Sekelumit Diskusi tentang Iman, Logika, dan Mujizat

Beberapa saat yang lalu saya berdiskusi dengan seorang kontak di FB yang namanya saya tidak perlu ungkap sepenuhnya di sini tetapi yang inisialnya adalah SD. Salah seorang diantara teman saudara SD juga sempat ikut nimbrung dalam diskusi ini. Hal yang dibahas terkait dengan logika dan iman serta sedikit berbicara tentang mujizat.

Status SD: TERKADANG hanya Membutuhkan IMAN SEBESAR BIJI SESAWI untuk Memindahkan sebuah Bukit / Gunung…Ketika ‘Logika’ Kehilangan Kemampuannya untuk ‘Memindahkan’ .. ‘Bukit / Gunung persoalan yang ‘Kita Hadapi’… MILIKILAH IMAN SEPERTI Dalam KEPASRAHAN TOTAL KEPADA Tuhan…Maka Bukit dan Gunung dan di TAKLUKKAN..in Jesus Love

MK: Pernyataan Ketika ‘Logika’ Kehilangan Kemampuannya untuk ‘Memindahkan’ .. ‘Bukit / …”. adalah salah karena yang memindahkan itu bukan logika tetapi iman. Logika adalah sesuatu yang mendasari iman. Tanpa logika, iman tidak akan ada. Kalau logika tidak ada maka iman = tulah=anjing=hantu=rumah=putih=printer=alam=mobil=tembok=bunga dan pada akhirnya iman bukan apa-apa

SAB: ????? Gak mudheng aq….  ndak paham aq maksudte @Ma…

MK: Hukum logika (hukum kontradiksi) mengharuskan bahwa agar satu kata memiliki arti, maka kata itu tidak boleh memiliki segala macam arti saat digunakan. Misalnya saja, kalau saya bilang ‘anjing’ maka kata anjing merujuk kepada binatang piaraan yang menggonggong. Kalau misalnya kata ‘anjing’ yang saya pake merujuk kepada gunung atau mobil atau rumah atau segala macam yang lain, maka saat saya menggunakan kata “anjing’, maka anda tidak akan tahu apa yang saya maksud. Dengan kata lain, kata ‘anjing’ menjadi tidak punya makna.

Demikian juga dengan pernyataan di atas. Kalau hukum logika tidak berlaku, maka iman = tulah=anjing=hantu=rumah=putih=printer=alam=mobil=tembok=bunga. Dan kalau demikian adanya, kata iman menadi tidak punya makna.

SD: Saya menulis ‘Terkadang’ , bukan Menghilangkan Hukum Logika….’Iman sebesar BIJI sesawi’… Bukan Menolak Logika..ada banyak Kesaksian Mujizat .. Di mana ‘logika’ Mengatakan sudah tidak ada Harapan sama sekali tapi dengan Iman semuanya Menjadi Berbeda … Saya berharap Ma Kuru pernah Mendengar Kisah-Kisah Mujizat karena ‘Iman sebesar Biji sesawi’…Makasih Ama Ma Kuru… GB

MK: Tidak ada waktu dimana logika tidak berlaku. Logika bukan yang memindahkan bukit tetapi iman. Tetapi tanpa logika, iman tidak ada.

Logika tidak pernah mengatakan tidak ada harapan sama sekali. Ketidakmungkinan logis hanyalah kontradiksi. Secara logis, pernyataan “sudah tidak ada Harapan sama sekali” bukan inferensi yang valid. Tidak valid karena didasarkan pada empirisisme yang dalam diri sendiri tidak valid.

SD: Terima kasih Ama Ma Kuru buat Informasi Nya… Saya menulis ini karena saya ‘Punya Logika – saya Berpikir’… Hanya Bagi ‘saya Pribadi’ entah yang Lain.. ‘IMAN di atas logika’…sederhananya.. ‘IMAN saya yang akan Membawa saya masuk Surga ‘…Bukan ‘Logika’ saya… Seorang Penulis Buku Rohani Thommy Tennie.. Menulis kalimat ini ‘ IMAN tidak MENOLAK FAKTA… Tetapi IMAN Lebih Besar Dari FAKTA… Saya setuju dengan Pernyataan nya… Terima Kasih Ama Ma Kuru… Tuhan Yesus Memberkati.. Bagi saya ‘FAKTA’ adalah ‘LoGika’…GB Ama Ma Kuru..

SAB: Maturnuwun…

Terima kasih…Saya pribadi makin maturnuwun sama yang saya imani…YESUS KRISTUS…Karena dia datang dalam kesederhanaan ‘logika’ sehingga apapun tentang pengajarannya yang mendatangkan Iman mudah dimengerti oleh orang2 yang ‘cekak’ (baca: bodoh) logika, seperti saya ini….

SB:  Bro Sam,.. Thanks ,.. Justru Dalam ‘KesederhanaanLogika’ lah.. Kita. Menemukan. ‘Kemurnian IMAN’…GB Bro.

MK: Om SD, seperti yang saya katakan di atas, tanpa logika, iman tidak akan ada. Om SD mendapat informasi dari Alkitab (atau apapun) bahwa iman menyelematkan. Tetapi tanpa logika, maka informasi itu tidak punya arti apa-apa. Tanpa hukum logika, maka frase “iman di atas logika” sama saja dengan “kami makan nasi rawon” atau “gunung itu tinggi sekali” atau “nangka saya sudah masak” atau “saya akar pahit pangkat” atau “rumah nyaring valid hukum” dst dsb dan akhirnya menjadi tidak punya makna. Lalu literatur yang di angkat om juga tidak relevan dengan topik ini karena literatur tersebut berbicara tentang Fakta dan iman, sedangkan kita di sini berbicara tentang logika dan iman.

Bro SAB, Sama-sama. Bahwa orang tidak paham apa itu logika tidak berarti bahwa mereka tidak tunduk kepadanya. Sdr. SABl tidak sadar tentang hukum kontradiksi tidak berarti bahwa hukum kontradiksi tidak berlaku. Saudara tetap tunduk kepada logika saat menulis semua kalimat itu. Karena tanpa logika, maka kalau misalnya saudara mau menulis “Saya pribadi makin maturnuwun sama yang saya iman…” maka saudara tinggal menulis “gunung gunung gunung gunung gunung gunung gunung…”. Gunung yang pertama artinya Saya. Gunung yang kedua artinya pribadi. Gunung yang ketiga artinya makin. Gunung yang keempat artinya maturnuwun…dst. Nah, kenyataannya saudara tidak melakukan itu. Jadi, saudara tetap tunduk pada hukum logika walaupun tidak menyadarinya.

SAB: Saya ‘belajar’ menundukkan ‘logika’ saya pada Alkitab.

Jadi apa yang saya tulis n katakan dasar utamanya bukan LOGIKA tapi IMAN pada Alkitab…Iman adalah dasar…Bukan Logika adalah dasar… (maaf saya beranikan untuk katakan SALAH kalau LOGIKA dasar iman…)

MK: He he he… bagaimana contohnya menundukkan logika pada Alkitab. Coba tunjukkan hukum logika yang mana yang dimentahkan kalau sdr mempercayai Alkitab!

SD: Ama Ma Kuru yang terkasih… Saya menulis Bagi Saya Fakta adalah Logika..(Bukan yang Lain), karena kita masing-masing Punya Kerangka Berpikir… Seturut Kemampuan yang di miliki untuk mengembangkannya.. Saya sangat Menghargai Dan Menhormati Ama Ma kuru.. Yang di beri kemampuan oleh Yang Kuasa-Tuhan…untuk mengembangkan Kemampuan Berlogika nya.. Thanks and GB

MK: Kalau fakta adalah logika, kenapa tidak menggunakan kata ‘fakta’ dalam komentar? Juga kalau fakta adalah logika, maka iman tidak didasari fakta alias khayalan. Apakah iman kepada Tuhan itu khayalan?

SD: Hahahaaa, Kan sudah jelas Ama Makuru ‘bagi saya pribadi’ Fakta adalah Logika.. Bukan ‘Kalau’…

SAB: hahaha…juga… Om Sam aq tak nyimak aja… Gak mudheng (ndak paham aq…. )wkwkwkwkwkwkwkwk…….

SD: Ama Ma Kuru,.. Saya tidak pernah menyatakan atau Menuliskan bahwa Iman tidak didasari Fakta alias Hayalan…Ama Ma kuru sendiri yang Mengambil kesimpulan seperti itu berdasar kepada logika yang Ama miliki..Saya mengawali nya dengan Kalimat. ‘Terkadang’…dan Ama Ma Kuru menyimpulkan nya sendiri..berdasar pada Logilka yang Ama Ma Kuru Miliki..Selanjutnya.. Apakah Iman kepada Tuhan itu Khayalan ?.. Jawaban saya pribadi ‘Bukan’.. Itu Fakta.. Sederhananya ; Jika Khayalan Berarti Tuhan itu juga sebuah Khayalan.. Karena ..Tuhan itu FAKTA maka Iman Juga FAKTA..

MK: He he he.. he he he.. okelah, kalau memang begitu maka om sedang benar-benar tidak tunduk pada logika karena sebelumnya dikatakan bahwa ada saat dimana logika tidak berlaku. Saat saya bantah bahwa logika tidak pernah tidak belaku, lalu om berkatan bahwa logika adalah fakta. Nah, kalau ada saat dimana iman tidak didasari logika dan logika adalah fakta, maka kesimpulan yang valid dari kedua pernyataan tersebut adalah bahwa ada saat dimana iman tidak didasari fakta. Kalau demikian, maka ada saat dimana iman hanya didasari sebuah khayalan. Tetapi kalau om SD mau bantah kesimpulan itu, silahkan saja. Tetapi dengan melakukan demikian, om SD menjadi tidak logis.

Kalau Tuhan fakta, dan iman Kristen didasari pada adanya Tuhan, maka iman didasari logika dan om pung status tetap salah.

SD: Heheheee, Ama Ma kuru coba liat kembali awal Tulisan saya… Saya tidak Menulis seperti yang Ama Ma Kuru katakan… Saya Menulis seperti Ini ;’TERKADANG hanya Membutuhkan IMAN SEBESAR BIJI SESAWI untuk Memindahkan sebuah Bukit / Gunung…Ketika ‘Logika’ Kehilangan Kemampuannya untuk ‘Memindahkan’ .. ‘Bukit / Gunung persoalan yang ‘Kita Hadapi’…Kata ;’Logika’ Kehilangan Kemampuannya’.. Di artikan sendiri / di Tafsir oleh Ama Ma Kuru saya sedang tidak berlogika dan ‘ benar-benar tidak tunduk pada logika karena sebelumnya dikatakan bahwa ada saat dimana logika tidak berlaku…kalimat di atas bukan dari status saya status saya sangat jelas ‘KETIKA LOGIKA KEHILANGAN KEMAMPUAN’…menurut pemikiran saya yang sederhana ‘Kehilangan Kemampuan ‘ TIDAK LAH SAMA dengan ‘LOGIKA TIDAK BERLAKU’… Terkadang Memang ‘Kita’ selalu di Perhadapkan dengan situasi ‘Ketaklogisan’…yang Masuk Akal.. Karena Faktanya Terjadi…. Tuhan Memberkati Ama Ma Kuru..

MK: Hmmm.. he he he he.. memang menarik memperhatikan apa yang terjadi. Di atas dikatakan saya salah paham apa yang dikatakan om SD dan menyamakan logika tidak berlaku dengan logika kehilangan kemampuan. Padahal sejak pertama saya katakan, bukan tugas logika untuk memindahkan gunung. Dengan kata lain saya ungkapkan salah kaprahnya om SD. Saya lanjutkan dengan mengatakan bahwa tanpa logika iman tidak akan ada. Itu yang saya katakan.

Di bagian bawah lagi om SD mengatakan “Di mana ‘logika’ Mengatakan sudah tidak ada Harapan sama sekali tapi dengan Iman semuanya Menjadi Berbeda” Kalau ini bukan mempertentangkan logika dengan iman, saya tidak ini apa artinya. Jadi yang jelas ada saat dimana logika tidak menghasilkan sesuatu yang berguna (yaitu saat mengatakan tidak ada harapan) tetapi iman sebaliknya. Dengan demikian, ada waktu dimana logika tidak mendasari iman. Di tempat lain om SD mengatakan logika = fakta. Jadi dari pernyataan-pernyataan ini dengan definisi logika seperti yang dipercaya om SD, maka ada saat dimana iman = mempercayai khayalan.

Saya juga pernah mengalami mujizat, tetapi tidak ada yang tidak masuk akal. Mujizat menjadi tidak masuk akal hanya kalau kita berpegang pada filsafat dunia ini dan menolak logika dengan filsafat tersebut.

SD: OOww,….Persepsi ‘kita’ yang membedakan…beranjak dari anak Kalimat ‘terkadang Logika kehilangan Kemampuan’…saya melihat dari sudut Pandang Bahwa Ada suatu Masa di kehidupan yang kita Jalani ini ‘IMAN LEBIH BERPERAN AKTIF KETIMBANG LOGIKA ‘..tidak Ada Tendensi untuk Mengatakan Logika tidak di Perlukan… Hanya untuk suatu waktu yang Khusus ‘Logika harus Mengalah’ agar IMAN dapat Bekerja… Bagi saya Pribadi..IMAN Akan Kehilangan Kemampuan nya yang supranatural itu ketika LOGIKA lebih Dominant… Karena Selamanya ( Bagi Saya )…Logika berbicara tentang Fakta yang HARUS DAPAT di CERNA oleh OTAK…Padahal Tidak Semua Hal dapat di cerna oleh Otak kita…Ada hal-hal yang Hanya dapat di mengerti ketika IMAN mendapat Porsi yang Lebih.. Ada kalanya Iman itu di IMAJINASIKAN dalam IMAN,.. Bukan Khayalan Belaka… Ada Firman yang Mengatakan ..’Berlakulah seolah-olah kamu telah Menerimanya’… Maka kamu akan Menerimanya… Berarti.. Ada ‘IMAJINASI IMAN’..bukan Khayalan Kosong… GB, Ama Ma Kuru Terkasih dalam Tuhan.. Heheheee.. Memang Menarik sekali Peembahasan ‘kita’ kali ini.. Salam Rai Hawu..

MK: Ungkapan “IMAN LEBIH BERPERAN AKTIF KETIMBANG LOGIKA” adalah pernyataan yang salah. Pernyataan seperti ini tidak benar karena tidak mungkin ada iman tanpa logika. Saya tidak peru menjelaskan lagi bagaimana hal itu demikian adanya. Posisi saya sudah jelas dan belum terbantahkan. Komentar om SD di atas juga bertentangan dengan komentar sebelumnya bahwa Logika = Fakta. Sekarang berubah menjadi Logika berbicara tentang fakta. Kalau logika berbicara tentang fakta. Lalu katanya banyak fakta yang tidak dapat dimengerti. Jadi sepertinya yang dikatakan om SD adalah bahwa ada saat dimana logika tidak diperlukan iman yaitu saat pikiran tidak dapat memahami fakta. Pernyataan inipun tetap tidak bisa menggoyahkan pandang bahwa logika mendasari iman. Kalau misalnya katanya fakta tidak dapat dimengerti maka “fakta tidak dapat dimengerti” itupun adalah sebuah fakta, bukan khayalan! So? Logika tetap tidak terbantahkan sebagai prakondisi bagi iman. Saya tidak akan mengulang lagi akibat tragis tidak berlakunya logika, bahkan kalaupun sebentar saja.

SD: Hahahaa, tiap orang Memiliki pola pemikiran yang Berbeda..menghasikan sudut pandang yang Berbeda… Saya menghargai Pandangan Ama Tana, ijinkan saya memakai perumpaaman ini.. Jika Ama berkunjung kle sebuah Taman Bunga dan di Taman Bunga itu Hanya ada satu Warna ..yaitu warna Putih saja…saya percaya Ama tana akan lebih senang berada di sebuah Taman yang di penuhi aneka Warna Bunga ketimbang satu warna..Mengapa ?.. Karena Warna-warni aneka bunga Lebih menyegarkan ketimbang satu warna… Boleh ya kita punya sudut pandang yang berbeda, pandangan saya.. Iman Itu Bukan Produk Asli Logika.. Tapi Produk Hati yang di setujui Logika..untuk Beriman.. Orang Harus percaya dulu dalam Hati nya… Ketika Hati telah Percaya.. Barulah Logika menyetujui nya sederhana sekali… Tuhan Memberkati Ama Tana…

MK: Memang benar bahwa tiap orang mungkin punya pandangan berbeda, tetapi juga benar bahwa walaupun mereka memiliki pandangan berbeda, mereka tetap tunduk pada logika dengan berbagai tingkatan. Ada orang yang sadar akan sangat mendasarnya logika dan konsisten tunduk pada logika, ada orang yang tidak paham apa itu logika tetapi mereka tunduk pada hukum-hukum itu secara konsisten, ada orang yang tahu apa itu logika tetapi merasa tidak logika tidan penting padahal mereka setiap saat dan setiap detik tunduk pada logika itu tetapi mereka tidak konsisten.. dll dst. Apapun keadaannya, semua orang harus tunduk pada logika.

Om SD boleh mengatakan bahwa iman bukan produk logika. Saya juga tidak mengatakan bahwa iman adalah produk logika. Saya katakan, bahwa tanpa logika iman tidak ada. Dua hal berbeda. Sudah beta katakan dan tunjukkan di atas dan om belum bantah beta pung argumen.

Selamat malam om

Satu lagi beta tambah, memang tiap orang berhak punya pandangan masing-masing. Tetapi hal itu tidak mengambil hak orang lain untuk menilai dan menganalisa apa yang merupakan pandangan orang lain. Itulah aspek sosial manusia. Selama ketidaksetujuan itu diungkapkan secara intelijen (dengan tunduk pada logika dan etika diskusi), maka berdebat atau berdialog atau apapun namanya adalah sesuatu yang pantas dilakukan.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik. Tandai permalink.

2 Balasan ke Sekelumit Diskusi tentang Iman, Logika, dan Mujizat

  1. Adrian Frank berkata:

    Selamat sore, sorry kalo saya juga ikutan comment, krna saya kebetulan searching di google terus saya lihat blog ini.
    Menurut saya, saya setuju sama statusnya saudara “SD” diatas yang menjadi pokok diskusi diatas.

    “..TERKADANG hanya Membutuhkan IMAN SEBESAR BIJI SESAWI untuk Memindahkan sebuah Bukit / Gunung…Ketika ‘Logika’ Kehilangan Kemampuannya untuk ‘Memindahkan’ .. ‘Bukit / Gunung persoalan yang ‘Kita Hadapi’… MILIKILAH IMAN SEPERTI Dalam KEPASRAHAN TOTAL KEPADA Tuhan…Maka Bukit dan Gunung dan di TAKLUKKAN..in Jesus Love.”..

    Namun saya juga membaca komentar pertama saudara “MK” :

    ..”Pernyataan Ketika ‘Logika’ Kehilangan Kemampuannya untuk ‘Memindahkan’ .. ‘Bukit / …”. adalah salah karena yang memindahkan itu bukan logika tetapi iman. Logika adalah sesuatu yang mendasari iman. Tanpa logika, iman tidak akan ada. Kalau logika tidak ada maka iman = tulah=anjing=hantu=rumah=putih=printer=alam=mobil=tembok=bunga dan pada akhirnya iman bukan apa-apa.”…

    Saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya diskusi ini tidak akan terlalu lebar dan luas jika kita memahami maksud status saudara “SK” di atas.

    Pernyataan “ketika logika kehilangan kemampuan untuk memindahkan”, kita harus memahami maksud kata logika yang digunakan SD. Logika itu bukanlah logika yang mencakup makna aslinya. (Jika demikian pantaslah diskusi menjadi luas). Tetapi logika disini maksudnya ialah : SESUATU YANG MASUK AKAL /PERISTIWA YANG LOGIS.

    Misalnya : kalau saya flu, saya minum obat flu, saya sembuh. Nah itu sesuatu logika menurut saya.
    Tapi jikalau saya misalnya buta, terus saya berdoa, saya sembuh. Nah inilah yang tidak logis. Mana ada di dunia orang buta cukup tutup mata berlutut doa langsung sembuh. Kan nggak masuk akal. Nggak logis.

    Tapi disinilah peran IMAN itu terlihat. Karena sebagai orang Kristen, pengikut Yesus, Yesus memang melakukan banyak hal di luar logika manusia ( tidak masuk akal).

    Contoh :
    1. Air biasa diubah Yesus menjadi Anggur. (Injil Yohanes Pasal 2 – Alkitab TB LAI)
    2. Lazarus mati dibangkitkan. (Injil Yohanes Pasal 11 – Alkitab TB LAI)

    Jadi yang menjadi jalan keluar bagi diskusi di atas adalah saudara MK, perlu memahami arti logika yang digunakan SD dalam statusnya.
    Terima kasih

    • admin berkata:

      Hmm..

      1. Kalau Yesus mengubah air menjadi anggur, lalu hukum logika apa yang dilanggar sehingga dikatakan bahwa logika bertentangan dengan mujizat?

      2. Kalau Lazarus dibangkitkan, lalu hukum logika apa yang dilanggar sehingga dikatakan bahwa logika bertentangan dengan mujizat?

      Lalu apa yang SD maksudkan dengan logika?

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s