Dance S. Suat Mempertahankan Tradisinya

Beberapa jam setelah saya mengeluarkan sebuah tulisan yang menunjukkan betapa tidak adilnya penghakiman Dance Suat di blog ini, dia memberi komentar pada link ke tulisan ini di wall Pak Esra Soru. Dia mengatakan bahwa tulisan saya tersebut tidak bermutu. Alasan yang diberikan adalah adanya sesuatu yang dia lihat kontradiksi antara salah satu paragraf dengan paragraf lainnya.

Masalahnya adalah Dance tidak memberikan alasan mengapa dia menyebut kedua paragraf tersebut saling kontradiksi. Dia hanya mengatakan demikian. Paragraf yang dikatakan kontradiksi itu adalah bagian dari paragraf 3 yang berbunyi:

Perhatikan bagaimana sangat tidak spesifiknya tulisan tersebut. Dance tidak secara jelas menyebutkan artikel mana yang sedang dirujuk. Perhatikan pula bahwa Dance tidak jelas mengatakan ada berapa artikel yang ditulis. Jadi masalah pertama dari tulisan Dance adalah bahwa tulisan yang dirujuk untuk ditanggapi tidak jelas. Seorang hamba Tuhan tetapi komunikasinya jelek sekali. Gordon H. Clark pernah mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan haruslah seorang komunikator yang jelas.. 

dengan bagian dari paragraf 6 yang berbunyi:

Bukankah tiga teman Ayub dihukum Tuhan karena mereka tidak bisa membantah argumen Ayub? Bukankah seorang lagi teman Ayub tidak dihukum karena dia bisa membantah posisi Ayub? Dengan demikian, mungkin Dance harus berhati-hati dan merenung kembali apa yang terjadi kepada ketiga teman Ayub.

Saya meminta Dance untuk memberikan penjelasan mengapa dia menyebutnya sebagai kontradiksi, tetapi dia tidak mau mengatakannya karena menurutnya itu adalah hal yang mengakibatkan perbantahan. Ini adalah ciri khas Dance saat berdiskusi dengan orang lain. Dia buat klaim, setelah itu tidak peduli untuk mengklarifikasi.

Mungkin Dance benar bahwa saya kontradiksi, tetapi itu hanya kemungkinan. Kemungkinan tetaplah sebuah kemungkinan, bukan kepastian. Hanya karena saya mungkin mengeluarkan pernyataan yang kontradiksi tidak berarti bahwa saya pasti sedang melakukan kontradiksi saat mengeluarkan dua pernyataan. Dance harus membuktikan itu.

Kontradiksi secara definisi adalah mengatakan bahwa sebuah subyek pada saat yang sama memiliki predikat yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya. Misalnya saya memiliki seorang istri dan bertemu dengan Dance saya bercerita bahwa isteri saya sedang hamil. Saya senang sekali karena itu baru kehamilan pertama isteri saya. Beberapa saat kemudian, saat saya bertemu pak Esra, saat pak Esra menanyakan apakah isteri saya hamil, saya katakan ‘Ooo tidak. Isteri saya tidak hamil’. Pernyataan itu adalah pernyataan yang kontradiktif karena di satu pihak saya katakan isteri saya hamil dan pada saat yang sama saya katakan isteri saya tidak hamil. Tidak mungkin isteri saya hamil dan tidak hamil pada saat yang sama dengan definisi yang sama. Jadi prakondisi bagi sebuah kontradiksi adalah kalau saya sedang berbicara tentang sebuah subyek/pokok pembicaraan dan memberinya dua predikat bertentangan. Dalam contoh ini, subyeknya adalah isteri saya. Predikatnya adalah hamil dan tidak hamil.

Sekarang coba kita lihat apakah kedua paragraph yang dikutip tersebut saling kontradiksi atau tidak. Pada paragraf pertama yang Dance angkat dan saya kutip di atas, saya berbicara tentang keharusan bagi seorang hamba Tuhan untuk menjadi komunikator yang baik dan fakta bahwa Dance Suat tidak memiliki kemampuan tersebut. Paragraf kedua yang Dance angkat dan saya kutip diatas, saya berbicara tentang dihukumnya tiga teman Ayub dan tidak dihukumnya salah satu temannya. Apakah prakondisi bagi sebuah kontradiksi dipenuhi oleh kedua paragraf tulisan saya yang diangkat? Saya pikir hanya orang yang sudah gila yang bisa memberikan jawaban afirmatif terhadap pertanyaan tersebut. Jawabannya adalah tidak. Ada dua subyek atau pokok yang didiskusikan di sana, jadi kedua paragraf itu bukan bukti kontradiksi.

Namun demikian, kontradiksi juga bisa terjadi kalau subyek yang dibicarakan berbeda namun saling berhubungan erat. Misalnya si Ako memiliki seorang ayah kandung bernama Baingao. Ibu kandung Ako bernama Beti. Dia hanya pernah menikah sekali dan tidak pernah bercerai dengan Baingao. Kalau misalnya si Ako mengatakan “Ibu kandung saya tidak pernah becerai. Ayah kandung saya bercerai pada tahun 2008,” maka dia sedang melakukan kontradiksi walaupun dia sedang berbicara tentang dua subyek yang berbeda. Pernyataan kontradiktif tersebut terjadi karena kedua subyek tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga keduanya hanya bisa dimiliki predikat yang sama. Kalau satu predikat berubah pada satu subyek, maka predikat pada subyek yang lain juga harus berubah. Nah, apakah kedua paragraf yang diangkat Dance sebagai kontradiktif memiliki dua subyek yang saling berhubungan seperti dalam contoh suami isteri di atas? Tidak sama sekali. Keharusan Hamba Tuhan untuk menjadi komunikator yang jelas tidak ada hubungan langsung dengan fakta bahwa ketiga teman Ayub dihukum oleh Tuhan. Dengan demikian tidak mungkin kedua paragraf tersebut kontradiktif.

Terlepas dari ketiadaan kontradiksi yang dituduhkan Dance, ada satu kesalahan yang mungkin saya lakukan dalam kedua paragraf tersebut yaitu saya tidak konsisten. Saya katakan bahwa seorang hamba Tuhan harus menjadi komunikator yang baik dan isi beritanya harus jelas tetapi kemudian ternyata informasi yang saya berikan pada paragraf kedua (yang diangkat) tidak jelas. Ayat yang saya berikan tidak jelas. Saya tidak mengatakan dari ayat mana saya menyimpulkan seperti yang saya simpulkan pada paragraf kedua yang diangkat. Kalau keadaannya seperti ini, maka kesalahan saya bukanlah kontradiksi tetapi ketidakkonsistenan. Saya tidak konsisten dengan prinsip yang saya kemukakan sendiri. Namun, kalau ini benar, maka kebodohan Dance Suat sangat jelas. Dia menggunakan istilah yang tinggi-tinggi, tetapi dia tidak tahu apa yang dimaksud dan menggunakannya secara serampangan akhirnya istilah tersebut dicampur-adukkan dengan istilah lain.

Kalau masalahnya adalah ketidakkonsistenan, maka itu tidak bisa dikatakan kepada saya karena saya bukan seorang hamba Tuhan dalam pengertian pendeta atau sejenisnya. Jadi sepertinya tuduhan ketidakonsistenan inipun tidak berlaku. Namun demikian, mungkin dirasa tidak adil (dan memang mungkin seharusnya demikian) kalau hanya seorang pendeta atau penginjil yang harus berkomunikasi dengan jelas sedangkan jemaat biasa tidak perlu berkomunikasi dengan jelas. Toh secara logis, proposisi ‘Hamba Tuhan harus menjadi komunikator yang baik’ tidak berimplikasi bahwa orang yang bukan hamba Tuhan tidak perlu menjadi komunikator yang baik. Untuk hal itu saya hanya bisa mengakui kesalahan. Saya tidak jelas mengkomunikasikan ayat mana yang mengharuskan kesimpulan seperti yang saya katakan pada paragraf kedua yang Dance angkat. Untuk mengoreksinya, saya akan tampilkan di sini ayat-ayat pendukung proposisi bahwa Tuhan menghukum tiga teman Ayub karena mereka tidak bisa membantah Ayub:

 Ayub 32 : 3 berbicara tentang Elihu yang marah kepada ketiga teman Ayub karena “karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.” Dengan kata lain, berdasarkan konteks kitab Ayub, teman-teman Ayub ini mengklaim sesuatu tentang Ayub dan Ayub bantah klaim mereka. Namun demikian, walaupun ketiga teman Ayub tidak bisa lagi membantah Ayub, mereka tetap mempersalahkan Ayub. Ini persis seperti yang dilakukan Dance Suat terhadap Pak Esthon Patola, Pak Esra Soru, Pak Budi Asali, dan Pak Ady Ndiy. Pak Esthon dan teman-teman mengemukakan bukti. Dance tidak dapat membantah, tetapi terus-menerus menyebutnya sebagai penilaian subyektif.

 Dengan kondisi seperti itu, maka “Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42 : 7). Jadi Tuhan Murka kepada ketiga teman Ayub karena mereka tidak berkata benar tentang Tuhan. Namun apakah ketiga teman Ayub hanya berkata sesuatu tentang siapa Tuhan? Tidak, mereka mengatakan banyak hal tentang Ayub dan apa yang dikatakan  mereka tentang Ayub berimplikasi terhadap natur Tuhan. Ketidakmampuannya membantah Ayub memiliki implikasi terhadap  siapa Tuhan. Kalau diperhatikan konteks kitab Ayub, maka apa yang dikatakan ketiga teman Ayub berimplikasi bahwa Tuhan hanya membawa kesesakan untuk menghukum manusia yang melakukan dosa tertentu.  Nah, apakah yang Dance Suat katakan tentang Saudara Esthon dan kawan-kawan memiliki implikasi terhadap Tuhan? Jawabannya adalah ‘ya’ bersahut-sahutan. Dance Suat, mengangkat Firman Tuhan untuk mendukung penipuan yang dia lakukan. Saudara Esthon menangkat bukti otentik tentang penipuan yang dilakukan Dance, tetapi Dance tidak mau membantahnya tetapi hanya sekedar mengklaim bahwa saudara Esthon dan teman-teman melakukan penilaian subyektif. Tidak ada bukti yang disodorkan. Dan dan untuk mendukung perilaku asal klaim seperti itu Dance mengangkat ayat Firman Tuhan, seolah-olah firman tersebut mendukung prakteknya. Dengan kata lain secara implikasi Dance Suat berkata yang salah tentang Tuhan. Secara implikasi dia mengatakan bahwa Tuhanpun mendukung penipuan dan melarikan diri dari tanggung jawab seperti yang dilakukannya. Jadi ayat-ayat yang diangkat dari kitab Ayub sangat relevan dengan perilaku Dance Suat.

Sekarang kita coba mengakomodasi kesalahan Dance di atas dan kita anggap bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Kita lupakan sejenak paragraf-paragraf di atas. Pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan mengangkat kesalahan saya, maka otomatis kesalahan Dance Suat menjadi hilang? Apakah dengan mengangkat ketidakjelasan tulisan saya maka itu berarti bahwa Dance Suat tidak melakukan penipuan? Apakah dengan mengangkat ketidakjelasan tulisan saya berarti dia sudah memberi bukti akan klaimnya? Apakah dengan mengangkat ketidakjelasan tulisan saya/ketidakkonsistenan saya, itu berarti tulisan Dance menjadi jelas? Dan akhirnya apakah karena saya tidak konsisten, maka ketidakkonsistenan menjadi benar? Saya pikir saya tidak perlu menjelaskan di sini jawabannya karena jawabannya sudah sangat gamblang. Dengan kata lain pertanyaan di atas adalah pertanyaan retoris.

Khusus untuk pertanyaan keempat, Dance melakukan sesat pikir yang disebut Tu Quoque yaitu sesat pikir dimana ketika seorang ditunjukkan kesalahannya, dia tidak menanggapi atau membantah atau mengiyakan apa yang dikatakan lawan tetapi memilih mengatakan ‘Lha, kamu juga khan melakukan kesalahan yang sama.” Itu yang dilakukan Dance dan anehnya sebagai seorang yang katanya pakar filsafat dan lulus cepat dari Perguruan Tinggi dia tidak sadar akan kesalahannya. “Di manakah orang yang berhikmat itu Dance?”

Jadi, sekali lagi Dance melakukan apa yang sudah merupakan tradisinya selama ini yaitu, asal klaim tanpa bukti, sok tahu dalam menggunakan istilah, serta saat ini ditambah melakukan sesat pikir Tu quoque. Dengan semua kesalahan seperti ini, apakah dia sudah mempertanggungjawabkan apa yang dia harus pertanggungjawabkan? Apakah dengan melakukan semua ini, dia mencerminkan sikap seorang hamba Tuhan? Apakah dengan semua kesalahan itu dia sudah membuktikan bahwa dia tidak menipu? Biarlah pembaca yang menilai sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Dance S. Suat, Dance Suat, Fundamentalis, Memang Bodoh, Murid GITS, Penipuan. Tandai permalink.

4 Balasan ke Dance S. Suat Mempertahankan Tradisinya

  1. ZEO berkata:

    Pada paragraf ke 6 Pa’ Makuru Paijo menulis: “Dengan demikian tidak mungkin kedua paragraf tersebut tidak mungkin kontradiktif.”
    Mungkin mksud Pa’ Makuru “Dengan demikian tidak mungkin kedua paragraf tersebut kontradiktif”..
    argumen sy adalah: 2 paragraf yang ada pd tulisan di atas hanya paragraf tulisan makuru yang diklaim oleh Dance, sedangkan contoh si Ako berada di dalam 1 paragraf. apakah benar bgtu Pa’ Makuru?

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s