Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

Minggu (29 Mei 2011) lalu saya mendengar pesan Oikumene PGI dibaca pasca kebaktian di gereja yang saya hadiri. Saat itu saya melihat hal yang tidak beres dengan pesan tersebut. Hal yang menurut saya merupakan pelecehan terhadap intelektualitas jemaat dan sekaligus pembodohan jemaat. Saya hendak langsung menulis tanggapan terhadap surat tersebut, namun karena ada kemungkinan reaksi tersebut hanyalah reaksi berlebihan dari pihak saya, maka saya merasa perlu untuk mendapatkan salinan surat tersebut. Setelah beberapa saat akhirnya saya dapatkan salinan surat tersebut di: http://yakomapgi.org/pesan-bulan-oikoumene-2011. Agar tulisan ini tidak terlalu panjang, saya tidak akan menaruh surat tersebut di sini.

Pasal yang dipakai sebagai dasar bagi pesan Oikumene tersebut adalah Efesus 2 : 14 – 22. Ayat ini berbicara tentang fakta bahwa dalam Yesus Kristus tidak ada pemisah lagi antara orang Kristen Yahudi dan orang Kristen non Yahudi. Jadi konteksnya adalah isu internal di antara orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Konteksnya adalah orang yang memiliki pokok iman yang sama dan surat ini mengharapkan agar perbedaan kecil tidak ditonjolkan. Mengangkat ayat ini dan menerapkannya dalam konteks yang lebih luas adalah sebuah lompatan logika yang sangat jauh. Dengan kata lain, argumen yang dikemukakan pasti tidak akan valid.

Dalam surat tersebut, ada tiga poin yang isinya ringkas dan padat dan masing-masing point tersebut masih bisa dipecah lagi menjadi point-point kecil. Saya hanya akan menanggapi hal-hal yang saya anggap perlu untuk ditanggapi.

Point Pertama
a. Bahwa bulan Oikumene merupakan pengingat akan komitmen dan tekad gereja-gereja mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa (GKYE). Masalahnya dalah Gereja Kristen yang Esa yang dimaksud adalah gereja yang tidak mempedulikan definisi di balik istilah-istilah yanng dipakai bersama. Ada banyak gereja yang semuanya berbicara tentang Yesus misalnya, tetapi Yesus yang dimaksud tidak selalu merujuk kepada orang yang sama antara satu gereja dengan gereja yang lain. Ada yang merujuk kepada Yesus yang sebenarnya bukan Tuhan tetapi merupakann produk dari kultur pada jamannya. Ada yang merujuk kepada Yesus yang sebenarnya tidak pernah mengadakan mujizat. dst. Persatuan seperti ini hanyalah persatuan yang semu dan persatuan yang menjerumuskan jemaat menjadi jemaat yang tidak menggunakan intelektualnya saat berurusan dengan iman atau yang mengalami skizofrenia karena di satu pihak dalam kehidupan sehari-hari dia harus menggunakan intelek secara penuh dan di pihak lain dia harus mengabaikan dan malah mematikannya.

Keberatan yang pernah saya dengar terkait dengan kritik seperti di atas adalah: “Yaaaahh.. khan kita percaya kepada satu pribadi saja tetapi pemaknaannya berbeda.” Kedengaran menarik tetapi begitu irasional. Kita sedang berbicara tentang satu pribadi dan pribadi tersebut dipahami sebagai A oleh kelopok A, B oleh kelompok B, dan C oleh kelompok C dimana A, B, dan C saling bertentangan satu dengan yang lain. Masalahnya adalah apakah orang yang memaknainya sebagai A menganggap A sebagai benar atau tidak? Kalau A dimaknai sebagai benar, maka B dan C pasti salah. Mengakui ketiganya sebagai sama-sama benar sama dengan bunuh diri intelektual.

Ada juga yang mencoba untuk berargumen bahwa pertentangan pandangan seperti ini tidak signifikan. Contoh yang diangkat misalnya adalah soal mode baptisan. Ada yang mengatakan “selam” ada yang mengatakan “percik”. Tetapi perbedaan itu tidak penting. Toh yang penting untuk keselamatan bukan cara baptisan itu sendiri tetapi iman kepada Yesus Kristus sebagai Sang Penebus. Namun masalah dengan argumen seperti ini adalah bahwa pandangan seperti itu mengasumsikan bahwa Alkitab merupakan standar sehingga kalau Alkitab mengatakan sesuatu tidak penting, maka isu itu tidak penting. Pertanyaannya adalah, apakah pendukung Oikumene buta seperti ini mau menerima Alkitab sebagai standar saat berbicara tentang siapakah Yesus? Sepertinya tidak, karena kalau mereka menerima pasti mereka tidak akan menggagas gerakan tersebut. Jadi ada standar ganda dalam jawaban seperti itu.

Mungkin ada yang mengatakan “Tidak usahlah terlalu mementingkan Alkitab!” Tetapi kalau tidak menggunakan Alkitab, maka dia akan bertentangan dengan orang yang menggunakan Alkitab sebagai standar dan menyatukan kedua golongan sama saja dengan menjadi irasional.

Mungkin ada juga yang mengatakan bahwa yang memiliki kepercayaan berbeda itu hanyalah para pemimpin gereja sedangan gerejanya sendiri sebenarnya memiliki ajaran yang benar. Benarkah demikian? Ataukah orang tersebut sedang membutakan diri terhadap kenyataan. Kalau pemimpin-pemimpin sebuah gereja berpandangan yang bertentangan dengan standar gereja tersebut, apakah dapat dikatakan bahwa gereja tersebut masih mempunyai standar yang benar? Secarra de facto tidak.

Tampaknya tidak ada tempat pelarian bagi pendukung Oikumene seperti ini selain menerima pandangan Marx bahwa agama adalah candu.

b. Dokumen pesan Oikumene itu juga menyebutkan bahwa yang menjadi dasar dari gerakan Oikumene adalah adalah doa Yesus Kristus sendiri dalam Yohanes 17 : 21 yang menginginkan orang percaya menjadi satu. Kedengaran sangat rohani sampai kita membaca Alkitab dan menemukan bahwa ayat ini diambil di luar konteks Alkitab dan diplintir untuk mendukung Oikumenisme irasional (lihat bagian a) seperti ini.

Pendukung-pendukung gerakan Oikumene sepertinya lupa bahwa Yesus pernah mengatakan bahwa Dia datang untuk membawa perpecahan antara yang percaya dan tidak percaya. Membutakan diri terhadap fakta bahwa institutisi yang menyatakan diri sebagai “gereja kristen” memiliki pandangan berbeda terkait istilah yang digunakan bersama sama saja dengan mendukung irasionalisme dan menjerumuskan jemaat ke dalam irasionalisme – baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Ataukah kita harus meyimpulkan bahwa para pejabat yang mendukung Oikumenisme tidak paham logika sama sekali? Saya tidak tahu!

c. Mereka yang mengeluarkan Pesan Oikumenis tersebut juga mengatakan bahwa “kita” tidak memandang perbedaan-perbedaan sebagai sesuatu untuk dipertentangkan. Saya anggap “kita” merujuk kepada jemaat yang setuju dengan Oikumenisme karena ada juga orang Kristen yang tidak setuju dengan Oikumenisme irasional seperti itu. Ataukah ini hanyalah propaganda untuk mengatakan bahwa semua orang Kristen setuju dengan Oikumenisme? Terlepas dari itu, harus diingat bahwa tanpa dipertentangkanpun, perbedaan yang ada sudah merupakan pertentangan. Menjadi tidak bertentangan hanya kalau intelek diabaikan seperti diuraikan dalam bagian a di atas.

d. Lalu apa hubungan semua itu dengan ayat pendukung dari Efesus 2 : 14 – 22? Tampaknya tidak ada hubungan sama sekali karena Oikumene berbicara tentang orang yang memiliki kepercayaan bertentangan yang dibalut istilah yang sama, sedangkan ayat tersebut berbicara tentang orang yang memiliki kepercayaan yang sama yang diminta untuk tidak menggunakan perbedaan kecil sebagai alasan untuk berpisah.

Point Kedua
a. Pada point ini dijelaskan bagaimana ayat dari Efesus 2 : 14 – 22 mendukung pesan Oikumenisme. Dikatakan bahwa ayat ini menekankan Aroma Ilahi (apapun itu artinya) yang perlu dihadirkan di antara manusia dengan manusia termasuk yang berbeda agama dan antara manusia dengan alam. Seperti dikatakan dalam pengantar, hal ini sudah tidak ada hubungan lagi dengan ayat yang diangkat sebagai dasar pesan yang ingin disampaikan. Kita melihat betapa irasionalnya mereka yang disebut pemimpin umat. Kalau pemimpin begitu irasional, apa yang dapat diharapkan dari umatnya?

Lalu apakah saya hanya perlu menerima begitu saja ajaran para pemimpin karena mereka berpendidikan tinggi? Tentu saja tidak! Pendidikan dan posisi tinggi tidak menjamin benar atau rasionalnya pandangan seseorang. Demikian juga jubah dan toga kependetaan tidak membuat seseorang menjadi Tuhan yang harus diikuti setiap katanya.

Dalam surat ini juga terlihat adanya ada keprihatinan yaitu dimana para pemimpin PGI ini menginginkan perdamaian. Apakah saya anti perdamaian sehingga mengkritik pesan mereka? Tidak! Saya sangat pro perdamaian. Yang saya tentang dalam tulisan ini adalah memutarbalikkan Alkitab untuk mengatakan apa yang tidak dia katakan. Ini adalah bentuk ketidakjujuran – entah sengaja atau tidak sengaja. Ada ayat Alkitab yang lain lebih pas untuk pesan perdamaian antar kelompok yang tidak sepandangan mendasar.

Lalu mungkin ada yang bertanya, nah, kalau kamu setuju dengan pesannya kenapa harus ribut? Toh kita memiliki tujuan yang sama! Masalahnya adalah tujuan yang sama tidak mengharuskan semua jalan sama benar. Sebuah tujuan baik tidak mengharuskan kita menggunakan segala macam cara untuk mencapainya. Tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang baik pula, bukan pemutarbalikkan.

b. Surat ini juga mengangat ayat 20 dari Efesus 2 dimana Yesus dikatakan sebagai “Batu Penjuru” dan mengatakan bahwa Yesus harus menjadi Batu Penjuru untuk mewujudkan kemanusiaan baru. Kalau yang dimaksud adalah sebuah pandangan yang menyamakan setiap pandangan dasar/agama, maka ini sudah bertentangan dengan ayat yang diangkat sebagai pendukung. Dalam ayat ini, Batu Penjuru adalah batu penjuru dari sebuah bangunan yang dibangun dari dasar ajaran para rasul, bukan batu penjuru dari sebuah bangunan yang fondasinya bermacam-macam.

Mungkin ada yang mengatakan “Apakah anda tidak mau kalau prinsip-prinsip kekristenan diterapkah dalam konteks lain?” Sekali lagi saya sangat setuju prinsip Kristen diterapkan dalam aspek kehidupan yang lain, tetapi yang saya tidak inginkan adalah pemutarbalikkan ayat Alkitab. Ayat Alkitab yang diangkat tidak mendukung penerapan yang dimaksud. Yang saya inginkan adalah kejujuran, kenapa tidak gunakan ayat Alkitab lain yang lebih pas untuk konteks itu? Kenapa harus mengilangkan batas-batas antara orang percaya dan tidak percaya berdasarkan ayat yang tidak mengajarkannya? Ataukah yang kita saksikan dalam surat oikumene ini hanyalah manifestasi “spirit” yang sedang bekerja di antara para politikus atau pejabat di Indonesia dimana segala sesuatu bisa diplintir? Lalu mana yang dikoar-koarkan sebagai “suara kenabian” gereja?

Point ketiga
Pada point ini dikemukakan bahwa seiring dengan perayaan Oikumene, berbagai masalah yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Saya tidak melihat hubungannya dengan ayat yang diangkat dan dengan pesan yang disampaikan. Rata-rata orang Indonesia prihatin dengan masalah-masalah di Indonesia walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan Oikumene. Kalau begitu apa sumbangan Oikumene terhadap upaya pemecahan masalah tersebut? Saya tidak melihatnya sama sekali dan malah mungkin Oikumene memperburuk situasi karena gerakan seperti ini mengarahkan orang/jemaat untuk mengabaikan pikiran dan tidak berdisiplin dalam berpikir – seperti dibahas dalam point sebelumnya

Tampaknya dari ketiga point tersebut tidak ada hubungan sama sekali dengan ayat pendukung. Yang ada hanyalah kesimpulan yang ditarik-tarik dari ayat dimaksud. Disamping itu ada pula berbagai isu sosial yang diangkat (yang tanpa Oikumene pun orang sudah prihatin) dan yang justeru gerakan Oikumene memberi sumbangan yang negatif terhadap penyelesaian masalah-masalah tersebut.

Sebagai follow up dari ketiga point di atas, surat tersebut juga berisi tiga himbauan yaitu memperkuat persekutuan dalam PGI dalam rangkan mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa, menjadi teladan dalam mewujudkan perdamaian, aktif membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi Indonesia. Tiga himbauan inipun tidak ada hubungan dengan pesan ayat pendukung yang diangkat.

Dengan pesan seperti ini, contoh yang dapat ditangkap hanyalah pemutarbalikkan teks dan ketidakkonsistenan logika. Ini hanyalah pelecehan terhadap intelektualitas jemaat dan pembodohan jemaat. Dengan contoh seperti ini dari para pemimpin, tanyakan pada diri sendiri apa yang dapat diharapkan dari jemaat!

Pos ini dipublikasikan di Pesan Bulan Oikumene, PGI, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s