Gordon H. Clark tentang Definisi Agama dan Metode Psikologi Untuk Mendefinsikan Agama

Apakah Kekristenan itu Agama?

Clark

Apakah ada sesuatu yang disebut agama dimana Kekristenan adalah salah satu manifestasinya? Ada dua alasan mengapa pertanyaan ini penting. Pertama, jawaban terhadap pertanyaan ini akan mengungkap apa yang orang percaya tentang kekristenan. Kedua, secara lebih luas lagi jawaban terhadap pertanyaan ini menentukan metode yang akan digunakan dalam merumuskan filsafat agama. Karena itu saya kemukakan lagi pertanyaan yang sama dengan cara yang berbeda: apakah kekristenan merupakan spesies dari sebuah genus? Apapun jawabannya, ada masalah yang akan muncul. Jika kekristenan merupakan spesies dari genus agama, maka apa definisi agama dan apa karakteristik pembeda kekristenan? Jika bukan demikian (kekristenan bukan agama), filsafat agama dan filsafat kekristenan seperti apa yang dapat dikembangkan? Jelas bahwa langkah pertama yang perlu diambil dalam membahas semua ini adalah definisi agama. Apa itu agama?

Kesatuan dan Kepelbagaian

Agama adalah sesuatu yang sangat familiar bagi orang awam pada setiap jaman dan tempat. Dia melakukan ritus-ritus keagaamaan baik yang sederhana maupun yang rumit. Dia mempercayai doktrin atau ajaran agamanya. Walaupun keluhan kaum ortodoks atau kegembiraan ateis benar bahwa pengaruh agama tertentu terus menurun, pengalaman [terkait agama] tetap kuat. Di antara kaum terpelajar pun agama menjadi pokok pembahasan yang sering ditemui. Buku tentang Agama, Filsafat Agama, Psikologi Agama, dan Sejarah Agama tidak pernah berhenti ditulis. Tetapi walaupun agama adalah sesuatu yang tidak asing dan yang memiliki kepelbagiaan bentuk, justeru kedua sifat inilah yang membuatnya sulit dipahami.

Tak ada seorangpun yang menyangkali kepelbagaian agama. Ada kekristenan, ada Mohamadanisme, lalu ada Yudaisme, Hinduisme, Budhisme, agama suku di Afrika, serta agama-agama suku di pulau-pulau kecil. Meskipun ada perbedaan besar, semuanya disatukan dengan satu istilah yaitu agama. Dapatkah hal ini bertahan analisa tajam? Apakah memungkinkan untuk mengumpulkan semua itu di bawah satu definisi sehingga kita dapat membahasnya sebagai satu topik? Dalam botani misalnya, Bunga Bakung di lembah, Indian Cucumber Root, Nightshade, Bunga Solomon Seal, Asparagus, dan bunga bintang termasuk dalam family Bakung. Semua anggota family ini memiliki ciri yang sama yang menyatukannya dalam family Bakung sekaligus yang membedakannya dari family-family yang lain. Dapatkah hal yang sama diterapkan pada agama?

Seperti diharapkan, sudut pandang seperti ini telah dicoba. Bukan hanya dicoba, tetapi telah menjadi metode yang lazim. Tampaknya sesuatu yang masuk akal. Winstong L. King dalam bukunya Introduction to Religion menuliskan bahwa agama adalah banyak sekaligus satu. Walaupun ada penyangkalan tersembunyi akan adanya denominator bersama “yang netral”, [dia mengatakan bahwa] ada “sejenis kesatuan” dan ada “kemiripan aktual.” Pada akhir dari halaman ke-80 dia menyimpulkan, “Kita telah mencoba menggunakan istilah ‘agama’ dan ‘agama-agama’ dengan keyakinan bahwa kata itu memiliki makna yang membuatnya dapat dipahami.” Bahwa frase seperti itu ditulis setelah 80 halaman tulisan yang dimaksud untuk mendefinisikan agama mengindikasikan adanya kesulitan. Jelas Botani lebih mudah daripada agama. Namun penulis lain menunjukkan keyakinan yang lebih tinggi [dalam upaya mendefinisikan agama].

Profesor William E. Hocking dalam buku Living Religion and a World Faith, memulai dengan penegasan “Pada hakekatnya agama itu universal dan satu.” Pada dasarnya yang dimaksud oleh Hocking lebih dari sekedar kesatuan seperti family Bakung karena kemudian dia mengeluh bahwa pluralitas agama itu sendiri merupakan masalah bagi orang yang beragama, bagi filsuf, dan bagi negarawan yang berusaha menyatukan masyarakat. Namun kenapa itu bermasalah? Pluralitas family Bakung bukan masalah bagi pakar botani. Haruskah pluralitas agama menjadi masalah buat para filsuf? Seberapapun pluralitas ini menjadi masalah buat para negarawan yang berusaha menyatukan masyarakatnya, pluralitas malah menjadi berkat buat mereka yang mencintai kebebasan dan beranggapan bahwa agama sudah terlalu menyatu. Apa jadinya agama kalau misalnya lebih menyatu dari pada kesatuan generik family Bakung? Mengapa kesatuan agama harus menghilangkan perbedaan spesifik?

Dalam volume akhir, The Coming World Civilization, Profesor Hocking mengulangi penegasannya yang bersemangat tentang kesatuan agama. Pada bagian kelima dari buku tersebut, untuk memberi justifikasi terhadap pandangan bahwa semua agama pada hakekatnya sama, dia berargumen bahwa “pengakuan bukan pengesampingan” (137). Menurut Hocking, iman Kristen dan terlebih lagi ajaran Budha tidak memandang dirinya sebagai hipotesis yang saling bersaing dengan hipotesis lainnya. Setiap agama mengatakan diri sebagai sebuah Jalan kepada kedamaian; dan pengakuan akan sebuah jalan tidak mengesampingkan jalan lain. Dalam pengertian tertentu ada Satu-Satunya Jalan, tetapi bukan satu-satunya jalan yang ditawarkan masing-masing agama. Jalan itu adalah jalan universal. Hakekat dari pemahaman dan ajaran yang diterima kaum mistik di semua agama sama. Itu bukan hanya sekedar kemiripan tetapi kesamaan/keidentikan. Dengan demikian, Satu-Satunya Jalan bukanlah Jalan yang membedakan satu agama dengan agama yang lain, tetapi “Jalan yang sudah ada di semua [agama]… Dengan kata lain beberapa agama universal itu sudah menyatu di tingkat atas.[1]

Sebagaimana lazimnya, pandangan seperti itu mendorong orang mengajukan banyak pertanyaan. Sebagai contoh orang mungkin bertanya, apakah Hocking mendasarkan pernyataannya pada studi empiris terhadap beberapa agama? Apakah yang dia kemukakan itu diajarkan oleh agama yang dimaksud? Bagaimana Hocking sampai pada kesimpulan bahwa ajaran semua agama pada dasarnya identik? Kalau itu hanya menurut kaum mistik di setiap agama, dapatkah seorang yang mempelajari agama-agama menerima pandangan kaum mistik tersebut dan mengabaikan apa yang dikatakan penganut lain yang tidak mistik dari agama-agama tersebut? Tidak dapat dibantah bahwa prinsip “pengakuan bukan pengesampingan” Hocking setidaknya bertentangan dengan ajaran eksplisit beberapa agama. Pernyataan Yesus dalam Injil bahwa “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kecuali melalui Aku,” bersifat eksklusif. Demikian juga, Rasul berkata “Tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang dengannya manusia diselamatkan.” Untuk sampai pada pandangannya, Hocking harus beranggapan bahwa [pandangan] Kristus tidak esensial bagi kekristenan. Tetapi kritik [saya ini] agak prematur karena pada awalnya tampaknya cukup beralasan – khususnya bagi seseorang yang menulis sebuah buku tentang agama – untuk mengasumsikan bahwa pasti ada semacam kesatuan, entah kesatuan generis atau kesatuan yang lebih mendalam yang membuat agama sebagai bahan diskusi tunggal.

Pertentangan yang Meresahkan

Walaupun prinsip di atas tampak menjanjikkan dan bahkan sebuah keharusan, namun penerapannya sudah tampak mengalami kesulitan besar. Mungkin familiaritas kita terhadap agamalah yang membuatnya sulit dianalisa. Perbandingan berbagai volume tulisan tentang agama mengungkap pertentangan yang meresahkan, entah karena judulnya yang sama tetapi sebenarnya penulisnya tidak menulis tentang hal yang sama atau karena penulisnya menulis buku tebal menggunakan istilah-istilah ilmiah tetapi mereka tidak paham apa yang mereka tulis.

Golongan pertama mencerminkan para penulis – seperti King – yang dengan jujur, berani dan pantas dipuji telah merumuskan definisi agama secara eksplisit. Upaya yang jujur adalah sesuatu yang dapat diterima karena orang mengharapkan seorang penulis untuk menyatakan apa yang dia hendak tulis. Tetapi pengamatan cepat terhadap definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa semakin tegas definisi dari berbagai penulis, semakin jelas bahwa mereka tidak berbicara tentang hal yang sama. King menyertakan kepercayaan akan Tuhan dalam definisinya tentang agama. Setidaknya dia menggunakan huruf besar saat menulis tentang Obyek sembahan dan kemudian menegaskannya di pasal-pasal berikutnya (halaman 74 dst). Di lain pihak Julian Huxley dalam bukunya Religion without Revelation  mengatakan bahwa hakekat dari realitas reigius bukanlah Tuhan, tetapi perasaan suci (sense of sacred) yang seperti halnya perasaan lapar atau marah, tidak dapat dihilangkan. Walaupun dalam definisi dari Huxley tidak jelas apa yang dia affirmasi atau yang dia tolak, definisi ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa King dan Huxley tidak berbicara tentang hal yang sama saat mereka menggunakan istilah agama. Masih ada definisi humanistik lain yang dapat disebut samar atau jelas, tergantung pada cara sudut pandang orang terhadap definisi-definisi tersebut. Humanist Manifesto menganggap agama sebagai tindakan, tujuan, dan pengalaman yang secara manusiawi signifikan. Mungkin definisi ini kabur dan tidak bermakna. Tetapi kalau definisi ini dipahami secara harafiah, muncul pertanyaan menarik. Bukankah operasi usus buntu juga sesuatu yang signifikan secara manusiawi? Kalau demikian, maka operasi usus buntu termasuk kegiatan keagamaan. Jadi jelas apa yang disebut humanis sebagai agama tidak sama dengan agama dalam pemahaman penulis lain. Satu contoh lagi, William James cukup tegas saat dia mengatakan bahwa agama merupakan pengalaman manusia dalam kesendirian mereka. Namun demikian penulis lain juga tegas dalam mendefinisikan agama sebagai sesuatu yang bersifat sosial. Sementara itu penganut yang taat dari beberapa agama mungkin tidak setuju dengan semua definisi itu. Jelas bahwa apa yang seorang sebut sebagai agama tidak dianggap sebagai agama oleh orang lain. Semakin tegas definisi yang digunakan, semakin jelas bahwa para penulis tersebut tidak sedang berbicara tentang hal yang sama.

Kesulitan ini mengakibatkan munculnya kelompok kedua yang bertentangan dengan itu yaitu beberapa penulis tidak memahami apa yang mereka tulis. Mereka sadar akan ketidakmungkinan untuk mendefinisikan agama dan menggantungkan diri pada familiaritasnya demi memuaskan para pembaca. L. W. Grensted dalam The Psychology of Religion, mengatakan dalam bagian Prakata bahwa yang dibahas (agama) tidak jelas dan tidak memiliki definisi yang pasti; tidak ada bagian darinya yang jelas memiliki prioritas logis dan ilmiah; “selalu ada keraguan yang sewaktu-waktu menyerang tentang apakah agama merupakan bidang yang dipelajari psikologi.” Beberapa halaman kemudian dia mengakui “Adalah tidak mungkin mendefinisikan agama…. Karena itu satu-satunya cara yang dapat kita gunakan untuk mengatakan apa itu agama adalah melakukannya secara empiris, deskriptif, dan akumulatif. Kita harus kembali kepada…. apa yang dipahami orang awam tentang perilaku beragama.”[2] Namun kegagalan sejak awal itu tidak menghambat penulis menulis bukunya – sebuah paradoks lucu yang tampaknya dia nikmati.

Dengan demikian ada alasan yang cukup kuat untuk menerima posisi yang mengatakan bahwa agama tidak dapat didefinisikan. Itulah sebenarnya yang merupakan kesimpulan utama dari bab ini. Akan ditunjukkan secara definitif bahwa kita tidak dapat dengan yakin mengasumsikan bahwa agama memiliki makna yang membuatnya dapat dipahami, seperti dikatakan King. Kesimpulan seperti ini kadang-kadang menghasilkan orang seperti  Grensted yang punya pandangan yang jelas tetapi keras kepala. Namun demikian, ada alternatif lain yang akan disebut kemudian. Untuk saat ini khususnya saat pembicaraan baru dimulai, kita tidak boleh mengasumsikan bahwa agama tidak mungkin didefinisikan. Lebih baik kita membahas dua metode yang digunakan untuk mencoba mendefinisikan agama. Setelah melakukan itu dan ternyata semakin jelas bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan, baru kita tahu alasan mengapa kita tidak bisa mendefinisikan agama.

Pendekatan Psikologis

Secara umum ada dua metode yang digunakan untuk membedakan studi agama dari studi yang lain. Metode kedua – berdasarkan pengamatan akan kepelbagian bentuk dalam Mohamadanisme, Shintoisme, Brahminisme, dan sebagainya – bisa disebut sebagai metode komparatif. Namun pertama-tama marilah kita membahas pendekatan psikologis yang didasarkan pada pemahaman yang dekat terhadap pengalaman agama. 

Emosi versus Intelek

Ada banyak orang, baik yang terpelajar maupun tidak, yang percaya bahwa hakekat dari agama, yaitu faktor yang ada di semua agama adalah sejenis pengalaman emosional. Mereka meminimalisir kandungan intelektualnya. Walaupun Hocking berbicara tentang pencarian akan kebajikan dan tidak dapat disangkal bahwa kebajikan itu bukan emosi, penekanannya adalah pada semangat dari pencarian tersebut bukan pada isi dari kebajikan tersebut. Dia tidak serta-merta menyangkal bahwa ada faktor intelektual dalam agama, tetapi dia menegaskan bahwa tidak ada proposisi teoritis yang bisa benar terpisah dari perasaan. Tampaknya ini berimplikasi bahwa kebenaran matematispun tergantung pada semangat atau perasaan. Tetapi mungkin dia tidak mengatakan bahwa semua semangat bersifat keagamaan atau sesuatu yang terpuji. Mungkin yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar semangat/emosi adalah medium agama sehingga apapun yang berasal dari semangat “cenderung” bersifat keagamaan. King juga menekankan ciri agama yang emosional dan mengecilkan arti intelek. Dalam bagian Pengantar tulisannya, dia merujuk kepada “tulang-tulang kering pernyataan intelektual dari dogma agama” dibanding dengan “fenomena vital dari agama yang bernafas dan bergerak.”

Renungkan juga pandangan seorang pakar terkenal yang menekankan emosi. Menyadari kesulitan dalam mendefinisikan agama, James Bisset Prat dalam The Religious Consciousness, mengakui bahwa definisinya tentang agama mungkin sama jeleknya dengan definisi orang lain; tetapi dia percaya bahwa satu kata cukup akurat [untuk menggambarkan agama]. Katanya, agama adalah perilaku yang serius terhadap kekuatan-kekuatan yang orang percayai mengendalikan nasib mereka. Adalah kata perilaku yang dia tekankan dan yang dia gunakan untuk merendahkan arti penting intelek. Dalam studinya tentang pertobatan, dia mengatakan bahwa “hal yang esensial terkait pertobatan adalah unifikasi karakter,” dan ini merupakan “hal yang sangat penting dan satu-satunya hal yang esensial dari pertobatan…” (123). Unifikasi karakter ini melibatkan kehendak, emosi, dan pemikiran, tetapi terutama bersifat “moral.” “Sisi intelek dari proses ini tidak diabaikan sama sekali, walaupun sejujurnya sisi ini menjadi bagian yang paling kecil dibanding ketiga yang lain. Dalam banyak kasus tampaknya malah intelek memainkan peranan negatif.” 

Gagasan yang Sudah Terbentuk Sebelumnya

Agar tidak terlalu banyak berbicara tentang hal yang kita akan bahas kemudian, cukuplah kiranya saat ini untuk mempertanyakan apakah semua penyatuan tujuan atau karakter adalah sesuatu yang religius. Sebagai salah satu contoh pertobatan, Pratt memilih Ardigo yang meninggalkan keimaman Roma Katolik dan menjadi ilmuwan positivistik. Tidak diragukan bahwa ini adalah sejenis perubahan keyakinan, tetapi apakah ini pertobatan religius? Tentu saja jawabannya tergantung pada apa definisi agama yang digunakan. Pratt mencoba mempertahankan pilihannya akan contoh ini atas dasar bahwa dia tidak memperbolehkan pandangan yang sudah terbentuk sebelumnya dari teologi Kristen untuk mempengaruhinya. Tampaknya memilih contoh pertobatan yang sesuai dengan teologi Kristen saja sama artinya dengan meninggalkan objektifitas sains. Namun demikian, walaupun Pratt mungkin tidak memilih contohnya dari sudut pandang agama tertentu yang kita kenal, tetapi dia memilih contohnya berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang sudah terbentuk sebelumnya, yang bisa disebut sebagai agama pribadinya. Dari sudut pandang logis, tidaklah berbeda entah asumsi seseorang itu filosofis atau religius, dan kristen atau tidak. Kalau menggunakan teologi Kristen sebagai pandangan mendasar adalah perbuatan tercela, apakah memiliki pra-anggapan lain kurang tercela? Tampaknya satu-satunya perbedaan antara keduanya adalah bahwa penulis yang menggunakan pandangan dasar Kristen menyadarinya sedangkan penulis ilmiah kadang-kadang mengklaim bahwa dia tidak memiliki pandangan yang sudah terbentuk sebelumnya. Dengan kata lain, Pratt mencoba menghindari bias pandangan Kristen tentang pertobatan tetapi tampaknya tidak menyadai akan biasnya sendiri yang mengasumsikan perubahan keyakinan Ardigo sebagai pertobatan keagamaan dan bahwa hakekat agama adalah penyatuan karakter. 

John Bunyan dan Jonathan Edwards

Selanjutnya ketertarikan Pratt pada pertobatan, menunjukkan arti penting yang dia berikan kepada emosi. Disamping kasus Ardigo yang meragukan untuk disebut pertobatan, Pratt juga menyebut dua pengalaman yang jelas merupakan pengalaman keagamaan yaitu dari pengalaman David Brainerd dan John Bunyan. Dua contoh ini pada hakekatnya melewati proses yang sama. Saat mereka memikirkan kondisi jiwa mereka, cara pikir lama mereka justeru memberi mereka rasa depresi. Mereka merasa tidak berdaya. Dengan hasrat akan keselamatan, akhirnya  mereka menyadari keberdosaan mereka dan ketidakmampuan mereka menolak pencobaan. Ketidakmungkinan mereka menyenangkan Tuhan dengan upaya mereka sendiri, membuat mereka putus asa. Tetapi kemudian muncul kedamaian yang besar dalam hati. Pratt menyimpulkan bahwa “seluruh drama ini adalah drama tentang emosi. Yang terjadi adalah penggantian satu emosi dengan emosi yang lain” (147). Perasaan lebih ditekankan lagi dalam bab-bab selanjutnya tulisan Pratt melalui kesalahpahaman yang serius tentang teologi protestan. Dari tesis bahwa manusia dengan upaya sendiri tidak dapat memenuhi standar Tuhan, Pratt mengambil kesimpulan yang salah bahwa “karena memusatkan perhatian pada pemikiran, perbuatan atau kehendak adalah sebuah kesia-siaan, maka tidak terelakkan bahwa perhatian setiap orang yang menginginkan keselamatan dialihkan kepada perasaan. Perasaan dapat membantu – yaitu perasaan berdosa dan putus asa – dan tidak ada yang lain selain perasaan yang bisa membantu”  (149). Dengan interpretasi seperti ini terhadap situasi yang dia angkat, Pratt meremehkan pertobatan Bunyan.

Meluruskan kesalahpahaman Pratt tentang teologi protestan justeru akan memperumit disksusi. Tetapi ada satu hal yang jelas yang harus disinggung. Karena ajaran protestan menyatakan bahwa manusia dengan segala upayanya tidak dapat memenuhi standar Allah, maka tidak terelakkan bahwa perasaan dan emosipun tidak lebih baik daripada pemikiran, atau perbuatan, atau kehendak. Karena itu anugerah ilahi tidak lebih membutuhkan emosi daripada pemikiran, perilaku, dan kehendak. Namun demikian, daripada mencoba meluruskan pandangan Pratt tentang kekristenan injili, lebih baik untuk menunjukkan bagaimana dia menggunakan interpretasinya demi meremehkan pertobatan Bunyan. Dia mengeluhkan bahwa Bunyan tidak mendapatkan gagasan baru dari pertobatannya tersebut; tidak ada perubahan karakter atau kehendak yang terjadi; tidak ada unifikasi yang dicapai. Dengan keluhan seperti ini Pratt terlibat dalam sebuah ketidakkonsistenan yang ganjil. Jika tidak ada perubahan kehendak atau karakter yang terjadi, seharusnya Pratt tidak menggunakan contoh tersebut sebagai contoh pertobatan karena sebelumnya dia katakan bahwa “hal yang esensial terkait pertobatan adalah unifikasi karakter” (123). Jadi untuk kasus Ardigo, Pratt memilih sebuah perubahan keyakinan yang bukan merupakan pertobatan keagamaan (setidaknya dalam pengertian yang populer), sedangkan dalam contoh Bunyan dia melakukan kesalahan besar dan menentang pandangan sendiri dengan memilih pengalaman keagamaan yang menurut definisinya bukanlah pertobatan. Kebingungan seperti ini menunjukkan bahwa metodenya kurang baik.

Lebih jauh lagi, tidak ada justifikasi bagi Patt untuk meremehkan emosi Bunyan walaupun misalnya itu bukan bagian dari pertobatan. Dari sudut pandang psikologi, yaitu sebuah sudut pandang yang menekankan deskripsi fenomena dan yang menyombongkan diri bahwa teologi tidak ada pengaruh terhadap kesimpulannya, studi terhadap serangkaian emosi adalah studi yang syah sama syahnya dengan studi terhadap penyatuan karakter.  Dalam metode deskriptif, tidak ada tempat bagi peremehan, entah subyek yang diremehkan itu emosi ataupun fisika nuklir. Sebagai seorang yang merasa bahwa agama pada dasarnya emosi atau sikap, seharusnya contoh Bunyan menjadi sesuatu contoh yang baik. Tetapi gayanya yang merendahkan [emosi] mengindikasikan bahwa dia secara sembunyi-sembunyi memberikan nilai yang lebih tinggi terhadap sisi intelek agama daripada yang dia akui dan dia mengevaluasi Bunyan dari sebuah posisi dimana dia tidak bebas dari bias teologi.

Bukti akan prosedur yang berat sebelah ini sekali lagi terlihat dari cara dia memperlakukan Jonathan Edwards. Pendeta Besar kaum Puritan di New England itu dimasukkan dalam kategori umum yang dikenal dari frase “perasaan memang membantu… sedangkan yang lainnya tidak.” Memang benar Pratt mengatakan dalam catatan kakinya bahwa Edwards mengatakan “bagian besar dari agama adalah afeksi suci,” dan tidak ada seorangpun yang membaca tulisan Edwards yang akan tidak setuju.  Pertama-tama, perhatikan bahwa Edwards mengatakan bagian besar. Dia tidak mengatakan bahwa agama atau pertobatan hanyalah masalah afeksi. Kedua, istilah afeksi yang digunakan Edwards berbeda dengan apa yang Pratt maksudkan. Pratt mengatakan bahwa “adalah sebuah kesia-siaan untuk menjadikan pikiran atau perilaku atau kehendak sebagai pusat agama.” Tetapi bagi Edwards, istilah afeksi melibatkan kehendak, dan sebenarnya afeksi lebih banyak terkait dengan kehendak daripada dengan emosi atau perasaan. Ketiga, sebagian besar buku Edwards memperingatkan pembacanya untuk tidak mempercayai perasaan mereka. Keempat, jauh dari mengatakan bahwa hanya perasaan yang bisa membantu, jauh dari merendahkan intelek, Jonathan Edwards sangat menekankan doktrin. Penekanannya pada doktrin inilah yang seringkali menjadi obyek ketidaksenangan kaum sekuler dan bukan pengakuannya atau apa yang disebut pengakuannya akan emosi. Karena itu, tampaknya ketidakakuratan seperti ini merupakan hasil dari metode yang kurang baik dan dari keputusan awal untuk mendefinisikan agama hanya dalam kaitan dengan emosi.

Di pihak lain, orang yang ingin memberi penekanan atau penekanan yang kuat pada sisi intelektual agama tidak perlu berkesimpulan bahwa tidaklah penting untuk mempelajari emosi. Jonathan Edwards mempelajari emosi dan berdasarkan teologinya dia memberi peringatan tentang emosi. Tulisan William James yang sangat menarik yang berjudul Verietis of Religious Experiences menggunakan dasar teologis berbeda. Perjanjian Baru memiliki pandangan sendiri yang menggambarkan berbagai keadaan emosi dari sejumlah pertobatan. Namun demikian penilaian seseorang terhadap pengalaman-pengalaman tersebut tergantung pada teologinya. Tidak dapat disangkal bahwa agama melibatkan emosi, tetapi itu tidak berarti bahwa kehendak dan intelek merupakan faktor negatif, tidak penting, tidak terlalu jelas, dan tulang-tulang kosong.

Apakah Deskripsi Memberi Penjelasan?

Secara umum, apapun nilai atau bahkan arti penting yang tidak dapat dibantah dari studi psikologis seperti itu, orang mungkin bertanya-tanya apakah deskripsi psikologis yang ketat akan membantu dalam menjelaskan tentang agama atau bahkan dalam menemukan natur agama, Pertama, tentang penjelasan. Filsafat Positivisme Logika berpandangan bahwa deskripsi adalah penjelasan. Pernyataan tentang kausalitas/sebab akibat tidak diperbolehkan, pernyataan tentang tujuan tidak diijinkan. Tidak boleh ada kemungkinan untuk penilaian; satu-satunya pernyataan yang syah adalah bahwa fenomena adalah seperti yang diamati. Karena kritik terhadap Positivisme Logis tidak dapat lakukan dalam tulisan ini, maka cukuplah kiranya untuk menunjukkan bahwa penganut Positivisme Logika terus menerus melanggar peraturan mereka sendiri. Disamping itu, menyamakan deskripsi dengan penjelasan sama saja dengan menyangkali penjelasan. Tidak diragukan bahwa fakta-fakta berikut memang seperti yang dideskripsikan: sebuah bola golf naik dan kemudian turun, sebuah lukisan atau puisi terasa indah bagiku, Kongres menetapkan undang-undang baru. Tetapi kita menginginkan lebih dari sekedar deskripsi kejadian. Kita menginginkan penjelasan. Mengapa sesuatu itu terjadi? Bagaimana kita menggolong-golongkan kejadian-kejadian tersebut? Apa tujuan kejadian tersebut dan apa pengaruhnya? Dan kalau memungkinkan, apakah kita perlu mengulangi kejadian tersebut atau malah menghindarinya? Penganut Positivisme logika melanggar prinsip mereka sendiri saat mereka membatasi penjelalasan pada deskiripsi/penggambaran karena pembatasan itu sendiri bukanlah deskripsi tentang apa yang diamati tetapi merupakan pilihan/perilaku mereka.  Harus diakui bahwa penggambaran/deskripsi menyediakan informasi yang mendukung  pemahaman; setidaknya deskripsi menyediakan materi untuk dijelaskan. Adalah tidak beralasan untuk mencampuradukkan keduanya.

Jika pemahaman lebih dari sekedar penggambaran, haruskah kita menjelaskan agama sebagai candu masyarakat? Atau kita harus kurang radikal dengan mengatakan bahwa agama adalah hasil dari keharusan dalam keluarga dan tekanan sosial? Ataukah penyebab agama adalah semacam respon estetis yang melekat dalam diri manusia terhadap rasa takut yang mulia atau rasa takut yang hina akan sesuatu yang tidak diketahui? Atau, apakah penjelasan yang memadai melampaui faktor-faktor ini dan mengharuskan Tuhan sebagai jawaban? Tidak ada gambaran psikologis yang dapat memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini atau memilih salah satu di antara jawaban-jawaban ini. 

Apakah Deskripsi Menemukan Sesuatu?

Di atas dipertanyakan apakah metode psikologis dapat menjelaskan agama atau bahkan menemukan esensinya. Ada beberapa alasan mengapa psikologi tidak dapat menemukan apakah agama itu. Satu alasan, walaupun bukan alasan yang terdalam atau independen, adalah bahwa gambaran deksriptif tentang emosi hanya berurusan dengan fenomena permukaan. Seperti ditunjukkan di bawah ini, deskripsi-deskripsi ini tidak menjelaskan apa hakekat agama. Bahwa emosi yang sama ditemukan di agama berbeda tidak akan mengganggu dan malah disambut baik oleh penulis seperti Hocking, yang menegaskan kesatuan semua agama dan tidak tertarik untuk membedakan satu agama dengan agama lain. Bahwa kalau ada berbagai emosi yang berbeda di dalam satu agama, hanya akan meningkatkan kesulitan untuk menemukan satu keadaan emosi kompleks yang dengannya agama didefinisikan.  Tetapi sesuatu yang fatal bagi metode ini adalah bahwa emosi-emosi ini juga ditemukan dalam pengalaman yang tidak dianggap pengalaman religius sama sekali. Sebagai contoh, kasih saat ini ditekankan oleh beberapa orang penulis religius sebagai emosi religius tertinggi. Kasih dianggap sebagai keseluruhan atau substansi dari Tuhan sendiri. Tetapi kalau kasih tidak didefinisikan, emosi kasih itu bukan sesuatu yang terbatas pada agama sama sekali. Tentang emosi itu sendiri, gambaran/deskripsi psikologisnya sendiri akan sama, terlepas dari penyebab, obyek, dan keadaan atau nilainya. Kasih tertentu bersifat manusiawi, beberapa di antaranya tidak religius, atau bahkan tercela. Tetapi andaikata kasih religius didefinisikan sedemikian rupa sehingga mengesampingkan kasih yang tidak diinginkan, maka prosedur/argumennya menjadi argumen yang secara logis melingkar. Pertama-tama kasih digunakan untuk mendefinisikan agama lalu kemudian sebuah konsep agama yang independen digunakan untuk membedakan berbagai macam kasih. Sekali lagi, bukan hanya tidak mungkin untuk membatasi emosi seperti kasih dalam ranah pengalaman keagamaan, tetapi juga tidak mungkin membatasi pengalaman keagamaan pada satu emosi tertentu. Emosi kemarahan biasanya dianggap sebagai emosi anti religius, tetapi ‘kemarahan’ Yesus (Markus 3 : 5) adalah kemarahan religius. Pertimbangan-pertimbangan seperti ini menunjukkan bahwa tidak ada deskripsi psikologis murni terhadap pengalaman, tidak ada emosi, tidak ada kesadaran afektif tertentu, tidak ada kombinasi dari semuanya yang dapat diangkat sebagai sesuatu yang secara definitif dan seragam dapat disebut elemen agama. Urut-urutan emosi berupa pikiran yang tenang, lalu kemudian depresi, dan diakhiri dengan kegembiraan seperti yang Pratt catat dalam pengalaman Bunyan, juga terjadi pada politikus saat hari pemilihan umum atau pemilihan presiden. Rangkaian-rangkaian perasaan tersebut bukanlah sesuatu yang hanya bersifat keagamaan.

Deskripsi dan Praanggapan Dasar

Penulis yang lebih tajam mengakui kekurangan deskripsi yang murni psikologis. Grensted mengatakan secara terbuka,

Pertanyaan mutlak/tertinggi (ultimate) tentang keberadaan yang sesungguhnya dari penyusun pengalaman kita, dalam dirinya sendiri dan terpisah dari latar pengalaman tersebut, tidak dapat diputuskan/ditentukan atau bahkan dibahas dengan menggunakan metode psikologi… Psikologi bahkan tidak dapat memilih tujuannya, [walaupun] psikolog memilih tujuan psikologi berdasarkan nilai-nilai yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara tuntas oleh psikologi.[3]

Namun demikian, ada beberapa orang, walaupun mereka bukan penganut Positivisme Logis, yang menulis seolah-olah deskripsi psikologis menjawab semua pertanyaan. Tetapi setelah membaca tulisan mereka, kita mendapati bahwa ada banyak praanggapan dan penilaian yang tidak dapat diperoleh dari observasi yang mereka gunakan. Sejak awal, walaupun para penulis ini tidak mengakuinya, dibutuhkan prinsip normatif yang non deskriptif untuk memilih mana yang harus dideskripsikan dan mana yang tidak. Mungkin masuk akal untuk berargumen bahwa tidak boleh berfilsafat tentang agama sebelum memberikan gambaran tentang fenomena yang harus dijelaskan. Fakta, demikian katanya lagi, mendahului teori. Tetapi masalahnya adalah prosedur deskriptif tidak dapat menentukan apa yang harus dideskripsikan. Sebuah teori harus mendahului  pilihan fakta. Deskripsi murni tidak dapat memutuskan apakah harus memusatkan perhatian pada emosi atau pada intelek. Menurut konotasi populer yang samar dari kata agama, agama adalah fenomena yang paling kompleks. Beberapa acara keagamaan cukup emosional dan orang bernyanyi, menari, berteriak, menghentak-hentakkan kaki, melambai-lambaikan tangan, dan kadang-kadang bertingkah laku tidak pantas. Orang lain, seperti kaum Presbiterian dan Puritan, biasa duduk dengan tenang sambil dengan seksama mendengarkan khotbah doktrinal selama dua jam. Tetapi ada juga kelompok-kelompok tertentu, baik di dalam apa yang disebut kekristenan maupun di luar kekristenan, yang membatasi diri hampir sepenuhnya pada ritus-ritus yang sangat rumit. Namun masih ada lagi orang lain yang menyamakan agama dengan pelayanan sosial. Karena itu, hanyalah penilaian non-observasi yang memungkinkan orang untuk mengatakan bahwa ajaran intelektual dari agama tidak perlu dipelajari. Demikian juga, hanya penilaian a priori yang dapat memilih satu bagian dari hanya sebagian dari sebuah fenomena kompleks untuk dijelaskan.

Karena itu setiap penulislah yang menentukan apa yang dia anggap penting dan signifikan, entah itu ritus, dogma, atau emosi. Keputusan seperti itu tidak dapat dihindari, tetapi tidak boleh disembunyikan. Keputusan seperti itu harus diambil dengan sadar. Namun pilihan seperti itu tidak boleh dikedepankan sebagai penemuan yang obyektif deskriptif. Seorang penulis yang paling menipu dan paling tertipu adalah penulis yang merasa bahwa dia hanya memberikan deskripsi sesuatu apa adanya. Apa adanya itu tidak dapat dipilih tanpa praanggapan dasar (presupposition). Jika satu jenis emosi atau kesadaran afektif lainnya, seberapapun rumitnya, dipilih sebagai esensi agama, implikasinya adalah bahwa kesadaran lainnya bukan agama. Jadi agama dibedakan secara tajam dari olah raga atau politik atau kegiatan manusia lainnya yang dianggap bukan agama. Hal seperti ini adalah rekan psikologis dari pembedaan antara agama hari Minggu dan setiap hari lain praktek. Tidak dapat diragukan bahwa ada orang-orang yang menganggap hari Minggu sebagai hari pameran kerohanian, kalau memang mereka bisa dibilang beragama. Tetapi ada juga orang-orang yang agamanya adalah perasaan emosi tertentu. Tetapi tidak mungkinkah ada orang yang agamanya mempengaruhi setiap hari kegiatan mereka? Bagi mereka politik, doa, dan berkembang biak adalah kewajiban agama. Apakah mungkin menggabungkan kedua jenis agama ini di bawah satu nama? Apa dasarnya kalau golongan yang terakhir dianggap bukan agama? Jelas, para psikolog harus menganut filsafat agama tertentu yang mengendalikan psikologi agama [yang dipegang]nya, dan filsafat agama inilah yang dipercaya dalam bab ini sebagai lebih memiliki arti yang penting.

Integrasi Kepribadian

Sejauh ini, diskusi kita dibatasi pada pandangan bahwa emosi merupakan esensi dari agama. Namun demikian, pembatasan seperti ini tidak menggambarkan sepenuhnya metode psikologi maupun pengecualian umum terhadap definisi intelektual. Penjelasan bahwa agama merupakan perngalaman non-rasional masih memungkinkan satu pilihan lain, yaitu sebuah kemungkinan yang nampak jelas dari tulisan-tulisan Pratt, tetapi belum kita analisa. Pratt berbicara tentang unifikasi karakter dan menggunakan kasus sekuler Ardigo sebagai contoh. Ini adalah tema yang populer di antara humanis sekuler. Mereka berpendapat bahwa membatasi agama pada satu emosi, seperti yang dilakukan Fredrich Schleirmarcher dengan membatasi agama pada emosi rasa ketergantungan, adalah sesuatu yang terlalu sempit. Mereka mengatakan bahwa walaupun pengalaman keagamaan kadang-kadang bisa ditandai dengan perasaan ini, ada pengalaman religius lain tidak ditandai dengan perasaan seperti ini. Perasaan ketergantungan bukan hakekat agama. Karena itu kaum humanis pada umumnya mencoba untuk memposisikan agama pada kebutuhan manusia yang lebih universal, bukan kebutuhan non-religius seperti makanan dan tempat tinggal, tetapi pada kebutuhan untuk menyatukan dorongan-dorongan, emosi, dan keinginan seseorang yang tersebar sana sini dan saling bertentangan satu dengan yang lain. Ini berarti bahwa agama adalah proses mencapai kepribadian yang utuh, koheren, dan efektif. Apa yang orang Kristen sebut sebagai kesadaran akan dosa, adalah kesadaran akan kegagalan untuk mencapai diri yang utuh. Sedangkan penebusan atau kelepasan adalah keberhasilan mencapai keutuhan kepribadian. Tetapi keberhasilan itu tidak tergantung pada gagasan Kristen. Di sinilah kesalahan gagasan Liberalisme Protestan atau sering disebut Modernisme. Walaupun menolak teologi tradisional, gerakan teologi ini masih mencoba mencari solusi terhadap masalah kehidupan dalam kerangka pemikiran kekristenan. Tetapi pembatasan ini tidak konsisten dengan penggantian sebuah kitab berotoritas oleh pengalaman religius. Humanisme, karena konsisten menganut empirisisme, menekankan bahwa integrasi karakter seringkali dicapai melalui metode yang lain. Kalau kita mempelajari semua metode yang sukses tersebut, akan jelas bahwa kekristenan tidak unik dan bahkan tidak superior. Kebaikan utama adalah pencarian akan kebenaran, penciptaan keindahan, dan pewujudan kasih dan persahabatan. Apapun metode yang digunakan untuk mencapai kebaikan-kebaikan ini dapat disebut agama, kalau memang dikehendaki.

Ada dua masalah besar dengan tesis humanistik seperti ini. Pertama adalah penetapan kebenaran, keindahan, dan persahabatan sebagai kebaikan. Nietzche menolak pandangan bahwa kebenaran selalu baik. Dapatkah humanisme, terutama humanisme tentatif dan relativistik, mempertahankan diri terhadap argumen Friedrich Nietzche? Mungkin kebaikan itu lebih sulit ditemukan dalam keindahan dan persahabatan. Apakah memungkinkan bagi pra-anggapan humanistik untuk memberi justifikasi pilihan mereka atau menunjukkan bahwa tindakan tertentu baik atau jahat? Karena pertanyaan ini adalah pertanyaan umum etika, maka akan dibahas dalam bab lain. Intinya adalah bahwa ini merupakan pertanyaan sulit. Begitu sulitnya  pertanyaan ini sehingga kadang-kadang kaum humanis menghindar darinya dan memeluk kesulitan lain. Mereka lebih suka menghindar lagi karena pemilihan kebaikan tertentu (seperti kebenaran dan keindahan) dan tekanan yang diberikan oleh kaum humanis terhadap kehidupan bermasyarakat, kerjasama, dan kolektivisme (yang kadang-kadang membuat mereka berbicara tentang penghormatan pada kebaikan sosial) tidak konsisten dengan pandangan mereka tentang agama.

Jika integrasi/keutuhan pribadi merupakan hakekat agama dan jika (seperti kata salah satu dari mereka) metode empiris tidak dapat menunjukkan bahwa solusi non-Kristen lebih inferior dari solusi Kristen, jika karena itu agama yang sejati hanyalah penerimaan dengan segenap hati terhadap apa saja yang dianggap mulia yang membawa keutuhan/integritas terhadap kedirian/kepribadian (selfhood) – semua istilah ini digunakan oleh kaum humanis, – maka tidak terelakkan bahwa penyatuan tujuan, emosi, dan sentimen yang dicapai oleh Adolf Hitler dan Joseph Stalin tidak dapat dianggap inferior terhadap cara lain manapun kalau dinilai berdasarkan metode empiris . Kedua diktator inipun dapat mengatakan seperti Rasul Paulus “Tetapi ini yang kulakukan.” Ketiga orang ini ditandai dengan keutuhan pemikiran sepenuhnya. Contoh orang pelit dan pertapa yang  juga telah mencapai keutuhan emosi dan sentimen merupakan contoh yang sedikit lebih memalukan dari pandangan tentang agama seperti ini.

Kerugian dari cara mendefinisikan agama seperti ini seharusnya sudah jelas. Definisi ini terlalu luas dan kabur sehingga bisa mencakup segalam macam pengalaman. Penganut mistik Hindu, Rasul Paulus, para diktator, dan si kikir, secara tidak terelakkan merupakan contoh yang sempurna dari kepribadian yang utuh; walaupun jenis kepribadian satu dengan yang lain saling tidak kompatibel sehingga kalau satu disebut jahat maka yang lainnya baik. Tidak ada seorangpun, bahkan humanispun tidak, yang mau mengaku bisa menerimanya semua itu tanpa kecuali. Dengan kasus seperti ini, orang tidak bisa mengatakan tanpa pengecualian bahwa integrasi kepribadian itu baik. Kesimpulan ini adalah bagian esensial dalam berita dari seorang penginjil Kristen. Banyak orang yang diberitakan Injil oleh penginjil Kristen adalah orang yang berkepribadian yang utuh. Inilah masalah mereka yang sebenarnya. Keinginan dan minat mereka begitu sejalan dengan sistem nilai yang naturalistik. Mereka puas dengan diri sendiri. Tidak ada perasaan bersalah yang mengganggu ketenangan mereka. Berita Kristen harus menghancurkan keutuhan ini, walaupun seandainya berita itu tidak berhasil memberikan mereka pengganti yang utuh sempurna, semi integrasi yang dihasilkannya lebih baik daripada keutuhan sempurna yang sebelumnya.

Karena itu, metode psikologi gagal menemukan, mendefinisikan, dan menjelaskan agama dan pada saat yang sama gagal memberi justifikasi terhadap klaimnya akan ketidakberpihakan ilmiah. Bukanlah dengan deskripsi murni psikologi menekankan emosi. Itu adalah penilaian normatif. Itu adalah penilaian yang menghilangkan perbedaan antara pengalaman emosi keagamaan dan pengalaman emosional lainnya seperti politik. Pengaruh pengendali dari praanggapan filosofis non deskriptif juga ditunjukkan saat meremehkan jenis pertobatan tertentu. Peremehan adalah sesuatu yang jelas bersifat evaluatif [bukan deskriptif]. Jika praanggapan-praanggapan ini dibuat tegas dan nilai-nilai tertentu lebih ditingginkan daripada yang lain, maka masalah umum etika tidak dapat dihindari. Tetapi jika nilai-nilai spesifik dibiarkan samar-samar dan setiap jenis integrasi diperbolehkan, maka masalah umum etika dihindari karena gaya hidup yang saling tidak kompatibel ditempatkan pada tingkat yang sama. Karena metode ini menghasilkan kebingungan dan karena istilah-istilah yang digunakan dibiarkan tanpa makna yang jelas, maka tampaknya kita memerlukan metode yang lain.


[1] William Ernest Hocking, The Coming World Civilization, 149. Penekanan dengan huruf miring pada tulisan asli.
[2] L. W. Grensted, The Psychology of Religion, 15
[3] L. W. Grensted, The Psychology of Religion, 3, 5

Catatan: Lanjutannya akan diterjemahkan nanti kalau saya rajin.🙂

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gordon H. Clark tentang Definisi Agama dan Metode Psikologi Untuk Mendefinsikan Agama

  1. Ping balik: Metode Komparatif Mengidentifikasi Agama | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s