Refleksi debat tentang logika – bagian 1 (Sesat Pikir)

Tulisan ini adalah refleksi saya dari diskusi/debat yang dilakukan baru-baru ini dan yang hasilnya sudah beta postingkan di sini. Dalam tulisan ini beta akan menilai diskusi tersebut sejujur-jujurnya. Beta sadar bahwa dalam tulisan ini mungkin akan terasa keras, tetapi beta harus mengatakan itu karena beta liat sdr. Marvel melakukan kesalahan. Amsal 27 : 5 mengatakan “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.” Untuk melihat komentar dan konteksnya yang lengkap pembaca bisa membacanya pada link ini. Di dalam tulisan ini beta hanya akan mendiskusikan sesat pikir yang dilakukan sdr. Marvel, dengan harapan menjadi bahan pertimbangan kita semua. Pada bagian berikutnya baru saya akan diskusikan pandangan sdr. Marvel tentang logika, tentang Tuhan, dan tentang manusia.

Diskusi tersebut saya mulai dengan penjelasan Clark akan pandangan Parmenides. Parmenides adalah salah satu filsuf Yunani pra Sokrates yang mengungkap ketidakkonsistenan logis dari para filsuf Yunani dari Miletus (mis. Thales, Anaximander, Anaximenes). Parmenides menunjukkan bahwa konsep-konsep para filsuf sebelumnya adalah konsep yang kontradiktif dan dia menolaknya. Dengan kata lain Parmenides sangat menghargai logika. Di sini logika saya gunakan untuk merujuk kepada hukum-hukum pemikiran yang dikenal dengan hukum logika yang salah satunya adalah hukum kontradiksi yang diangkat/digunakan Clark dalam penjelasannya tentang Parmenides di atas. Inti dari yang dikatakan Parmenides adalah apabila satu konsep merupakan kontradiksi maka tidak ada obyek di balik konsep tersebut. Sebagai contoh, dalam kutipan itu Clark mengangkat ‘lingkaran bujur sangkar’. Sebuah lingkaran tidak mungkin bujur sangkar, karena itu tidak ada yang namanya ‘lingkaran bujur sangkar’ alias kalau dia sedang berbicara tentang lingkaran bujur sangkar dia sedang omong kosong. Atau contoh lain misalnya tidak ada lajang yang sekaligus (pada saat yang sama) punya isteri. Orang yang berbicara tentang lajang yang beristeri adalah orang yang sedang omong kosong.

Nah, kemudian saudara Marvel menyerang kebenaran yang diungkapkan Clark itu. Saudara Marvel menyerangnya dengan mengatakan bahwa itu bukan ajaran inti Alkitab sehingga kalau orang Kristen berpegang pada pandangan tersebut, maka iman Kristen sia-sia. Jadi perhatikan yang diserang adalah penekanan pada logika, yaitu bahwa logika menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen.

Sdr. Marvel menganggap bahwa konsekuensi dari pandangan Clark adalah bahwa  Clark “mengajarkan orang utk lebih mengandalkan pengertian sendiri daripada mengandalkan Tuhan..” Jadi saudara Marvel menganggap penekanan pada logika adalah mengandalkan pengertian sendiri dan bukan Tuhan. Dia menyebut Clark sebagai nabi palsu karena hal itu.

Tentunya kalau sdr. Marvel berani menyerang Clark berarti bahwa dia harus menyerang apa yang dimaksudkan oleh Clark. Kalau tidak, maka hanya kelihatannya saja sdr. Marvel menyerang Clark tetapi dia menyerang definisi sendiri alias sdr. Marvel melakukan sesat pikir yang namanya straw man. Otomatis sebuah straw man akan menghasilkan sebuah ekuivokasi dimana definisi istilah pada premis tidak nyambung dengan apa yang term yang ada dalam kesimpulan atau secara logika formal disebut juga non sequituur alias kesimpulan tidak diharuskan oleh premis alias kesimpulan tidak ada kaitan dengan premis.

Sdr. Marvel menulis: “Komen bta ini murni berdasarkan pengertian yg bta dapat dari membaca penjelasan Ma Kuru ttg penjelasan GC.” Dari pernyataan ini kita bisa simpulkan bahwa sdr. Marvel sudah memahami apa yang saya kutip tentang Clark dan karena itu pasti yakin bahwa dia tidak melakukan straw man. Ini merupakan sesuatu yang terpuji dalam sebuah debat. Namun yakin akan sesuatu belum tentu bahwa sesuatu itu benar-benar seperti yang diyakini.

Mari kita lihat apakah yang diyakini sdr. Marvel memang benar demikian. Untuk itu saya mengangkat kembali apa yang dikatakan oleh sdr. Marvel di atas. Sdr. Marvel mengatakan bahwa Clark “mengajarkan orang utk lebih mengandalkan pengertian sendiri daripada mengandalkan Tuhan.” Apakah Clark mengajarkan manusia harus mengandalkan pengertian sendiri? Jelas, Clark tidak mengajarkan demikian dalam kutipan tersebut. Lalu kalau misalnya memang tidak demikian, apa ada kemungkinan bahwa implikasi dari pandangan Clark adalah manusia harus mengandalkan pengertian sendiri daripada mengandalkan Tuhan? Tidak ada. Supaya tidak dibilang mengada-ada, saya kutip tulisan Clark sehingga pembaca bisa mengambil kesimpulan sendiri apakah tulisan Clark berimplikasi seperti posisi yang diserang sdr. Marvel. “Jika seorang mencoba memikirkan tentang sesuatu yang tidak ada misalnya lingkaran bujursangkar, maka dia tidak sedang berbicara tentang apa-apa. Berpikir tentang bukan apa-apa sama saja dengan tidak berpikir. Tidak peduli berapa rumit dan betapa terpelajar sebuah teori, kalau obyeknya tidak ada, maka teori tersebut tidak berbicara tentang apa-apa. Geometri dari sebuah lingkaran bujursangkar adalah sebuah omong kosong.” Tidak ada satupun dari pernyataan Clark yang berimplikasi bahwa manusia harus mengandalkan pengertian sendiri daripada mengandalkan Tuhan. Dengan kata lain sdr. Marvel menyerang sesuatu pandangan yang bukan pandangan Clark tetapi yang dianggap oleh sdr. Marvel sebagai pandangan Clark.

Pada tanggapan saya terhadap sdr. Marvel yang menghakimi Clark dengan tidak adil, saya mengajukan sekitar lima poin yang di antaranya (poin ketiga) adalah penjelasan bagaimana sdr. Marvel sebenarnya melakukan straw man dan non sequituur (perhatikan bahwa saya tidak hanya sekedar mengklaim). Point lain yang juga saya tunjukkan adalah implikasi dari posisi sdr. Marvel bahwa logika tidak berlaku pada Tuhan. Lalu bagaimana tanggapan dari saudara Marvel?

Sdr. Marvel tidak membahas satupun dari point saya tetapi mengatakan bahwa dia justeru merasa heran saya mengatakan bahwa dia melakukan straw man dan segala macam kesalahan lain. Dalam pemandangan sdr. Marvel, sebenarnya saya yang salah karena saya tidak memahami pandangannya. Sdr. Marvel mengatakan bahwa sebenarnya menurut dia pandangan yang dia serang adalah pandangan Parmenides yang dijelaskan Clark dan kalau Clark ternyata berpandangan seperti demikian maka dia juga adalah seorang nabi palsu. Karena Clark berpandangan seperti yang dikatakan Parmenides, maka Clark adalah nabi palsu yaitu karena hal itu berarti Clark mengajarkan orang menggantungkan diri pada pengertian sendiri bukan Tuhan. Terhadap komentar seperti itu saya hanya dapat mengatakan “Helooooo om Marvel, ada baca beta pung tulisan kah? Coba liat bae-bae beta bilang apa di sana! Bukankah itu yang beta serang?” Pandangan yang diserang sdr. Marvel adalah pengutamaan logika berimplikasi bahwa manusia menggantungkan diri pada pengertian sendiri bukan. Saya serang itu dan menunjukkan bahwa itu bukan implikasi dari tulisan Clark, sehingga sdr. Marvel melakukan straw man. Tetapi tentu saja yang saya juga bantah bukan hanya itu saja tetapi hal-hal lain juga karena bukan hanya satu hal yang diangkat sdr. Marvel.

Menanggapi penjelasan saya tentang straw man dan kesalahan logika yang dilakukannya, sdr. Marvel mengatakan “Nah, karena MK su sebutkan itu semua julukan sesat pikir terhadap bta, mungkin MK bisa tunjukkan bagian mana dari komen2 bta diatas yg mengindikasikan itu.” Perhatikan bagaimana sdr. Marvel melakukan straw man lagi dengan kalimat ini. Implikasi dari komentar itu adalah bahwa saya hanya sekedar menyebut jenis sesat pikir yang dilakukan sdr. Marvel, padahal saya tulis panjang lebar kenapa saya menyebutnya sesat pikir. Saya tidak tahu apakah ini kegagalan membaca ataukah ada sesuatu pra-anggapan negatif terhadap keutamaan logika yang telah mewarnai pemahaman sdr. Marvel atau sdr. Marvel sedang bercanda, atau karena alasan-alasan lain misalnya kelelahan fisik.

Di samping itu sdr. Marvel juga dalam komentarnya mengajukan pertanyaan yang berisi asumsi yang lebih bersifat straw man yaitu ketika dia menulis “darimana MK tahu bahwa didalam pikiran Tuhan hukum2 logikaNya cuma yang manusia tahu itu?” Asumsi bahwa saya berpandangan bahwa dalam pikiran Tuhan hanya ada hukum logika yang diketahui manusia adalah straw man karena dalam diskusi sebelumnya saya sudah katakan bahwa “mungkin saja ada hukum logika lain dalam pikiran Tuhan yang manusia tidak ketahui. Tetapi yang pasti bahwa hukum-hukum logika yang lain itu tidak bertentangan dengan hukum logika yang kita ketahui.”

Dalam komentar-komentar berikutnya sdr. Marvel juga mengajukan pertanyaan tentang mengapa saya menyebut komentar sdr. Marvel menderita sesat pikir. Awalnya saya sudah segan menjawab karena saya sudah memberi penjelasan panjang lebar tentang sesat pikir yang dilakukan. Tetapi akhirnya saya juga menerima tantangan tersebut dengan pertimbangan bahwa ini adalah diskusi antar teman dan menjelaskan ulang.

Pada bagian akhir dari kutipan diskusi yang saya bahas ini, sdr. Marvel kembali lagi melakukan sesat pikir straw man dengan menganggap Clark berpandangan bahwa sesuatu yang tidak dapat diinderai sama dengan tidak ada. Padahal itu bukan pandangan Clark. Kesalahan kedua yang dilakukan sdr. Marvel adalah melakukan ekuivokasi pada kata ‘tidak dapat dilihat’ dengan menganggapnya sama dengan tidak ada.

Pada saat saya menunjukkan sesat pikir seperti itu, tanggapan sdr. Marvel adalah “Oya, terkait strawmen, b melihatnya sebagai sesuatu yang memang tidak bisa dihindarkan saat pernyataan GC diatas bta coba untuk interpretasikan sesuai apa yang bta pahami dari informasi yang sedikit saja yang bisa ditampilkan oleh MK dari penjelasan GC.” Dengan kata lain, saudara Marvel menerima bahwa dia melakukan straw man, tetapi menganggap itu sebagai sebuah keharusan dan menyalahkan saya karena menyebabkan dia melakukan itu. Apakah benar bahwa straw man sebuah keharusan? Kalau seorang menulis sesuatu yang pendek, apakah yang orang lain harus lakukan adalah menjadi sok tahu lalu serang-serang membabi-buta komentar orang lain alias dia harus ber-straw man ria? Tidak. Kita bisa bertanya apa maksud lawan bicara. Straw man bukan keharusan. Kalaupun misalnya kita teledor dan menyerangnya secara membabi buta, akui saja dan minta maaf lalu menerima penjelasan lawan diskusi. Tidak ada keharusan untuk melakukan straw man dalam diskusi dan kalau terlanjur melakukan itu, akui saja kesalahan dan semua beres.

Straw man lain yang dilakukan sdr. Marvel adalah ketika dia menanggapi komentar saudara Rony (yang mengatakan tentang kontradiksi dari ‘lingkaran bujursangkar’ yang menyebabkan hal itu tidak ada). Sdr. Marvel mengatakan sdr. Rony “bisa mengembangkan sedikit imajinasi untuk “membentuk” suatu bangunan geometri yang nantinya bisa Ama sematkan nama “lingkaran bujursangkar”, kan?” Ok, itu bisa dilakukan. Itu perkara gampang. Itu dapat dilakukan dengan sangat mudah. Kita bahkan tidak usah membayangkan yang susah-susah. Kita tinggal menunjuk Ma Kuru atau Ama Rony dan menggunakan definisi stipulatif dan mengatakan ‘OK saudara-saudara, ini adalah contoh lingkaran persegi!’ Tetapi masalahnya yang dibayangkan itu bukanlah sesuatu yang dibicarakan oleh lawan bicara. Lawan bicara tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang dikhayalkan sdr. Marvel. Dengan kata lain yang dilakukan sdr. Marvel adalah berusaha mengkhayalkan sesuatu yang lain yang tidak dimaksud penulis dalam kalimatnya lalu berdasarkan khayalan itu menganggap bahwa yang dikatakan lawan salah. Itu adalah straw man. Saya tidak tau apakah saudara Marvel melakukan itu dengan sadar sesadar-sadarnya ataukah karna sdr. Marvel tidak memperhatikan implikasi dari posisinya atau hanya bercanda. Kemungkinan lain adalah karena sdr. Marvel kecapean. Ini juga sesuatu yang berpotensi menghambat diskusi.

Tentang pernyataan “Lingkaran bujursangkar adalah contoh kontradiksi yang adalah tidak ada” sdr. Marvel mengatakan bahwa dia minta “MK atau ama Rony konstruksikan inti dari logika dan pesan yang mau disampaikan oleh penjelasan GC diatas biar jelas.” Agak sulit memahami apa yang diminta di sini mengingat sdr. Marvel mengakui bahwa dia paham hukum-hukum logika. Untuk seorang yang paham logika, tidak sulit melihat bagaimana kontradiksinya ‘lingkaran bujursangkar’. Secara definsi, bujur sangkar adalah “bangun persegi empat yang memiliki empat sudut 90 derajat dan panjang sisi-sisinya sama”. Sedangkan lingkaran adalah “himpunan semua titik pada bidang dalam jarak tertentu dari suatu titik tertentu, yang disebut pusat.” Hukum kontradiksi mengatakan bahwa A tidak mungkin adalah non-A pada saat yang sama dengan definisi yang sama. Bujur sangkar adalah non lingkaran. Karena itu tidak mungkin lingkaran adalah bujur sangkar. Karena itu tidak mungkin, maka itu tidak ada. Sederhana!

Kira-kira seperti inilah sesat pikir yang sempat saya deteksi dari diskusi dengan saudara Marvel. Pada bagian berikutnya, saya akan bahas tentang isu lain yaitu pandangan sdr. Marvel tentang logika, Tuhan, dan Manusia. Semoga bermanfaat!

Catatan: disamping beberapa sumber yang dapat dicari di internet ada terjemahan dalam blog saya yang membahas tentang sesat pikir yaitu di sini

Pos ini dipublikasikan di Logika, Polemik, Strawmen Argument. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Refleksi debat tentang logika – bagian 1 (Sesat Pikir)

  1. Ping balik: Refleksi debat tentang logika – Bagian 2 | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s