Refleksi debat tentang logika – Bagian 2

Seperti janji saya sebelumnya, saya akan mengulas pandangan saudara Marvel tentang hubungan logika, iman, dan Tuhan. Saya akan membahas hal-hal yang relevan dengan logika, iman dan Tuhan dari tulisan sdr. Marvel. Sekali lagi saya harus mengatakan bahwa mungkin kata-kata saya terasa keras tetapi itu tidak bermaksud untuk menghina atau sejenisnya, tetapi lebih berfungsi seperti ‘besi menajamkan besi’ (Amsal 27 : 17).

Dalam konteks tulisan ini ‘logika’ merujuk kepada hukum-hukum logika, ‘iman’ merujuk kepada kepercayaan terhadap proposisi tertentu yang dinyatakan oleh Tuhan, dan ‘Tuhan’ adalah sesembahan orang Kristen. Saya akan mengambil tulisan sdr. Marvel dari komentarnya yang paling akhir yaitu di thread ini dan dari komentar sdr. Marvel yang diposting di sini.

Pandangan saudara Marvel
Komentar terakhir sdr. Marvel terhadap komentar Sdr. Ma Lobo mengindikasi Sdr. Marvel setuju dengan pandangan bahwa logika adalah prakondisi bagi iman, dan sesuai dengan yang saya percayai juga. Saya percaya bahwa logika adalah pra-kondisi bagi iman. Tanpa logika, maka iman tidak ada. Logika menjadi dasar karena iman melibatkan pengertian. Jadi sepertinya sampai titik ini  soal hubungan logika dan iman, kami memiliki pemahaman yang sama. Namun demikian itu hanya kesamaan permukaan saja karena kemudian sdr. Marvel mengatakan bahwa itu hanya “pemikiran manusia yang disorotkan pada Allah” atau dengan istilah lainnya dia mengatakan bahwa itu hanya ‘seolah-olah’ demikian. Sedangkan saya berpandangan bahwa itu demikianlah adanya, bukan seolah-olah lagi. Logika adalah prakondisi bagi iman. Titik. Alasan yang dikemukakan untuk mengatakan ‘seolah-olah’ logika adalah pra-kondisi bagi iman adalah bahwa tidak ada ayat dalam Alkitab yang diangkat oleh Ma Lobo yang “secara spesifik” merujuk kepada laws of thought. Sdr. Marvel menulis “Ada beberapa landasan alkitabiah yang ama telah sampaikan pada beberapa tanggapan diatas, tetapi, bagi beta itu semua lebih merujuk pada pengertian, proses berpikir, pikiran, dan bukan secara spesifik pada laws of thought.”

Hal lain yang dikemukakan untuk mendukung ‘keseolah-olahan’ ini adalah fakta bahwa tiba-tiba tanpa informasi terlebih dahulu Tuhan menampakkan diri kepada Musa dengan mengatakan bahwa Dia adalah Allah alias Dia adalah I AM. Demikian tulis saudara Marvel: “Pada jaman mula2 seperti yang diceritakan dalam kitab Kejadian, belum ada kitab Taurat dsb yang bicara mengenai Tuhan yang I AM itu. Tuhan sering “datang langsung” berbicara kepada manusia. Coba dipikirkan, apa reaksi awal manusia saat tiba2 muncul seseorang yang berkata “Akulah Tuhan Allahmu.” Dengan tidak ada informasi awal apa2 tentang Tuhan, lantas ada yang muncul dan mengaku2 seperti itu, jika bukan karena anugrah iman dari Tuhan sehingga sang manusia bisa meresponi secara positif, lantas apa? Laws of thought hanya efektif apabila “sudah kenal” sebelumnya. Inilah yang beta maksudkan bahwa iman-pun bisa timbul oleh karunia dari Tuhan.” Saudara Marvel mengambil kesimpulan dari fakta penampakan diri Tuhan kepada Musa dan menyatakan diri sebagai I AM bahwa kita bisa percaya kepada sesuatu yang tidak kita ketahui alias iman bisa ada tanpa logika.

Tentang kaitan antara logika, manusia dan Tuhan sdr. Marvel berpandangan bahwa memang hukum logika yang berlaku untuk manusia berlaku juga bagi Tuhan tetapi dia tidak berani mengatakan bahwa hukum logika yang berlaku pada Tuhan hanyalah 3 hukum yang dikenal yaitu (Hukum Kontradiksi, Hukum Tidak ada Jalan Tengah, dan Hukum Identitas). Hal ini jelas dari apa yang ditulis sdr. Marvel dalam diskusi sebelumnya yaitu, “Yup, logika adalah natur Tuhan tapi apakah terbatas pada 3 hukum itu, bta sonde mau batasi. Karna, bta sonde mau berakhir membatasi Tuhan dalam pengertian bta sbg manusia.” Dalam kaitan dengan hal ini tampaknya posisi saya dengan posisi sdr. Marvel mirip, karena saya mempercayai apa yang dikatakan namun dengan sedikit penjelasan yang saya tidak tau apakah saudara Marvel setuju atau tidak.

Terkait hubungan logika dengan manusia, saudara Marvel mempertanyakan apa yang dia anggap sebagai penekanan berlebihan kami (saya dan Ma Lobo) berikan pada logika. Dia menulis, “Kecuali ama bisa tunjukkan bagaimana seseorang bisa tidak menggunakan laws of thought sama sekal dalam hidupnyai, baru “mungkin” akan ada celah bagi upaya penonjolan laws of thought ini.” Jadi beliau rupanya menolak menonjolkan pembahasan tentang logika seperti yang kami telah lakukan selama ini. Buat beliau, tindakan seperti ini analoginya adalah seperti mau berbicara tentang ‘garam adalah pra-kondisi dari laut.’ Dengan kata lain sepertinya saudara Marvel menganggap itu sebagai sesuatu yang mubazir.

Tanggapan Ma Kuru
Pertama, kita akan membahas tentang pandangan bahwa hanya seolah-olah saja logika itu prakondisi bagi iman. Alasan pertama yang dikemukakan adalah bahwa tidak ada satupun ayat dalam Alkitab yang secara spesifik berbicara tentang hukum-hukum logika. Kalau keberatan seperti ini dianggap syah, maka ajaran tentang Ke-Tritunggalan Allah juga bukan sesuatu yang harus dipercayai orang Kristen, toh kata Tritunggal tidak ada dalam Alkitab dan lebih jauh lagi tidak ada sesuatu yang eksplisit yang mengatakan bahwa orang harus mempercayai doktrin Tritunggal baru jadi orang Kristen. Tetapi ini menjadi salah satu dasar bagi orang Kristen untuk menyebut satu ajaran dan orang yang berpegang pada ajaran tersebut Kristen. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Saksi Yehovah misalnya bukan Kristen, demikian juga dengan Mormon. Saya tidak pernah melihat sdr. Marvel tidak pernah protes tentang hal itu. Jadi pertanyaannya adalah mengapa menggunakan standar yang berbeda?

Mungkin benar bahwa sdr. Ma Lobo hanya mengangkat beberapa ayat untuk mendukung pandangan bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Karena saya tidak berbicara tentang sdr. Ma Lobo, maka saya hanya akan berbicara tentang yang saya akan lakukan. Kalau diminta menunjukkan ayat dalam Alkitab yang menunjukkan logika sebagai pra-kondisi dari iman, saya akan menunjukkan semua ayat dalam Alkitab. Semua ayat dalam Alkitab berimplikasi bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Hal itu demikian adanya karena ayat-ayat dalam Alkitab adalah pernyataan yang diberikan oleh Tuhan. Pernyataan-pernyataan ini harus diimani. Tetapi tanpa pemahaman, maka tidak mungkin ayat-ayat itu diimani. Dengan kata lain lagi, logika adalah prakondisi bagi diimaninya seluruh ayat Alkitab. Jadi walaupun tidak ada satupun ayat dalam Alkitab yang menyebutkan tentang hukum-hukum logika, semua ayat itu (bukan hanya satu atau dua atau beberapa ayat) mempersyaratkan hukum logika untuk dipahami.

Alasan kedua yang dikemukakan untuk mendukung pandangan tentang keseolah-olahan logika sebagai dasar bagi iman adalah fakta bahwa tanpa informasi terlebih dahulu, Musa mempercayai Tuhan saat dia menyatakan diri sebagai I AM padahal sebelumnya tidak ada  informasi seperti itu. Terus terang alasan kedua ini adalah alasan yang tidak dipikirkan matang-matang. Mungkin benar bahwa sebelum menyatakan diri sebagai I AM tidak ada informasi yang diberikan tentang Tuhan, tetapi itu tidak berarti bahwa pada saat informasi itu diberikan, tidak ada informasi yang diberikan. Perhatikan bagaimana Tuhan menyatakan diri sebagai ‘I AM’. Apakah itu bukan informasi? Bukan pernyataan? Saya pikir sdr. Marvel pun bahkan tidak akan berusaha membantah bahwa saat Tuhan datang menyatakan diri kepada Musa, saat itu tidak ada pernyataan yang diberikan. Jadi harus ada logika terlebih dahulu baru iman anda karena dengan logika orang akan memilah antara benar dan salah lalu menerima yang benar. Tanpa logika, benar sama dengan salah, sama dengan musik, sama dengan tanah, sama dengan tembok, sama dengan akar pangkat dua dari minus satu dll dst. Mungkin sdr. Marvel masih bisa mengatakan ‘Bisa saja Tuhan memberikan informasi sekaligus pada saat itu dia memberikan logika kepada Musa.” Masalahnya adalah bahwa bahkan sebelum percaya kepada Tuhan, Musa sudah menggunakan logika alias sebelum beriman dia sudah berlogika. Tidak mungkin dalam kasus Musa iman dan logika diberikan pada saat yang sama sekaligus. Logika ada terlebih dahulu.

Kedua, mengenai adanya kemungkinan hukum logika yang lain yang berlaku pada Tuhan dan kita/manusia belum/tidak ketahui, saya setuju dengan  saudara Marvel. Tetapi saya tidak berhenti di situ. Saya tambahkan bahwa walaupun ada kemungkinan hukum logika yang lain berlaku pada Tuhan yang kita tidak ketahui, jelas hukum-hukum itu tidak bertentangan dengan hukum logika yang kita sudah ketahui karena seandainya hukum-hukum itu bertentangan dengan hukum logika yang kita ketahui (hukum kontradiksi misalnya), maka ada dua kemungkinan yaitu hukum-hukum yang kita ketahui salah dan hukum yang tidak ketahui benar. Kalau hukum-hukum logika yang kita ketahui salah maka itu artinya hukum-hukum tersebut tidak berlaku pada Tuhan. Kalau itu tidak berlaku pada Tuhan, maka implikasinya adalah Tuhan adalah penipu. Tetapi kalau misalnya hukum-hukum yang tidak kita ketahui itu yang salah, maka hukum-hukum itu tidak berlaku pada Tuhan.

Ketiga, terkait dengan serangan saudara Marvel terhadap penekanan terhadap logika yang dianggap sebagai analogi dari berbicara tentang ‘‘garam adalah pra-kondisi dari laut,’ bukanlah sebuah analogi yang tepat karena laut tidak pernah secara aktif menolak bahwa garam merupakan pra-kondisi bagi laut. Tetapi manusia begitu antusias menolak logika sebagai sesuatu yang mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain orang seringkali tidak konsisten dalam berlogika. Saat sedang berhadapan dengan pernyataan kontradiktif dalam ajaran agamanya, orang bersembunyi dibalik pernyataan ‘Aaahhh jangan terlalu pake logika’ atau ‘ahhh itu khan logika manusia’ dan lain-lain sejenisnya yang merendahkan logika. Atau mungkin sdr. Marvel harus membaca lebih banyak lagi tentang filsuf yang menolak logika secara aktif. Alasan lain adalah bahwa kita manusia sering lupa akan hal ini dan tidak konsisten bersifat logis. Alasan lain lagi, adalah kurangnya minat orang untuk belajar logika – yang mungkin diakibatkan karena pandangan yang merendahkan logika. (Orang mungkin menyerang bahwa garam sebenarnya bukan prakondisi bagi laut, tetapi di sini saya sedang menggunakan logical ad hominem di sini. Jadi serangan seperti itu menjadi tidak relevan dengan yang saya lakukan).

Kesimpulan
Tampaknya ada bagian tertentu dari pandangan kami yang tumpang tindih dan tetapi ada yang tidak sama sekali. Bagaimana akhirnya debat kedua pandangan ini? We will see. Yang dibackup dengan argumentasi yang baik akan terus bertahan dan yang tidak akan punah dengan sendirinya – setidaknya itu harapan saya.🙂

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Injil, Logika. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s