahui secara detail tentang keutamaan makanan dalam pesan Injil dapat membaca Matius 9:17, 37, 38; 10:42, 12:33; 13:31-33; 14:9; 15:2, 11, 13, 17 (ayat 18 dan 19 are sudah tidak asli lagi); 16:26, 27, 32. (ayat-ayat ini juga patut dicurigai, tetapi tidak seburuk 14:20); 16:5, 6 (ayat ini juga tampaknya sudah tidak asli kalau kita membandingkan dengan 14:20); 20:1ff., 22; 21:19ff., 33ff.; 22:4ff.; 23:26, 37; 24:38, 49; 25:10, 26, 35, 37, 42.

Daftar ayat yang merujuk kepada makanan sudah cukup untuk menunjukkan tak terbantahkannya gagasan bahwa pesan utama Yesus adalah tentang makanan. Makanan memenuhi semuanya. Kalau kita menghilangkan ayat-ayat yang berlebihan, maka proporsionalitas ayat-ayat seperti di atas pun meningkat. Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa kita harus menafsirkan semua referensi ini sesuai dengan konteks saat ini. Para murid yang tidak pernah cukup memahami Pakar Diet yang mereka kasihi itu, menulis semua ini sesuai dengan apa yang menurut mereka merupakan pandangan Yesus. Namun demikian, tetapi mereka tidak pernah dapat menyembunyikan kenyataan bahwa Injil yang sebenarnya adalah makanan.

Walaupun tidak terlalu berhubungan dengan pencarian ulang kita akan Matius, kita tidak mungkin gagal mencatat pengaruh yang sangat luas dari injil ini; karena tidak mungkin ada sumber lain lagi bagi prinsip Feuerbach yang sangat mendalam itu bahwa der Mensch ist was er isst (manusia adalah apa yang dia makan). Ini merupakan alasan kuat bagi Barth yang menganggap Feuerbach sebagai teolog Protestan terbesar pada generasi pasca Schleiermacher.

Karena itu, puncak dari kehidupan Yesus adalah makanan. Kalau ilmu tentang kritisisme bentuk yang terbaru dan yang paling akurat diterapkan kepada kisah seperti ini dan kepada tulisan Plato berjudul Symposium, maka akan meyakinkan kita secara a priori bahwa makanan pastilah klimaks dari semuanya. Dengan kemampuan melodramatis mereka, para murid beranggapan bahwa mereka dapat memperbaiki jalan cerita ini dengan kematian dramatis dan sebuah kebangkitan sebagai deus ex machine (unsur baru yang mengakhiri sebuah cerita). Namun demikian, fakta asli memaksa mereka menyertakan cuka (mungkin berasal dari catatan asli dengan konteks yang lain) dalam cerita tentang kematian. Injil Yohanes menambahkan ikan dalam cerita kebangkitan, tetapi tidak ada seorang pun pada masa pasca Nicea ini yang memperhatikan Yohanes. Bahkan naskah A menghilangkan setengah bagian dari pasal-pasalnya. Puncak semua ini adalah Perjamuan Kudus. Dengan pesan Yesus yang konstan seperti ini, mengapa cerita tentang Perjamuan tidak menjadi bagian terakhir dalam kisah Yesus? Tidak ada akhir cerita yang lebih baik daripada itu. Jelas mereka makan roti, daging domba, saus mustar, dan anggur. Jadi Injil yang sebenarnya diakhiri dengan bahagia seperti halnya semua diet.

1. James B. Jordan, Th. M., The Sociology of the Church, Essays in Reconstruction (Tyler, Texas: Geneva Ministries, 1986), 31-32.

2. Gordon H. Clark, Christianity Today, 15 January 1971, 12-13.

Diterjemahkan Ma Kuru dari sini

Pos ini dipublikasikan di Gordon H. Clark, James B. Jordan, John W. Robbins, Terjemahan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Injil Makanan

  1. Maria Siapa??? Ozawa? berkata:

    Menurut anda Tuhan itu ada berapa?

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s