Cerita Ravi Zacharias Tentang Berpikir Kritis

Berikut ini adalah kutipan dari kuliah Ravi Zacharias yang terkait dengan berpikir kritis di Perguruan Tinggi.

Saya diminta untuk menyampaikan materi tentang etika di sebuah universitas yang saya tidak mau sebutkan di sini. Ada cerita kecil yang menarik di sana. Ini benar-benar terjadi. Ada beberapa orang yang berdiri di sekitar saya ketika ini terjadi. Ketika menyebut pembicara lain, saya dapati bahwa mereka sangat terkenal di berbagai bidang yang merupakan keahliannya. Saya bertanya mengapa mereka mengundang saya juga.

Mereka menjawab bahwa mereka ingin agar orang beragama berbicara tentang perspektif transenden dalam etika. Saya menerima itu. Saya menyajikan materi saya bahwa etika tanpa dasar transenden adalah sebuah kecatatan. Setelah penyamapaian materi, para siswa mengerumuni saya dan salah satu perempuan muda berkata “Dr. Zacharias, saya diminta ke sini hari ini untuk mendengar kuliah anda dan menulis sebuah makalah yang membuktikan anda salah.” Saya katakan, “Saya ingin membaca makalahnya kalau sudah selesai.” Tetapi dia berkata, “Tidak tuan, setelah mendengar kuliah anda, saya tidak akan mengambil jalur itu. Saya ingin menulis makalah tentang mengapa saya setuju dengan apa yang anda katakan.” Kata saya, “Bagus sekali!” Dia membalas, “Tapi saya pikir saya tidak bisa melakukannya.” Saya tanyakan kembali, “Mengapa tidak?” Dia katakan, “Nilai saya akan dikurangi. Tidak mungkin saya mendapat A kalau saya setuju dengan anda.”

Kita mundur dulu sebentar, setelah memberi penyajian saya makan siang dengan kaum akademis dari fakultas itu. Salah satu dari mereka mengatakan kepada saya, semua filsafat itu memang bagus. Dia berkata, “tapi saya ingin bertanya pada anda bagaimana anda menjauhkan mahasiswa dari penipuan/menyontek? Itu baru pertanyaan etis.” Dia mengatakan itu sebelum si mahasiswi itu berbicara dengan saya.

Nah, kepada mahasiswi tadi saya bertanya, “Apakah profesormu tadi di sini”? Dia mengiyakan. Saya menanyakan siapa profesornya. Dia menjawab bahwa profesornya adalah dia yang menanyakan bagaimana supaya menjauhkan mahasiswa dari penipuan.

Anda lihat bagaimana kontradiksi yang dengannya orang diajarkan di tingkat pendidikan tertinggi? Saya katakan kepada saudara/i sekalian, adalah sebuah keharusan bagi anda dalam kehidupan di rumah tangga anda untuk mengajar kembali anak anda untuk berpikir karena seni berpikir kritis telah hilang.

Ravi Zacharias, Lessons from History: The Tale of the Two Men 3, Terjemahan Ma Kuru

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Ravi Zacharias, Tokoh. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s