Ketidakresahan yang Meresahkan

Sam Harris

Ada hal yang aneh dari kerapuhan logis setiap tulisan [Sam] Harris karena setiap argumen yang dia kemukakan berhenti sebelum argumen itu menjadi relevan. Keprihatinan moral yang terkait biologi? Daftarnya panjang: aborsi, riset sel induk, euthanasia, pembunuhan anak, kloning, hibrid manusia dan hewan, kelainan seks. Daftar ini akan menjadi panjang seiring dengan adanya campur tangan para ahli yang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab di dalam kehidupan manusia. Dalam bukunya Letter to a Christian Nation, Harris berargumen bahwa “kecemasan” tentang riset sel induk “tidak pantas” karena kecemasan seperti ini “tidak dapat dipertahankan.” Kecemasan ini tidak dapat dipertahakan karena tidak lebih dari sebuah “irasionalitas berbasis iman.”

Ucapan-ucapan seperti ini khas; ini adalah gaya bahasanya. Ucapan-ucapan ini mengundang tanggapan yang jelas. Terlepas dari fakta bahwa hal seperti ini berbasis iman, apa yang membuat tentangan yang barbasis iman irasional?

Ada yang merasa pertanyaan ini meresahkan – saya adalah salah satunya –  karena ateis seperti Harris jelas tidak resah karena pertanyaan-pertanyaan ini. Keyakinannya setenang wajahnya yang polos. Suara peringatan yang jelas bagi banyak orang beragama terkait riset sel induk, aborsi, atau euthanasia tampaknya berada pada frekuensi yang dia tidak dapat tangkap.

Ini sangat aneh mengingat apa yang para filsuf moral sebut sebagai bidang miring licin terbukti cukup licin dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 1984, Belanda melegalkan euthanasia. Kritik langsung menolak dengan alasan bahwa karena diperbolehkan membunuh pasien lanjut usia berdasarkan permintaan, dokter-dokter akan memiliki alasan pasien sekehendak mereka. Ini benar-benar terjadi. The Journal of Medical Ethics yang meneliti praktek dokter di rumah sakit Belanda melaporkan bahwa 3 persen kematian di Belanda tahun 1995 adalah karena “dibantu” dokter dan dari jumlah itu seperempatnya bukan karena sukarela. Dokter langsung membunuh pasiennya, tentunya setelah meyakinkan keluarga pasien bahwa Grootmoeder (nenek) merekalah yang menginginkannya. Akibatnya banyak lansia di Belanda yang memiliki sertifikat yang mengatakan mereka tidak menginginkan dokter membantu mereka mati, sadar dari koma mereka saat sakit, dan hidup cukup lama untuk memerintahkan para pembunuh sialan tersebut untuk enyah. Penulis laporan tersebut, Henk Jochensen dan John Keown melaporkan dengan nada halus bahwa “Klaim pemerintah Belanda tentang peraturan yang efektif kurang tepat.”

Seperti yang diungkapkan Dr. Peggy Norris dengan sedikit kasar, “tidak dapat dikendalikan.”

Kalau demikian adanya, mengapa Harris begitu yakin bahwa riset sel induk dapat dikendalikan?

Kalau tidak dapat dikendalikan, apa yang irasional dengan penolakan terhadap kebijakan sosial yang pada akhirnya seperti di Belanda, tidak baik, dan bahkan menjijikkan?

Saya bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak ilmuwan ateis yang mau menjalani masa tuanya di Belanda.

Keterangan: Sam Harris adalah salah satu dari mereka yang disebut Ateis Baru yaitu ateis militan yang argumennya sebenarnya hanya argumen lama yang sudah dibantah tetapi diangkat ulang.

The Devil’s Delusion, David Berlinski, halaman 31-33. Terjemahan Ma Kuru   

Pos ini dipublikasikan di Ateisme, David Berlinski, Filosofi, Sam Harris. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s