Republik Ibrani

Di bawah ini adalah terjehaman kutipan buku John Robbins berjudul Freedom and Capitalism.

Republik Ibrani

Perjanjian Lama, khususnya kitab 1 Samuel, merupakan buku tertua mengenai kebebasan politis. Yang tidak tampak dari dalam buku ini adalah komunisme Plato, fasisme Aristotle, dan totalitarianism demokratis Rousseau. Ditulis sekitar 1000 Sebelum Kristus, kitab 1 Samuel mungkin merupakan buku pegangan pertama teori politik republikan.

Tuhan membentuk model pemerintahan bagi Israel kuno, dan ini adalah satu-satunya bentuk pemerintahan yang tentangnya Dia memberikan aturan yang eksplisit. Walaupun kebanyakan aturan itu berlaku bagi Israel kuno misalnya – kota perlindungan – aturan-aturan lainnya berlaku untuk semua pemerintah. Hukum judisial Israel habis masa berlakunya seiring dengan hilangnya Israel, tetapi kita dapat melihat prinsip-prinsip umum dalam hukum Perjanjian Lama yang dapat diterapkan di dalam pemerintah moderen.

Tentang bentuk pemerintahan, Allah membentuk sebuah republik Israel. Bangsa ini dibagi menjadi dua belas suku, seperti halnya Amerika Serikat dibagi menjadi lima puluh negara bagian. Setiap suku memiliki wilayah sendiri serta batas-batasnya; setiap suku memiliki pemerintah setempat; dan bangsa itu secara keseluruhan memiliki sebuah pemerintahan nasional. Tidak ada raja dan tidak ada pemerintah pusat yang sangat berkuasat. Pemerintah hanya terdiri dari para hakim; tidak ada badan legislatif untuk membuat undang-undang setiap tahunnya, hanya ada hakim-hakim yang menyelesaikan masalah sesuai dengan hukum yang telah Tuhan berikan.[9] Tidak ada angkata bersenjata yang tetap. Tidak ada rancangan militer atau pelayanan nasional. Pendidikan bukan fungsi pemerintah tetapi fungsi orang tua, sekolah, dan sinagoga. Sumbangan diatur secara pribadi. Pajak sangat rendah. Uang – emas dan perak – disediakan oleh para pedagang, bukan pemerintah.

Hal yang luar biasa terkait dengan pengaturan politis seperti ini adalah pengaturan seperti ini unik pada jamannya, setidaknya di Timur Tengah. Keunikan ini mendapat tantangan selama masa nabi Samuel. Orang Israel memberontak terhadap model pemerintahan seperti ini. Kisahnya diceritakan dalam 1 Samuel 8:1-18:

Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel. Nama anaknya yang sulung ialah Yo”el, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba. Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: ”Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”

Waktu mereka berkata: ”Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: ”Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu. Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.”

Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, katanya: ”Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka.

Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya; dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.”

Walaupun ada peringatan yang rinci dan eksplisit dari Tuhan, orang Israel tetapi menuntut raja “seperti bangsa lain.” Jadi Tuhan menyuruh Samuel untuk memberikan mereka apa yang mereka minta. Menggunakan istilah Agustinus, pemerintah yang besar merupakan hasil dari dan hukuman akan dosa.

Peringatan Tuhan terhadap monarki menjadikannya jelas bahwa Tuhan menolak semua jenis monarki di dunia: Orang Israel menolak Tuhan sebagai raja mereka yang tidak terlihat dan lebih memilih raja manusia yang terlihat. Kisah dalam 1 Samuel menjadikan jelas bahwa raja manusia, pemerintah yang penuh kuasa, adalah alah-alah semu; mereka adalah berhala dari orang-orang pemberontak. Ayat selanjutnya dalam 1 Samuel mengulagni ketidaksetujuan Tuhan terhadap monarki:

Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu.” (10:19). ” Bukankah sekarang musim menuai gandum? Aku akan berseru kepada TUHAN, supaya Ia memberikan guruh dan hujan. Lihatlah dan sadarlah, bahwa besar kejahatan yang telah kamu lakukan itu di mata TUHAN dengan meminta raja bagimu.” Lalu berserulah Samuel kepada TUHAN, maka TUHAN memberikan pada hari itu guruh dan hujan, sehingga sangat takutlah seluruh bangsa itu kepada TUHAN dan kepada Samuel. Berkatalah seluruh bangsa itu kepada Samuel: “Berdoalah untuk hamba-hambamu ini kepada TUHAN, Allahmu, supaya jangan kami mati, sebab dengan meminta raja bagi kami, kami menambah dosa kami dengan kejahatan ini.”” [12:17-19].

Namub peringatan Tuhan bukan hanya terkait dengan monarki, namun peringatan terhadap pemerintah yang besar secara umum, sebuah peringatan akan apa yang akan terjadi saat model pemerintahan yang Tuhan berikan ditolak. Bukannya pemerintah yang menjadi pelayan masyarakat, tetapi masyarakatlah yang menjadi pelayan pemerintah. Ada gaung dari 1 Samuel dalam Perjanjian Baru:

Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” [Lukas 22:24-26].

Gagasan bahwa pemerintah harus menjadi pelayan rakyat, bukan sebagai penguasa atas mereka dapat dilihat dari 1 Samuel 8 dan Lukas 22.

Pos ini dipublikasikan di John W. Robbins, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s