Agustinus

Di bawah ini adalah terjemahan tulisan Gordon H. Clark tentang Agustinus. Harap dipahami bahwa konteks tulisan ini adalah pembahasan Clark tentang tiga tipe filsafat agama dan tidak menyentuh segala sesuatu yang dibahas Agustinus. Agustinus masuk ke dalam golongan filsafat agama rasionalisme, walaupun pada bagian sebelumnya Clark mengakui bahwa ini adalah sebuah keterpaksaan karena Agustinus bukanlah rasionalis murni.

Agustinus
Agustinus bukanlah rasionalis murni kalau kita menggunakan definisi yang disebutkan sebelumnya di sini [sebagai standar]. Penggunaan dua metode berbeda menimbulkan kecurigaan adanya ketidakkonsistenan atau masalah yang tidak terpecahkan [dalam sistem filsafat seseorang]. Namun setidaknya kita akan lebih memahami masalah yang menyebabkan pemikir besar [seperti Agustinus] secara sengaja menerima, atau secara tidak sengaja terperangkap ke dalam posisi yang mencurigakan tersebut.

Masalah mendesak bagi Agustinus bukanlah kebenaran doktrin teologis tertentu. Karena dia seorang Kristen, tentu saja dia ingin membela dan menyiarkan doktrin-doktrin seperti Tritunggal, penebusan, dan sebagainya. Doktrin seperti ini menjadikan karyanya sebagai filsafat agama, bukan filsafat sekuler. Namun jika orang bisa tahu bahwa doktrin Trinitas benar, maka orang bisa punya pengetahuan. Namun jika orang tidak bisa mengetahui apapun, maka dia tidak dapat mengetahui tentang Trinitas. Karena itu, Agustinus harus memulai dengan menunjukkan bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang mungkin.

Dalam abad-abad sebelumnya yaitu abad pertama sebelum Kristus dan ketiga abad pertama setelah Kristus, filsafat Yunani sangat bersifat skeptis. Jalas bahwa pada abad keempat sebelum Kristus Plato telah berjumpa dengan kaum Sofis dari akhir abad kelima dan menghancurkan mereka. Namun setelah Plato dan Aristoteles muridnya yang terkemuka mendirikan sekolah-sekolahnya dan mewariskannya kepada para penerusnya, sekitar tahun 300 Sebelum Kristus Pyrrho memulai aliran skeptisisme yang berkembang kekuasaan dan pengaruhnya selama hampir tidak empat ratus tahun. Bahkan Akademi Plato berubah menjadi skeptis, kaum Stoa bertahan namun berkurang pengaruhnya setelah tahun 200 Sebelum Kristus. Penganut Neoplatonisme bernama Potinus yang meninggal sekitar tahun 270 Setelah Kristus memberi pukulan berat kepada Stoisisme dan Skeptisisme. Namun bahkan pada tahun 400 Setelah Kristus, Agustinus yang sebelumnya telah melewati fase skeptis dan kemudian menjadi neoplatonis sebelum menjadi kristen, merasa perlu untuk membantah kaum skeptis.

Entah menjadi keharusan historis dan pribadi atau tidak, tetapi adalah keharusan logis untuk menunjukkan bahwa pengetahuan adalah sebuah kemungkinan dan bagaimana pengetahuan merupakan sebuah kemungkinan, sebelum menyimpulkan bahwa doktrin keagamaan tertentu (atau dalam hal ini hukum fisika tertentu) dapat diketahui sebagai benar.

Kaum skeptis telah mengumpulkan serangkaian peluru argumentasi yang membantah kemungkinan adanya pengetahuan. Argumen-argumen ini telah diulang-ulang [jadi tidak perlu dibahas di sini]. Descartes sebenarnya melampau kaum skeptis. Dia merujuk pada pengandaian adanya satu iblis yang mahatahu yang terus-menerus menipu kita. Bagi kebanyakan orang, pengandaian seperti ini tidak masuk akal dan mereka mengabaikannya begitu saja. Namun kalau kita mulai dengan ketiadaan pengetahuan sama sekali, kita bahkan tidak tahu kalau sesuatu bisa diketahui atau tidak, maka tidak terelakkan bahwa kita tidak tahu apakah gagasan tentang iblis yang maha tahu adalah masuk akal atau tidak dapat diterima. Sebuah proposisi dapat dikatakan tidak masuk akal hanya kalau bertentangan dengan kebenaran yang kebenarannya sudah jelas. Kalau tidak ada yang diketahui, gagasan tentang iblis mahatahunya Descartes tidak dapat dikatakan tak masuk akal atau tidak dapat diterima. Kaum rasionalis dapat dengan mudah membantah keberatan seperti ini, tetapi tidak demikian halnya dengan kaum empiris.

Bantahan lain akan kemungkinan pengetahuan tidak seradikal bantahan di atas, namun perlu dibahas. Bahkan karena bantahan tersebut tidak setak-masuk-akal keberatan sebelumnya, bantahan tersebut pastilah dengan mudah dipatahkan.

Di bawah ini ada beberapa contoh. Bagaimana kita melihat sesuatu atau apa yang kita lihat tergantung pada penglihatan mata. Namun demikian, ada orang yang yang penglihatannya ‘lebih baik’ daripada yang lainnya. Ada orang yang buta warna – dengan berbagai tingkatan sedangkan ada yang lain (yaitu para artis avant garde) yang melihat begitu banyak warna sehingga kita anggap mereka sedang berhalusinasi. Lebih jauh lagi, mata beberapa jenis hewan berbeda dengan mata manusia. Sensasi inderawi siapa yang kita harus percayai? Argumen skeptis ini sudah ada sejak jaman kuno dan saat ini para ilmuwan memberinya jubah istilah baru: saat cahaya mengenai satu benda dan terefleksi ke mata kita maka cahaya tersebut akan berubah panjang gelombangnya. Perubahan itu tergantung pada keadaan sekitar. Pertanyaannya adalah panjang gelombang yang mana yang memberi kita kesan yang akurat tentang obyek yang kelihatan?

Sampai di sini saja dulu argumen skeptis membantah pengalaman inderawi. Inti yang hendak saya sampaikan adalah pentingnya menunjukkan bahwa pengetahuan adalah sebuah kemungkinan. Seorang Kristen berharap untuk membela Trinitas, Sepuluh Perintah, dan beberapa pernyataan historis. Lalu darimana kita mulai? Apakah ada sesuatu yang begitu pasti sehingga distorsi sensasi inderawi dan bahkan iblisnya Descartes tidak sanggup mematahkannya? Kebenaran apa yang paling mendasar? Apakah setiap proposisi membuktikan (mengotenktikasi) diri sendiri? Agustinus menjawab dengan mengiyakan.

Kebenaran awal Descartes sudah dijelaskan [di bagian] sebelumnya yaitu kita harus berpikir kalaupun kita tertipu. Agustinus tidak hanya menyatakannya demikian. Walaupun Descartes menyombongkan diri dengan menyatakan bahwa dia meletakkan dasar filsafat yang baru dan orisinil, pengaruh Agustinus terbaca jelas dalam tulisannya.

Sebenarnya, Agustinus lebih jelas dan lebih eksplisit daripada Descartes. Kebenaran awal Descartes sebenarnya bukanlah ‘Aku berpikir‘ seperti yang dikatakannya. Kebenaran pertamanya sebenarnya adalah hukum-hukum logika. “Aku berpikir” menjadi benar karena orang yang menyangkalnya sedang melakukannya sehingga dia telah berkontradiksi dengan diri sendiri. “Aku berpikir” tergantung pada hukum-hukum logika.

Agustinus secara eksplisit memulai dengan logika. Anda mungkin tidak tahu, katanya, apakah anda sedang terbangun atau tertidur, tetapi anda tidak dapat tidak tahu bahwa anda adalah salah satu darinya. Dengan kata lain prinsip disjungsi total tidak dapat diragukan. Hukum implikasi juga adalah sebuah kepastian. Jika hanya ada empat unsur (bumi, udara, api, dan air), tidak mungkin ada lima unsur. Mungkin juga Agustinus akan berkata: Semua manusia pasti mati, Socrates adalah manusia, karena itu Socrates pasti mati.

Ini adalah posisi terkuat rasionalisme. Baik dogmatisme maupun empirisisme tidak dapat mengganggu gugatnya, walaupun bagaimana empirisisme sampai kepada logika akan dibahas kemudian. Renungkan contoh berikut: Andaikan ada seorang mahasiswa yang belajar sepak bola ala Amerika yang mengambil mata kuliah logika. Saat sang instruktur mengemukakan silogisme kuno, sang mahasiswa, yang IQnya tidak sampai setengah berat badannya mengatakan “Aku setuju bahwa Socrates adalah seorang manusia dan semua manusia pasti mati. Tetapi tolong jelaskan hubungannya dengan Socrates pasti mati!”

Sayangnya sang instruktur tidak dapat menjelaskannya: dia tidak dapat merujuk kepada sesuatu yang lebih mendasar dari hukum-hukum logika. Tetapi apakah itu sesuatu yang disayangkan? Tentu saja bagi Rasionalisme itu bukan sesuatu yang perlu disayangkan. Tidak ada apa-apa yang lebih mendasar yang padanya aksioma logika tergantung. Semua penjelasan harus menggunakannya. Ketika seorang instruktur menjelaskan prinsip-prinsip ekonomi atau kimia atau apa saja, dia berkata: Ini dan itu benar karena… Lalu kemudian dia menjelaskan alasan-alasan yang dia pakai untuk mendeduksi prinsip yang sedang dijelaskan. Karena itu logika tidak dapat dijelaskan atau dibuktikan atau dideduksi dari sesuatu yang lain karena logika adalah sesuatu yang mutlak dan tanpa pengecualian.

Lebih jauh lagi Agustinus mengutip contoh dari matematika. Dua tambah dua bukan hanya sama dengan empat tetapi harus empat. Ini bukan data empiris tetapi keharusan logis.

Beberapa pakar matematika moderen meremehkan contoh ini. Mereka berargumen bahwa matematika adalah formal dan jika dua dan empat didefinisikan dengan cara yang lazim, pernyataan bahwa dua tambah dua sama dengan empat hanyalah tautologi yang menyamar. Namun demikian, kalaupun itu merupakan teori formal matematika, hal itu tidak membuat logika tidak valid. Bahkan tautologi pun harus tunduk pada hukum inferensi.

Descartes tidaklah orisinil dalam frase “Aku berpikir”. Agustinus telah menegaskan kebenaran “Aku ada”. Kaum skeptis haruslah ada demi meragukan keberadaannya sendiri. Agustinus akan bertanya kepadanya “Apakah anda tau kalau anda itu ada?” Lalu apa jawaban kaum skeptis?

Agustinus akan terus mendesak. Agustinus beranggapan bahwa norma moralitas juga diketahui dan pasti. Bukankah kaum skeptis sendiri mengklaim sebagai filsuf yaitu pencinta kebijaksanaan? Semua orang menginginkan kebahagiaan dan sang filsuf menunjukkan melalui tindakannya bahwa kebahagiaan terdapat dalam kebenaran. Skeptis, secara etimiologis berarti pencari kebenaran. Karena itu, penyangkalan akan kemungkinan kebenaran bertentangan dengan sumber dari semua tindakan manusia.

Aspek moral merupakan salah satu yang Agustinus tekankan. Kaum skeptis makan malam seolah-olah ada makan malam untuk disantap dan juga seolah-olah baik bagi dia untuk bersantap malam. Dia tidak menyiksa diri sendiri dengan memukulkan palu di kepalanya seolah-olah hal itu buruk baginya. Namun ketika ditanyai, kaum skeptis menjawab bahwa mereka tidak tahu semua itu, dan mereka merasa bahwa semua itu adalah hal-hal yang lebih memungkinkan dibanding hal lain. Agustinus akan membantah dengan mengatakan “Sebuah proposisi dapat menjadi lebih mungkin dan diketahui sebagai lebih mungkin hanya kalau proposisi tersebut mirip atau mendekati kebenaran. Orang yang tidak mengetahui yang benar tidak dapat mengetahui apa yang mendekati kebenaran. Sebuah teori probabilitas harus didasarkan pada kebenaran. Karena itu kaum skeptis terbantah oleh kualitas moral dari tindakannya sendiri.

Jika misalnya orang moderen berpandangan bahwa prinsip moralitas tidaklah sepasti prinsip logika, sehingga diragukan apakah kita harus mencari kebahagiaan dan menyantap makan malam, maka setidaknya hukum-hukum logika tidak terelakkan. Apapun kasusnya, norma-norma logika, moral, atau estetis (kalau ada) adalah kebenaran yang tak terelakkan dan universal. Norma-norma tersebut bukan hanya benar saat ini dan di sini, tetapi dimana-mana dan kapanpun. Semua ini bukan hanya benar untuk saya tetapi untuk semua orang. Namun demikian, saya adalah pribadi terbatas dengan pengalaman terbatas. Saya tidak pernah bisa bertanya kepada Socrates atau kepada Abraham apakah dia menggunakan prinsip-prinsip logika yang saya gunakan. Bisakah terjadi bahwa logika tidaklah logis sebelum Airstoteles menyebutkan semua silogisme yang mungkin?

Jadi tampaknya, walaupun saya terbatas, dalam pikiran saya terdapat sesuatu yang kekal. Logika tidak pernah dimulai dan tidak pernah berakhir. Matematika dan moralitas juga demikian. Kebenaran abadi dan tidak berubah seperti itu tidak dapat diabstrakkan dari matriks yang berubah-ubah. Mereka bukan produk dari penalaran subyektif manusia. Harus ada akal budi yang abadi dan tak berubah yang darinya berasal kebenaran abadi tersebut. Entah kebenaran itu adalah Allah dan Allah adalah kebenaran ataukah kalau ada sesuatu yang lebih tinggi dari kebenaran, maka keberadaan tersebut adalah Allah. Apapun pilihannya, terbukti bahwa Allah ada.

Akan sangat menarik untuk memahami filsafat Agustinus lebih lanjut. Bagaimanapun juga, hanya Thomas Aquinas yang bisa menantang status Agustinus sebagai filsuf Kristen paling brilian. Karena itu kita harus mempelajari bagaimana Agustinus menghubungkan akal budi dan iman, peran sensasi inderawi, apakah mungkin mengetahui benda, bagaimana orang dapat berkomunikasi satu dengan yang lain, serta siapa yang dapat mengajar siapa. Secara sambil lalu dapat dikatakan bahwa Agustinus secara panjang lebar membahas masalah yang muncul dari invasi kaum barbar dan penjarahan kota Roma pada tahun 410. Tentu saja dibahas pula hal yang dianggap paling penting yaitu teologi. Walaupun semua ini tidak dapat dibahas di sini, keberadaan Tuhan adalah salah satu tema besar dalam filsafat agama dan masih ada satu atau dua hal yang akan dibahas terkait hal ini.

The Works of Gordon Haddon Clark,  Volume 4, halaman 31-34, terjemahan Ma Kuru

Pos ini dipublikasikan di Agustinus, Descartes, Filosofi, Gordon H. Clark, Rasionalisme, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s