Sedikit Masukan tentang Diskusi

Beberapa waktu lalu saya mengamati sebuah diskusi di wall salah satu teman saya di FB. Diskusi itu dipicu oleh sebuah status yang menyatakan bahwa tidak ada orang kristen tanpa Kristus dan tidak ada keselamatan tanpa Kristus (dalam bahasa Inggris). Kemudian ada (pendeta) yang mengajukan pertanyaan “Apakah boleh saya percaya kepada Kristus tanpa beragama kristen? Dan apakah jika saya tidak beragama Kristen maka saya tidak selamat?” Di sini saya tidak akan membahas apa yang dikatakan dalam diskusi tersebut. Saya hanya akan melihat dari segi argumentasi saja yaitu apa yang harusnya dibahas kalau lawan bicara mengemukakan pertanyaan.

Sebelum saya membahasnya demikian, saya menegaskan posisi saya terhadap pertanyaan seperti adalah bahwa masalahya bukan boleh tidak boleh tetapi logis tidak logis. Jawaban positif terhadap pertanyaan seperti itu adalah sesuatu yang kontradiksi, jadi tidak layak dipegang kecuali orang sudah jadi irasional. Saya setuju dengan Gordon H. Clark bahwa irasional adalah bahasa halus dari tidak waras atau gila. Saya tidak akan membahas itu sekarang tetapi hanya penegasan posisi saya.

Kalau kita berdiskusi secara logis ketat, hal pertama yang harus dilakukan saat berhadapan dengan pertanyaan dari lawan bicara yang menggunakan istilah tertentu, adalah mengajukan pertanyaan klarifikasi, yaitu pertanyaan klarifikasi tentang apa definisi istilah yang dipakai. Hal ini sangat penting karena tanpa pemahaman tentang apa yang dikatakan lawan, yang terjadi bukan diskusi tetapi kekacauan. Menolak menjawab pertanyaan klarifikasi (dengan dalih apapun) sama saja dengan tidak mau berdiskusi. Kalau tidak mau berdiskusi, untuk apa pertanyaannya diladeni? Dalam contoh di atas, yang patut diklarifikasi adalah makna atau definisi dari ‘agama Kristen’, ‘Kristus’, ‘beragama Kristen‘, dll.

Terkait dengan hal ini saya pernah dikritik karena dengan mengajukan pertanyaan seperti ini dianggap bahwa implikasinya adalah bahwa saya merupakan seorang penganut postmodernisme yang percaya kata-kata tidak punya arti yang standar. Keberatan seperti ini bukan keberatan yang syah/valid karena walaupun misalnya ada standar yang berlaku tentang makna kata, toh kenyataannya orang melanggar standar. Jadi harus diketahui apa yang dipahami lawan diskusi. Dengan demikian, pertanyaan klarifikasi seperti itu pantas diajukan. Bahkan pertanyaan klarifikasi seperti ini justeru bisa digunakan untuk membetulkan definisi yang kontradiktif dari lawan bicara.

Setelah diketahui definisi kata yang digunakan, kita tinggal menunjukkan apa implikasi dari pandangan-pandangan si lawan diskusi. Apakah pandangannya adalah sebuah kontradiksi ataukah tidak. Kalau pandanganya kontradiksi, harus ditunjukkan apa alternatifnya untuk meniadakan kontradiksi tersebut. Kalau si lawan diskusi melihat ada kontradiksi di dalam pandangan yang kita sodorkan, maka tugas dia adalah menunjukkan bukan kontradiksi pandangan kita. Kalau misalnya dia tidak bisa menunjukkan kontradiksi tersebut, dia harus menerima pandangan kita.

Tetapi yang pilihan terakhir tidak mungkin tercapai kecuali memang orangnya berjiwa besar. Berjiwa besar di sini dipakai dalam pengertian dengan rendah hati mengakui kesalahan di depan umum kalau memang dia salah dan mengerima pandangan lawan. Yang saya liat seringkali terjadi adalah saat pandangan seseorang ditinjukkan sebagai kontradiksi, kebanyakan orang akan mencoba mengatakan hal-hal yang mengandung sesat pikir, yang kalau lawan bicara jeli bisa digunakan mengekspose kebodohannya.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s