Penghakiman yang Adil a la Dance S Suat

Sekitar pertengahan September 2012, seorang teman, Esthon Patola, mengekspose kelemahan moral dari seorang yang bernama Dance S. Suat yang menyatakan diri di internet ini sebagai seorang misionaris (dan memang mungkin demikianlah adanya). Sdr. Esthon mendokumentasikannya dalam satu tulisan yang saya muat di blog ini. Perhatikan bahwa sejak pertama memang yang dimaksudkan oleh saudara Esthon adalah mengekspose kelemahan moral. Sejak pertama juga saudara Esthon sudah mengatakan bahwa kelemahan moral pada saudara Dance tidak berarti bahwa ajaran yang diajarkannyapun salah dan untuk mengetahui kesalahan atau ketidaksalahan ajaran Dance, pembaca diharapkan membaca tulisan “yang membahas tentang kesesatan ajaran saudara Dance dan kolega-koleganya dari kalangan yang menyebut diri Kristen Fundamental.” Jadi sudah jelas apa yang hendak dibahas oleh saudara Esthon. Dia tidak sedang mencampuradukkan berbagai macam hal. Memang ada semacam petunjuk dari saudara Esthon tentang kesalahan Dance dan kolega-kolega fundamentalisnya yaitu mereka menyerang straw man, yaitu menyerang pandangan yang bukan pandangan lawan tetapi mereka anggap sebagai pandangan lawan. Tetapi itu tidak diutamakan dan tidak dibahas panjang lebar.

Pada tanggal 26 Oktober 2012, Dance Suat mengeluarkan sebuah tulisan yang kemungkinan besar menanggapi tulisan saudara Esthon tersebut. Tulisan tersebut dapat dilihat di blognya. Tulisan saya ini adalah hendak menguak kelemahan (kalau tidak dapat dikatakan sebagai kebodohan dan penipuan) dalam tulisan tersebut.

Pertama, tulisan tersebut menyebutkan bahwa tujuan penulisannya adalah “untuk menanggapi artikel yang menuduh Dr. Suhento Liauw, Dr. Steven E Liauw dan Ev. Dance S Suat (saya) sebagai pendusta, pemfitnah dan pembohong yang ditulis oleh Pdt. Budi Asali, Pdt. Esra Soru, sdr. Eston Patola dan Pdt. Adiy Ndii.” Perhatikan bagaimana sangat tidak spesifiknya tulisan tersebut. Dance tidak secara jelas menyebutkan artikel mana yang sedang dirujuk. Perhatikan pula bahwa Dance tidak jelas mengatakan ada berapa artikel yang ditulis. Jadi masalah pertama dari tulisan Dance adalah bahwa tulisan yang dirujuk untuk ditanggapi tidak jelas. Seorang hamba Tuhan tetapi komunikasinya jelek sekali. Gordon H. Clark pernah mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan haruslah seorang komunikator yang jelas. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Paulus sebagai metafora “jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?” Kalau berita tidak jelas, siapa yang mau memahami?

Karena tidak jelas artikel mana yang dituju oleh sdr. Dance, dan artikel yang ditulis saudara Esthon menggunakan kontribusi informasi dari Pdt. Budi Asali, Pdt. Ady Ndiy, dan Pdt. Esra Soru serta artikel tersebut mengupas kelemahan moral dari kedua Liauw dan Dance, maka hampir pasti tulisan saudara Esthonlah yang dirujuk.

Kedua, Dance mengatakan bahwa karena sdr. Esthon mengekspose kelemahan moralnya setelah ada diskusi tentang doktrin, maka itu berarti sdr. Esthon melakukan sesat pikir (atau yang dia sebut metode) straw man. Straw man menurut Dance adalah “mengintrodusir posisi yang tidak relevan, kemudian menyerang posisi tersebut untuk menjatuhkan lawan.” Dengan kata lain, Dance memandang sdr. Esthon menjelek-jelekkan posisinya sehingga dipatahkan.

Benarkah demikian? Mungkin saja benar. Secara kemungkinan hal itu bisa saja terjadi karena saudara Esthon adalah manusia sehingga bisa saja melakukan kesalahan tersebut. Namun, kemungkinan tidak sama dengan kepastian. Walaupun ada kemungkinan saudara Esthon melakukan kesalahan yang dituduhkan, tidak serta-merta itu berarti bahwa saudara Esthon pasti melakukan kesalahan tersebut. Dance harus menunjukkan bahwa memang saudara Esthon melakukannya. Dengan kata lain Dance harus menunjukkan bahwa yang diserang tulisan saudara Esthon adalah posisinya (Dance) yang sudah diputarbalikkan sehingga mudah dipatahkan. Apakah itu dilakukan Dance? Tidak sama sekali. Dia bersembunyi di balik pernyataan “kami tidak perlu membela diri atas diri kami, karena Tuhan adalah pembela kami.” Dengan kata lain Dance mengatakan, “Pokoknya Esthon dan teman-temannya melakukan straw man. Saya tidak perlu membuktikan bahwa memang mereka melakukannya. Percaya saja sama kami. Toh saya bisa menggeret-geret nama Tuhan untuk memback up klaim saya.” Atau kalau mau diungkapkan dengan cara yang lain lagi, Dance mengemukakan sebuah klaim dan tidak bersedia membuktikan klaim tersebut atau dia tidak dapat membantah posisi lawannya. Dimana di Alkitab yang mengatakan bahwa orang boleh mengklaim seenaknya? Bukankah tiga teman Ayub dihukum Tuhan karena mereka tidak bisa membantah argumen Ayub? Bukankah seorang lagi teman Ayub tidak dihukum karena dia bisa membantah posisi Ayub? Dengan demikian, mungkin Dance harus berhati-hati dan merenung kembali apa yang terjadi kepada ketiga teman Ayub.

Namun demikian, ketidakmampuan dan ketidaksediaan Dance untuk membuktikan bahwa saudara Esthon tidak melakukan serangan straw man, tidak juga serta-merta berarti saudara Esthon tidak melakukan straw man. Karena itu saya perlu tunjukkan bahwa saudara Esthon tidak melakukannya. Straw man adalah menjelek-jelekkan pandangan orang lain sehingga mudah dipatahkan. Semua informasi termasuk komunikasi SMS dengan Dance serta screen capture dari diskusi di Facebook ditampilkan sebagai pembuktian kebohongan Dance dan kesimpulan ditarik dari fakta-fakta tersebut. Tidak ada yang diputarbalikkan, semua ditampilkan apa adanya, bahkan kesalahan ketikpun ditampilkan. Kesimpulan yang ditarikpun didasarkan pada fakta-fakta yang ditampilkan, tidak ada ada kesimpulan gaib yang diangkat. Jadi sangat sulit (kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin untuk mengatakan bahwa saudara Esthon melakukan straw man).

Dalam kaitan dengan point ini, sesat pikir yang mungkin dapat ditudingkan kepada saudara Esthon adalah bahwa dia melakukan Red Herring karena pembicaraannya sebenarnya adalah tentang teologi, tetapi saudara Esthon mencampuradukkan dengan masalah moralitas Dance yang kurang beres. Tetapi inipun sulit (kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin) dituduhkan kepada saudara Esthon. Toh sejak awal dia sudah katakan bahwa dia akan memusatkan perhatian pada kelemahan moral Dance dan tidak akan mengutak-atik posisi teologisnya. Kalau Dance kurang teliti membaca, saya kutipkan kembali apa yang ditulis saudara Esthon: “Tulisan ini hendak menguak sebuah kecacatan moral dari sdr. Dance S. Suat. Harus diingat pula bahwa dengan mengangkat tulisan ini tidak berarti bahwa ajaran saudara Dance pasti salah. Kelemahan moral seseorang tidak otomatis berarti bahwa ajaran yang dia ajarkan pasti salah. Untuk melihat kesalahan ajaran saudara Dance, pembaca harus membaca tulisan lain yang membahas tentang kesesatan ajaran saudara Dance dan kolega-koleganya dari kalangan yang menyebut diri Kristen Fundamental.” Perhatikan bahwa saudara Esthon sangat hati-hati dan tidak mencampuradukkan dua hal berbeda. Seseorang disebut melakukan Red Herring kalau misalnya dia mengangkat isu lain dari yang sedang dibahas agar diskusi tentang isu awal dilupakan. Bukan itu yang dilakukan saudara Esthon. Pada dasarnya yang dikatakan saudara Esthon adalah, “Silahkan baca tulisan lain kalau saudara mau mengetahui kesalahan ajaran Dance karena tulisan ini hanya membahas moralitas Dance yang tidak beres.” Jadi tidak ada Red Herring.

Tampaknya juga di sini Dance juga mengalami masalah dengan penggunaan istilah straw man. Gambaran awal yang diberikan Dance adalah bahwa saudara Esthon dan teman-teman berbicara tentang moralitas padahal isu yang dibahas adalah tentang doktrin. Istilah yang lebih tepat dipakai di sini adalah Red Herring, bukan straw man. Straw man adalah sesat pikir dimana lawan bicara menjelek-jelekkan pandangan orang lain dan menyerangnya. Saudara Esthon tidak melakukan itu, seperti yang saya tunjukkan di atas.  Paling tepat (kalau informasi yang diberikan Dance itu benar) untuk menyebut yang dilakukan saudara Esthon sebagai Red Herring karena saudara Esthon berbicara tentang teologi tetapi mencampuradukkannya dengan moralitas lawan. Tetapi saudara Esthonpun bebas dari tuduhan itu seperti yang saya tunjukkan di atas. Terkait dengan hal ini, pesan saya untuk Dance adalah, belajar lagi lebih banyak sebelum sok menggunakan istilah yang tinggi-tinggi. Ketidakmampuan anda akan terus terungkap kalau anda tidak berhati-hati dan seksama dalam menggunakan istilah. Tidak patut seorang yang disebut misionaris untuk berlaku sok tahu seperti yang anda lakukan Dance.

Dengan rontoknya tuduhan straw man yang diajukan oleh Dance, maka rontok juga kesimpulan Dance berdasarkan tuduhan itu bahwa saudara Esthon, Pdt. Esra Soru, Pdt. Budi Asali, dan Pendeta Ady Ndiy tidak kompeten menilai kasusnya. Orang-orang ini sangat kompeten karena mereka jujur mengemukakan semua fakta dan menyebutnya apa adanya. Justeru yang bermasalah alias tidak kompeten adalah Dance karena dengan berbagai fakta yang dikemukakan lawan dia tidak bisa bantah dan hanya bisa klaim-klaim. Dalam ruang pengadilan, asal klaim bukan sesuatu yang diperbolehkan. Setiap klaim harus didemonstrasikan sebagai benar. Dance tidak peduli melakukan itu.

Ketiga, setelah tidak mampu membantah argument lawan, si Dance kemudian memutarbalikkan ayat tentang universalitas dosa (Roma 3 : 10 – 12) untuk mendukung proposisi bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melakukan penilaian/penghakiman secara adil. Dari situ dia berkesimpulan bahwa kalau semua orang termasuk saudara Esthon, Pdt. Esra Soru, Pdt. Budi Asali, dan Pdt. Ady Ndiy adalah orang berdosa, maka mereka ini bukan hakim yang adil. Dia juga secara sembarangan mengutip Yeremia 19: 5 & 1 Petrus 2 : 22 & Yohanes 5: 30 untuk mendukung pandanganya tersebut. Masalahnya, Yeremia 19 : 5 berbicara tentang orang-orang yang melakukan dosa penyembahan berhala yaitu sesuatu yang bertentangan dengan yang diperintahkan Tuhan; 1 Petrus 2 : 22 berbicara tentang ketidak berdosaan Yesus Kristus; dan Yohanes 5 : 30 berbicara tentang Yesus yang menghakimi secara adil. Tidak ada ada satupun dari ayat-ayat ini yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa menilai/menghakimi secara adil. Kalau memang tidak ada yang menghakimi dengan adil, maka Elihu harus dihukum seperti ketiga teman Ayub yang lain yang lebih tua dari dia, tetapi bukan itu yang terjadi. Elihu tidak dihukum karena dia menghakimi dengan benar. Itu sudah bertentangan dengan apa yang Dance katakan bahwa manusia tidak ada yang menilai dengan benar. Perhatikan bagaimana Dance sampai harus memutarbalikkan ayat Alkitab untuk mendukung posisinya. Apakah Dance berpikir bahwa dengan putar balik seperti ini dia disenangi Tuhan?

Keempat, kalau memang interpretasi Dance terhadap ayat-ayat itu benar, maka implikasinya sangat parah. Kalau tidak ada manusia yang bisa menilai dengan adil, maka penilaian Dance terhadap saudara Esthon dan kawan-kawan bukanlah penilaian yang adil. Penghakimannya tidak adil karena Dance adalah orang berdosa dan semua orang berdosa tidak bisa memberi penilaian yang adil. Dengan kata lain, Dance begitu bersemangan melakukan segala macam upaya untuk menutupi penipuan yang dia dan sobat-sobatnya dari kaum fundamentalis lakukan bahkan sampai tidak sadar bahwa pernyataannya adalah pernyataan yang kontradiksi antara satu dengan yang lain. Inikah yang disebut hamba Tuhan? Inikah sikap Daud ketika dosanya ditelanjangi oleh seorang Nathan yang tidak punya apa-apanya dibanding Daud? Apakah Daud mencari-cari cara untuk menunjukkan bahwa Natanlah yang salah? Inikah sikap Petrus ketika dikoreksi Paulus? Tidak sama sekali. Dance memiliki sikap yang sama sekali berbeda dengan yang dilakukan orang percaya di dalam Alkitab. Dengan demikian, entah Dance ini bukan orang percaya atau dia memang orang percaya tetapi orang percaya yang sedang kebingungan karena dibingungkan oleh angin pengajaran yang tidak benar. Tindakan Dance lebih seperti orang kebingungan yang tidak segan-segan menggunakan barang yang suci untuk kepentingan diri sendiri. Persis seperti sebagian politikus yang di negara kita Indonesia.

Kelima, Dance menuliskan juga bahwa seorang ‘manusia rohani’ harus memutuskan/memberi penilaian berdasarkan kehendak Tuhan. Sekali lagi kalau intepretasi di atas benar dari Dance, maka hal ini tidak mungkin dilakukan karena semua orang termasuk Dance sudah berdosa dan tidak mungkin lagi memberikan penilaian sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun kalaupun kita terima pernyataan Dance bahwa kita harus menghakimi secara adil, maka pertanyaannya adalah apakah penghakiman/penilaian yang dilakukan Dance sudah adil? Apakah asal klaim menentang penyajian bukti-bukti dan fakta-fakta merupakan sesuatu yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Apakah tidak bisa membantah argumen lawan adalah sesuatu yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Ingat ketiga teman Ayub dihukum Tuhan karena mereka tidak bisa membantah Ayub. Fakta dan data telah disodorkan, anda tinggal membantah Dance. Jangan melarikan diri lagi dan memutarbalikkan ayat Alkitab demi kepentingan sesaat mu.

Keenam, persis seperti ketiga teman Ayub yang dihukum karena ketidakmampuannya membantah Ayub, Dance kemudian menyimpulkan “Tindakan menghakimi secara lahiriah, subyektif, dan sepihak yang dilakukan Pdt. Budi Asali, Pdt. Esra Soru, sdr. Esthon Patola dan Pdt. Adiy Ndii adalah tindakan yang tidak menurut kehendak Allah atau tidak Alkitabiah, oleh sebab itulah sebagai orang Kristen harus mengetahui kehendak Allah supaya tidak tersesat karena mengandalkan pengertian sendiri.” Kesimpulan sebenarnya adalah kulminasi dari sebuah tulisan. Bagian-bagian terdahulu mendukung kesimpulan yang disodorkan. Inikah yang terjadi pada tulisan Dance? Tidak! Saudara Esthon dan teman-teman menyodorkan bukti dan menghakimi berdasarkan bukti. Dance tidak bisa membantah buktu-bukti tersebut tetapi lebih memilih bersembunyi di balik pernyataan ‘Hanya Tuhan hakim yang adil.” Kemudian dia berbicara tentang bagaimana menghakimi dengan adil, dan tiba-tiba abra-kadabra, kesimpulannya adalah saudara Esthon dan teman-teman hanya melakukan penilaian yang subyektif. Orang yang tidak percaya pun bisa melihat ketidakadilan prosedur seperti ini. Tetapi Dance, yang katanya bukan sekedar orang percaya tetapi juga seorang misionaris, tidak bisa melihat kebodohan di balik prosedur seperti ini. Orang yang tidak percaya pun bisa melihat bagaimana argumen yang dibangun tidak valid. Tetapi Dance gagal melihatnya.

Lalu apa yang hendak kita katakan tentang Dance? Saya membiarkan pembaca menilai sendiri. Faktanya adalah Dance tidak bersedia (dan mungkin tidak mampu) membantah fakta yang diangkat saudara Esthon dan teman-teman tentang penipuan yang dia lakukan dan sebaliknya dua bersembunyi di balik pemutarbalikkan ayat untuk mendukung posisinya. Dia juga mengemukakan argumen yang tidak valid untuk mendukung tuduhannya bahwa saudara Esthon dan teman-teman melakukan penilaian yang subyektif. Dia juga sampai harus mengemukakan komentar yang saling bertentangan satu dengan yang lain untuk mendukung posisinya.

Dengan semua itu, saya membiarkan penilaian kepada Pembaca!

Pos ini dipublikasikan di Dance S. Suat, Dance Suat, Fundamentalis, Memang Bodoh, Murid GITS, Polemik. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Penghakiman yang Adil a la Dance S Suat

  1. Ping balik: Dance S. Suat Mempertahankan Tradisinya | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s