Kutipan Kuliah Tentang Definisi Stipulatif

Di bawah ini adalah transkrip bahasa Indonesia dari kuliah John W. Robbins dari buku Gordon H. Clark tentang definisi stipulatif. Potongan mp3 dari kuliah tersebut dapat diakses di sini. Kuliah panjangnya dapat diunduh disini.

Mari kita lanjutkan dengan diskusi tentang definisi. Di samping definisi konotatif dan denotative, Clark menyebutkan beberapa jenis definisi lain. Satu yang dia sebutkan adalah definisi sipulatif. Dalam pengertian ini, anda tidak dapat berargumen tentang cara seseorang menggunakan sebuah kata. Kalau misalnya seorang filsuf menulis sebuah buku dan berkeputusan untuk menggunakan kata ‘reason’ misalnya dengan pengertian ‘sensasi inderawi’ atau ‘pengalaman inderawi’, yaitu sebuah pengertian yang lazim dalam sejarah filsafat, anda tidak menyalahkannya. Satu-satunya hal yang anda dapat tekankan adalah bahwa si penulis tetap berpegang pada definisi tersebut dalam buku yang ditulis, dan tidak menggunakannya dengan pengertian yang berbeda pada bagian lain dari buku tersebut. Namun demikian, para penulis melakukannya terus-menerus. Salah satu yang paling lazim dalam abad ke-20 adalah novelis Ayn Rand yang bersikeras untuk menggunakan kata ‘reason’ dengan pengertian ‘sensasi inderawi’ atau ‘pengalaman inderawi’, tetapi di tengah-tengah argumen anda akan mendapati bahwa kata tersebut digunakan dengan pengertian yang berbeda yaitu ‘pengetahuan non wahyu’ atau ‘pengetahuan yang tidak kita dapatkan dari wahyu Allah’ atau ‘hukum-hukum logika.’ Ada berbagai definisi kata ‘reason.’ Kadang-kadang si penulis merubah arti kata reason di tengah-tengah bukunya. Namun kalau anda sudah menetapkan arti tertentu, tidak ada gunanya untuk mengkritik definisi tersebut.

Bagi mereka yang pernah membaca Alice in the Wonderland mengetahui tentang Humpty Dumpty. Dia mengatakan bahwa dia akan menggunakan kata-kata persis seperti apa yang dia maksudkan/inginkan, tidak peduli apapun arti kata-kata tersebut bagi orang lain. Satu-satunya hal yang penting bagi dia adalah dia ingin menjadi tuan terhadap kata-kata. Saat dia mengatakan demikian, dia sedang mencampur adukkan definisi stipulatif dengan definisi lazim dan dia hanya akan membingungkan orang saat dia menggunakan kata-kata dalam pengertian dia sendiri. Anda bisa menggunakan kata ‘anjing’ untuk merujuk kepada binatang piaraan yang mengeong tetapi saat anda menggunakan kata ‘anjing’ dengan pengertian tersebut, maka anda akan membingungkan orang. Tetapi anda dapat menetapkan bahwa demikianlah anda akan menggunakan kata tersebut. Mungkin orang berpikir bahwa anda aneh. Tetapi kalau misalnya anda menggunakan kata tersebut secara konsisten, anda tidak dapat dituduh melakukan sesat pikir ekuivokasi. Kalau ternyata kemudian anda menggunakan kata tersebut dengan pengertian yang digunakan orang lain, tentu saja anda dapat dikatakan melakukan ekuivokasi.

Pos ini dipublikasikan di Definisi, Filosofi, Gordon H. Clark, John W. Robbins, Logika, Terjemahan, Transkripsi. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s