Kemampuan Anda Rendah? Akui Saja Supaya Bisa Belajar dan Lebih Pintar!

Kesombongan adalah awal kehancuran,  Amsal 18:22

Sang Debater? Aaahhh! Jangan terlalu promosilah! Kasian kalau ketahuan bahwa anda tidak punya kemampuan berargumentasi! Tulisan ‘debater’nya salah pula! Semoga kau bertobat man! (Foto ini adalah foto di Profil si Johanes Stepen, mungkin ini dia, mungkin juga tidak)

Saya sebenarnya malas membuat tulisan ini karena merasa bahwa hal seperti ini tidak usah ditanggapi. Tetapi kalau kita tau mana yang benar dan tidak mengatakannya, maka kebodohan akan merajalela, apalagi kebodohan itu menyembunyikan diri dibalik jargon pendebat hebat atau the debaters. Istilah yang membuat banyak orang cukup terkesima, sehingga ada kemungkinan banyak orang yang akan terpengaruh dengan kebodohan yang dilakukan. Karena itu saya memutuskan untuk membuat tulisan ini.

Tanggal 19 Juni yang lalu ada seorang yang yang mengaku Kristen (dan saya percaya dia seorang Kristen) bernama Johanes Stepen masuk di Grup Facebook yang saya adalah salah satu adminnya. Si Stepen masuk dengan komentar sebagai berikut (semua kesalahan penulisan tidak saya perbaiki):

salam semuanya, saya merasa beruntung bisa masuk sini

Saya pengagum Pdt Budi asali, dan Pak Esra, sebab saya ingat mereka menelepon saya wkatu saya dulu mau debat sama MOKOGILO, itu adalah penampilan perdana saya, beliau-beliau ini lah yang menguatkan saya

tapi bagaimana pun satu saat mungkin kita akan beda pendapat, saya sudah diapkandiri untuk itu, dan saya hanya akan bicara berdasarkan argumen, agar diantara kita tidak ada dendam dll, ini hanya maslaah waktu saja”

Perhatikan secara khusus kalimat yang ditebalkan hurufnya! Kalau kita membaca tulisan seperti itu, maka satu-satunya yang diharapkan dari orang seperti ini adalah bahwa dia paham tentang seluk-beluk argumentasi dan sebagai implikasinya paham tentang logika. Karena argumentasi/argumen mempranggapkan kemampuan orang menilai validitas argumen lawan dan argumen dapat dinilai validitasnya kalau kita paham logika. Jadi saat awalnya, saya menganggap dia akan menjadi seorang yang pantas berdiskusi. Saya pun menyambutnya dengan baik.

Namun tidak lama setelah itu dia mengomentari sebuah thread yang sudah ditutup karena yang empunya thread tidak berdiskusi melainkan datang hanya untuk pasang status dan setelah itu melarikan diri. Thread itu dumulai oleh Yudi Hermawan tanggal 18 Juni. Untuk mempermudah yang mau mencari thread tersebut, saya copas bunyi awal thread tersebut:

“harus mau makan daging manusia seperti firman berikut: YOHANES 6:53

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.”

Dia mengemukakan sebuah komentar yang masih ada hubungan dengan apa yang saya lakukan terhadap si Yudi Hermawan dengan menyarankan untuk meniru sebuah Grup tertentu yang hanya menendang orang yang berbahasa kotor. Saya membalas dengan mengatakan bahwa di Group yang saya jadi admin tersebut, kemampuan berargumentasi adalah standar. Jadi implikasinya adalah saya tidak menerima sarannya dia. Bagi kami di group tersebut kebodohan tetaplah kebodohan walaupun disampaikan dengan sopan. Setelah itu bukannya berbicara tentang topik yang relevan, si Johanes memuat komentar berikut:

“oh..gitu ya, apa kira-kira kalim yang baik ya untuk saya ungkapkan

BEGINI TERNYATA PAULUS SUDAH DI PERMALUKAN PARA USKUP, PENDETA dkk, LIHATLAH AYAT INI

1 Korintus 1:13 Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?

PAULUS HANYA BISA GIGIT JARI, KERENA KRISTEN SUDAH TERBAGI-BAGI”

Perhatikan bagaimana komentar ini tidak ada kait mengait sama sekali dengan postingan si Yudi maupun diskusi tentang apa yang saya lakukan terhadap si Yudi. Karena itu saya menanyakan hubungan antara postingan si Yudi dengan topik yang dibahas dan mengatakan bahwa kalau dia gagal menunjukkan hubungannya dengan hal yang sedang dibahas, maka dia melakukan sesat pikir Red Herring. Perhatikan bahwa saya tidak melarang dia berbicara tentang topik yang sudah mati karena toh kami sedang membahas thread itu. Kalau saya melarang untuk membahas thread lama, maka sejak pertama saya sudah larang dia. Saya katakan bahwa kalau dia mau buka topik baru maka dia harus buka di thread baru.

Dia menjawab bahwa dia membuka diskusi karena yang mengangkat topik sudah dikick dan karena dia sudah dikick, si Johanes boleh seenaknya berbicara tentang hal yang tidak ada hubungan sama sekali. Saya katakan bahwa kalau dia mau buka topik, dia dapat membuka thread baru dan tidak dicammpur-aduk dengan thread lama. Dia bukannya menerima tetapi mengatakan itu aneh. Saya katakan bahwa itu tidak aneh dan meminta dia untuk membuka thread baru kalau membahas hal baru, dan bukan menumpang di thread orang lain yang tidak ada hubungan dengan hal yang dia angkat karena itu namanya Red Herring.

Bukan menerima, dia kembali melakukan Red Herring dengan mengatakan bahwa saya melarang dia memberi komentar pada thread yang sudah mati. Saya jelaskan apa yang saya larang dan mengatakan bahwa di thread lain saya sudah katakan padanya bahwa sesat pikir merupakan sesuatu yang sangat dibenci di group tersebut dan saya meminta dia tidak melakukan sesat pikir lagi. Kejadian berikutnya mengungkap bahwa harapan saya yang tinggi akan kemampuannya berargumentasi adalah sesuatu tidak benar. Menanggapi komentar saya tersebut dia menyamakan antara ‘sesat’ dan ‘sesat pikir’ lalu protes karena hanya karena Red Herring saya menganggapnya sudah sesat. Saya terus menjelaskan perbedaan antara ‘sesat’ dan ‘sesat pikir’ kepada si Johanes, tetapi dia terus melakukan Red Herring dan menyamakan ‘sesat’ dengan ‘sesat pikir’ dan malah kutip-kutip ayat Alkitab yang berbicara tentang sesat. Sesat pikir yang sama terus dia lakukan (Red Herring) dan saya memperingatkan dia.

Tetapi dia bukannya mengakui kebodohannya yang tidak memahami perbedaan antara ‘sesat’ dan ‘sesat pikir’ tetapi dengan desperate mengatakan “yah sutralah….. anda menang… emang kenapa?” Ini sebuah indikasi bahwa dia adalah orang yang tidak bisa mengakui kalau dia salah dan perlu memperbaiki diri. Sudah berkoar-koar tentang fokus pada argumentasi, tetapi ternyata kemampuannya sangat rendah dalam berargumentasi. Istilah sesat pikir saja dia tidak tau. Padahal itu adalah istilah teknis dalam argumentasi. Setelah diperingatkan dan dia tidak paham juga, saya mengambil keputusan untuk mengeluarkan dia. Patut dicatat bahwa semua diskusi ini terjadi pada thread yang tadi sudah mati. Yang membaca silahkan putuskan sendiri apakah saya menendang dia karena dia membahas topik yang sudah mati ataukah karena dia sendiri yang bodoh dan tidak paham argumentasi!

Nah, setelah dia ditendang, supaya orang tidak bertana-tanya mengapa dia ditendang, saya memuat sebuah komentar pada thread yang disebut pada awal tulisan ini. Bunyi komentar saya adalah sebagai berikut:

Rupanya si Johanes hanya menipu diri sendiri dengan mengatakan dia sedang mengutamakan argumentasi. Diskusi dengan saya menunjukkan bahwa dia tidak paham argumentasi sama sekali. Saat diungkap sesat pikirnya, dia menyamakan itu dengan sesat. Padahal itu adalah dua hal berbeda. Dan setelah itu terus-terus melakuka sesat pikir yang akhirnya berkulminasi pada sebuah pengeluaran dengan tidak hormat dari sini!

Si Johanes rupanya sewot dengan komentar tersebut dan meminta pertemanan dengan saya. Saya terima pertemanan tersebut, dan dia menyerang saya dengan kata-kata kasar di wall saya sendiri. Dia menantang saya debat. Namun dengan kemampuan argumentasi seperti ini, tidak akan ada debat yang sehat. Setelah saya tanggapi postingannya di wall saya dan dia tidak punya argumen lagi, dia mengeluarkan diri dari pertemanan dengan saya. Beberapa saat kemudian diapun menyerang saya di wall pak Esra Soru. Sebuah perilaku yang sangat tidak mencerminkan seorang Kristen (Kalau orang Kristen dipahami sebagai orang yang mengikuti Kristus termasuk dalam hal argumentasi). Saya hanya berharap bahwa dengan dikeluarkannya dia dari group, dia melihat kebodohannya dan belajar. Saat ini memang dia masih sangat tinggi hati untuk mengakui kebodohannya. Kiranya Roh Kudus membuat dia melihat kebodohannya tersebut. Amin!

Update
Dalam komentar terakhir di wall pak Esra Soru, si Johanes bertanya-tanya mengapa diskusinya tidak diposting seluruhnya. Dia melihat ini sebagai indikasi bahwa saya sengaja menutup-nutupi sesuatu. Buat yang berminat membaca diskusinya dapat mengklik link-link di atas. Saya tidak suka mereproduksi sampah-sampah di blog saya karena di sini bukan tempat daur ulang. Saya hanya melakukannya kalau terpaksa..

Update 2
Dalam komentar-komentar terakhir ini setelah tidak punya argumen terhadap apa yang saya katakan, si Johanes memprotes kebijakan saya berkomentar terhadap thread yang dia mulai walaupun dia sudah tidak ada di grup. Well, pertama tentunya di grup adalah kebijakan admin grup. Masa grup orang dia yang atur? Kedua, entah saya berkomentar saat dia ada di grup ataupun tidak, tidak berpengaruh terhadap apa yang terjadi. Toh dia tidak paham apa itu diskusi! Dia hanya berkomentar yang mengandung sesat pikir Red Herring. Berdiskusi dengan seorang yang tidak paham diskusi sama saja dengan berbicara sendiri, tidak masalah dia ada di grup ataupun tidak.

Pos ini dipublikasikan di Johanes Stepen, Logika, Memang Bodoh. Tandai permalink.

5 Balasan ke Kemampuan Anda Rendah? Akui Saja Supaya Bisa Belajar dan Lebih Pintar!

  1. siganteng berkata:

    saya sudah baca pak, debat anda di grup esra tersebut, saya lihat pak mokuro agak tolol, yudi sudah bapak kick tapi bapak minta tanggapan, betapa bodohnya anda pak, dan pah johanes hanya ingin membuat topik baru, anda tidak mampu menyanggah pak

  2. siganteng berkata:

    kalau bisa bapak copas dong semua debat tersebut, biar kita lihat betapa bodoh nya anda sebagai admin, anda tangan besi, anda tidak mampu ya debat di rumah orang lain sehingga anda buat grup sendiri agar tangan besi anda berlaku, coba bapak sanggah apa yang di tulis pak YOHANES, bahwa Pendeta dan antek-anteknya sudah mempermalukan apulus, sanggahlah biar kita lihat kemampuan bapak untuk hal tersebut

    • whereisthewisdom berkata:

      Johanes, saya kasih peringatan sekali lagi kalau tidak ada argumen yang bisa anda kemukakan membantah argumen saya di atas, silahkan hentikan komentar anda! Ini bukan tempat memuntahkan kebodohan anda! Orang narsis seperti anda tidak pantas berada di sini! Saya mau tangan besi atau tidak, itu urusan saya. Saya memang bertangan besi terhadap orang bodoh seperti anda yang sok tau dan tidak punya kerendahan hati untuk mengakui kebodohan.

  3. Ping balik: Belajar dari Kebodohan Johanes Stepen | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s