Sedikit Catatan Tentang Definisi

Beberapa saat yang lalu seorang teman di FB berbagi sebuah tulisan. Tujuannya berbagi tulisan tersebut adalah “mempererat tali silahturahmi.” Tulisan yang dibagikan tersebut tampaknya dapat dikatakan sebagai sebuah refleksi terhadap refleksi Ramadhan tentang Ateisme. Jadi si penulis berefleksi terhadap sebuah Refleksi Ramadhan tentang Ateisme. Di tengah-tengah kesibukan saya, saya mencoba membaca tulisan tersebut. Tulisan ini bukan tanggapan terhadap semua yang dikatakan di sana. Ada banyak hal lain yang bisa dikatakan tentang tulisan tersebut.

Si penulis memulai cerita tentang dirinya yaitu tentang pengalaman-pengalaman panjangnya berfilsafat yang akhirnya menjadikan dia membedakan antara ‘berfilsafat’ dan ‘belajar filsafat’. Dia mendefinisikan ‘berfilsafat’ sebagai “terus melakukan pencarian tanpa henti, tentang apa itu ke adilan dalam berfikir dan bijak dalam mengambil keputusan” sedangkan belajar filsafat adalah “menganggap sebagai bahan bacaan atau ilmu.” Si penulis memutuskan untuk mengambil posisi ‘berfilsafat.’ Jadi dalam benak penulis, tampaknya kedua pilihan tersebut adalah kontradiktif alias saling meniadakan. Apakah benar bahwa keduanya saling meniadakan?

Pada bagian lain dari tulisan tersebut si penulis mengatakan bahwa sebagai konsekuensi dari ‘berfilsafat’ yang dia ambil dia “meposisikan diri … sebagai “oposisi” dari setiap tokoh-tokoh yang sedang dibahas [dalam filsafat] semisal [dia] pernah menjadi musuh plato (sic) aristo (sic) descart (sic) locke (sic) dll.” Ini menjadi masalah besar karena kalau dia menjadi musuh Plato dan para filsuf lainnya, maka dia harus mempelajari apa yang ditulis oleh orang-orang tersebut agar bisa menjadi musuh mereka. Kalau dia tidak mempelajari apa yang dikatakan oleh para filsuf tersebut, maka yang dia serang hampir pasti hanyalah orang-orangan sawah alias strawmen alias bukan pandangan orang-orang tersebut. Saya katakan ‘hampir pasti’ karena masih ada kemungkinan bahwa dia langsung diberi tahu oleh Tuhan tentang isi pemikiran orang-orang yang dia kritik sehingga dia tidak perlu pelajari.

Mungkin ada yang mengatakan “Ooohh… yang dimaksud penulis dengan belajar filsafat adalah kalau orang hanya menganggap filsafat sebagai sesuatu yang dipelajari untuk diketahui saja.” Mungkin benar demikian, tetapi kalau seorang pernah belajar filsafat dan kurang hati-hati mendefinisikan istilah yang dipakai, mungkin harus belajar lebih banyak lagi tentang filsafat.  Saat mendefinisikan belajar filsafat, dia tidak menggunakan kata hanya. 

Menanggapi ini, mungkin ada yang berkata pada saya “Kamu saja yang terlalu melebih-lebihkan masalah.” Silahkan saja berkata demikian, tetapi dalam filsafat, itu yang harus anda lakukan. Anda harus benar-benar tahu apa yang anda katakan. Kalau anda tidak peduli tentang hal itu, yaaa… jauhkan diri saja dari dunia filsafat dan jangan berkomentar apapun!

sic = kesalahan penulisan ada pada penulis

Pos ini dipublikasikan di Definisi, Filosofi. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s