Bisakah Anda Berdiskusi Dengan Baik?

Beberapa saat yang lalu saya dan seorang teman berdiskusi dengan seseorang yang menggunakan ID berhuruf Ibrani (setidaknya saat itu) di Facebook. Karena kesulitan menuliskan namanya, maka saya akan menyebutnya sebagai si Ibrani. Saya menuliskan di sini sebagai bahan pembelajaran dalam diskusi. Diskusi tersebut sudah saya dokumentasikan di sini. Kita akan melihat kesalahan yang dilakuan oleh si Ibrani dan belajar untuk tidak mengulanginya.

Si Ibrani memulai thread dengan menuliskan sebagai berikut. (Saya tambahkan font miring)

Atas nama SOTERIOLOGI (ajaran keselamatan) Luther berperang melawan Katolik sehingga meletus perang 30 Tahun dan menewaskan banyak orang… sebenarnya apa yang diperjuangkan Protestan atau Jesuit? Soteriologi yg membinasakan? Ironi… inilah sejarah kelam Gereja Konvensional… saatnya kembali ke Gereja Perjanjian Baru yg penuh kasih dan sehat, bukan Gereja Yang Penuh persaingan dan saling berebut domba padahal domba itu milik Mesias, Gembala kita yg baik dan satu…

Saya tidak akan membahas apakah benar bahwa Luther memang berperang. Di sini kita anggap saja bahwa memang benar Luther berperang. Perhatikan bagaimana si Ibrani mengatakan bahwa yang bermasalah dari Luther adalah soteriologinya atau ajarannya tentang keselamatan. Implikasi dari pernyataan seperti ini adalah bahwa ajaran Luther tentang keselamatan mengharuskan Luther untuk berperang atau membunuh. Nah pertanyaan yang alamiah kepada orang yang berpandangan demikian adalah “apakah memang benar demikian?” Karena itu saya minta si Ibrani untuk mengemukakan argumen yang mendukung pandangan seperti itu. Pertanyaan ini sangat penting karena hal terpenting dalam diskusi adalah argumen. Dalam sebuah diskusi kita menilai argumen, bukan klaim. Jadi kalau seseorang mengklaim sesuatu, maka dia harus bersiap-sedia untuk proposisi pendukung terhadap klaim tersebut. Kalau tidak demikian, saya bisa mengklaim sebaliknya. Itu bukan diskusi lagi namanya.

Si Ibrani bukannya mengemukakan argumen tetapi memberi link dan menaruh sebuah tulisan yang berbicara tentang perang yang terjadi pasca reformasi. Apa yang salah dengan jawaban seperti ini? Bukankah ini berarti bahwa ajaran yang dikemukakan tidak benar? Jawabannya terhadap pertanyaan terakhir adalah TIDAK. Walaupun seseorang melakukan sesuatu yang tidak benar, tidak otomatis bahwa yang diajarkannya pun salah. Bisa saja saat melakukan yang tidak benar itu, justeru dia sedang bertindak melawan ajarannya yang baik. Sebagai contoh ada seorang pendeta yang selalu mengajar bahwa mencuri salah misalnya. Tetapi satu hari dia tertangkap basah mencuri. Fakta bahwa dia mencuri tidak lantas mengakibatkan ajarannya tentang mencuri itu salah. Yang salah adalah orang yang mengajar, bukan ajarannya. Ingat, bahwa Yesus pernah mengatakan kepada orang banyak untuk mengikuti ajaran kaum Ahli Taurat yang benar, tetapi menghindari praktek mereka. Nah, karena si Ibrani mengklaim bahwa ajaran soteriologis Luterlah yang salah, maka adalah tugasnya untuk menunjukkan bagaimana ajaran Luther tentang keselamatan berimplikasi perang. Dia harus mengemukakan sebuah argumen dimana premis-premis ajaran soteriologis Luther mengharuskan kesimpulan “Orang Kristen harus berperang untuk mempertahankan ajaran soteriologis Luther.” Tetapi itu tidak dilakukannya. Ini adalah kegagalan pertama si Ibrani.

Kemudian dalam diskusi si Ibrani menyangkal bahwa dia mengatakan ajaran soteriologis Luther salah. Well, mungkin dia benar bahwa yang dimaksudnya bukan ajaran soteriologis Luther yang salah tetapi Luther. Mungkin dia hanya terburu-buru tulis postingan pembuka. Tetapi masalahnya, kemudian dia mengatakan lagi hal yang menunjukkan bahwa dia menganggap bahwa bukan hanya Luther yang salah tetapi ajarannya (pasti ajarannya tentang soteriologis, karena konteks pembicaraan adalah ajaran soteriologis Luther)  juga salah. Dia menulis “maka tepatlah jika saya mengatakan Protestantisme lahir dengan fondasi PEDANG. jelas sekali bahwa Luther dan doktrinnya ikut andil.” Jadi perhatikan bagaimana si Ibrani berlaku tidak jujur saat posisinya dirasa terancam. Ini adalah sesuatu yang tidak boleh ada dalam diskusi yang sehat. Kalau posisi kita memang terancam, setidaknya kita diam dan berusaha memperbaiki diri, bukan menipu seperti si Ibrani.

Semoga kita belajar dari kegagalan si Ibrani dan tidak melakukannya. Setidaknya, tidak melakukannya dengan sadar.🙂

Update:
Dalam kekristenan kita diajarkan bahwa semua manusia sudah berdosa. Karena dosa, dia bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang benar yang dia tahu. Karena dosa pula, tidak semua yang dikatakan orang yang terpelajar sekalipun atau pendeta sekalipun pasti benar. Karena itu adalah tanggung jawab kita masing-masing untuk mempelajari apa yang dikatakan dan menerimanya kalau memang benar dan menolaknya kalau memang salah.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Memang Bodoh, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s