Sedikit Informasi yang Perlu Dipertimbangkan Mengingat Klaim Roma

…..Bahkan [istilah] “Paus” tidak secara eksklusif digunakan oleh Uskup Roma. Dalam tulisannya yang berjudul Illustrating Papal Authority A.D 96-454, E. Giles mengutip bukti arkeologis yang menunjukan bahwa  penggunakan terawal dari “Papa” untuk Uskup Roma adalah sekitar abad ke-4. Dia juga menunjukkan bahwa Uskup Kartage dan Uskup Alexandria sama-sama disebut “Paus” setidak-tidaknya lima puluh tahun sebelumnya. Seperti yang dikatakan beberapa sejarahwan gereja, petunjuk awal bagi kekuasaan “Paus” terdapat dalam surat Clement, Uskup Roma ketiga, kepada jemaat di Korintus (tahun 95 Masehi). Namun demikian, hal itu hanyalah sebuah kesimpulan tersebut yang meragukan. Clement tidak menegaskan otoritas yurisdiksi, tetapi keprihatinan rohani terhadap orang-orang Kristen di Korintus yang saling bermusuhan, dan dia menegur mereka atas perilakunya yang tidak bisa diatur. Secara analogis, ini tidak ada bedanya dengan seorang pendeta yang menulis surat menegur saudara-saudara Kristen di jemaat lain yang bukan jemaatnya. Tentu saja ini tidak sama dengan berkuasa atas mereka….

Cyril C. Richardson dalam tulisan pengantarnya terhadap Surat Clement yang Pertama menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Tidak ada bukti bahwa gereja Korintus meminta pertimbangan gereja di Roma
  2. Bukanlah hal yang luar biasa bagi pemimpin di satu gereja untuk mengirim surat yang bersifat nasehat dan peringatan kepada gereja lain. Praktek apostolik ini merupakan contoh yang diikuti oleh Ignatius, Polykarpus, Dionysius dari Korintus, Serapion dan banyak lagi yang lain.
  3. Setiap komunitas Kristen merasa semacam tanggung jawab terhadap komunitas Kristen lain. Gereja-gereja local tidak dipandang sebagai unit-unit terpisah sama sekali dan otonom mutlak.
  4. Dokumen ini ditulis atas nama jemaat.
  5. Surat tersebut sangat berbeda dari keputusan Paus dan tidak mengklaim sebagai memiliki otoritas yang lebih tinggi.
  6. Mendasari tegurannya pada otorotas Kitab Suci dan melakukan persuasi untuk mencapai tujuannya.

Sumber: Henry T. Hudson,  Papal Power: Its Origin and Development, terbitan Trinity Foundation halaman 43 (terjemahan Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Katolikisme. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s