Belajar dari Kebodohan Johanes Stepen

Si Johanes Stepen (kanan) yang berkoar-koar tentang argumentasi tetapi tidak paham logika.

Ini masih menyambung tulisan saya di sini. Si Johanes Stepen mati-matian mau berdiskusi Firman Tuhan dengan saya walaupun tidak ada satupun bukti bahwa dia paham akan logika. Dia melakukan berbagai macam sesat pikir dan lebih parah lagi dia tidak memahami apa yang lawan katakan. Karena itu saya menolak berdiskusi dengan dia. Sebagai bukti terakhir dia tidak mampu berargumen dapat di lihat di sini. Saya tidak usah membahas kebodohannya karena kebodohannnya begitu jelas dalam thread tersebut.

Lalu sekarang pertanyaan yang jelas muncul adalah apa hubungan antara logika dengan diskusi? Bukankah si Johanes tidak mau berdiskusi dengan saya soal logika? Bukankah si Johanes ingin berdiskusi tentang Firman Tuhan? Mengapa saya mati-matian memaksa orang paham dulu logika dan argumentasi baru saya ladeni? Bukankah itu sesuatu yang mengada-ada menuntut seseorang yang mau berdiskusi tentang Firman Tuhan untuk paham logika dulu? Apakah saya seorang yang terlalu yang mengandalkan logika dan bukan Firman Tuhan? Saya harap dengan tulisan ini saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti di atas.

Apa hubungan logika dengan diskusi? Jawabannya sangat erat. Proses dimana orang mengemukakan sebuah posisi yang didukung dengan alasan-alasan tertentu disebut argumentasi. Argumentasi adalah inti dari diskusi. Dalam sebuah diskusi atau debat dimana ada dua pihak yang berpegang pada posisi saling bertentangan, kita harus melihat apa alasan yang dia kemukakan untuk mendukung posisinya. Dengan kata lain kita harus memperhatikan argumentasi lawan. Apakah alasan yang dikemukakan memang benar-benar mengharuskan posisi dari masing-masing? Dengan kata lain lagi apakah bukti atau alasan yang diangkat untuk mendukung sebuah posisi memang benar-benar mendukung posisi tersebut ataukah hanya dikatakan mendukung tetapi sebenarnya tidak? Sebagai contoh, saya katakan bahwa aborsi itu adalah sebuah perbuatan yang tidak baik atau tidak bermoral karena itu pada dasarnya membunuh sehingga bertentangan dengan hukum Tuhan. Tetapi kemudian lawan saya mengatakan bahwa sebenarnya aborsi itu bukan sebuah kesalahan karena hanya orang-orang yang waktu kecilnya terkungkung yang punya pendapat seperti saya. Anda mau pilih yang mana? Untuk memihak pada salah satu posisi, anda harus mengetahui mana dari alasan-alasan itu yang mengharuskan posisi masing-masing. Dengan kata lain, posisi mana yang beralasan dan mana yang tidak beralasan. Untuk mempelajari hal seperti ini anda harus belajar logika. Demikian juga kalau anda mengatakan ‘Ajaran saya sesuai dengan Alkitab’, anda harus menunjukkan bahwa ajaran anda diharuskan oleh ayat-ayat Alkitab yang anda gunakan untuk mendukungnya. Dengan mengutip ayat Alkitab tanpa menunjukkan bagaimana kesimpulan anda diharuskan oleh ayat yang anda kutip, sama saja anda tidak punya alasan untuk alias anda hanya klaim tanpa bukti. Hal-hal ini anda harus belajar logika anda pelajari dalam disiplin logika. Logika bukan satu pilihan dalam diskusi yang benar-benar bernilai tetapi sebuah keharusan. Tetapi kalau anda hanya mau berdiskus ‘seadanya‘ tanpa peduli kebenaran dan hanya peduli siapa yang paling banyak omong atau tulis, baru anda tidak perlu paham logika.

Dalam kasus si Johanes, sudah berulang-ulang terbukti bahwa dia tidak paham logika. Istilah-istilah penting dalam diskusi saja dia tidak paham dan dia terus melakukan sesat pikir, yaitu sesuatu yang tidak diperbolehkan atau minimal harus dihindari dalam diskusi. Bagaimana mungkin kita berdiskusi dengan orang seperti Johanes untuk menunjukkan misalnya bahwa posisinya bukan sesuatu yang disimpulkan secara valid dari Firman Tuhan? Atau bagaiamana dia menunjukkan bahwa posisi saya tidak sesuai dengan Firman Tuhan? Jawabannya tidak bisa. Dia tidak punya alat untuk menunjukkan itu. Paling banter dia hanya bisa klaim. Ingat Amsal mengatakan bahwa ada jalan yang orang anggap lurus tetapi ujungnya menuju maut. Dia bisa mengatakan bahwa posisinya benar dan saya bisa mengatakan bahwa posisi saya benar, tetapi keduanya tidak punya bukti untuk mendukung kalau keduanya tidak paham tentang logika. Apapun yang didiskusikan dengan orang seperti ini tidak akan berarti. Sudah ditunjukkan berulang-ulang bahwa orang seperti Johanes ini hanya tertarik dengan siapa yang paling banyak tulis atau ngomong. Sesuatu yang perlu disesalkan dari seorang yang mengaku-ngaku Kristen.

Lalu apakah saya meninggikan logika dan merendahkan Firman Tuhan di bawah logika? Tidak. Firman Tuhan dinyatakan dalam Alkitab dengan kata-kata. Hukum logika harus berlaku agar kata-kata ini bermakna. Salah satu hukum logika adalah hukum kontradiksi, hukum ini berimplikasi bahwa saat digunakan, kata tertentu harus memiliki arti yang tertentu pula dan tidak bisa berarti berbagai macam hal. Sebagai contoh, saat saya menggunakan kata ‘Anjing’ dalam kalimat ‘Anjing saya makan rumput’, maka kata ‘anjing’ tidak dapat berarti ‘meja, atau kursi, atau nyamuk, atau Johanes Stepen, atau sepeda motor, atau obat nyamuk, atau berdiri,’ dan lain-lain seterusnya. Kalau itu terjadi maka kalimat ‘Anjing saya makan rumput’ menjadi tidak berarti sama sekali. Hal yang sama juga berlaku buat kata-kata yang lain. Kalau hukum kontradiksi tidak berlaku maka kalimat di atas “Anjing saya makan rumput” bisa berarti ‘Johanes Stepen makan rumput” atau “Akar pangkat dua kali” atau “Musik berwarna biru muda” atau “Dansa mari bego bocor”, dan lain-lain dan seterusnya. Dan kalau sudah seperti itu, maka satu-satunya pilihan adalah menjadi gila. Kalau misalnya dalam Alkitab hukum logika tidak berlaku, maka saat ada Firman yang mengatakan “Jangan membunuh” itu artinya “Membunuhlah seenaknya” atau “Daging babi” atau “Johanes Stepen” atau “Ma Kuru pintar” dan lain-lain dan seterusnya. Jelas ini bukan yang terjadi dalam Alkitab. Alkitab adalah penyataan Allah untuk manusia, jadi punya makna. Kalau tidak punya makna, maka Alkitab bukan penyataan Allah karena tidak ada yang dinayatakan jika hukum logika tidak berlaku. Jadi tuduhan merendahkan Firman Tuhan pada logika tidak benar.

Lalu apakah seorang yang secara ketat menilai logis tidaknya pandangan orang lain merupakan orang yang tidak mengandalkan Tuhan? Tidak. Justeru dengan hukum-hukum logika dalam kerangka pikir kita dan Firman Tuhan sebagai isi pikiran kita, kita bisa membedakan mana yang benar dan yang tidak benar. Tanpa logika kita tidak bisa membedakan apa artinya mengandalkan diri pada Tuhan dan tidak mengandalkan diri pada Tuhan. Tanpa logika keduanya sama saja. Logika adalah prakondisi bagi mengandalkan diri pada Tuhan. Mengandalkan diri pada Tuhan tidak bisa dilakukan tanpa logika.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Johanes Stepen, Logika, Memang Bodoh. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s