Diskusi Tentang Logika dan Iman dan sedikit tentang Logika Manusia vs Logika Tuhan

Berikut ini adalah diskusi saya dengan beberapa teman di FB di wall Ama Rony. Diskusi ini lebih merupakan diskusi lama yang tidak selesai dan saat inipun tidak selesai. Diskusi ini terkait dengan hubungan logika dan iman tetapi terseret ke dalam diskusi tentang logika dan Tuhan. Dengan kata lain salah satu pihak telah melakukan Red Herring.🙂 Terlibat dalam diskusi ini adalah saya dan Ama Rony di satu pihak berpegang bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Tanpa logika tidak akan ada iman. Sedangkan di pihak lain saudara Marvel dan Cermat, sebaliknya berpandangan bahwa iman memungkinkan logika. Diskusi ini hanya diangkat yang cukup relevan dengan topik yang dibahas. Sebagian diskusi yang tidak relevan tidak dicantumkan. Diskusi seluruhnya dapat dilihat di sini

Berikut ini adalah diskusinya

Rony
no logic, no faith

Marvel:
He..he..he…tepatnya with faith everything becomes make sense (applied logic)…jadi, logic iya, tapi, faith juga iya. Sehingga, bisa juga dibalik menjadi no faith, no logic. Furthermore, Logic can be trained. Faith cannot be trained. Faith is given. Dua2nya tidak boleh dipertentangkan…:)

Be cuma bisa bilang bahwa “the beauty of living in this world is things are not always black or white. There are many other things in between.” Sehingga, tanpa faith banyak hal bisa tetap masuk akal. Namun, banyak hal lain juga bisa kelihatan masuk akal dari satu sisi, tetapi, dengan iman menjadi lebih masuk akal lagi. Terkadang iman juga menjelaskan yang tidak masuk akal. Misalnya, pernyataan berikut ini: “Jika Tuhan itu baik, mengapa Tuhan perlu menciptakan manusia untuk nanti menyiksanya di neraka jika sang manusia itu tidak hidup seturut dengan kehendak Tuhan?” Tanpa iman, mungkin kita akan mengatakan “Tuhan aneh” atau “Tuhan kok gitu?” atau “Pasti tidak ada Tuhan”, dsb. Tetapi, iman kita membuat kita tunduk pada otorita Tuhan, sehingga, kita melihat hal tersebut sebagai “Kehendak Tuhan yang harus jadi.” Selanjutnya, bisa saja kita terdorong untuk mencaritahu lebih jauh untuk menjawab pertanyaan tersebut tanpa harus bertentangan dengan Tuhan. Jawaban kita pada akhirnya dapat seperti berikut: “Manusia adalah ciptaan Tuhan, sehingga Tuhan berhak melakukan apapun terhadap manusia. Bahwa sebagai makhluk ciptaan yang segambar dengan Tuhan, manusia diberi keistimewaan untuk berpikir dan merasakan, tetapi, sejak awal mula, kesepakatannya adalah manusia harus hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Sehingga, segala sesuatu yang menentang ini, tidak berasal dari Tuhan dan layak mendapat hukuman.” Itu jawaban orang beriman.

Ma Kuru
Ok we are all friends here dan kita su tau bahwa kita terbagi dalam hal ini. Kitong ju saling tau ada debat yang terputus di CLDC. It is no secret. Tetapi kebetulan ama Rony angkat di sini, ada baiknya beta kasih satu dua ayat ju. Apalai papa Ama Bura ada sindir-sindir terus deng beta ni serta ini ju jadi beta pung topik kesayangan karena sangat mendasar.

Beta mau bilang bahwa kalau iman tidak melibatkan pengertian akan satu pernyataan atau proposisi, kalau iman hanya sekedar sebuah perasaan yang tidak jelas, maka iman mungkin bisa ada tanpa logika (walaupun kemungkinan itu masih sangat diperdebatkan). Tetapi kalau iman tidak dapat lepas dari unsur pengertian, maka logika tidak dapat terlepas dari iman. Tanpa logika, iman tidak akan ada. Coba saja beritakan injil pada batu yang tidak berlogika atau hewan yang tidak berlogika, tunggu sampai do’o ju iman sonde akan bisa ada.

Terus tentang komentar om Marvel (lebih tepatnya argumen) bahwa logika tidak mungkin ada tanpa iman karena iman tidak bisa dilatih dan logika dapat dilatih merupakan non sequituur dan tidak valid. Pertama, yang dilatih adalah profisiensi dalam logika alias orang lebih konsisten dalam berlogika atau membuat orang menyadari hukum-hukum yang selama ini dipakainya dengan tidak mengenal namanya dan tidak mereka tau lebi dalam lagi. Logika bukan sesuatu yang tidak dia kenal sama sekali.

Tentang tidak semua dalam kehidupan black and white dan ada warna lain in between. Benar sekali demikian, tetapi itu tidak ada hubungan sama sekali dengan mendasar tidaknya posisi logika. Toh ada warna lainpun logika tetap harus berlaku. Okelah anggaplah itu ada seperti itu dan hukum-hukum logika tidak berlaku (walaupun itu kenyataannya adalah sebuah ketidakmungkinan). Pertanyaannya adalah mengapa logikanya yang dianggap salah dan bukan persepsi kita terhadap realitas yang kurang tepat?

He he he.. itu haya jab-jab ringan saaa.. he he he he

Cermat Waspada
Nah, guru sebenarnya su datang nih…karena ini sangat mendasar, beta mau tawarkan, bagaimana jika Ma Kuru coba jelaskan secara sederhana disertai contoh yang menunjukkan bahwa tanpa logika iman tidak ada. Contoh sederhana sa. Kalo mendasar, kan gampang, toh…biar ktong jelas bermain dengan contoh dan sonde bermain dengan beradu kata-kata teoritis…kermana?

B minta kacang goreng sediki, e, Ma Lobo?😉

Ma Kuru
Selamat datang om Cermat, ada kena hiki dari papa Ma Lobo deng Ama Bura ju ne. Ha ha ha ha ha..

OK, contoh di beta pung komentar di atas su ada. Kayu dan batu serta binatang sonde punya logika. Mengkhotbahkan injil kepada benda-benda dan makhluk seperti itu dan dong percaya kepada Yesus Kristus (iman) maka om Cermat berhasil menunjukkan bahwa iman bisa ada tanpa logika.

Kalau itu sonde cukup, beta kasih satu lai. Om dong biasa pake ayat yang menggambarkan iman sebagai “..dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” Ayat ini biasanya diterjemahkan sebagai “Percaya saja walaupun tidak kelihatan”. Jadi ada sesuatu yang dipercayai yang tidak kelihatan. Tetapi yang dipercayai ini adalah sesuatu yang sudah diketahui karena tidak mungkin sesuatu sessuatu yang dipercaya itu adalah adalah sesuatu yang tidak dipercayai. Tidak mungkin orang percaya kepada ‘eecaddgadsfasderewafadsvcadsfsdew’ karena ‘eecaddgadsfasderewafadsvcadsfsdew’ tidak kita ketahui maknanya sama sekali. Kalau om bilang itu adalah sebuah kemungkinan, maka om sudah membuktikan bahwa iman bisa ada tanpa logika. Pasti ada obyek yang diketahui yang dipercaya dalam definisi iman seperti itu.

OK. beta hentikan jab-jabnya di sini. He he he he he. Beta janji sonde akan jawab lai, kecuali di debat formal.😀

Marvel
Ma Kuru, kalo kasi contoh batu-kayu, ya, son pas lai deng statement “no logic, no faith”. Karena, untuk apa buat statement itu kalo su tau dia pung contoh cuma batu-kayu yang memang son idop? Nah, terkait ayat Ibrani 11:1, Ma Kuru omong apa ni? “…Tetapi yang dipercayai ini adalah sesuatu yang sudah diketahui karena tidak mungkin sesuatu sessuatu yang dipercaya itu adalah adalah sesuatu yang tidak dipercayai….”

Son usah sungkan2 Ma Kuru Paijo Budiwidayanto. Nanti ktong lanjut disini deng disana. Aman…:)

Ok, some 20 minutes passed by. B ijin garu sadiki. Ibrani 11:1 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Nah, kira2 dari ayat itu bagian mana yang bilang percaya sesuatu yang sudah diketahui? Kira-kira sesuatu itu apa ya?

Ma Kuru
Ha ha ha ha ternyata bapa tua masih mau lanjut di sini. Neu, beta ladeni sedikit. Beta curiga baptua ini ada OR deng beta. wk wk wk.

Om perhatikan bae-bae bahwa beta sedang mengomentari salah satu penafsiran terhaadp Ibrani 11 : 1 yang paling sering beta jumpai yaitu bahwa kita mempercayai sesuatu sebagai ada walaupun kita belum melihatnya. Ini terlepas dari setuju tidaknya beta terhadap penafisran seperti ini. Dikatakan bahwa kita harus percaya bahwa Tuhan akan mengeluarkan kita dari masalah yang kita hadapi, walaupun kita belum mengalaminya. Dalam konteks pemahaman seperti ini makanya beta keluarkan pernyataan seperti di atas. Jadi dengan penafsiran seperti itu kita menerima pernyataan/proposisi bahwa Tuhan akan menolong mengeluarkan kita dari masalah, walaupun dia belum melihatnya. Dengan kata lain ada pengertian. Pengertian mempranggapkan hukum logika sebagai benar. Ada penafsiran lain yang lebih mendukung beta pung posisi, tetapi beta angkat penafsiran yang sepertinya mendukung posisi om Marvel dan om Cermat. Wk wk wk wk.

Marvel
Jadi, maksud Ma Kuru, sesuatu yang sudah diketahui itu adalah Tuhan ko? Kalo itu yg Ma Kuru maksudkan, baik juga. Tapi, yg dilupakan oleh Ma Kuru adalah pada Ibrani 11:1 itu jelas2 mengatakan bahwa Iman adalah bukti dari segala sesuatu yg tidak kita tahu dan tidak kita lihat. Pertanyaan logisnya adalah bagaimana mungkin sesuatu yg kita tidak tahu dan yg tidak kita lihat, kita bilang sesuatu itu ada? Padahal kita tidak tahu itu apa. Kalo mau coba kita aplikasikan hukum logika, kan jadi gini: A adalah buah. Saya lihat A. Maka, konklusinya yang saya lihat adalah buah. Kalo tidak kita lihat, kan jadinya: Saya tidak lihat A. Maka konklusinya saya tidak tahu apa itu A. Tapi, ibrani 11 mengatakan bahwa iman bisa membuat saya pasti bahwa A itu buah. Gimana, hukum2 logika bisa menjelaskan ini?

Ma Kuru
Sesuatu yang diketahui itu adalah bahwa Tuhan akan menolong orang yang percaya.

Saat om Marvel mengatakan “bagaimana mungkin sesuatu yg kita tidak tahu dan yg tidak kita lihat, kita bilang sesuatu itu ada” tidak ada hubungan dengan logika sama sekali. Tetapi om Marvel sedang bermain-main dengan filsafat empirisisme dan verifikasionisme yang mengatakan bahwa hanya segala sesuatu yang masuk dalam radar kelima indera yang ada. Selain dari itu tidak ada. Filsafat seperti ini bukan logika. Logika adalah hukum yang merupakan pra kondisi bagi pemahaman. Coba om Marvel perhatikan sa, beta ambil contoh klasik yang sering dipakai di dalam joke-joke sa. Karena om Marvel tidak pernah melihat pikiran, tidak berarti bahwa pikiran itu tidak ada. Tidak ada satupun hukum logika yang mengharuskan paham empirisisme sebagai benar. Dengan demikian kalaupun beta setuju dengan pemahaman om bahwa sesuatu yang diketahui itu adalah Tuhan, secara logika, tidak ada keharusan bahwa iman bisa ada tanpa logika.

Untuk memahami ada Tuhan, orang harus menggunakan logika. Kalau tidak (ini beta ulang-ulang lagi hal yang sama), maka proposisi ‘Tuhan ada’ bisa berarti apa saja.

Marvel
Su hampir nyambung. Tapi, mungkin om bisa contohkan aplikasi logika dalam menerapkan Ibrani 11:1 agar b bisa ngerti maksud om bahwa logika adalah hukum yg merupakan pra kondisi bagi pemahaman akan aplikasi dari Ibrani 11:1.

Bta ngerti penjelasan om akan pikiran yg tidak bisa disentuh, tapi ada. Itu mirip2 software yg tidak bisa disentuh tapi dirasakan manfaatnya. Nah, disini semakin jelas bahwa iman-pun demikian. Kita tidak bisa menyentuhnya tapi ada. Apakah dengan ini berarti logika mendahului iman? Yang saya tahu iman itu given alias anugrah. Tuhan menganugerahkan kita iman tanpa kita harus menalar atau menggunakan hukum2 logika, sehingga kita bisa percaya pada Tuhan walaupun kita tidak pernah melihat Tuhan. Bahkan, kita bisa menjelaskan bahwa segala sesuatu diatur oleh Tuhan tanpa melihat atau mengetahui secara detail bagaimana Tuhan melakukan itu semua.

B rasa ktong su hampir nyambung tapi entah kenapa masih ada yg missed.

Yang selalu harus kita ingat bahwa logika membutuhkan pre-information. Kalo di kantor ya mirip2 hasil baseline lah. Kalo b coba kutip penjelasan dari logika yg mengatakan ini ada kaitannya dg kecakapan utk berpikir lurus dan teratur, maka hal kecakapan ini selalu ada kaitannya dengan pengetahuan yg sama dengan baseline itu. Sebaliknya, iman bisa timbul begitu saja karna dianugrahkan oleh Tuhan pada orang yg bersangkutan. Memang, setelah seseorang beriman, maka dia bertambah pengetahuannya, sehingga kecakapan dia menjadi bertambah lagi. Ini yg mungkin menjadikan iman dan logika menjadi sangat erat layaknya bodrex. Padahal tidak.

Ma Kuru
Dengan demikian maka om salah saat mengatakan bahwa logika mengharuskan agar sesuatu dilihat dulu baru ada. Sonde ada satupun hukum logika yang mengatakan demikian. He he he he

Kembali ke Ibrani 11 : 1. Ayat ini menunjukkan bahwa karena iman maka ini dan itu terjadi. Kalau om Marvel perhatikan, frase ‘karena iman’ lebih merujuk kepada kepercayaan akan proposisi tertentu dan kepercayaan akan proposisi ini membuat orang memahami atau mencapai pencapaian-pencapaian tertentu. Coba om Marvel liat ayat keenam dimana iman merujuk kepada percaya bahwa Tuhan ada. Dengan pemahaman seperti itu, maka logika harus mendahului iman. Tanpa logika tidak ada pemahaman. Tanpa pemahaman tidak ada kepercayaan. Dengan demikian, Tuhan memberikan kita iman setelah logika ada. Dengan kata lain, iman mempraanggapkan adanya pemahaman. Kita tidak bisa mengimanai sesuatu yang kita tidak pahami.

Contoh tentang batu dan kayu itu sangat relevan om Marvel. Batu dan kayu atau hewan, tidak punya logika karena itu om katong mau kasih dia Injil sampai kucing keluar tanduk ju dia sonde akan punya iman.

Logika membutuhkan informasi. Amen to that. Karena itu kita membutuhkan wahyu (informasi) dari Tuhan untuk punya dipercayai/diimani sebagai benar. Tetapi informasi tanpa logika adalah sebuah ketidakmungkinan. Karena itu logika ada duluan, baru iman ada. Harus ada hukum-hukum yang memungkinkan adanya informasi baru ada informasi itu sendiri. Logika bukan hanya ada hubungan dengan kecakapan untuk berpikir lurus. Logika ada hubungan dengan pikiran. Tanpa logika, tidak ada orang yang bisa berpikir. Beta rasa beta sonde usah kasih contoh tambahan soalnya nanti om bosan, soalnya ini contoh dong beta su ulang-ulang. he he he Tetapi in case om merasa perlu, let me know.

Saat seseorang beriman untuk pertama kalinya mungkin dia hanya tahu bahwa Yesus Kristus telah mati untuk dia di kayu salib dan tidak ada satupun pekerjaan baiknya yang menyumbang kepada keselamatan dalam Yesus Kristus. Tidak ada yang lain yang dia ketahui misalnya. Tetapi seiring waktu dia semakin tau. Sejak pertama dia beriman, tidak ada waktu dimana logika tidak digunakan. Bahkan sebelum beriman kepada Yesus Kristus dia sudah menggunakan logika, tetapi dia percaya kepada sesuatu yang tidak benar.

Marvel
Sebenarnya, sekarang apa pengertian logika yg dipakai dalam konteks contoh2 yang dikemukakan ini?

Tapi, okelah, b rasa su jelas masalahnya. Ma Kuru merujuk iman pada kepercayaan akan proposisi tertentu dan proposisi tertentu tersebut adalah Percaya pada Tuhan. Sedangkan, bta merujuk iman pada kepercayaan akan sesuatu yg tidak bisa di-indera-i dan apa yg akan terjadi walaupun b son tahu apa itu. Nah, hal percaya ini bisa karna ada pengetahuan pendahuluan, tapi bisa juga karna tidak ada informasi pendahuluan.

Contohnya, ada yg memilih utk mengerti dulu baru bisa percaya akan karya keselamatan Yesus. Akibatnya, dia tidak akan pernah percaya apabila dia tidak bisa mengerti juga. Di lain pihak, ada yg memilih untuk percaya dulu baru akhirnya dia gradually bisa ngerti karya keselamatan Yesus. Ini yg b maksudkan dengan iman mendahului logika itu. Jika Ma Kuru bertanya apa yg memicu orang itu mau percaya tanpa informasi pendahuluan ttg Yesus, maka b cuma bisa bilang bahwa itulah anugrah. Dan, ini adalah rprerogatif Tuhan utk memilih siapa yg mau dianugrahi iman kayak gitu. Iman bisa timbul tanpa informasi pendahuluan, sedangkan logika harus ada informasi pendahuluan.

Ma Kuru
Om Marvel, logika tetap sebagai hukum-hukum yang memungkinkan orang berpikir atau memahami. Tanpa itu pikiran tidak ada. Bagaimanapun iman didefinisikan keduanya percaya akan sesuatu. Entah kepada proposisi atau kepada sesuatu yang tidak dapat diinderai tetapi itu adalah sebuah kepercayaan dan kepercayaan mengasumsikan pemahaman/pengertian. Tanpa pemahaman, tidak akan ada kepercayaan. Pemahaman/pengertian tidak akan mungkin ada tanpa hukum-hukum logika dalam diri manusia. Karena itu iman tidak mungkin ada tanpa logika.

Orang yang percaya kepada Yesus harus memahami dulu baru dia percaya. Minimal dia harus paham bahwa dia adalah orang berdosa dan tidak ada jalan lain untuk lepas dari dosanya selain beriman kepada Yesus Kristus. Tanpa pemahaman seperti ini dia tidak pernah akan menerima Yesus Kristus. Orang mungkin tidak mengetahui tentang Tritunggal. Orang mungkin akan mencari tau informasi lebih banyak selain informasi itu. Itu tidak berarti bahwa yang pertama tidak ada logika dan hanya yang kedua yang menggunakan logika. Seperti beta bilang-bilang dulu om, tanpa hukum logika, maka pernyataan “saya adalah orang berdosa dan tidak ada jalan lain untuk lepas dari dosanya selain beriman kepada Yesus Kristus” bisa berarti segala macam. Tanpa hukum logika tidak akan ada orang yang beriman kepada Yesus Kristus.

Iman tidak bisa timbul tanpa informasi sama sekali. Apa yang hendak diimani kalau tanpa informasi tiba-tiba iman ada? Dia percaya kepada apa kalau tidak ada informasi. Mungkin manusia tidak menyediakan informasi untuk seorang percayai, tetapi Allah mampu mengkomunikasikan kebenaran-Nya kepada jiwa orang untuk dia percayai. Orang itu paham apa yang dia percayai. Kalau tidak paham, na dia mau percaya apa?

Beta ini ada diskusi terus karena ada yang OR deng beta wooo ha ha ha ha ha🙂

Marvel
B rasa Ma Kuru pung OR su tambah mantap sa…;)

Gini, pengertian akan logika yg digunakan Ma Kuru adalah seperti yg dikemukakan sebagai hukum2 yg memungkinkan orang berpikir dan memahami. Nah, masalahnya adalah bagaimana hukum2 tersebut diaplikasikan dalam kasus2 seperti yg telah diangkat diatas? Seperti pada kasus definisi iman tadi, jika asumsinya adalah percaya bahwa Tuhan ada sehingga segala sesuatu menjadi mungkin diadakan, maka aplikasi hukum2 logikanya bisa diterapkan. Tetapi, apabila asumsinya adalah bukan pada Tuhan melainkan merely believe pada sesuatu yg tidak jelas berkuasa atau tidak utk mengadakan segala sesuatu, maka aplikasi hukum2 logikanya menjadi bagaimana? Lain halnya, apabila pengetahuan telah berkembang oleh karna iman telah menjaga alur berpikirnya sehingga kemungkinan utk menyimpang tereliminir. Maka yg terjadi adalah oleh iman correct reasoning itu boleh terjadi.

Be liat perbedaan memahami istilah logika yg menjadi dasar penyebab ktong berargumen.

Untuk sementara ktong istirahat su, te ini su lat ni. Besok siang pas su agak free baru ktong sambung lai.

Ma Kuru
Walaupun beta misalnya terima om pung asumsi, tetap logika merupakan sebuah keharusan. Mengatakan bahwa sesuatu tidak jelas berkuasa, itu om Marvel atau siapapun subyeknya jelas memahami bahwa dia itu tidak jelas berkuasa. Untuk paham, harus ada logika. Dengan kata lain apapun apapun om pikirkan, logika tidak terhindarkan. Kalau seseorang menjaga jalur pikir tetap benar misalnya, tetap saja logika berlaku. Selama pikiran terlibat, logika tidak mungkin tidak ada.

Ravi Zacharias (seorang penginjil terkemuka saat ini) pernah mengatakan kira-kira begini “Kalau anda mau menghancurkan logika, tidak mungkin dia yang hancur. Anda yang akan hancur sendiri.”

Tentang perbedaan definisi mungkin benar om. Nah, beta su jelaskan beta pung posisi tentang apa itu logika. Sekarang om jelaskan posisi ko? Biar katong sama-sama terbuka di atas meja. He he he.

Marvel
Oya, bta menganggap logika itu lebih dari sekedar hukum2, yakni harus bisa diaplikasikan. Makanya, b lebih senang refer logika ke correct reasoning ketimbang hukum2nya. Karna, bagi bta hukum2 sama seperti software saja yg baru terasa jika digunakan. Artinya, untuk memahami sesuatu perlu selalu menyertai setiap argumen kita dengan contoh konkrit agar tidak ngambang penjelasan pengertian kita akan sesuatu.

Gitu om…;)

Ma Kuru
Beta/katong ju sonde bilang hanya logika hanya sekedar hukum, tetapi hukum yang merupakan prakondisi bagi pemikiran. Buat katong logika bukan seperti software. Kalau software bisa digunakan dan bisa tidak. Tetapi tidak ada pilihan itu bagi logika. Kalau logika tidak digunakan, maka pikiran tidak ada. Dan kalau pikiran tidak ada, maka katong sudah beralih status dari manusia.🙂

Marvel
Wah2, kayaknya musti lanjut di debat formal yg dulu, nih. Soale su mengarah kembali ke sana…he..he..he…

Bta sama sekali sonde setuju dengan penekanan bahwa Tuhan-pun harus tunduk pada hukum2 logika. Karena, bagi bta Dia supra diatas hukum logika, sehingga Dia bisa ciptakan hukum2 baru atau berbeda dg hukum yg kita kenal saat ini…:)

Itu iman bta, lho…;)

Rony
saat papa bilang supra diatas hukum logikapun papa pake hukum logika yg bt sebut diatas..he he he. Logika tak terhindarkan papa.

Marvel
Kabar baik, mas Rony. Penggunaan hukum2 logika memang kelihatannya tak terhindarkan. Tapi, menurut bta bisa saja. Cuma b blom dapat formulasi kalimat yg pas saja utk menjelaskan…;)

Rony
papa marvel : mantap papa. Paling enak kalo diskusi sambil makan daging se’i papa…maknyosss..sambalnya bikin ngiler papa…

Btw, yang sederhana sa papa, ketika papa bisa membedakan ‘ini’ dan ‘itu’ atau apa saja berarti papa tunduk pada hukum identitas yang adalah salah satu hukum dasar logika. Kecuali papa bilang ‘semua sama’ alias tidak ada identitas atau tidak ada atribut termasuk huruf yang kita pakai ini he he he

Marvel
Itu 3 hukum tu su b ngerti dan trima semua. B cuma son mau batasi b pung pengertian di itu 3 hukum. Apalai kalo su dikaitkan dg Tuhan…:)

Rony
Papa Marvel : jadi menurut papa..Tuhan sonde pake itu hukum-hukum ko papa ? atau menurut papa, Tuhan berada di atas itu hukum dong alias ada pake hukum yang lain ko papa ?

Ma Kuru
Kalau Ama Rony mengatakan bahwa Tuhanpun tunduk pada logika, beta sonde tau maksudnya apa. Mungkin bapa tua pake definisi tertentu di sana yang katong sonde tau alias definisi stipulatif. Tetap seperti yang katong bilang di debat formal om, logika adalah natur Tuhan sehingga kalau Dia logis itu adalah natur Dia sendiri, bukan sesuatu aturan di luar sana yang Tuhan harus tunduk. Sama seperti kasih adalah natur Tuhan, maka dia mengasihi bukan karena ada keharusan tertentu dari luar sana tetapi karena memang itulah natur Dia.

Tentang rasional supra rasional katong sonde definisikan itu sebagai fungsi dari kesesuaian dengan hukum logika tetapi lebih seagai fungsi dari tersedia atau tidaknya informasi untuk kita cerna dengan pikiran kita.

Kalau itu tiga hukum logika tidak berlaku pada Tuhan atau lebih tepatnya bukan natur Tuhan sendiri, maka apapun yang Tuhan katakan menjadi tidak punya makna.

Rony
beta sonde tau nau ungkapkan dengan cara apa papa..makanya beta pake itu kata sudah…makanya untuk kata tunduk di komentar di atas tu..beta pake tanda kutip….tapi maksud beta seperti yang papa ungkap sudah…bahwa logika adalah natur Tuhan..dan Tuhan tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan naturnya..ko krmana papa Ma Kuru Paijo Budiwidayanto ?

Ma Kuru
Mantap. he he he ok. Beta su liat ama pake tanda kutip.🙂

Marvel
Yup, logika adalah natur Tuhan tapi apakah terbatas pada 3 hukum itu, bta sonde mau batasi. Karna, bta sonde mau berakhir membatasi Tuhan dalam pengertian bta sbg manusia. Ini juga hal yg su berulang2 bta sampaikan didalam debat2 terdahulu. Jadi, kalo ama dong mau batasi Tuhan dalam 3 hukum logika itu dong ya mau bilang apa lai…;)

Harusnya kita sebagai manusia berhati2 agar sonde terjebak dalam situasi mencocokkan Tuhan dengan pengertian kita, melainkan sebaliknya mencocokkan pengertian kita dengan pengertian Dia. Itu posisi beta.

Ma Kuru
Om Mape, beta rasa ju katong su ulang-ulang tentang hal ini ko? he he h. Katong sonde menampik bahwa ada kemungkinan hukum logika yang lain. Tetapi hukum-hukum logika tersebut tetaplah hukum logika yang tidak bertentangan dengan hukum yang ada tersebut. Kalau bertentangan maka sama saja ketiga hukum tersebut tidak berlaku atau hukum-hukum yang lain yang belum dikenal itu tidak berlaku. Dan itu impaknya sangat fatal.🙂

Marvel
Bisa juga begitu Ma Kuru. Cuma karna b blom tahu itu hukum nanti model ke apa, maka b blom berani tarik kesimpulan apakah dia itu wajib selalu cocok dg 3 hukum yg su dikenal sekarang atau tidak. Ini iman beta…;)

Ma Kuru
I’ll leave your comment as final word for this discussion bro.🙂 Although it does not mean that I agree or that I don’t have anything on my arsenal anymore. And perhaps you need to modify you last comment to adjust with my latest comment bro.🙂

Marvel
Amen to that…:)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika. Tandai permalink.

3 Balasan ke Diskusi Tentang Logika dan Iman dan sedikit tentang Logika Manusia vs Logika Tuhan

  1. Ping balik: Diskusi tentang Pentingnya Logika | Futility over Futility

  2. Ping balik: Refleksi debat tentang logika – Bagian 2 | Futility over Futility

  3. Ping balik: Bungkusan Bagus Tapi isi Memprihatinkan | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s