Tangan itu Harus Jaga Reputasi, Jangan Asal Tulis sa!

Terkait dengan apa yang saya katakan dalam tulisan sebelumnya, saya akan menulis review tentang perdebatan yang diangkat di tulisan tersebut.

Hal pertama yang menarik untuk diperhatikan dalam diskusi tersebut adalah lawan saya yaitu si Ibrahim Al Farizi (selanjutnya disebut IAF) datang dengan mengatakan bahwa dia hanya ingin berdebat dengan yang terbaik dari antara orang Kristen dalam grup tersebut. Ada indikasi (walaupun tidak pasti) bahwa orang ini merasa diri sudah hebat logika sehingga dia hanya mau berdebat dengan yang terbaik. Mungkin memang dia sangat pakar logika. Mungkin juga tidak. Kita akan menilai kemampuannya dalam review ini.

Pertama dia katakan “Satu-satunya beban terberat dari kristen adalah menjelaskan tentang keilahian Yesus.” Perhatikan kata ‘satu-satunya’. Kalau kata ini digunakan dengan pemahaman yang biasa, maka itu berarti selain masalah yang diangkat itu, tidak ada masalah lain yang seberat itu. Alias semua masalah lain lebih ringan dari masalah tersebut. Alasan yang dikemukakan tentang mengapa masalah tersebut disebut masalah paling berat adalah bahwa ajaran Kristen yang diangkat melanggar hukum kontradiksi. Dengan demikian, kalau pelanggaran terhadap hukum kontradiksi menjadi penentu berat tidaknya masalah dalam sebuah sistem ajaran, maka implikasi dari pernyataan si IAF adalah tidak ada lagi ajaran Kristen yang melanggar hukum kontradiksi selain ajaran yang diangkat.

Masalah yang terkait keilahian Kristus yang diangkat oleh si IAF itu adalah ajaran Kristen bahwa Yesus Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Menurut IAF ajaran ini melanggar hukum kontradiksi. Dengan klaim seperti ini tentunya hal pertama yang perlu diketahui adalah apakah pemahaman IAF tentang ungkapan “Yesus Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia” adalah sama dengan pemahaman orang Kristen. Kalau ternyata tidak sama, maka tentunya yang diserang oleh IAF adalah pandangannya sendiri dan bukan pandangan Kristen. Istilah kerennya adalah dia menyerang straw man atau menyerang orang-orangan sawah. Teman saya Ivan Bartels menyebutnya ‘Onani argumentasi’ – satu istilah yang agak kurang disenangi oleh setidaknya seorang teman saya yang lain. Karena itu saya mengajukan pertanyaan klarifikasi yaitu apa yang dia pahami dari ungkapan tersebut dan apa sebenarnya yang dimaksud orang Kristen ketika menggunakan ungkapan tersebut.

Sebelum melanjutkan saya hanya ingin pembaca perhatikan bahwa sejauh pengetahuan saya, ungkapan ‘Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia’ itu tidak ada dalam dokumen resmi kekristenan. Tetapi ada dalam ungkapan-ungkapan populer saja. Tetapi saya tidak pasti juga akan hal ini. Kalau ada yang mau koreksi saya silahkan.

Nah, sebagai seorang yang terindikasi pakar logika, tentunya bukan sesuatu yang berlebihan kalau saya berharap dia menjawab pertanyaan saya. Namun apa yang dia lakukan? IAF memilih tidak menjawab pertanyaan saya dan memaksa saya untuk menilai apakah argumennya valid. Dengan kata lain IAF mengatakan bahwa ungkapan ‘Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia’ merupakan sebuah kontradiksi lalu meminta saya menilai apakah itu valid. Dengan kata lain dia mengalihkan pembicaraan alias Red Herring. Saya mengajukan pertanyaan klarifikasi tetapi tidak dijawab dan malah meminta saya untuk menilai apakah argumennya valid. Terlepas dari Red Herring tersebut, atau dengan kata lain kalaupun kita menganggap bahwa Red Herring tidak ada, maka sekalipun argumennya valid tetapi tidak menyerang ajaran agama Kristen, maka validitas itu tidak akan ada gunanya dalam konteks pembicaraan ini. Dengan kata lain argumen serangannya valid tetapi yang diserang bukan pandangan orang lain.

Nah, melihat gelagat tersebut saya mencoba mengikuti alur permainannya (saya tidak menyebutnya pemikiran karena saya melihatnya sebagai sebuah sampah – sorry to say!) dan tidak menggubris Red Herringnya. Saya mencoba menilai sejauh mana pemahamannya tentang validitas argumen. Saya mengatakan bahwa validitas dari sebuah argumen harus dilihat makna term-term yang dipakai. Ini adalah aturan mendasar dalam logika dan seharusnya kalau si IAF paham logika, ini tidak boleh hilang dari ingatannya. Sama seperti seharusnya seorang mahasiswa teknik tidak boleh melupakan hukum-hukum Newton misalnya. Atau sama seperti seorang yang dapat membaca tidak pernah lupa apa huruf-huruf dalam alfabet. Dalam sebuah argumen walaupun digunakan istilah yang sama tidak ada jaminan bahwa term-term yang dipakai pasti mempunyai makna yang sama. Kalau maknanya tidak sama, maka argumennya tidak valid. Sebagai contoh, kalau saya mengemukakan argumen ini:

P1. Bali adalah surganya para wisatawan
P2. Jiwa wisatawan yang meninggal akan ke surga
K. Jiwa wisatawan yang meninggal akan pergi ke Bali.

maka ini adalah argumen yang tidak valid walaupun kata yang dipakai di premis sama dengan yang di kesimpulan yaitu ada kata ‘surga’. ‘Surga’ pada premis pertama artinya adalah tempat yang sangat disukai oleh para wisatawan karena mempunyai segala sesuatu (atau mungkin sebagian besar) yang orang inginkan saat berwisata. Sedangkan ‘surga’ dalam premis dua dan kesimpulan merujuk kepada tempat dimana keberadaan Tuhan dinyatakan secara penuh. Dengan demikian argumen di atas tidak valid. Ini adalah hal yang sangat mendasar dalam logika dan seharusnya IAF tahu sehingga seharusnya dia menjawab pertanyaan saya.

Apa yang terjadi? Apakah si IAF tunduk pada logika dan menjawab pertanyaan saya? Tidak. Entah karena dia tidak paham atau mungkin karena dia sedang tidak konsisten, dia  tidak menjawab pertanyaan saya yang kedua tentang apa sebenarnya pandangan Kristen tentang ungkapan ‘Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia’. Kalau dia mengklaim bahwa ungkapan ‘Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia‘  melanggar hukum kontradiksi, maka dia harusnya mengetahui apa maksud orang Kristen dengan ungkapan tersebut. Dia tidak menjawabnya dan malah pada satu kesempatan dia bertanya ‘jadi apa maksud kristen dengan klaim 100% Allah DAN 100% manusia?’ Ini membuktikan bahwa sebenarnya adalah pengakuan tidak langsung bahwa dia sebenarnya tidak tau apa yang orang Kristen maksudkan dengan ungkapan tersebut alias ada kemungkinan dia straw man.

Dengan harapan dia akan belajar, saya membantu dia memberi dia opsi maksud dari ungkapan ‘Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia’. Opsi yang pertama adalah  ungkapan itu digunakan seperti dalam konteks matematika dimana sebuah gelas 200 ml berisi 100 ml air dan 100 ml cuka tidak dapat dikatakan sebagai 100% air dan 100% cuka sehingga kalau ditransfer ke kasus Yesus, maka tidak dapat dikatakan bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Allah. Opsi kedua bahwa ungkapan itu sebenarnya hanya merujuk kepada ajaran Kristen bahwa Ketuhanan Yesus tidak bercampur dengan kemanusiaannya dan kedua tabiat itu tetap murni. Agar tidak disebut sedang melakukan ‘false dilemma’ saya juga memberikan kemungkinan baginya untuk mengemukakan opsi lain. Setelah menghindar sana-sini akhirnya dia menjawab juga bahwa pilihannya adalah opsi pertama. Menurut dia orang Kristen percaya pada opsi pertama. Saya katakan bahwa itu bukan pandangan orang Kristen. Pandangan orang Kristen adalah opsi kedua. Dengan demikian, maka terbukti dia melakukan sesat pikir menyerang straw man. Mungkin dia akan bertanya mana buktinya orang Kristen tidak percaya seperti yang saya katakan? Sederhana saja, saya tidak percaya itu dan saya adalah orang Kristen. Jadi ada orang Kristen yang tidak mempercayai yang dia katakan. Toh IAF tidak menjelaskan siapa yang dia maksudkan dengan ‘orang Kristen’ dalam argumennya. Tetapi alasan yang lebih kuat adalah tidak ada satupun dokumen pengakuan gereja yang menggunakan ungkapan yang diangkat IAF, ungkapan ini baru muncul akhir-akhir ini saja untuk mengungkapkan ajaran yang dinyatakan dalam dokumen pengakuan iman yang sudah ada. Dokumen pengakuan iman Kristen mengatakan bahwa kedua natur/tabiat Kristus tidak saling bercampur satu dengan yang lainnya alias tetap murni.

Nah, dengan demikian yang disebut satu-satunya beban terberat dalam kekristenan tadi ternyata hanya sebuah straw man. Nah, sekarang kita ingat kembali implikasi dari apa yang dikatakannya di atas yaitu bahwa ajaran ‘Yesus 100% manusia dan 100% Allah’ adalah satu-satunya ajaran kristen yang melanggar hukum kontradiksi. Kalau itu benar, maka masalah-masalah lain adalah masalah yang sangat remeh karena pasti tidak melanggar hukum kontradiksi. Sesuatu yang tidak  melanggar hukum kontradiksi pasti juga tidak melanggar hukum-hukum lainnya dalam logika. Kalau demikian, berdasarkan apa yang IAF tetapkan sendiri sebagai standar dan berdasarkan pernyataannya sendiri, ajaran Kristen adalah ajaran yang logis. Itu adalah implikasi dari yang dia katakan. Nah, kalau dia logis dia harus menerima itu. Kalau dia tidak menerima itu atau kalau pernyataanya atau pertanyaannya bertentangan dengan itu, maka itu berarti dia sedang tidak logis. Apa yang dikatakan IAF?

Si IAF kemudian mempertanyakan dari mana orang Kristen tahu kedua tabiat Kristus tidak bercampur baur. Lalu kemudian di status-statusnya (yang sayangnya dia sudah hapus) dia mengatakan bahwa ajaran Kristen tentang tidak bercampur-baurnya tabiat Kristus adalah ajaran yang tidak logis. Nah, perhatikan apa yang dia lakukan! Ketika dia mempertanyakan tau dari mana tidak bercampur baurnya kedua tabiat Kristus, maka dia sudah melakukan Red Herring. Dia tidak lagi membahas isu yang dia angkat pada awal yaitu apakah ungkapan ‘Yesus adalah 100% Tuhan dan 100% manusia’ sebuah kontradiksi. Dia berpindah untuk berbicara epistemiologi Kristen (yaitu darimana orang Kristen tau bahwa ajarannya benar). Kalau dia mau menunjukkan bahwa ajaran itu tidak logis, dia tinggal menunjukkan hukum logika mana yang dilanggar, bukan mempertanyakan dari mana orang Kristen tau bahwa itu benar. Entah orang Kristen mau klaim atau tidak, itu urusan lain. Itu topik lain. Topik yang dibahas saat ini adalah apakah posisi tersebut bertentangan dengan hukum kontradiksi.

Dengan Red Herring dan Straw Man seperti itu, si IAF masih berani-berani berkoar-koar bahwa posisinya tidak terbantahkan. Ada kemungkinan si IAF ini baru belajar satu dua istilah logika tetapi langsung merasa sudah menjadi pakar sehingga langsung berkoar-koar seperti yang dilakukannya. Atau juga dia sudah lama belajar bidang ilmu lain seperti filsafat lalu merasa bahwa dia sudah pakar logika. Atau mungkin bisa juga dia paham bahwa dia sebenarnya sedang melakukan kesalahan logika, tetapi dia cuma mau memanas-manasi saya atau teman-teman sekelompok saya saja. Atau alasan-alasan lainnya. Apapun alasannya berhati-hatilah menantang orang. Debatlah baik-baik. Pikirkan masak-masak apa yang hendak dikatakan. Kalau belum apa-apa sudah berkoar, hati-hati orang ekspose kebodohannya.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Memang Bodoh, Red Herring, Strawmen Argument. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tangan itu Harus Jaga Reputasi, Jangan Asal Tulis sa!

  1. kunakri berkata:

    dlu pernah bljr ilmu logika tp skrg udh lupa. Dgn bacaan di atas jd inget lg sedikit demi sedikit

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s