Tanggapan Pdt. Esra Soru terhadap Pandangan Eben Nuban Timo terkait Kehabisan Energi atau Tidak Berdayanya Allah

“APAKAH ALLAH TELAH KEHABISAN ENERGI & TIDAK BERDAYA LAGI?” 
Sebuah Tanggapan Teologis Terhadap Tulisan Pdt. Dr. Eben Nuban Timo.

 By. Esra Alfred Soru

  

Pada bulan Desember yang lalu (Desember 2011), saya mendapat pesan via Facebook oleh seorang teman yang menyarankan saya untuk membaca tulisan Pdt. Dr. Eben Nuban Timo yang dimuat di koran Pos Kupang yang menurutnya aneh karena tulisan itu mengatakan bahwa setelah menciptakan alam semesta, Allah menjadi kehilangan kemuliaan-Nya. Sayang sekali saya tidak berhasil mendapatkan koran tersebut. Tetapi beberapa waktu yang lalu (akhir Januari 2012) saya mendapatkan sebuah SMS dari seorang di Rote yang menanyakan pendapat saya tentang tulisan Pdt. Dr. Eben Nuban Timo dalam buku Renungan Harian “Tunas Dari Tanah Kering” di mana beliau mengatakan setelah selesai menciptakan dunia ini, Allah kehilangan energi-Nya. Saya tidak dapat memberikan jawaban atau pendapat saya karena saya sama sekali belum membaca tulisan tersebut, baik di koran Pos Kupang maupun dalam buku “Tunas Dari Tanah Kering” itu. Tetapi puji Tuhan pada pada tanggal 1 Februari seorang jemaat membawa buku tersebut dan memberikannya pada saya. Saya lalu membaca tulisan Dr. Eben Nuban Timo itu dan benar seperti kata teman saya di Facebook maupun orang dari Rote itu bahwa beliau mengatakan kalau setelah menciptakan dunia ini, Allah menjadi kehilangan kemuliaan-Nya dan bahkan kehabisan energi. Ia menjadi kosong dan miskin dan tidak berdaya apa-apa lagi. Saya lalu memutuskan untuk menulis tanggapan terhadap tulisan Dr. Eben Nuban Timo ini.

 I.      TULISAN DR. EBEN NUBAN TIMO.

 Berikut ini adalah tulisan Dr. Eben Nuban Timo yang akan kita bahas sebagaimana dimuat di Koran Pos Kupang (Desember 2012) dan dalam buku Renungan Harian “TUNAS DARI TANAH KERING” (Edisi I/V/2012) – Januari – Februari 2012, hal. 27-30. 

ALLAH MENCIPTAKAN = ALLAH MENGOSONGKAN DIRI

Tahukah saudara-saudara dari bahan dasar apakah Tuhan Allah menciptakan langit dan bumi? Gereja mengajarkan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi tanpa bahan dasar apa pun. Allah menciptakan dari ketiadaan. Ungkapan Latin untuk itu adalah “creatio ex nihilo”. Pendapat ini benar, setidak-tidaknya jika yang dimaksudkan adalah bahan dasar yang berasal dari luar diri Allah.

Tetapi dalam bahasa Latin ada lagi suatu ungkapan lain yang berbunyi “ex nihilo nihil fit”, yang artinya dari ketiadaan tidak mungkin ada yang terjadi atau tercipta. Bagaimana mungkin ada sesuatu di samping Allah yang bernama penciptaan  jika tidak ada bahan dasar apa pun untuk membentuk ciptaan?

Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian tentang proses penciptaan langit dan bumi oleh Allah, menjadi jelas bahwa Allahmemang menciptakan langit dan bumi sebagai kenyataan ciptaan, maka bahan baku untuk itu diambil Allah dari diri Allah sendiri. Alkitab menunjukkan bahwa Roh dan Firman adalah bahan baku sekaligus daya kreatif yang diambil Allah dari diri-Nya untuk memproses keberadaan langit dan bumi.

Bumi sebagaimana dihadapi Allah pada saat penciptaan, seperti ditegaskan dalam Kej 1:2 belum berbentuk dan kosong. Berhadapan dengan bumi yang kosong, Allah memberikan atau mengeluarkan sesuatu dari dalam diri-Nya. Sesuatu itu bergerak keluar dari Allah. Firman yang keluar dari mulut Allah itu tidak pergi begitu saja dan lenyap dalam kekosongan atau hampaan tetapi firman itu berubah wujud menjadi terang yang mengusir kegelapan. Allah melihat proses metamorfosa dari firman menjadi terang itu baik, maka Allah mengulang hal yang sama berhadapan dengan air yang menutupi bumi. Allah berfirman dan firman itu berubah menjadi cakrawala. Firman yang bermetamorfosa dalam wujud yang baru itu mengisi kekosongan langit dan menghiasi wajah bumi.

Proses yang sama dilakukan terus menerus oleh Allah dari hari pertama sampai hari keenam, firman berubah menjadi pohon, menjadi tumbuh-tumbuhan, menjadi burung-burung, menjadi aneka jenis ikan, berbagai macam species binatang di darat. Pada hari yang keenam Allah tidak hanya memberikan firman-Nya untuk berubah wujud menjadi manusia. Allah juga memberikan gambar diri-Nya sendiri supaya manusia yang berwujud dari firman itu menjadi serupa dengan Allah.

Setiap kali Allah berfirman, jadilah sesuatu. Itu memiliki empat arti. Pertama, sesuatu yang tercipta itu berhutang eksistensi kepada Sang firman. Kedua, di dalam aneka jenis ciptaan itu terdeteksi jejak-jejak Sang firman. Ketiga, bumi yang kosong dan tidak berpenghuni itu sekarang berpenghuni. Itu terjadi karena Allah yang semula mengisi dan memenuhi segala sesuatu berkenan untuk memberi ruang  bagi adanya sesuatu yang lain.  Cara yang diambil Allah ialah dengan mengosongkan diri, membuat diri-Nya makin berkurang.

Dalam karya penciptaan Allah menjalani suatu proses kenosis (pengosongan diri) yang radikal. Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi terang, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia. Kita bisa katakan bahwa firman mengisi semua kekosongan bumi dalam berbagai-bagai wujud dan bentuk tanah, batu, pohon, air, binatang-binatang dan manusia.

Keempat, terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman pada saat yang sama berarti Allah yang tadinya penuh dengan segala sesuatu dan memenuhi segala sesuatu menjadi makin berkurang dan kosong. Bukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan.

Informasi tentang asal-usul penciptaan sebagaimana kita dengar dari Allah Sang Pencipta sangat mengejutkan kita, yakni Allah memberikan segala sesuatu dari diri-Nya, Ia membagi-bagikan hidup-Nya, Ia tidak ingin terus menerus memenuhi segala-galanya. Dalam penciptaan, Allah tidak hanya memisahkan kenyataan ciptaan dan menaruh batas-batas pada kenyataan yang dipisahkan itu. Allah sudah memisahkan sesuatu dari diri-Nya dan menaruh batas pada diri-Nya supaya ada sesuatu yang lain dan ada ruang yang lain itu untuk hidup. Allah menarik diri untuk memberi ruang bagi keberadaan ciptaan.

Dengan cara itu ada tempat bagi yang lain untuk hidup di samping Allah. Bahkan bahan dasar untuk menjadikan keberadaan yang lain itu juga berasal dari Allah. Dunia yang kosong, tandus, mandul makin penuh dengan kemuliaan dan kebesaran Allah, tetapi pada saat yang sama Allah yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran menjadi kosong dan miskin. Ia yang tadinya memiliki segala hal menjadi tidak lagi memiliki apa-apa.

Ini suatu proses yang melelahkan dan menyakitkan. Allah sungguh kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya. Dalam keadaan yang tidak lagi memiliki apa-apa dan tidak berdaya karena telah membagi-bagikan semua yang ada pada-Nya sebagai bahan baku untuk membentuk ciptaan, Allah mengundurkan diri untuk masuk dalam sabat. Penarikan diri Allah sekarang menjadi penuh pada hari ketujuh. Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu.

Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa. Hari sabat itu, seperti yang disaksikan Alkitab sudah tiba dan sedang berlangsung tetapi hari sabat itu belum selesai. Kenyataan ini diartikulasikan oleh penulsi kisah penciptaan dengan membiarkan hari sabat tetap terbuka. Penulis kitab Kejadian sama sekali tidak mengatakan kalimat : “Jadilah petang jadilah pagi” yang diulang-ulang dari hari pertama sampai hari keenam untuk dikenakan pada hari ketujuh. Ini sebuah penegasan bahwa hari sabat itu sudah tiba tetapi belum berakhir.

Hari sabat sudah tiba. Proses kepada pemenuhan perjanjian antara Allah dan manusia sudah mulai dilaksanakan tetapi proses itu belum berakhir. Semua makhluk sedang hidup dalam hari sabat itu. Tugas manusia selama sabat yang masih terus berlangsung  itu adalah memimpin seluruh makhluk untuk datang kepada Allah mengembalikan hormat, pujian dan kuasa kepada Allah yang berkenan mengosongkan diri-Nya demi kehidupan ciptaan.

Itulah seharusnya menjadi pekerjaan ciptaan sebagai jawaban atas apa yang sudah Allah kerjakan baginya. Hidup selama hari sabat yang sudah mulai tetapi belum selesai itu adalah selalu datang kepada Allah untuk memberikan kembali kemuliaan, hormat dan kuasa yang menjadi dasar atau bahan baku dari keberadaanya. (ent)

 

II.    INTI AJARAN DR. EBEN NUBAN TIMO.
Dari tulisan Dr. Eben Nuban Timo di atas, kita dapat meringkaskan pandangan / ajarannya dalam 5 point penting :

  1. Allah menciptakan dunia dan segala isinya dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari diri-Nya sendiri yakni Firman dan Roh-Nya.

Dr. Eben Nuban Timo : “Bukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan”.

  1. Dalam penciptaan, Firman Allah menjelma / bermetamorfosa / berubah menjadi ciptaan-ciptaan.

Dr. Eben Nuban Timo : “Firman yang keluar dari mulut Allah itu tidak pergi begitu saja dan lenyap dalam kekosongan atau hampaan tetapi firman itu berubah wujud menjadi terang yang mengusir kegelapan. Allah melihat proses metamorfosa dari firman menjadi terang itu baik, maka Allah mengulang hal yang sama berhadapan dengan air yang menutupi bumi. Allah berfirman dan firman itu berubah menjadi cakrawala”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Proses yang sama dilakukan terus menerus oleh Allah dari hari pertama sampai hari keenam, firman berubah menjadi pohon, menjadi tumbuh-tumbuhan, menjadi burung-burung, menjadi aneka jenis ikan, berbagai macam species binatang di darat”. Pada hari yang keenam Allah tidak hanya memberikan firman-Nya untuk berubah wujud menjadi manusia. Allah juga memberikan gambar diri-Nya sendiri supaya manusia yang berwujud dari firman itu menjadi serupa dengan Allah.

Dr. Eben Nuban Timo : “Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi terang, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia”. Kita bisa katakan bahwa firman mengisi semua kekosongan bumi dalam berbagai-bagai wujud dan bentuk tanah, batu, pohon, air, binatang-binatang dan manusia.

  1. Akibat dari tindakan penciptaan yang dilakukan-Nya (sebagaimana dikatakan dalam point 2) Allah sendiri menjadi berkurang, miskin,  bahkan menjadi kosong.

Dr. Eben Nuban Timo : “Allah yang semula mengisi dan memenuhi segala sesuatu berkenan untuk memberi ruang bagi adanya sesuatu yang lain. Cara yang diambil Allah ialah dengan mengosongkan diri, membuat diri-Nya makin berkurang”.

Dr. Eben Nuban Timo : “…terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman pada saat yang sama berarti Allah yang tadinya penuh dengan segala sesuatu dan memenuhi segala sesuatu menjadi makin berkurang dan kosong.

Dr. Eben Nuban Timo : “Dunia yang kosong, tandus, mandul makin penuh dengan kemuliaan dan kebesaran Allah, tetapi pada saat yang sama Allah yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran menjadi kosong dan miskin. Ia yang tadinya memiliki segala hal menjadi tidak lagi memiliki apa-apa”.

  1. Akibat dari kekosongan yang dialami Allah di mana Ia tidak memiliki apa-apa lagi (sebagaimana point 3), di akhir penciptaan segala sesuatu, Allah lalu menjadi kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya.

Dr. Eben Nuban Timo : “Ini suatu proses yang melelahkan dan menyakitkan. Allah sungguh kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya.

  1. Dalam keadaan yang kosong, miskin, tidak memiliki apa-apa lagi, kehabisan energi dan tak berdaya, Allah tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain mengundurkan diri dan masuk ke dalam sabat di mana di sana Ia menanti manusia agar memimpin segenap ciptaan untuk bisa mengembalikan kemuliaan, kuasa dan kebesaran-Nya yang sudah habis dibagibagikan pada ciptaan-ciptaan itu.

Dr. Eben Nuban Timo : “Dalam keadaan yang tidak lagi memiliki apa-apa dan tidak berdaya karena telah membagi-bagikan semua yang ada pada-Nya sebagai bahan baku untuk membentuk ciptaan, Allah mengundurkan diri untuk masuk dalam sabat. Penarikan diri Allah sekarang menjadi penuh pada hari ketujuh. Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Tugas manusia selama sabat yang masih terus berlangsung itu adalah memimpin seluruh makhluk untuk datang kepada Allah mengembalikan hormat, pujian dan kuasa kepada Allah yang berkenan mengosongkan diri-Nya demi kehidupan ciptaan”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Hidup selama hari sabat yang sudah mulai tetapi belum selesai itu adalah selalu datang kepada Allah untuk memberikan kembali kemuliaan, hormat dan kuasa yang menjadi dasar atau bahan baku dari keberadaanya”.

 

III.  TANGGAPAN TEOLOGIS TERHADAP AJARAN DR. EBEN NUBAN TIMO.
Setelah melihat dan merinci apa yang diajarkan oleh Dr. Eben Nuban Timo, sekarang saya akan memberikan tanggapan teologis terhadap ajaran-ajarannya satu per satu :

  1. Tentang Allah menjadikan bumi ini dengan bahan dasar dari dalam diri Allah (Roh dan Firman).

 

Dr. Eben Nuban Timo :  “Gereja mengajarkan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi tanpa bahan dasar apa pun. Allah menciptakan dari ketiadaan. Ungkapan Latin untuk itu adalah “creatio ex nihilo”. Pendapat ini benar, setidak-tidaknya jika yang dimaksudkan adalah bahan dasar yang berasal dari luar diri Allah”. Tetapi dalam bahasa Latin ada lagi suatu ungkapan lain yang berbunyi “ex nihilo nihil fit”, yang artinya dari ketiadaan tidak mungkin ada yang terjadi atau tercipta. Bagaimana mungkin ada sesuatu di samping Allah yang bernama penciptaan  jika tidak ada bahan dasar apa pun untuk membentuk ciptaan?

Tanggapan Saya :

  1. Apakah begitu sukar bagi Allah atau mustahil bagi Dia untuk melakukan penciptaan tanpa sama sekali menggunakan bahan dasar atau bahan baku, entah dari luar atau dari dalam diri-Nya? Kata-kata Dr. Eben ini bertentangan dengan kesaksian Alkitab yang mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Luk 1:37 : Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Yer 32:17 – “…Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatanMu yang besar dan dengan lenganMu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu’”.

Kalau memang benar bahwa hal itu mustahil bagi Allah, itu pasti mustahil bagi Allahnya Dr. Eben Nuban Timo, tetapi bukan bagi Allah yang dibicarakan di dalam Alkitab.

 

  1. Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan “menciptakan” dalam Kej 1:1 adalah “BARA” yang memang berarti penciptaan dari ketiadaan.

Kej 1:1 : Pada mulanya Allah menciptakan (BARA) langit dan bumi.

 

John J. Davis : Kata kerja bara (“menciptakan”) mengungkapkan gagasan suatu penciptaan mutlak, atau ex nihilo penciptaan, secara lebih baik daripada kata kerja yang lain….. Oleh sebab itu, tindakan penciptaan oleh Allah yang tercermin dalam ayat 1 tidak melibatkan material yang sudah ada sebelumnya; Allah yang mahatinggi dan mahakuasa menciptakan langit dan bumi dari yang tiada. (Paradise to Prison, hal. 39-40).

 

Millard Erickson : Dalam PL istilah ini (“bara”) dipakai sebanyak 38 kali dalam bentuk Qal dan 10 kali dalam bentuk Nifal. Bentuk nominal (beri’ah – ciptaan) muncul hanya 1 kali (Bil 16:30). Bentuk Qal dan Nifal hanya dipakai untuk Allah, dan tidak pernah dipakai untuk manusia. Jelas bahwa kata kerja ini secara teologis dipakai untuk menunjukkan keunikan karya Allah ini yang berbeda dengan semua hasil karya manusia yang dibuat dari benda-benda yang sudah ada. (Teologia Kristen Vol 1, hal. 476).

Millard Erickson : ‘Bara’ tidak pernah muncul dengan akusatif yang menunjuk pada sebuah obyek yang dibentuk kembali  oleh Allah. Jadi ide tentang penciptaan dari kekosongan bisa saja merupakan arti dari istilah ini….Istilah ini tidak pernah dipasang dengan suatu obyek langsung yang menunjukkan benda yang dengannya Allah menciptakan sesuatu yang baru”. (Teologia Kristen Vol 1, hal. 477-478).

W.S Lasor, A.A. Hubbard, F.W. Bush : Penulis Kejadian 1 menggunakan kata Ibrani bara ‘menciptakan’, suatu kata dalam Perjanjian Lama yang hanya dipakai untuk Allah saja tanpa menyebut sama sekali bahan yang dipakai untuk menciptakan. Kata ini menggambarkan pekerjaan yang tidak ada kesamaannya dengan pekerjaan manusia dan tidak dapat diterjemahkan dengan istilah seperti “membuat” atau “membangun”. (Pengantar PL 1, hal. 122)

Jamieson, Fauset and Brown – Bara –  tidak dibentuk dari suatu bahan yang sudah ada sebelumnya, tapi dibuat dari ketiadaan.

Di dalam bahasa Ibrani sebenarnya ada 2 kata lain yakni “ASAH” dan “YATSAR” yang maknanya lebih longgar di mana selain bisa dipakai juga untuk penciptaan tanpa menggunakan bahan dasar dan bisa juga diartikan penciptaan dengan menggunakan bahan dasar yang sudah ada sebelumnya. Pada umunya diartikan “menjadikan” atau “membentuk”. Misalnya :

Kej 1:26 –  Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan (ASAH) manusia menurut gambar dan rupa Kita, …”

Kej 2:7 – ketika itulah TUHAN Allah membentuk (“YATSAR”) manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Note : Tubuh manusia diciptakan dengan menggunakan bahan dasar yang sudah ada sebelumnya yakni debu tanah.

Nah, seandainya benar bahwa Allah menciptakan dunia ini dengan menggunakan bahan baru dari dalam diri-Nya seperti yang dikatakan Dr. Eben Nuban Timo, lebih tepat kata yang dipakai dalam Kej 1:1 itu adalah “ASAH” atau “YATSAR” dan bukannya “BARA”. Jadi penggunaan kata “BARA” dalam Kej 1:1 ini seharusnya meruntuhkan teori omong kosong yang dikemukakan Eben Nuban Timo walaupun ia berkata bahwa itu adalah kesaksian kitab Kejadian :

 

Dr. Eben Nuban Timo :  “Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian tentang proses penciptaan langit dan bumi oleh Allah, menjadi jelas bahwa Allah memang menciptakan langit dan bumi sebagai kenyataan ciptaan, maka bahan baku untuk itu diambil Allah dari diri Allah sendiri”.

Ide tentang penciptaan dari ketiadaan ini yang mucul dari kata Ibrani “BARA” bukan hanya berlaku bagi bahan dasar dari luar diri Allah tetapi juga dari dalam diri Allah.

Dr. Nico Syukur Diester, OFM : “Menciptakan dunia bukan dari sesuatu yang sudah ada (creatio ex nihilo) itu diartikan oleh teologia secara rangkap. Pertama, Allah sendiri bukanlah “bahan” yang daripada-Nya dunia diciptakan (ex nihilo sui). Andaikata Allah sendiri bahannya, andaikata dunia dijadikan “dari Allah” seperti “Sabda lahir dari Bapa”, atau sungai keluar dari mata air, maka pada hakikatnya tiada perbedaan antara Allah dengan dunia sehingga kita jatuh dalam panteisme. Kedua, juga tidak ada bahan di luar Allah yang daripadanya Allah menjadikan langit dan bumi (ex nihilo subiecti). Seandainya di samping pencipta masih ada bahan yang bukan diciptakan-Nya sehingga bersifat kekal-abadi, maka masih ada prinsip atau asas yang kedua yang daripadanya alam semesta terjadi. Kalau demikian, kita jatuh dalam dualisme ontologis, segalanya berasal dari dua prinsip. (Teologia Sistematika 2, hal. 61).

Millard Erickson : “..Allah tidak melibatkan diri-Nya dalam proses penciptaan. Penciptaan bukanlah sesuatu yang dibuat dari diri-Nya. Ciptaan bukan merupakan bagian dari diri Allah atau sesuatu yang keluar dari Allah. (Teologi Kristen Vol. 1, hal. 479).

Karena harus disimpulkan bahwa teori Dr. Eben Nuban Timo bahwa Allah menciptakan dunia ini dengan mempergunakan bahan baku dari dalam diri Allah sendiri adalah teori yang salah dan dipaksakan sebagaimana dikatakan Erickson :

Millard Erickson : “Sekalipun dapat dikemukakan bahwa Allah ketika itu memakai sarana-sarana rohani yang tidak kelihatan sebagai bahan untuk menciptakan benda yang kelihatan, ini tampaknya merupakan gagasan buatan yang dipaksakan. (Teologi Kristen Vol 1, hal. 478).

 

  1. Tentang bahan dasar / bahan baku (dari dalam diri Allah) untuk penciptaan.

 

Tanggapan Saya  : Jika diteliti dengan seksama, ada ketidakkonsistenan dalam tulisan Dr. Eben Nuban Timo ini.

  • Di bagian awal tulisannya, ia menulis bahwa yang menjadi bahan dasar / bahan baku penciptaan adalah Firman dan Roh.

Dr. Eben Nuban Timo :  “Alkitab menunjukkan bahwa Roh dan Firman adalah bahan baku sekaligus daya kreatif yang diambil Allah dari diri-Nya untuk memproses keberadaan langit dan bumi”.

 

Dr. Eben Nuban Timo : “Bukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan”.

  • Tetapi anehnya dalam pembahasannya ia hanya menyebut-nyebut Firman yang bermetamorfosa menjadi ciptaan-ciptaan tanpa menyebutkan Roh sama sekali.

Dr. Eben Nuban Timo : “Firman yang keluar dari mulut Allah itu tidak pergi begitu saja dan lenyap dalam kekosongan atau hampaan tetapi firman itu berubah wujud menjadi terang yang mengusir kegelapan. Allah melihat proses metamorfosa dari firman menjadi terang itu baik, maka Allah mengulang hal yang sama berhadapan dengan air yang menutupi bumi. Allah berfirman dan firman itu berubah menjadi cakrawala”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Proses yang sama dilakukan terus menerus oleh Allah dari hari pertama sampai hari keenam, firman berubah menjadi pohon, menjadi tumbuh-tumbuhan, menjadi burung-burung, menjadi aneka jenis ikan, berbagai macam species binatang di darat”. Pada hari yang keenam Allah tidak hanya memberikan firman-Nya untuk berubah wujud menjadi manusia. Allah juga memberikan gambar diri-Nya sendiri supaya manusia yang berwujud dari firman itu menjadi serupa dengan Allah.

 

Dr. Eben Nuban Timo : “Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi teran, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia”. Kita bisa katakan bahwa firman mengisi semua kekosongan bumi dalam berbagai-bagai wujud dan bentuk tanah, batu, pohon, air, binatang-binatang dan manusia.

 

Kalau begitu di mana peranan Roh yang juga adalah salah satu bahan baku selain dari Firman itu?

  • Belakangan ia mengatakan bahwa setelah penciptaan itu Allah lalu menjadi kosong dan miskin dalam hal kemuliaan, kebesaran, kuasa dan hormat.

Dr. Eben Nuban Timo : “tetapi pada saat yang sama Allah yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran menjadi kosong dan miskin. Ia yang tadinya memiliki segala hal menjadi tidak lagi memiliki apa-apa”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu”.

Dr. Eben Nuban Timo : Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa”.

Jadi letak persoalannya adalah di mana peranan Roh sebagai bahan baku penciptaan itu? Bagaimana Firman yang keluar dan bermetamorfosa menjadi ciptaan tetapi kemuliaan, kebesaran dan kuasa yang menjadi hilang atau kosong dari diri-Nya? Apakah Fiman itu adalah elemen yang sama dengan kemuliaan, kebesaran dan kuasa? Ataukah Dr. Eben yang mulai bingung dengan teori yang dia buat sendiri? Kelihatannya yang kedua ini yang benar!

 

  1. Tentang Firman yang berubah / bermetamorfosa menjadi ciptaan.

 

Dr. Eben Nuban Timo :“Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian tentang proses penciptaan langit dan bumi oleh Allah, menjadi jelas bahwa Allah memang menciptakan langit dan bumi sebagai kenyataan ciptaan, maka bahan baku untuk itu diambil Allah dari diri Allah sendiri. Alkitab menunjukkan bahwa Roh dan Firman adalah bahan baku sekaligus daya kreatif yang diambil Allah dari diri-Nya untuk memproses keberadaan langit dan bumi”.

Tanggapan Saya  :

  1. Ini jelas sesuatu yang sangat lucu! Coba Dr. Eben Nuban Timo menunjukkan ayat mana yang mengatakan demikian? Ayat mana dalam kitab Kejadian yang mengatakan bahwa Firman itu berubah atau bermetamorfosa menjadi terang, batu, kayu, burung, ikan, dll?
  2. Alkitab sama sekali tidak mengatakan demikian! Perhatikan ayat ini :
  • Kej 1:3 : Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi terang? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, maka terang itu secara ajaib menjadi ada.

  • Kej 1:6 : Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi cakrawala? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, maka cakrawala itu menjadi ada.

  • Kej 1:11 : Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbij dan segala jenis pohon buah-buahan? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, tumbuh-tumbuhan itu menjadi ada.

  • Kej 1:20-21 : (20) Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala. (21) Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi burung-burung dan binatang-binatang laut? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, maka terciptalah burung-burung dan binatang-binatang laut. Dan masih banyak contoh lainnya!

Terlihat dengan jelas bahwa firman tidak pernah berubah menjadi ciptaan apa pun seperti yang dikatakan Dr. Eben.

  1. Kata “firman” dalam ayat-ayat di atas harus diartikan sebagai “kata-kata Allah” sehingga ayat-ayat itu hanya berarti bahwa ketika Allah berkata-kata / berucap / memerintah, maka semua ciptaan itu menjadi ada.

Ini meneguhkan fakta tentang penciptaan yang keluar dari ketiadaan. Perhatikan ayat-ayat ini :

Maz 33:9 – Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

TL : Karena berkatalah Ia, maka ia itupun adalah; berfirmanlah Ia maka ia itupun terdiri.

Rat 3:37 – Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?

Maz 148:5 – Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.

Rom 4:17 – “…di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.

BIS : “…Dialah juga Allah yang dengan berkata saja membuat apa yang tidak pernah ada menjadi ada.

Walter Kaisar : “…ciptaan digambarkan sebagai hasil dari firman Allah yang dinamis. Memunculkan dunia sebagai tanggapan langsung kepada firman-Nya sama dengan tindakan Yesus dari Nazaret yang menyembuhkan orang langsung ketika Ia berfirman….Demikian juga dnegan firman diucapkan di sini, dan terjadilah dunia. (Teologi Perjanjian Lama, hal. 101).

Terus terang saya heran mengapa seorang doktor teologia seperti Eben Nuban Timo tidak bisa mengartikan kata-kata kitab Kejadian yang sesederhana ini? Di awal ia berkata : “Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian…” tapi menurut saya ia sama sekali tidak seksama tapi ngawur.

  1. Ada kemungkinan Dr. Eben Nuban Timo mencampuradukkan ide tentang firman berubah menjadi ciptaan-ciptaan termasuk manusia dengan Yoh 1:14 :

Yoh 1:14 – Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Dugaan ini muncul karena penggunaan kata “firman” yang diawali dengan definite article / kata sandang “sang” di depannya sehingga menjadi “sang firman” yang adalah istilah umum untuk suatu makhluk.

Dr. Eben Nuban Timo – Setiap kali Allah berfirman, jadilah sesuatu. Itu memiliki empat arti. Pertama, sesuatu yang tercipta itu berhutang eksistensi kepada Sang firman.

Dr. Eben Nuban TimoKeempat, terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman…”

Dr. Eben Nuban Timo –  ukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan.

Kalau dugaan ini benar, jelas ini adalah sesuatu penafsiran yang salah karena :

  1. Kata “firman” dalam kisah-kisah penciptaan (Kej 1) berbeda artinya dengan kata “firman” dalam pembukaan Injil Yohanes.

Kata “firman” dalam kisah-kisah penciptaan (Kej 1) mempunyai arti hurufiah sebagai kata-kata atau ucapan Allah sehingga artinya menjadi seperti dipaparkan sebelumnya bahwa hanya dengan berkata-kata / berucap, jadilah semua ciptaan sedangkan kata “firman” dalam Yoh 1:14 bukan berarti ucapan bibir Allah melainkan gelar bagi Yesus sebagai Putera Allah. Bahwa Yesus memang bergelar Firman Allah terlihat dari :

Yoh 1:1 – Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

1 Yoh 1:1 – Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Wah 19:13 – Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman Allah.

  1. Firman menjadi manusia dalam Yoh 1:14 dikenal dengan istilah “inkarnasi” atau penjelmaan Anak Allah menjadi manusia. Tetapi ini sama sekali tidak berarti bahwa Sang Firman berubah atau bermetamorfosa menjadi manusia sehingga Firman itu lalu menjadi tidak ada lagi sebagaimana teori penciptaan Dr. Eben. Dalam inkarnasi, Firman mengambil hakikat manusia tetapi sama sekali tidak kehilangan atau kekurangan keilahian-Nya. (Akan dijelaskan lebih detail di belakang).
  1. Kelihatannya Dr. Eben Nuban Timo tidak bisa membedakan kata bahasa Indonesia dari firman” dan oleh firman”.

Jikalau ia bisa membedakan makna kata-kata ini tentu ia tidak akan membuat kesimpulan sengawur itu karena ada perbedaan antara kata-kata “dijadikan dari firman” dan “dijadikan oleh firman”.

 

Jikalah dikatakan bahwa sesuatu dijadikan dari firman maka memang firman menjadi bahan baku dari sesuatu itu seperti meja dibuat dari kayu. Tetapi kalau dikatakan bahwa sesuatu dijadikan oleh firman firman maka jelas artinya adalah firmanlah yang menjadi sebab atau firman dipakai untuk menyebabkan terjadinya sesuatu itu. Seperti dikatakan meja dibuat oleh tukang. Jadi firman bukan bahan baku dari sesuatu itu.

Sekarang mari kita perhatikan ayat-ayat ini :

Maz 33:6 : Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.

Ibr 11:3 – Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

  1. Dr. Eben juga mengatakan bahwa Roh adalah bahan baku dari ciptaan. Tapi sekarang perhatikan ayat ini :

Maz 104:30 – Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.

Terlihat dengan jelas bahwa Roh sama sekali tidak berubah menjadi ciptaan. Roh juga tidak dipakai sebagai bahan baku ciptaan. Rohlah yang memungkinkan munculnya ciptaan.

Semua ini membuktikan bahwa firman Allah dan Roh tidak pernah menjadi bahan baku dari ciptaan atau berubah atau bermetamorfosa menjadi ciptaan tetapi firman dan Roh yang menjadi sebab atau dipakai Allah untuk menciptakan semua ciptaan.

 

  1. Tentang Allah menjadi berkurang, miskin, kosong, kehabisan energi, tidak memiliki apa-apa dan tidak berdaya.

 

Tanggapan saya :

  1. Ini teori yang sangat naif dan bodoh yang bersifat menghina Allah dan bertentangan dengan kesaksian Alkitab tentang kesempurnaan, kebesaran dan ketidakberubahan Allah.

 

    • Alkitab menunjukkan bahwa Allah sama sekali tidak kelelahan apalagi kehabisan energi setelah pekerjaan penciptaan.

Yes 40:28 – Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

TL – Tiadakah engkau mengetahuinya? Belumkah engkau mendengarnya, bahwa Tuhan itulah Allah yang kekal, Khalik segala ujung bumi, yang tiada tahu penat atau lemah, dan lagi tiada terduga hikmat-Nya

Bandingkan ayat tersebut dengan kata-kata Dr. Eben :

Dr. Eben Nuban Timo : “Ini suatu proses yang melelahkan dan menyakitkan. Allah sungguh kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya.

    • Alkitab menunjukkan bahwa Allah sebelum mencipta dan setelah mencipta tetaplah sama. Ia tidak mengalami perubahan apa pun.

Maz 102:26-28 – (26) Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. (27) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; (28) tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.

Bandingkan :

Yak 1:17 – Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Tony Evans : ‘Tidak ada satu pengaruh pun yang telah menjadikan Allah sebagaimana ada-Nya sekarang. Allah yang sekarang adalah sepenuhnya sama dengan Allah yang dahulu. Allah yang sekarang dan Allah yang dahulu adalah sepenuhnya Allah yang akan datang”(Allah Kita Maha Agung, hal. 73).

Ini jelas berbeda dengan pandangan Dr. Eben Nuban Timo yang menyiratkan adanya perubahan dalam diri Allah antara sebelum dan sesudah mencipta.

Dr. Eben Nuban Timo : “Allah yang semula mengisi dan memenuhi segala sesuatu berkenan untuk memberi ruang bagi adanya sesuatu yang lain. Cara yang diambil Allah ialah dengan mengosongkan diri, membuat diri-Nya makin berkurang”.

    • Alkitab menunjukkan bahwa Allah setelah penciptaan selesai, Allah masih memenuhi segala sesuatu.

Yer 23:24 – Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.

Maz 139:7-9 – (7) Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (8) Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. (9) Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, (10) juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Ini jelas berbeda dengan pandangan Dr. Eben Nuban Timo :

Dr. Eben Nuban Timo : “…terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman pada saat yang sama berarti Allah yang tadinya penuh dengan segala sesuatu dan memenuhi segala sesuatu menjadi makin berkurang dan kosong.

  1. Jikalau setelah penciptaan Allah menjadi tidak berdaya apa-apa, bagaimana Ia bisa menopang segala ciptaan dan melanjutkan eksistensi mereka?
    • Ingat bahwa setelah penciptaan, semua ciptaan masih bergantung mutlak kepada Allah.

Maz 104:27-30 – “(27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”.

Ayub 12:7-10 – (7) Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. (8) Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. (9) Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; (10) bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?

Kis 17:28 – Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,…”

Nah bayangkan kalau Allah memang benar-benar telah kosong, miskin, kehabisan energi, tidak berdaya apa-apa, bagaimana nasib semua makhluk dan semua ciptaan?

    • Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab ternyata tidak seperti Allahnya Dr. Eben Nuban Timo.
  • Ibr 1:2-3 – (2) “…Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta (3) Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. …”

TL : “…Dialah juga yang memelihara keutuhan alam semesta ini dengan sabda-Nya yang sangat berkuasa….”

Silahkan pikirkan, kalau Allah sudah kehabisan energi dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bagaimana mungkin Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan?

  • Yes 40:28-29 – (28) Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. (29) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

Silahkan pikirkan, kalau Allah sudah kehabisan energi dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bagaimana mungkin Ia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya?

 

  1. Tentang proses kenosis dalam penciptaan.

 

Mungkinkah teori Dr. Eben Nuban Timo ini benar karena pada saat itu Allah memang sedang melakukan tindakan “kenosis” atau pengosongan diri?

Dr. Eben Nuban Timo : Dalam karya penciptaan Allah menjalani suatu proses kenosis (pengosongan diri) yang radikal. Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi terang, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia.

Tanggapan saya :

  1. Kata “KENOSIS” berasal dari bahasa Yunani “KENOO” yang berarti “mengosongkan diri” dan konsep ini dipakai oleh Paulus untuk menjelaskan keadaan Kristus pada saat inkarnasi.

Fil 2:5-8 – (5) “…Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan (KENOO) diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Jadi memang benar bahwa Kristus pernah mengosongkan diri-Nya yaitu pada saat Ia datang sebagai manusia demi penebusan dosa manusia. Bandingkan :

2 Kor 8:9 – Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Hanya persoalannya adalah atas dasar apa Dr. Eben Nuban Timo menerapkan prinsip kenosis ini kepada kasus penciptaan?

Sepanjang yang saya tahu (setelah membaca banyak tafsiran Alkitab,  penyelidikan terhadap kata Yunani “KENOO” lewat berbagai macam Ensiclopedia dan Kamus Alkitab), tidak pernah sekalipun kata “KENOO” atau prinsip kenosis ini diterapkan pada peristiwa penciptaan. Jadi ini murni karangan Dr. Eben Nuban Timo.

Seorang jemaat mencoba mendiskusikan hal ini dengan Dr. Eben Nuban Timo, dan jawaban dari Dr. Eben Nuban Timo dilanjutkan ke saya. Berikut ini SMS Dr. Eben dan tanggapan saya :

Eben Nuban Timo : Dalam Fil 2 Paulus berbicara tentang Allah yang mengosongkan diri, menjadi tidak berdaya dalam Kristus. Pengosongan diri itu tidak hanya di salib, tetapi sudah mulai waktu penciptaan di mana Allah mengambil gambar diri-Nya untuk diberikan kepada manusia.

Tanggapan saya :

  1. Pengosongan diri oleh Yesus dalam Fil 2 terkait dengan penebusan manusia dari dosa. Tapi kalau pengosongan diri dalam penciptaan, hubungannya dengan apa?
  2. Apakah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah lalu membuat Allah menjadi kosong dan kehabisan gambar dan rupa itu?

Jawaban Eben Nuban Timo : 3 karya Allah itu bukan 3 pekerjaan yang terpisah tapi 3 sisi dari karya yang satu dan sama. Kalau kita bilang terpisah, wah repot, jadi seperti Marcion atau Arius. Alkitab juga bilang begitu. Apa yang dikerjakan Anak itu juga yang dikerjakan bapa dan Roh Kudus. Kita terlalu sering pahami kuasa Allah secara matematika, akumulasi, padahal kuasa Allah itu relational, bukankah Allah adalah kasih? Kasih mengandaikan saling berbagi dan menjadi kurang, tapi dalam pengurangan itu kita jadi kuat. Itu yang dijarkan Alkitab.

Tanggapan saya : 3 karya Allah yang mana? Saya percaya bahwa Allah Tritunggal bekerjasama dalam hal-hal tertentu tetapi itu tidak berarti bahwa 1 hal tertentu yang dialami oleh 1 pribadi harus juga dialami oleh pribadi yang lain? Misalnya, yang menjadi manusia itu kan pribadi Anak. Apakah Pak Eben mau berkata bahwa Bapa dan Roh Kudus juga menjadi manusia? Yang mati disalib itu adalah pribadi Anak. Apakah Pak Eben mau bilang bahwa Bapa dan Roh Kudus juga mati disalib? Karena itu kalau Kristus mengalami pengosongan diri, itu tidak berarti bahwa Bapa juga harus mengalaminya dalam penciptaan? Lalu kalau ke 3 nya musti mengalaminya, lalu kapan Roh Kudus mengosongkan diri?

Jawaban Eben Nuban Timo : Maaf, saya menahan diri untuk menjawab pertanyaan tadi karena banyak hal mendasar tentang ajaran Trinitas yang belum jelas sehingga meuncul pertanyaan seperti itu. Maaf sekali lagi.

Penjelasan tentang pandangan Dr. Eben yang menganggap Allah mengosongkan diri dengan dalam penciptaan karena Ia mengambil gambar diri-Nya untuk diberikan kepada manusia :

Ingat bahwa maksud dari Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya adalah bahwa sewaktu Allah menciptakan manusia, Ia memasukkan sebagian sifat diri-Nya ke dalam manusia sehingga manusia lalu mewarisi sifat Allah dan karena itu sampai taraf tertentu manusia menjadi mirip dengan Allah.

Maz 8:6 – Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Tetapi apakah karena Allah telah memasukan sifat-Nya ke dalam manusia lalu membuat Ia kehilangan sifat-Nya itu? Misalnya Allah memberikan sifat kekal-Nya ke dalam manusia :

Pengkh 3:11 – Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. …”

Apakah karena itu maka Allah lalu kehilangan kekekalan diri-Nya dan menjadi kosong dalam hal kekekalan?

Allah adalah Roh, maka Ia menciptakan manusia sebagai makhluk rohani. Apakah karena itu Allah lalu kehilangan atau mengalami kekosongan Roh? Allah adalah pribadi dan karena itu Ia menciptakan manusia sebagai pribadi. Apakah karena itu Allah lalu kehilangan atau mengalami kekosongan kepribadian? Allah adalah “makhluk” berratio dan karena itu Ia menciptakan manusia sebagai makhluk yang berratio pula. Apakah karena itu Allah lalu kehilangan atau mengalami kekosongan ratio? Ini ajaran gila namanya!

  1. Sekalipun Fil 2 membicarakan tentang pengosongan diri Yesus, tetapi konsepnya jelas berbeda dengan yang diajarkan Dr. Eben Nuban Timo dalam penerapan konsep kenosisnya di dalam peristiwa penciptaan.

Menurut Dr. Eben Nuban Timo, proses kenosis yang dialami Allah dalam penciptaan membuat Ia kehilangan segala yang Ia punya seperti kuasa, kehormatan, kemuliaan, energi, daya, dsb.

Ini jelas konsep kenosis yang asing dan berbeda dengan konsep kenosis dalam Fil 2 di mana Kristus sama sekali tidak kehilangan sebagian atau seluruh kemuliaan kuasa, kemuliaan, kehormatan dan keilahian-Nya. Jika konsep kenosis dari Dr. Eben diterapkan pada Fil 2 maka ini menjadi salah karena :

  1. Yesus adalah Allah dan karena itu Ia tidak bisa berubah (bdk. Maz 102:26-28  Mal 3:6  Yak 1:17). Allah tidak bisa berhenti menjadi Allah, sekalipun hanya untuk sementara!
  2. Allah Tritunggal bubar.
  3. Kristus bukanlah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Ia hanya manusia biasa, tanpa keilahian! Dan kalau ini benar, maka Ia tak bisa menjadi Pengantara antara Allah dan manusia dan penebusan-Nya tidak bisa mempunyai nilai yang tidak terbatas.

Dalam faktanya, di dalam masa penjelmaan pun Yesus masih bisa melakukan banyak mujizat yang hebat, menunjukkan sifat-sifat ilahi dan tindakan-tindakan serta mengeluarkan pernyataan-pernyaan yang hanya mungkin dilakukan oleh Allah. Jadi kenosis yang dialami oleh Kristus tidak berarti bahwa Ia menjadi kehilangan segala-galanya melainkan Ia berkenan untuk menyembunyikan dan tidak menggunakan segala kuasa / kemuliaan yang dimiliki-Nya untuk membuat hidup-Nya lebih mudah.

Calvin: Kristus tidak bisa melepaskan dirinya sendiri dari keilahian-Nya; tetapi menyembunyikannya untuk sementara waktu, supaya tak kelihatan, di bawah kelemahan daging. Jadi, Ia mengesampingkan kemuliaan-Nya dalam pandangan manusia, bukan dengan menguranginya, tetapi dengan menyembunyikannya.

Herman Hoeksema : Ini tidak berarti bahwa Anak Allah untuk sementara waktu mengesampingkan hakekat ilahi, untuk menukarnya dengan hakikat manusia. Ini mustahil, karena hakikat ilahi tidak bisa berubah. … Tetapi itu berarti bahwa Ia masuk ke dalam keadaan manusia sedemikian rupa sehingga di depan manusia kemuliaan dan keagungan ilahi-Nya tersembunyi, sekalipun bahkan dalam saat perendahan pun itu kadang-kadang memancar keluar, seperti misalnya dalam pelaksanaan / pertunjukan keajaiban-Nya. (‘Reformed Dogmatics’, hal. 399).

Jadi boleh dikatakan bahwa kesalahan Dr. Eben Nuban Timo dalam poin ini adalah :

  1. Penerapan teori kenosis dari Fil 2 kepada kisah penciptaan tanpa dasar teologis / argumentasi yang kuat.
  2. Konsep kenosis yang diperkenalkan dalam kisah penciptaan ternyata berbeda dengan konsep kenosis yang asli dalam Fil 2.

 

  1. Tentang Allah yang sudah tidak berdaya apa-apa lagi hanya bisa menunggu manusia mengembalikan kuasa, kemuliaan dan kehormatan-Nya.

 

Dr. Eben Nuban Timo : “Dalam keadaan yang tidak lagi memiliki apa-apa dan tidak berdaya karena telah membagi-bagikan semua yang ada pada-Nya sebagai bahan baku untuk membentuk ciptaan, Allah mengundurkan diri untuk masuk dalam sabat. Penarikan diri Allah sekarang menjadi penuh pada hari ketujuh. Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa”.

Tanggapan saya :

  1. Teori Dr. Eben Nuban Timo ini sangat mengina Allah dengan menempatkan Allah di bawah ciptaan / manusia dan bergantung pada manusia / ciptaan. Ini bertentangan dengan Alkitab.
  • Alkitab mengatakan bahwa bahwa ciptaanlah yang bergantung pada Allah dan bukan Allah yang bergantung pada ciptaan.

Maz 104:27-30 – “(27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”.

Ayub 12:7-10 – (7) Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. (8) Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. (9) Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; (10) bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?

Kis 17:28 – Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,…”

Tony Evans : ‘…Allah ini ’independen’ dari ciptaan-Nya. Dengan ‘independen’ saya maksudkan, Allah itu tidak membutuhkan apa pun….agar Ia dapat tetap menjadi Allah.(Allah Kita Maha Agung, 72)

  • Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak kekurangan apa-apa.

Kis 17:24-25 – (24) Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, (25) dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.

A.W. Tozer : “Dengan mengakui bahwa di dalam Allah ada kebutuhan, maka itu berarti mengakui bahwa pada diri Allah terdapat suatu kekurangan. “Perlu” merupakan kata bagi makhluk ciptaan dan tidak dapat diterapkan kepada Sang Pencipta”.(Mengenal Yang Maha Kudus,hal. 50).

A.W. Tozer : “Allah tidak akan menjadi lebih besar karena kita ada dan juga tidak akan menjadi lebih kecil jika kita ini tidak ada”. (Mengenal Yang Maha Kudus,hal. 52).

  1. Manusia yang diciptakan memang harus memuji, membesarkan dan memuliakan Allah tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa manusia memberikan sesuatu yang tadinya tidak dipunyai oleh Allah (karena kahabisan setelah mencipta).

Perhatikan komentar-komentar berikut :

Tony Evans : “Anda tidak bisa memberikan sesuatu yang dapat mempertinggi tingkatan Allah, atau mengambil sesuatu dari-Nya yang dapat mengurangi tingkatan-Nya. Allah memang demikian karena Ia sepenuhnya Allah”.(Allah Kita Maha Agung; hal. 73).

A.W. Tozer : ‘Oleh karena Ia adalah Allah yang di atas segala sesuatu, maka Ia tidak dapat ditinggikan lagi. Tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada Allah, dan tidak ada sesuatu yang di luar jangkauan-Nya…..Oleh karena tidak ada seorang pun yang dapat lebih meninggikan Dia, maka tidak ada seorang pun yang dapat merendahkan Dia. Di dalam Alkitab dituliskan bahwa Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1 :3), Bagaimana mungkin Ia ditinggikan atau didukung oleh sesuatu yang ditopang-Nya ?  (Mengenal Yang Maha Kudus, hal.51).

Tony Evans: ‘Arti sifat Allah ini (kesempurnaan Allah) ialah bahwa Allah itu lengkap secara penuh dan absolut. Tak ada sesuatu pun yang bisa ditambahkan kepada-Nya atau diambil daripada-Nya….ini menjelaskan mengapa Alkitab mengatakan, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Allah’(Allah Kita Maha Agung, hal. 67).

Louis Leahy : Haruslah dihindari bayangan bahwa Allah adalah semacam pribadi yang haus pujian, penghormatan dan pemujaan. Dari ajaran mengenai kesempurnaan Allah sendiri, dapatlah dikatakan bahwa Allah dengan mencipta sama sekali tidak mungkin mencari kebaikan-Nya sendiri, baik untuk mendapatkannya maupun untuk menjaga dan menambahkannya. (Filsafat Ketuhanan Kontemporer, hal. 233).

  1. Prinsip di dalam ibadah Kristen di mana manusia memuji, memuliakan dan membesarkan Tuhan bukanlah membuat Allah menjadi mulia, besar dan berkuasa, bukan juga mengembalikan apa yang pernah dipunyai oleh Allah (di mana sekarang tidak Ia miliki) melainkan adalah pengakuan ciptaan terhadap kuasa, kebesaran dan kemuliaan Allah yang sudah dinyatakan dalam hidup ciptaan.

Perhatikan ayat ini :

Maz 148:3-13 : (3) Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! (4) Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit! (5) Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. (6) Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar. (7) Pujilah TUHAN di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya; (8) hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya; (9) hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras: (10) hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap; (11) hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; (12) hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! (13) Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, SEBAB HANYA NAMA-NYA SAJA YANG TINGGI LUHUR, KEAGUNGAN-NYA MENGATASI BUMI DAN LANGIT.

Perhatikan bahwa ayat 1-12 berisi puji-pujian dari ciptaan kepada pencipta tetapi ayat 13 mengungkapkan alasannya yakni Nama-Nya tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi langit dan bumi. Berarti puji-pujian dari ciptaan bukan membuat Allah menjadi tinggi dan agung melainkan mengakui ketinggian dan keagungan-Nya itu. Inilah prinsip yang sesungguhnya dari Alkitab bukan seperti yang diajarkan Dr. Eben Nuban Timo.

Prof. Louis Leahy membagi kemuliaan Allah menjadi dua bagian (Filsafat Ketuhanan Kontemporer, hal. 234) yaitu :

  1. Kemuliaan Allah obyektif yakni kemuliaan Allah yang “permanen” dan sempurna dalam diri-Nya.
  2. Kemuliaan Allah formal yang berisi pengakuan komunikasi itu oleh pihak manusia.

Kalau begitu sesuai dengan Maz 148:3-13 maka prinsip ibadah Kristen adalah mengembalikan kemuliaan kepada Allah tetapi bukan kemuliaan Allah yang obyektif melaikan kemuliaan Allah yang formal di mana manusia memberikan pengakuan terhadap kemuliaan Allah yang sudah dinyatakan terhadap dan di dalam ciptaan.

Esra Alfred Soru : Dengan pengertian semacam ini maka sesungguhnya ketika manusia “memuliakan” dan mengagungkan Tuhan, itu bukan berarti manusia memberikan tambahan kemuliaan kepada-Nya, melainkan manusia mengakui kemuliaan-Nya yang telah dinyatakan dan dikomunikasikan kepada, melalui dan di dalam manusia itu. Inilah kemuliaan Allah formal, dan di sini pula terletak arti dari penciptaan manusia. (Mengapa Allah Menciptakan Manusia, hal.   )

Louis Berkhof : Tujuan paling utama yang dilihat-Nya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan, tetapi untuk memanifestasikan kemuliaan-Nya dalam buah pekerjaan-Nya. Memang benar bahwa dalam melakukan hal itu Ia juga akan menyebabkan surga menyatakan kemuliaan-Nya dan cakrawala menunjukkan pekerjaan tanganNya, burung-burung di udara dan binatang buas memuliakanNya, dan anak manusia menyanyikan pujian. Akan tetapi pujian kepada Sang Pencipta tidaklah menambah apa-apa kepada kesempurnaan keberadaanNya, tetapi hanyalah mengakui kebesaran-Nya dan mmeberikan kepadaNya kemuliaan bagiNya. (Teologi Sistematika – Doktrin Allah, hal. 256-257).

 

 

KESIMPULAN.

 

Dari semua pembahasan dan tanggapan yang sudah saya berikan, jelas bahwa ajaran Dr. Eben Nuban Timo tentang penciptaan dan pengosongan diri Allah jelas adalah ajaran yang tidak Alkitabiah, ajaran yang aneh dan boleh dikategorikan sebagai ajaran yang dapat menyesatkan jemaat. Kiranya tanggapan ini bisa menolong jemaat untuk membedakan mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang palsu.

2 Pet 2:1 : Sebagaimana nabi-nabipalsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu . Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasayang telah menebus merekadan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka

 – AMIN –

Pos ini dipublikasikan di Allah Kehabisan Energi, Copy Paste, Esra Alfred Soru, Polemik. Tandai permalink.

22 Balasan ke Tanggapan Pdt. Esra Soru terhadap Pandangan Eben Nuban Timo terkait Kehabisan Energi atau Tidak Berdayanya Allah

  1. Aply berkata:

    Itulah sifat adam, hawa dan ular. Sll cari pembenaran diri dan brusaha mnyalakan orlan. Tdk th lg ketika Allah menghakimi, baik Adam, Hawa maupun ular sama2 terkutuk. Oki, bawalah ksalahanmu masing2 pd Tuhan spy diampuni, dan bantulah org miskin dan tlanjang menemukan makanan dan pakaian.

    • whereisthewisdom berkata:

      Bisakah anda memberikan argumen tentang bagaimana hubungan antara tulisan di atas dengan komentar anda? Ataukah komentar anda tidak ada hubungan dengan tulisan di atas? Kalau memang ada hubungan, silahkan kemukakan argumen tentang hubungan tersebut.

      Salam Hormat

      Ma Kuru

  2. Aply berkata:

    Maksudnya bgini. Sy ibaratkan bpk Eben adl Adam, pak Esra Hawa dan Anda adl Ular. Ketika ketangkapan bersala, maka akan saling tuduh-menuduh (red-saling tanggap menanggapi, saling kritik dst.) satu sama lain. Klu spt it maka su pasti ada upaya pembenaran diri dalm berteologi. Dan berusaha mencari kesalahan orlan. Pdt Eben berhotba lalu pdt Esra berkomentar, kritik dan berusaha menjatukan hotbax pdt Eben. Disini ada upaya mau tunjukan kpd publik bhw Pdt ESRA yg lebi baik, lebi benar, lebi pintar dan lebi rohani. Sdangkan Dr. Eben ditendang, disalakan, dst. Lalu apa manfaat itu smua di mata tukang sayur di pasar, buru kasar di pabrik2 dll? Klu hax saling ingin menjatukan maka akan mengalami nasib tragis spt Adam, Hawa dan ular. Oki, tlg klu jd teolog, hilangkan sifat2 spt Adam yg salakan Hawa, Hawa salakan Ular lalu akirx mrk smua terkutuk krn mrk tdk pikirkan bgmn memelihara alam dan sesama. Tlg ya pak.

    • whereisthewisdom berkata:

      Jadi Esra Soru bersalah karena menanggapi Eben Nuban Timo karena dia menganggap Eben Nuban Timo salah. Itu maksud anda? Dan anda menganggap bahwa tindakan seperti itu sama dengan yang dilakukan Adam dan Hawa serta ular di Taman Eden? Begitukah maksud anda?

  3. Aply berkata:

    Kasian skali ya. Para teolog ego skali. Membahas 1 Alkitab tp di dalamx ada Allahnya Pdt Eben dan ada Allahnya Pdt Esra lalu mana Allahnya jemaat? Lebi2 Pdt ESRA, tulisannya kadang tdk membumi, sll mengudara. Ni pnilaian kami sbg org awam. Krn itu tlg diam sj Pdt Esra. Kami sbg awam su bosan dgn tulisanmu.

    • whereisthewisdom berkata:

      Aply, bisakah anda menjawab pertanyaan klarifikasi saya? Ingat, blog saya bukan tempat untuk anda menulis tanpa argumen. Jadi kalau anda bukan datang untuk berdiskusi di sini, tolong jangan kasih komentar. Tolong baca baga bagian Tentang Blog ini! Jangan bersembunyi di balik istilah ‘kaum awam’ untuk menghindar diskusi. Orang awam bukan orang yang asal klaim seperti anda. Orang awam akan bertanya kalau tidak tau dan menjawab dan akan menjawab kalau orang mengajukan pertanyaan klarifikasi. Anda tidak bisa melakukannya!

      Jadi, kalau anda mau diskusi dengan saya, silahkan jawab pertanyaan klarifikasi saya! Kalau tidak mau berdiskusi, mendingan anda diam. OK?

      Terima kasih!

  4. bintang berkata:

    syalom pak david soru, diskusi yg menarik.
    menjawab pertanyaan pak timo diatas ttg creatio ex nihilo, penciptaan dr nol atau dg bahan dasar klo boleh tanya komen bapak diatas sbb:

    ============================
    David soru : Di dalam bahasa Ibrani sebenarnya ada 2 kata lain yakni “ASAH” dan “YATSAR” yang maknanya lebih longgar di mana selain bisa dipakai juga untuk penciptaan tanpa menggunakan bahan dasar dan bisa juga diartikan penciptaan dengan menggunakan bahan dasar yang sudah ada sebelumnya. Pada umunya diartikan “menjadikan” atau “membentuk”. Misalnya :Misalnya :
    Kej 1:26 – Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan (ASAH) manusia menurut gambar dan rupa Kita, …”
    Kej 2:7 – ketika itulah TUHAN Allah membentuk (“YATSAR”) manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
    John J. Davis : Kata kerja bara (“menciptakan”) mengungkapkan gagasan suatu penciptaan mutlak, atau ex nihilo penciptaan, secara lebih baik daripada kata kerja yang lain….. Oleh sebab itu, tindakan penciptaan oleh Allah yang tercermin dalam ayat 1 tidak melibatkan material yang sudah ada sebelumnya; Allah yang mahatinggi dan mahakuasa menciptakan langit dan bumi dari yang tiada. (Paradise to Prison, hal. 39-40).
    Note : Tubuh manusia diciptakan dengan menggunakan bahan dasar yang sudah ada sebelumnya yakni debu tanah.
    Nah, seandainya benar bahwa Allah menciptakan dunia ini dengan menggunakan bahan baru dari dalam diri-Nya seperti yang dikatakan Dr. Eben Nuban Timo, lebih tepat kata yang dipakai dalam Kej 1:1 itu adalah “ASAH” atau “YATSAR” dan bukannya “BARA”. Jadi penggunaan kata “BARA” dalam Kej 1:1 ini seharusnya meruntuhkan teori omong kosong yang dikemukakan Eben Nuban Timo walaupun ia berkata bahwa itu adalah kesaksian kitab Kejadian :
    =============================

    saya hanya mau bertanya mengenai PENGGUNAAN KATA “BARA”,
    YG bpk katakan: Oleh sebab itu, tindakan penciptaan oleh Allah yang tercermin dalam ayat 1 tidak melibatkan material yang sudah ada sebelumnya; Allah yang mahatinggi dan mahakuasa menciptakan langit dan bumi dari yang tiada

    namun saya menemukan beberapa ayat lain yg menggunakan kata “BARA” sbb:

    1. Yesaya 54:16 Sesungguhnya, Akulah yang menciptakan (BARA) TUKANG BESI yang menghembus api dan menghasilkan senjata menurut kecakapannya, tetapi Akulah juga yang menciptakan pemusnah untuk merusakkannya.

    2. Yehezkiel21:30 Kembalikanlah itu (PEDANG) ke sarungnya! Di tempat penciptaanmu (BARA) dan di negeri asalmu Aku akan menghukum engkau.

    3. Mazmur 89:47 Ingatlah apa umur hidup itu, betapa sia-sia Kauciptakan (BARA) SEMUA ANAK MANUSIA!

    4. . Mazmur 102:18 Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan BANGSA yang diciptakan (BARA) nanti akan memuji-muji TUHAN.

    5. Yesaya 43:15 Akulah TUHAN, Yang Mahakudus, Allahmu, Rajamu, yang menciptakan (BARA) ISRAEL.”

    6. Mazmur 89:12 UTARA DAN SELATAN, Engkaulah yang menciptakannya (BARA), Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu.

    Jika memang benar yg pak david katakan dan kutip dr teolog2 diatas, mengapa, kata BARA masih dipakai jg utk mencipta ISRAEL, TUKANG BESI, PEDANG, ANAK2 MANUSIA, BANGSA, UTARA DAN SELATAN? Bukankah masih ada material yang sudah ada sebelumnya dari pengggunaan kata BARA?

    Terimakasih. Salam. Bintang.

    • whereisthewisdom berkata:

      Halo Bintang,

      Karena ini bukan tulisan saya, saya tidak bisa menjawab anda. Saya hanya menaruh tulisan pak Esra Soru (yang anda salah sebut dengan David Soru) di sini. Tetapi mungkin untuk membantu anda, saya kasih sebuah link yang membahas tentang hal yang anda tanyakan di sini. Kalau anda mau menghubungi pak Esra, silahkan hubungi beliau di Facebooknya

      Semoga membantu.

      Salam
      Ma Kuru

      • aku aja berkata:

        penciptaan SEGALA SESUATU secara ex nihilo (menurut ex nihilo yang telah menyimpang yang mengatakan tanpa bahan baku) adalah MENGASUMSIKAN bahwa terdapat sebuah dari SEGALA SESUATU yang tidak diciptakan, yang ada dengan sendirinya. Kata Alkitab, tidak ada apapun selain Allaw, diawalnya. Tuhan tidak menempati apapun, IA hanya menempati DIRINYA sendiri….karena tidak ada ruangwaktu baik surga maupun dunia sebelum diciptakan. Jika penciptaan disebutkan secara ex nihilo tanpa bahan baku, maka ketika sesuatu yang diciptakan tersebut, misal penciptaan surga, yang muncul (jadi) setelah difirmankan, lantas surga tersebut eksis / berada pada apa? apakah menempati ruangwaktu yang tidak diciptakan? jika anda mengatakan ya, maka itu adalah berbahaya, secara tidak langsung anda mensekutukan Allah dengan ruangwaktu yang tidak ciptakan tersebut, bahwa ruangwaktu ada secara kekal bersama Allah. Perlu anda ketahui, surga atau ruangwaktu tempat tahta anak domba Allah adalah bagian dari sesuatu yang diciptakan. Sama seperti jiwa manusia (manusia yang tak berdosa) surga adalah diciptakan untuk kekal…..ini bukan bearti surga berasal dari kekekalan.

        karena tidak ada ruangwaktu apapun, sebelum ruangwaktu rohani (surga ) diciptakan, yang ada hanyalah Allah dan Logos (yESUS) yang menyatu dengan Allah Bapa sendiri. sANG lOGOS MENYATU DENGAN aLLAH BAPA karena sang Logos (Yesus kristus) tidak pernah diciptakan melainkan DIMILIKI (Posessed) OLEH ALLAH BAPA SECARA OTOMATIS…dan oleh Alkitab bahwa ruangwaktu alam semesta dan bahkan surga sendiri tidak dapat memuati Tubuh entitas (Roh) Allah, jika seandainya..Allah Bapa masuk ke dalam surga…maka ketika surga diciptakan…ruangwaktu rohani (surga) sendiri adalah eksis didalam tubuh entitas Allah Bapa….tapi jika anda mengatakan bukan, melainkan eksis diluar entitas Allah….maka akan timbul pertanyaan…..APA SESUNGGUHNYA “SESUATU” YANG MENOPANG (TEMPAT) SURGA AGAR DAPAT EKSIS / BERADA?

        kita tidak mungkin mengatakan bahwa surga yang terbatas dalam ukuran ( jika dibandingkan dengan entitas Allah Bapa)….setelah diciptakan surga berada pada dirinya sendiri….ini logika yang salah, bagaimanapun sesuatu yang terbatas/memiliki batasan ukuran…pasti eksis pada sesuatu….dan sesuatu yang dimaksudkan adalah “apa yang terdapat diluar surga tersebut”.

        secara logika karena ukuran ruangwaktu rohani surga terbatas, maka surga adalah eksis didalam Allah Bapa sendiri (karena tidak ada tempat lagi/ yang ada sebelum surga diciptakan)….dan dikarenakan penciptaan surga menurut para kaum penganut doktrin ex nihilo yang mengatakan penciptaan tanpa bahan baku, maka seharusnya terdapat ruangwaktu yang tidak diciptakan atau yang bersekutu dengan Allah Bapa…yang mana ruangwaktu yang tidak diciptakan tersebut menjadi penopang atau tempat surga yang diciptakan agar dapat eksis / berada.

        SEJUJURNYA BANYAK AYAT ALKITAB YANG MENYATAKAN BAHWA PENCIPTAAN SEGALA SESUATU TERMASUK SURGA adalah berasal dari Allah sendiri, artinya oleh kemahakuasaan ALLAH BAPA sendiri, ALLAH BAPA mengubah bagian dari DIRINYA YANG TIDAK TERBATAS menjadi ciptaanNYA yang setelah diciptakan, segala sesuatu tersebut memiliki takdir

        BEBAS BERKEHENDAK –> bagi ciptaan hidup yang bergerak), dan
        BEBAS DIKEHENDAKI –> bagi ciptaannya yang tak hidup dan yang hidup tapi tak bergerak (tumbuhan) serta ruangwaktu alam semesta dan surga.

        APAKAH TIDAK MUNGKIN BAGI ALLAH MENGUBAH BAGIAN DIRINYA MENJADI CIPTAANNYA?

        Matius 19:26 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin

        Lukas 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
        Lukas 18:27 Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.
        Yeremia 32:17 Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!

        TUHAN MENGUBAH SEBAGIAN DARI DIRINYA YANG TIDAK TERBATAS…MENJADI CIPTAANNYA ADALAH SANGAT MUNGKIN, bukan sesuatu yang MUSTAHIL…..DAN BUKTI YANG TAK TERBANTAHKAN ADALAH….ENTITAS TUBUH FISIK (manusia) YESUS SENDIRI.

        doktrin ex nihilo (dari ke-tidak- ada-an) memang benar, tapi bukan bearti tanpa bahan baku. misal dahulu sebelum sebelum tukang besi ada, lalu tukang besi pertama diciptakan (bara), penciptaan tukang besi tersebut adalah benar ex nihilo, tapi bukan bearti tanpa bahan baku, ia memiliki bahan baku yaitu orang tuanya.

        • aku aja berkata:

          Entitas Allah tidak memiliki batasan dalam ukuran, Allah benar-benar maha besar ukuranNYA / maha raksasa. ketika sesuatu diciptakan, maka sesuatu tersebut berada / eksis didalam entitas Allah Bapa (dikandungi oleh Allah Bapa).

          surga eksis didalam Allah Bapa…..dan dunia…eksis didalam ruangwaktu surga….dan bumi kita eksis didalam ruangwaktu dunia (alam semesta).

        • Pemilik berkata:

          Terima kasih sudah berkomentar. Tanggapan saya per paragraf. Di sini paragraf saya definisikan secara stipulatif sebagai setiap teks yang dipisah oleh spasi yang leih jauh. Jadi berdasarkan definisi ini, kalimat di bawah ini yaitu ‘komentar untuk paragraf 1’ merupakan satu paragraph.

          Komentar untuk paragraf 1:
          Pertama, anda mengatakan bahwa ex nihilo yang tanpa bahan baku mengasumsikan ‘sebuah dari SEGALA SESUATU’. Pertanyaannya adalah sebuah apa? Mungkin anda lupa menuliskan sebuah apa.
          Kedua, dengan mengabaikan banyak hal yang seharusnya dapat dipertanyakan, pertanyaan saya adalah mengapa tidak dapat terjadi bahwa waktu dan ciptaan diciptakan pada saat yang sama out of nothing?
          Ketiga, mengapa tidak mungkin Allah menciptakan waktu out of nothing kemudian dia menciptakan ciptaan yang lain juga out of nothing?
          Keempat seandainyapun benar bahwa surga atau ruang waktu merupakan tempat tahta anak Domba lalu apa hubungannya dengan ex nihilo?

          Paragraf 2,
          Pertama, apa artinya Bapa dan Yesus ‘menyatu’? Lebih tepat lagi, apa artinya ‘menyatu’?
          Kedua, mengapa harus dipahami bahwa surga adalah tempat Allah tinggal seperti halnya bumi adalah tempat tinggal manusia? Kenapa surga bukan merupakan dimensi (kalau tidak mau gunakan kata ‘tempat’) dimana kemuliaan Allah dinyatakan secara penuh?

          Paragraf 3,
          Kembali lihat pertanyaan kedua saya di paragraph kedua.

          Paragraf 4,
          Asumsikan anda benar bahwa surga berada dalam Allah, maka ada keharusan logis bahwa karena demikian adanya, berarti Allah tidak dapat menciptakan sesuatu out of nothing/ex nihilo. Kalau anda mengatakan sebaliknya alias kalau anda merasa bahwa alasan anda dan kesimpulan anda merupakan argumen yang valid, mari demonstrasikan dalam bentuk silogisme. Atau kalau tidak suka silogisme, silahkan saja gunakan saja serangkaian silogisme!

          Paragraf 5,
          Seandainyapun anda benar bahwa penciptaan segala sesuatu di dalamnya adalah termasuk penciptaan surga, mengapa itu bukan ex nihilo? Mengapa itu dianggap sebagai bagian dari Allah? Ingat pertanyaan kedua saya untuk paragraf kedua.
          Paragraf kelima,
          Anda berbicara tentang bebes berkehendak dan bebas dikehendaki, apa hubungannya dengan penciptaan ex- nihilo?

          Paragraf 6, 7, 8
          Tentu saja tidak mungkin Allah mengubah diri-Nya menjadi ciptaan. Anda dalam paragraph-paragraf sebelumnya belum establish bahwa tidak mungkin ex nihilo benar walaupun anda mengatakan bahwa itu pemahaman yang bengkok/menyimpang. Setidaknya anda masih harus menunjukkan bahwa argumen anda valid. Kita menunggu demonstrasi anda.

          Allah tidak dapat merubah bagian diri menjadi ciptaan by definition. Bagaimana mungkin pencipta menjadi ciptaan dan tidak melanggar hukum kontradiksi? Yesus tidak berubah dari Allah menjadi manusia tetapi mengambil rupa seorang manusia sehingga kemanusiaan/ciptaan tetapi keilahian Kristus tidak berubah menjadi ciptaan. Anda belum bisa sampai ke kesimpulan ini

          Paragraf 9-12
          Pertama, belum didemonstrasikan sama sekali bagamana ex nihilo (tanpa bahan baku) tidak mungkin benar. Setidaknya masih ada keberatan yang menghambat keharusan kesimpulan bahwa ‘ex nihilo (tanpa bahan baku) tidak mungkin benar’.
          Kedua, entitas Allah tidak memiliki batasan ukuran tidak berimplikasi bahwa ex-nihilo (tanpa bahan baku) salah.

          • aku aja berkata:

            ” sebuah dari segala sesuatu = sebuah dari sekian banyak ciptaan Allah”.

            surga dipandang sebagai yang ex nihilo, dikarenakan surga memiliki awal, artinya diciptakan, yang semula tidak ada, lalu menjadi ada (ex nihilo = dari ketidak adaan).

            Entitas Allah Bapa = entitas yang maha raksasa, ukurannya tidak ada batasnya ( 2 tawarikh 6:18 dan 1 raja-raja 8:27)

            karena ukuran Allah Bapa maha raksasa, maka tidak ada tempat lagi bagi kemunculan surga setelah diciptakan, artinya begitu surga muncul setelah diciptakan, maka surga pasti eksis / berada pada entitas Allah bapa sendiri….maka disinilah kita menemukan ALASAN KENAPA ALLAH BAPA mengutus bagian dari DIRINYA (Yesus Kristus) yang secara ukuran entitas Lebih kecil jika dibandingkan dengan Allah Bapa…untuk mendatang seluruh alam ciptaan mereka, termasuk dibumi….kan tidak mungkin Allah Bapa akan datang secara bulat-bulat…ke alam ciptaannya, mengingat 2 tawarikh 6:18 dan 1 raja-raja 8:27 menyebutkanNYA maha raksasa yang tak ada batasan ukuranNYA….dan sewaktu diduniapun Yesus Kristus memanjatkan doa kepada Allah Bapa, ini jelas memperlihatkan bahwa mereka terpisah (tidak menyatu).

            22 The LORD possessed me in the beginning of his way, before his works of old. (TUHAN MEMILIKI AKU (FIRMAN / YESUS) DIAWAL CARANYA (SEGALA RANCANGAN), SEBELUM KARYA-KARYANYA YANG PALING AWAL/PURBA)

            The LORD possessed me = Tuhan (Allah Bapa) memiliki Aku (logos), atau dapat juga dimaknai = Aku (logos) dimiliki Tuhan (Allah Bapa).

            23 I was set up from everlasting, from the beginning, or ever the earth was. (AKU DITETAPKAN DARI KEABADIAN, DARI AWAL, ATAU SEBELUM DUNIA ADA)

            pada waktu surga belum diciptakan, Entitas Logos / Yesus Menyatu dengan entitas Allah Bapa, karena sebelum ruangwaktu rohani (surga) diciptakan, tidak ada tempat apapun, jadi yesus kristus benar-benar MENYATU (eksis / berada didalam Allah Bapa) dengan Allah Bapa. jika diasumsikan logos telah terpisah…–> maka akibat selanjutnya, kita akan meng asumsikan bahwa entitas Allah bapa memiliki batasan, sehingga entitas logos kemudian ada di sampingnya, ini bertentangan dengan 2 tawarikh 6:18 dan 1 raja-raja 8:27

            kata anda –>Tentu saja tidak mungkin Allah mengubah diri-Nya menjadi ciptaan, Anda mengimani bahwa Allah Maha kuasa, bagaimana mungkin dengan kemaha kuasaan Allah tersebut lalu anda, dalam hal ini “menjadi berlaku munafik?” kalau anda meragukan atau tidak sanggup menerima jika Allah Mampu mengubah SEBAGIAN DARI ENTITAS DIRINYA menjadi ciptaan, maka keimanan anda adalah “menjadi iman yang tanda tanya (dipertanyakan / ditinjau kembali”. bukankah pada ayat-ayat berikut ini disebutkan TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

            Lukas 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
            Lukas 18:27 Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.
            Yeremia 32:17 Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!

            JIKA ANDA MENGATAKAN BAHWA tidak mungkin bagi Allah untuk dapat mengubah sebagian dari entitas DiriNYA menjadi entitas makhluk lain (ciptaannya), secara langsung anda telah menentang ayat-ayat diatas……

            MAKANYA KUBILANG….anda telah berlaku munafik. jika anda tidak munafik, dan yakin bahwa diri anda benar-benar beriman, maka seharusnya tidak ada keraguan bagi anda untuk dapat mengakui jika Allah mampu mengubah sebagian dari entitasNYA menjadi entitas ciptaannya.

            APAKAH BEGITU SUSAH/SULIT BAGI aLLAH UNTUK MENGUBAH SEBAGIAN DARI ENTITASNYA menjadi entitas makhluknya?

            para penganut doktrin ex nihilo (dari ketiadaan, tanpa bahan baku)….dengan gagah perkasa sering menggunakan ayat-ayat ini, tidak tahu apakah mereka sadar atau tidak sadar menggunakan ayat-ayat ini untuk senjata mereka menentang para penolak doktrin ex nihilo= out of nothing.

            –>Lukas 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
            Lukas 18:27 Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.
            Yeremia 32:17 Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!

            SEBAGAI PEMBENARAN DAN PENGUAT BAGI KEYAKINAN MEREKA, TETAPI ketika ayat-ayat tersebut, DIBALIKKAN KEPADA MEREKA……mereka malah memberontak, tidak mau menerima. NAH KETIKA MEREKA MENOLAK/TIDAK MAU MENERIMA ITULAH…..MUNCUL SIFAT ASLINYA BAHWA MEREKA MUNAFIK.

            SEBUAH KETIDAKSADARAN…yang akhirnya menjadi senjata tuan makan tuang atau menjadi bumerang bagi mereka sendiri.

            • Pemilik berkata:

              Anda menjawab pertanyaan saya yang mana ya? Bisakah anda menulis secara padat dan jelas? Tulisan anda belum menjawab pertanyaan saya sebelumnya (setidaknya saya tidak tahu tulisan anda menjawab point saya yang mana). Bisakah anda menyatakannya secara jelas? Anda tinggal mengedit saja tulisan anda dan mengatakan komentar mana yang dijawab dengan bagian mana tulisan anda.

              Trims

            • Pemilik berkata:

              Wah, rupanya saya tidak perhatikan baik-baik tadi. Anda sudah menjawab beberapa, bukan semua keberatan saya yang saya ajukan dalam bentuk pertanyaan. Baiklah, saya minta maaf karena telah melewatkan jawaban anda. Di bawah ini jawaban saya:

              Paragraf 1
              Jadi menurut anda ex nihilo tanpa bahan mengasumsikan bahwa sudah ada ciptaan sebelumnya dan dari ciptaan yang sudah ada sebelumnya Allah menciptakan bumi dan alam semesta. Begitu maksud anda?

              Paragraf 2
              Well, saya tidak mempermasalahkan apakah surga itu hasil penciptaan ex nihilo. Mungkin anda harus membaca baik-baik apa yang saya tulis.

              Paragraf ketiga
              Saya tidak mempermasalahkan apakah Bapa adalah entitas yang maha raksasa atau tidak walaupun saya dapat mempertanyakannya secara serius.

              Paragraf keempat,
              Pertama, Bahwa dalam pandangan anda Yesus itu lebih kecil dari Bapa, itu pandangan anda. Mengapa tidak mungkin ada dua pribadi yang memiliki kemahaan yang sama?

              Kedua, mengapa tidak mungkin bahwa Yesus adalah pribadi yang mahabesar pula dan fakta bahwa Dia datang ke dunia ini hanya membuktikan natur kemanusiaan-Nya?

              Paragraf lima, enam, tujuh
              Pertama, mengapa ayat ini ditafsirkan seolah Anak adalah bagian dari Bapa dan bukan sebagai sama-sama entitas Ilahi per Yohanis 1 : 1?

              Kedua, mengapa ayat ini tidak ditafsirkan sebagai menggambarkan hubungan yang sangat erat antara dua Pribadi Allah?

              Ketiga, mengapa anda menjadikan PL sebagai dasar untuk menafsirkan PB dan bukan saja menafsirkan tetapi akhirnya menabrakkan PL dengan PB – seperti yang anda lakukan ini yaitu menabrakkan Amsal yang yang sekedar berindikasi yang anda katakan lalu menabrak proposisi yang jelas dalam Yohanes 1 : 1 bahwa Firman itu adalah Allah?

              Paragraf delapan
              Kalau anda menabrakkan PL dengan PB dengan cara menafsirkan PB dalam terang PL bukan sebaliknya menafsirkan PL dalam terang wahyu PB, tentu saja mungkin saja valid. Tetapi anda bermasalah dengan cara anda menafsirkan Kitab Suci.

              Paragraf sembilan,
              Masalahnya bukan meragukan atau tidak meragukan, tetapi kontradiksi. Kalau Allah dapat berkontradiksi dengan dirinya sendiri, maka Dia bukan Allah atau setidaknya yang anda sebut sebagai Allah itu bukan Allah. Dan kalau allah anda itu dapat berkontradiksi dengan dirinya sendiri, maka itu pasti setan. Walaupun anda mati-matian mengatakan itu Allah, tidak menjadikanya benar-benar Allah. Itu hanya mimpi anda saja.

              Paragraf sepuluh,
              Anda mengangkat berbagai ayat yang menyatakan tidak ada yang mungkin bagi Allah. Kalau anda menafsirkan ayat itu begitu luas sehingga berarti universal, maka tentunya tidak mungkin Allah itu bukan setan. Segala sesuatu mungkin bagi Allah. Bisa jadi saat ini saya juga Allah.

              Paragraf sebelas
              Saya tidak menentang ayat, tetapi menentang interpretasi anda yang terbolak-balik.

              Paragraf dua belas
              Mungkin anda merasa bahwa saya munafik. Itu hak anda merasa seperti itu. Tetapi kenyataannya, cara anda menginterpretasi Alkitab menjadikan Allah sebagai penipu, sebagai setan, dan bahkan menjadikannya sebagai saya saat ini. Tetapi di pihak lain anda pasti tidak mau menganggap saya sebagai Allahmu. Artinya kamu tidak konsisten berpegang pada ajaranmu sendiri. Dengan kata lain kamu terbukti munafik.

              Paragraf tiga belas, empat belas
              Masalahnya adalah anda dengan gagah perkasa memutar-balikkan ayat dan menganggap tafsiran anda yang paling benar namun tidak merasa bahwa anda dengan gagah perkasa memutar balikkannya. Tidakkah anda mendapatinya sebagai sesuatu yang menarik?

              Paragraf lima belas
              Kalau anda mendefinisikan ‘tidak ada yang mustahil bagi Allah’ sebagai termasuk tidak mustahil Allah berkontradiksi dengan diri sendiri, maka anda berakhir dengan menyembah setan atau menyembah saya. Baca penjelasan di atas supaya lebih jelas.

              Paragraf enam belas
              Anda boleh menuduh bahwa saya melakukan pembenaran dengan memutar balikan ayat. Tetapi faktanya anda melakukan itu dan bukan saja melakukan itu, tetapi melakukan itu sambil merasa tidak bersalah. Anda menjadikan Allah sebagai setan, manusia, malaikat, dan bahkan saya, tetapi anda tidak menyadarinya. Hmmm

              Paragraf tujuh belas
              Menurut anda, sebuah ketidaksadaran menjadi boomerang bagi diri sendiri. Ya. Mungkin anda benar. Tetapi kalau anda benar, kebenaran itu mengekspose fakta bahwa anda sendiri mengalami/melakukah hal itu. Perhatikanlah implikasi pandanganmu tentang ‘tidak ada yang mustahil bagi Allah’ terhadap siapa sebenarnya Allah. Kalau anda konsisten, maka saat ini saya menuntut anda menyembah saya. Tidakkah anda pikir itu menarik untuk disimak? Saya tentunya jelas melihat ini sangat menarik dicermati. Tidakkah anda melihatnya menarik? Hmmm

  5. adrian berkata:

    dari tulisan diatas saya telah membacanya paling tidak seperempat dari tulisan itu,… sepertinya ada perdebatan hebat yang luar biasa antara dua insan namun dalam hal ini saya cuma mengambil kesimpulan singkat…mengapa harus diperdebatkan tentang rahasia Illahi ? kita kita seorang yang beriman,tentunya kita menjalankan saja kehidupan kita inisecara norma norma yang ada. tentunya dalam hal yang positif,mengapa demikian saya katankan seperti itu,karna setiap kata dan perbuatan serta pikiran yang kita lakukan satu kali saja,sedtik saja ini sudah melanggar ajaran Nya. Rahasia Allah biarlah Dia yang menyimpannya.karna pikiran kita terbatas sesuai dengan kemampuan kita secara bagi kami kaum yang bukan golongan tertentu seperti pendeta ataupun pastor. jika mau ingin cari tau dipersilahkan namun apakah kamu bisa menjalankan semua isi perintah -perintah Allah !! ..usul saya…kita jalani saja hidup ini dengan pola tau berbagai konsep hidup.

    • Ma Kuru berkata:

      Memang ada perdebatan. Tetapi masalahnya adalah tahu darimana bahwa itu rahasia? Artinya pernyataan bahwa semua itu adalah rahasia juga memunculkan perdebatan. Apa kriteria untuk menyatakan bahwa sesuatu itu rahasia dan bukan rahasia?

  6. Bobby Parinussa berkata:

    Ini bukan lagi tanggapan Teologis tapi lebih bertendensus menyerang pribadi Pa Eben. Ini adalah modus2 pembunuhan karakter. Penanggap hanya melihat kata perkata lalu mengaitkannya dengan teks2 lain yg berbicara tentang kemahakuasaan Allah. Di sinilah penanggap tidak konsisten karena tidak melakukaan iternalisasi lebih dalam soal apa yg di maksud oleh pa Eben tentang penciptaan. ”Tentang Allah menjadi berkurang, miskin, kosong, kehabisan energi, tidak memiliki apa-apa dan tidak berdaya” ini yang tidak dilihat serius oleh penanggap. Pada waktu penciptaan Roh Allah melayang2 Allah mengambil terang yaitu cakrawala untuk memenuhi bumi di mana Allah menggerakan seluruh daya-daya untuk alam dan manusia. Terang diri Allah dikasi kepada manusia sehingga seolah2 Allah tidak berdaya atau kehabisan energi dan menjadi kosong. Kemudian Allah yang memenuhi semua hal itu dan berhenti di hari ke 7 yaitu hari sabat. Allah kemudian pergi ke tempat khusus untuk menunggu manusia mengembalikan energi yg sudah Allah berikan pada manusia pada hari ke 7 (sabat). Sebagai respons manusia atas karya ciptaan Allah manusia harus mengembalikan semua energi dan daya2 yg diberikan kepada Allah pada hari ke 7 (sabat), sebagai respon manusia atas segala ciptaan Allah. Ini yang penanggap tidak lihat lebih jauh. Makanya penanggap hanya melihat Allah seperti Allah yang (Power Shiift) atau (Dictator Shift), dgn menggunakan teks2 seperti ini Yer 32:17 – “…Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatanMu yang besar dan dengan lenganMu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu’”. tanpa menunjukan hubungan korelasi teks2 tersebut dgn proses penciptaan. Di mana Allah dipahami sebagai Allah yang mutlak atas segala ciptaannya, Allah yg berkuasa terhadap manusia tanpa melihat hubungan relasional antara Allah dan manusia di mana Allah melakukan restrukturisasi karena kemahakuasahanNya lalu pola-pola hubungan relasional antara Allah dan manusia diabaikan oleh penanggap.

    • Ma Kuru berkata:

      Tanggapan menarik, tetapi sebelum menanggapi anda, saya mau tanya apa maksudnya ‘Power Shift’ dan ‘Dictator Shift’? Itu istilah dalam bidang ilmu apa?

      Thanks

  7. shacidiva berkata:

    Pdt.Ebeb Nuban Timo. Adalah penganut teologi Liberal yg rasional sehingga sgl sesuatu mau di rasionalkan. Padahal dasar pikiran spt itu sdh ketinggalan zaman. Mrk itu orgyg membodohkan dirinya setelah terpengaruh oleh jalan pikirannya yg terbatas yg mencoba masuk dlm hal yg rohani dgn akal dan ternyata tdk dpt menjangkau. Tersesatnya mrk ini krn pd awal kulia dosennya tdk mengarahkan kpd pemahaman yg rohani sehingga mrk buntu saat mendalami Firman yg jelas2 menyangkut hal2 yg rohani. Selanjutnya mrk mencari solusi dgn mempelajari filsafat yg semakin menjauhkan mrk dr pemikiran rohani.

  8. admin berkata:

    Untuk mereka yang mengangkat fakta bahwa ‘bara’ juga digunakan pada manusia, mungkin harus membaca tulisan Gordon H. Clark dalam tulisannya berjudul ‘Predestination’. Supaya tidak sulit-sulit membeli bukunya, saya copas di sini:

    It is said that this is not always true of bara, and that it sometimes has a man as its subject. At first sight this would seem to weaken the evidence for the peculiar and utterly singular character of God’s action. But on second thought there turns out to be not much force in this objection. In Hebrew there is a type of verbal conjugation that is completely foreign to our Western languages. We are accustomed to the distinction between the active and passive voices. Perhaps we can imagine a middle voice as it occurs in Greek. But Hebrew has a system of six or seven different – well, they are not voices exactly, but they are sets of forms. The meaning of a verb changes from set to set, and sometimes changes drastically. The verb bara is that way. Here are five instances.

    The first two instances are in Joshua 17:15,18: “And Joshua answered them, If you be a great people, then get up to the wood country, and cut down [bara] for yourself there…. The mountain shall be yours, for it is a wood, and you shall cut it down [bara].” The next two are found in Ezekiel 21:19: “Also, you son of man, appoint two ways, that the sword of the king of Babylon may come: both shall come forth out of one land: and choose [bara] a place, choose [bara] it at the head of the way to the city.” The fifth instance is a different translation from that in Joshua, but of similar meaning. Ezekiel 23:47 says, “The company shall stone them with stones, and dispatch [bara, cut down] them with their swords.”

    This usage does not weaken the evidence for fiat creation, for one might say that the verb bara is really two verbs. The meaning cut down is so different from and so unrelated to any notion of creation that it simply does not bear on the subject. It is also to be noted, for whatever it might be worth, that this second usage of bara in its different “voice” is extremely rare. It cannot be tied in with the doctrine of creation.

    Tanggapan lain terhadap hal tersebut dapat dibaca di sini http://tektonics.org/af/exnihilo.php

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s