Apa itu Pragmatisme dan Bagaimana Dia Merusak Gereja

Pragmatisme mengatakan bahwa hasil yang nampak adalah tolok ukur untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau berguna. Didorong oleh pragmatisme, gereja-gereja Injili saat ini seringkali mendasari metode yang mereka gunakan dan pesan yang yang mereka berikan pada studi tentang filsafat manusia dan studi pemasaran orang yang tidak percaya, bukan pada studi Firman Tuhan. Hasilnya adalah bencana.

Pragmatisme didefinisikan
Pragmatisme adalah sebuah filsafat yang mengatakan bahwa hasil merupakan kriteria yang harus kita gunakan untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau bermanfaat. Dalam gereja Injili masa kini, pragmatisme diterjemahkan ke dalam cara berpikir yang mengatakan, “Jika kita melihat hasil yang tampak (misalnya., pertumbuhan keanggotaan, persembahan yang lebih besar, bangunan yang lebih besar, kegiatan yang bervariasi, atau reputasi yang lebih baik di mata dunia) pastilah Tuhan sedang memberkati kita.”

Pragmatisme dalam Gereja
Berdasarkan filsafat ini, Purpose-Driven church, Emergent church, dan gerakan-gerakan lain yang mencoba “merubah gereja dan Injil secara radikal”, mendasarkan berita dan metode mereka pada studi tentang filsafat manajemen dan studi pemasaran orang tidak percaya. Hasilnya bukanlah gereja “yang lebih sehat” yang diiklankan oleh gerakan-gerakan ini. Sebaliknya, gereja-gereja yang menjadi mangsa pragmatisme semakin banyak mempunyai anggota yang tidak percaya (yang mereka anggap percaya), dan orang percaya yang sejati mengalami kelaparan rohani.

Namun para pemimpin gerakan-gerakan ini mengabaikan begitu saja masalah yang mereka ciptakan. Rick Warren, pemimpin gerakan Purpose-Driven Church, bahkan sampai mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah seorang penganut pragmatisme. Berikut ini adalah kutipan dari buku pegangan gerakan ini yang berjudul The Purpose-Driven Church:

Saat Yesus mengutus murid-Nya untuk pekabaran Injil yang pertama, Dia menentukan target yang spesifik: Mereka harus memusatkan perhatian pada sesama orang Yahudi. “Kedua belas murid tersebut Yesus utus dengan perintah: ‘Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. ” (Mat. 10:5-6).

Mungkin ada beberapa alasan Yesus mengerucutkan target tersebut, tetapi satu hal yang jelas: Dia menargetkan orang-orang yang masih mungkin dijangkau para murid-Nya — yaitu orang yang seperti para murid itu sendiri. Yesus tidak sedang berprasangka, Dia bertindak strategis. Seperti saya sebutkan dalam bab 9, Yesus menentukan target para murid sehingga mereka efektif, bukan supaya eksklusif.1

Kesesatan Pragmatisme
Bukannya mendukung pandangan pragmatis, ayat-ayat yang dikutip di atas malah menunjukkan bahwa pragmatisme tidak sesuai dengan kebenaran. Pertama, Warren si pragmatis sama sekali mengabaikan ajaran yang jelas tentang hal ini dalam Firman Tuhan. Alasan Alkitab mengatakan bahwa Yesus dan para murid pergi kepada domba Israel yang hilang adalah: karena hal itu merupakan rencana Allah sejak kekal, dan karena sudah menjadi tugas Anak Allah yang bertindak seturut dengan kehendak Bapa di surga untuk melakukan demikian (Yesaya 53; Matius 5:17, 11:20-30, 15:24, 23:29-39, 26:63-64; Markus 11:15-17; Yohanes 1:11, 1:43-51, 4:25-26, 4:35, 6:38-40). Itu tidak ada hubungan sama sekali dengan “keefektifan” berdasarkan standar manusia.

Kedua, kalau kita mengevaluasi hasil berdasarkan pragmatisme manusia — yaitu hasil yang terlihat — maka yang disebut “strategi” Yesus itu sangat tidak efektif: orang Yahudi menolak Dia sebagai Mesias. Mereka menyalibkan Yesus. Mereka menganiaya para murid sampai mereka harus keluar dari Yerusalem dan tersebar di antara bangsa lain. Dalam standar manusia, ini adalah kegagalan besar. Tetapi dalam rencana kekal Allah, kegagalan pragmatis ini membawa keselamatan dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Kekristenan yang sebenarnya
Sebuah restoran populer Amerika mengeluarkan iklan dengan slogan pragmatis, “Tidak ada aturan, semua benar.” Mungkin ini menarik bagi sebuah bisnis dimana cita rasa konsumer merupakan standar tertinggi. Tetapi bagi gereja Kristus, Alkitab memperingatkan kita untuk tidak jatuh ke dalam perangkap filsafat sia-sia seperti ini:

Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia….Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?? (Galatia 4:3, 9)

Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:…? (Kolose 2:20)

Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (Kolose 2:8-10)

Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.. (1 Korintus 2:4-6)

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.. (1 Korintus 2:13-16)

Referensi:

1. Rick Warren, The Purpose-Driven Church (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1995), hal 187.

Diterjemahkan Ma Kuru dari artikel asli di sini oleh Paul Elliot

Pos ini dipublikasikan di Paul Elliot, Rick Warren, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s