Fakta tanpa Teori? Sebuah Ketidakmungkinan!

Di bawah ini saya copy paste dari diskusi di salah satu grup di internet dengan seorang yang bernama Abdul Salam tentang ada tidaknya fakta tanpa teori! Tulisan ini menjadi Sebuah note thanks to Kaka Ama Bura. Patut di catat bahwa lawan diskusi saya ini dengan sombongnya menampilkan tempat tinggalnya sebagai di Amerika Serikat, seolah-olah dia bisa mengintimidasi saya dengan hal seremeh itu. He is just an idiot!

Judul Thread buatan AS: “Apakah diforum ini berbicara sesuai fakta atau teori yah.”

[Abdul Salam] Fakta (Latin: Factus) ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia. Catatan atas pengumpulan fakta disebut data. Fakta seringkali diyakini oleh orang banyak (umum) sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat maupun karena mereka dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sesungguhnya.

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto Ok! Good!] Anda sudah mendefinisikan fakta! Pertanyaannya adalah apakah ada fakta yang bukan teori? Supaya anda gampang menjawabnya ini pertanyaan yang mudah:

  1. Kalau anda melihat sesuatu dan anda menyebutnya ‘kursi’, apa yang membuat anda mengatakan bahwa itu kursi?
  2. Bukankah sebelum anda menyebutnya ‘kursi’ anda sudah harus memiliki teori terlebih dahulu yang membantu anda membedakan kursi dan bukan kursi?
  3. Kalau jawaban terhadap nomor 2 negatif, silahkan jelaskan bagaimana anda menyebutnya kursi?
  4. Kalau jawaban anda terhadap nomor 2 positif, maka anda mengakui kesesatan memisahkan antara fakta dan teori!

Ditinggu tanggapan baliknya!

[Abdul Salam] +++Ma Kuru Paijo Budiwidayanto, Ok! Good! Anda sudah mendefinisikan fakta! Pertanyaannya adalah apakah ada fakta yang bukan teori?++ Saya menjawab ada!

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto] Silahkan sebutkan contohnya dan beri penjelasan! Ditunggu!

[Abdul Salam] Contohnya adalah tangan, tidak mungkin orang lain mengatakan itu kepala.

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto] Lalu sebelum anda mengatakan sesuatu sebagai ‘tangan’ atau ‘kepala’, anda harus terlebih dahulu memiliki teori dalam benak anda untuk membedakan “tangan’ dari ‘kepala’. Kalau tidak ada teori, maka anda tidak bisa mengatakan “itu tangan” atau ‘itu kepala’. Dengan demikian sejauh ini teori anda bahwa ada fakta tanpa teori adalah sebuah ketidakmungkinan. Silahkan kemukakan sebuah contoh dimana anda tidak perlu sebuah teori untuk mengidentifikasi sesutu. Terima kasih!

[Abdul Salam] Tidak mungkin orang lain mengatakan itu kepala.

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto] Lalu sebelum anda mengatakan sesuatu sebagai ‘tangan’ atau ‘kepala’, anda harus terlebih dahulu memiliki teori dalam benak anda untuk membedakan “tangan’ dari ‘kepala’. Kalau tidak ada teori, maka anda tidak bisa mengatakan “itu tangan” atau ‘itu kepala’. Dengan demikian sejauh ini teori anda bahwa ada fakta tanpa teori adalah sebuah ketidakmungkinan. Silahkan kemukakan sebuah contoh dimana anda tidak perlu sebuah teori untuk mengidentifikasi sesutu. Terima kasih!

[Abdul Salam] Bukan teori tapi data, untuk memberitahukan apa itu sebuah tangan atau kepala yang nantinya dicerna oleh nalar.

Fakta (Latin: factus) ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia. Catatan atas pengumpulan fakta disebut data.

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto] Mmmm… lalu sesuatu yang ditangkap oleh indera manusia, tanpa teori untuk membeda-bedakannya tidak punya arti apa-apa. Semua hanya sensasi yang tidak berarti. Tetapi kalau anda sudah memiliki teori duluan dalam pikiran anda (bagaimanapun anda mendapatkan teori tersebut), anda dapat mengatakan, “berdasarkan input data ini dan itu, saya mengatakan bahwa benda itu adalah ‘kursi””

Dengan kata lain anda tidak membantah apa yang saya katakan!

[Abdul Salam] Maaf bukan teori yang membedakannya v Ilmu.

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto] Bahkan proposisi “bumi bulat” adalah sebuah teori. Orang mendapatkan input tertentu dari indera dan alat bantu indera lalu berdasarkan teori yang ada dalam pikirannya tentang kebulatan dan ketidakbulatan, dia menyimpulkan bahwa “bumi bulat”.

Fakta tanpa teori adalah sebuah ketidakmungkinan. Mendikotomikan keduanya adalah sebuah blunder!

[Abdul Salam] Maaf itu bukan teori tapi Ilmu.

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto] Lalu teori itu apa? Silahkan!

[Abdul Salam] Teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya. Perlu digarisbawahi, bahwa teori berbeda dengan idiologi, seorang peneliti kadang-kadang bias dalam membedakan antara teori dan ideologi. Teori dapat dikatakan merupakan bagian dari ideologi, tetapi ideologi bukan teori. Contohnya adalah Aleniasi manusia adalah sebuah teori yang diungkapakan oleh Karl Marx, tetapi Marxis atau Komunisme secara keseluruhan adalah sebuah ideologi.

Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

[Ma Kuru Paijo Budiwidayanto] Kalau teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya, maka sesuatu yang mendasari penilaian tentang ke-kursi-an dan ke-kepala-an dan ke-tangan-an, adalah teori karena dari sana orang akan menentukan hendak dia apakan benda di depannya. Kalau itu kursi misalnya, dia akan pake untuk duduk dan kalau itu tangan, dia tidak akan menggunakannya untuk mengoper sebuah bola dalam sebuah pertandingan sepak bola. My position stands!

Juga, kalau saya secara stipulatif, menggunakan ‘teori’ untuk merujuk kepada sebuah kerangka pikiran tertentu untuk menilai kategori data yang masuk melalui sensasi inderawi, maka teori tidak dapat dipisahkan dari fakta.

Whatever the case may be, posisi saya stands!

(Catatan, setelah lama tidak muncul, mister AS nulis komen dibawah ini)

[Abdul Salam] Untuk duo ama dan yang laenya, xan bukan level saya, xan harus banyak belajar lagi yah mulai dari SD baru berdebat dgn saya itu pun stelah xan lulus dari UN. Lalu jika ingin berdiskusi dgn saya, Panggil jenderal xan. Tentunya setelah dia bisa membedakan antara fakta, teori, ilmu serta logika yah baru berdebat dgn saya. Ilmu dengan teori aja gak tw sok pintar lagi xan.

(Perhatikan! Bukannya memberi tanggapan terhadap komentar terakhir Ma Kuru, mister Abdul resort to logical fallacy known as “Appeal to Redicule.” Tapedeee).

Diskusi Gordon Clark tentang fakta dan teori dapat dibaca di sini

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik. Tandai permalink.

3 Balasan ke Fakta tanpa Teori? Sebuah Ketidakmungkinan!

  1. Laksamana Ama Bura berkata:

    Jendral Ma Kuru, awalnya beta kira Abdul Salam sudah mengalami pertobatan sehingga dia berani angkat topik ini sebagai pokok debat dengan jendral. Walau begitu from the start, beta could see where this discussion would end…. and that’s exactly what happened. Tidak bisa bertahan dengan posisinya lalu hanya redicule lawan diskusi… tapedeeeeeeee😀

    • whereisthewisdom berkata:

      He he he he.. kalau RK sonde kerja, itu orang dong susah bertobat kaka ooo.. he he he. Okelah kalau hanya orang jalanan seperti Abdul yang seperti itu. Katong masih bisa mengarti. Cuma kalau misalnya dong pung kaum intelek yang bergelar syeikh ju model bagitu, na beta su sonde mengarti lai. he he he he he

    • whereisthewisdom berkata:

      Yang lebih parah lai, dia kira membedakan fakta dari teori artinya bisa memisahkan fakta dari teori. Mungkin dia harus baca buku opa Gordon. Gordon bilang kira-kira seperti ini “Pada akhirnya apa yang kita sebut fakta adalah teori terhadap input-input indera”. he he he

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s