Kutipan dari Kuliah Ravi Zacharias tentang Pengalaman Seorang Teman Vietnamnya

Saya ingin menceritakan sebuah kisah yang mungkin sebagian dari anda sudah ketahui karena saya telah mencetaknya dalam buku. Waktu itu tahun 1971. Saya masih menjalani pendidikan S1 Teologi dan saya diundang untuk menjadi pembicara di Vietnam. Perang masih sengit dan terjadi pembunuhan di mana-mana. Penterjemah saya adalah seorang muda berumur 17 tahun. Namanya adalah Hien. Hien dan saya berkeliling Vietnam sampai ke zona demiliterisasi. Dengan cara yang luar biasa Allah menggunakan dua orang muda ini di Vietnam. Kami melayani di Kamp Militer Amerika, di penjara tawanan, dan di rumah sakit militer.  Sepertinya kami terlalu muda waktu itu untuk berada di tempat seperti itu. Tetapi Tuhan dalam anugerah-Nya yang berdaulat menggunakan hidup kami. Setelah empat bulan berkhotbah di tanah itu, aku berpelukan dengan Hien dan tidak terpikir akan bertemu lagi. Tujuh belas tahun berlalu, tahun 1988, setelah saya mendengar orang berkata ‘Saudara Ravi’ di telepon, saya langsung mengetahui bahwa saya sedang berbicara dengan Hien.

Saya berkata, “Hien, kamu telepon dari mana?”

Dia menjawab, “Saya menelepon dari Los Angeles.”

Saya berkata, “Apa yang kamu lakukan di Amerika Serikat? Bagaimana bisa keluar dari Vietnam?”

Dia bertanya, “Punya waktu beberapa menit untuk mendengar cerita saya?”

Saya menjawab, “Ya saya punya waktu.”

Dia berkata, “Saudara Ravi, setelah Vietnam terjatuh ke tangan Vietnam Utara dan kepada Vietkong, saya ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka mencuci otak saya. Setiap hari saya disuruh membaca Marx dan Engels. Mereka mencoba menghancurkan iman kepada Tuhan dari hidup saya. Marx dan Engels! Marx dan Engels! Setiap hari! Saya tidak boleh membaca apapun dalam bahasa Inggris karena mereka mencoba memotong hubungan saya dengan dunia Barat sama sekali dan berkata bahwa para misionaris telah meracuni pikiran saya. Mereka memisahkan saya dari semua ini. Bahasa Perancis, Bahasa Vietnam, Marx dan Engels. Hanya ideologi Marxis. Semua itu dicurahkan ke dalam pikiran saya. Satu hari saya sedang membaca buku Engels yang memberi gambaran tentang seorang Marxis yang dikurung kapitalisme dan penganut Marxis itu diumpamakan dengan burung yang mematuk-matuk kawat-kawat kandang, mencoba membebaskan dirinya tetapi malah melukai dirinya selama proses itu. Teruslah mematuk.. teruslah mematuk. Satu hari engkau akan menghancurkan kawat-kawat itu.”

Dia berkata bahwa dia pergi tidur malam itu dan berguman, “Tuhan, apakah Kau hanya bagian dari khayalanku? Benarkah bahwa misionaris itulah yang mencuci otakku? Apakah kebaktian-kebaktian penyegaran iman yang kami lakukan itu..” dia berbicara tentang saya dan doanya kepada Tuhan, dan bertanya-tanya jangan sampai berita yang dikhotbahkan itu hanyalah berita yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan sama sekali.

Dia berkata, “Saya menjadi sangat frustrasi dengan semua yang saya baca dan saya memutuskan untuk tidak mempercayai Tuhan lagi mulai malam itu. Saya sudah bertekad bahwa mulai besok saya tidak akan berdoa dan mulai bertingkah laku seperti Tuhan tidak ada.” Dia berkata, “Pagi harinya ketika saya bangun pemimpin pasukan meminta saya untuk membersihkan jamban. Dan ketika saya membersihkan jamban itu, tempat itu merupakan tempat yang sangat parah. Saat saya sedang mengeluarkan isi keranjang sampah di situ, tiba-tiba saya melihat ada kertas yang sepertinya berbahasa Inggris walaupun begitu ternoda dengan kotoran manusia. Saya melihat bahasa Inggris dan ingin membacanya. Saya membersihkannya dan menaruh kertas tersebut ke dalam kantong pinggang saya dan kembali ke kamar saya. Saya tidak bisa membukanya kecuali kalau teman-teman sekamar saya sudah pulas tidur. Pada malam itu di bawah kelambu, saya mengarahkan senter saya ke kertas tersebut, dan di sana terbaca, ‘Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah’ dan seterusnya dari Roma 8. Saya tidak percaya apa yang saya baca. Saya berkata ‘Tuhan, di sini di penjara tawanan ini, pada hari pertama ketika aku hendak tidak mempercayai Engkau, Engkau telah mengikuti aku dengan kasih-Mu yaitu dengan ayat yang mungkin paling berharga yang aku butuhkan.’ Saya sangat terkejut dengan itu dan hari berikutnya saya meminta kepada Kepala Pasukan dan berkata ‘Apakah bapak keberatan kalau aku membersihkan jamban itu lagi?’ Saya mulai membersihkan jamban itu setiap hari dan tenyata pemimpin pasukan itu mendapatkan hadiah Alkitab beberapa tahun lalu dan dia merobek halamannya satu per satu dan mengunakannya sebagai kertas cebok. Saya membersihkannya lalu melengkapi sisa Kitab Roma dan bagian Alkitab lain lalu membacanya sebagai renungan malam saya setiap hari.”

Dia berkata, “Akhirnya mereka melepaskan saya dari penjara dan saya mulai membuat perahu untuk melarikan diri dengan sekitar 52 orang lainnya. Satu hari Vietkong datang dan menggenggam kerah baju saya dan berkata, ‘Hien, orang bilang kau sedang membangun perahu dan berencana melarikan diri. Benarkah demikian?”

Hien berkata, “Tidak, itu berita bohong.” Mereka menekan dia tetapi dia berbohong kepada mereka dan mereka meninggalkan dia. Sesaat setelah mereka meninggalkan dia, dia menangis sendiri di dalam kamar, katanya ‘Tuhan, aku melakukannya lagi, aku mencoba mengambil jalan sendiri sementara Engkau telah mengikuti aku dengan kasih-Mu sekian lama.” Dia berkata, “Saya berdoa namun berharap doa itu tidak akan dijawab. Saya katakan, ‘Tuhan, jika Kau mengirimkan kembali keempat orang itu lagi, aku akan mengatakan yang sebenarnya.” Beberapa saat sebelum mereka berangkat, keempat orang itu datang lagi dan menangkapnya di kerah bajunya dan mendorongnya ke dinding lalu salah seorang berkata, ‘Kami tahu kamu mencoba melarikan diri. Benar khan?’ Saya melihat mata mereka tajam-tajam dan berkata, ‘Ya, kalian mau apakan aku? Memenjarakanku kembali?’ Mereka katakan, ‘Tidak, kami mau ikut kamu!” Keempat orang Vietkong itu naik perahu bersamanya.

Hien melanjutkan, “Saudara Ravi, kami mengarungi ombak yang sangat tinggi dan laut yang amat ganas. Andaikata keempat orang itu tidak bersama dengan kami dan mengendalikan perahu, kami tidak mungkin akan selamat sampai ke Thailand.” Setelah Amerika Serikat membuka pintu buat mereka, Hien datang ke Amerika Serikat dan menyelesaikan studinya di Berkeley. Sekarang dia bekerja sebagai seorang pengusaha di sana.  Dia datang mengunjungi kami di Atlanta dan duduk di dapur bersama dengan anak-anak saya. Dengan suaranya yang lemah-lembut dia mengingatkan mereka akan sesuatu yaitu bahwa kasih Allah sangat berharga dan kasih itu akan terus mengikuti kita bahkan dalam saat terkelam dalam hidup kita.

Dikutip dan diterjemahkan dari “Postures of the Mind, Affections of the Heart”, Ravi Zacharias

Versi mp3 yang mengandung kutipan cerita di atas dapat diakses di sini

Pos ini dipublikasikan di Kasih Allah, Ravi Zacharias, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kutipan dari Kuliah Ravi Zacharias tentang Pengalaman Seorang Teman Vietnamnya

  1. Ping balik: Roma 8: 28 – Sony Mandagi – Minggu, 19 Juni 2016 | MinyakCadangan

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s